Articles

Found 13 Documents
Search

Dimensi Antropometrik Anak Sekolah dan Ukuran Kursi Sekolah Legiran, Legiran
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 1 (2015): Januari 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Disain kursi yang ada dalam kelas tidak sepenuhnya merujuk pada ukuran-ukuran antropometrik pemakainya. Meja-kursi sekolah biasanya dibuat massal, satu tipe-satu ukuran-untuk semua. fungsi kursi secara tradisional sebagai tempat duduk dan aktivitas belajar mungkin sudah memenuhi syarat, tetapi sebagai tempat yang nyaman, aman, dan bebas stres dalam waktu relatif lama belum dapat dipastikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketidaksesuaian antara ukuran tubuh anak sekolah dasar dan ukuran kursi sekolah yang digunakannya. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional study. Subjek penelitian ini adalah siswa salah satu sekolah dasar swasta terpadu di Palembang. Jumlah subjek sebanyak 114 orang dengan rentang umur 5-10 tahun. Sampel ditentukan dengan teknik stratified random sampling sesuai tingkat kelas. Telah dilakukan pengukuran antropometri yaitu tinggi poplitea, panjang poplitea-bokong, dan pengukuran kursi yaitu tinggi kursi dan kedalaman landasan duduk. Ukuran antropometrik dan ukuran kursi dibandingkan untuk ditentukan ketidaksesuaiannya. Tinggi kursi rata-rata lebih besar dari tinggi poplitea rata-rata pada semua tingkatan umur. Kedalaman landasan duduk rata-rata lebih besar dari panjang poplitea-bokong  rata-rata subjek pada kelompok umur 5, 6, dan 8 tahun. Ketidaksesuaian ditemukan pada tinggi poplitea dan tinggi kursi (100%), panjang poplitea-bokong dan kedalaman landasan duduk (68,5%).
Faktor Risiko Stres dan Perbedaannya pada Mahasiswa Berbagai Angkatan di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang Legiran, Legiran; Azis, M. Zalili; Bellinawati, Nedya
JURNAL KEDOKTERAN DAN KESEHATAN Vol 2, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stres adalah suatu respon tubuh seseorang yang timbul sebagai reaksi terhadap adanya tuntutan eksternal yang dianggap berbahaya atau mengancam dirinya. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa stres pada mahasiswa kedokteran sangat tinggi apabila dibandingkan dengan program studi lain di sektor non-medis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan faktor risiko dengan kejadian stres pada mahasiswa semester I, III, dan V, Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang. Jenis penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan studi cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua mahasiswa angkatan 2012, 2013, dan 2014 di Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang. Semua mahasiswa sebanyak 240 orang diikutkan dalam penelitian. Data diambil melalui kuesioner Medical Student Stressor Questionnaire kemudian data dianalisa dengan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 122 orang mahasiswa (50,8%) mengalami stres dan 118 orang (49,2%) tidak mengalami stres. Tidak didapatkan perbedaan faktor risiko dengan kejadian stres pada mahasiswa.
Nyeri Pinggang dan Faktor-Faktor Risiko Yang Mempengaruhinya Septadina, Indri Seta; Legiran, Legiran
Jurnal Keperawatan Sriwijaya Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : universitas sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan: Keluhan nyeri punggung bawah atau pinggang (low back pain-LBP) masih tetap menjadi keluhan yang banyak dijumpai pada setiap orang. Keluhan ini juga banyak dijumpai di kalangan pekerja dari berbagai jenis pekerjaan. Akibat rasa nyerinya, pekerja terpaksa beristirahat dan mencari penyembuhan sehingga banyak kehilangan waktu kerja, menghabiskan banyak biaya untuk pengobatan, dan menurunkan produktivitas. Pada pekerja, ada beberapa faktor risiko utama yang diduga berperan dalam terjadinya LBP yaitu stres fisik, stres psikososial, karakter pribadi, dan karakter fisik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji nyeri pinggang, faktor-faktor risiko dan hubungan antara nyeri pinggang dengan faktor-faktor risiko tersebut.   Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah case control study. Populasi adalah pria atau wanita usia produktif. Sampel pada kelompok kasus ditentukan ahli penyakit dalam.   Hasil: Pada penelitian ini telah dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, indeks massa tubuh, pemeriksaan radiologi rontgen foto lumbal antero-posterior dan lateral serta ditanyakan juga riwayat merokok, posisi kerja, dan beban pekerjaan. Tiap variabel dihubungkan dengan kejadian LBP dengan menggunakan uji hipotesis Chi-Square Test. Merokok dan IMT memiliki hubungan bermakna dengan terjadinya LBP (p<0,05), sedangkan posisi dan beban kerja tidak memiliki hubungan bermakna (p>0,05).   Simpulan: Tingkat risiko terbesar untuk terjadinya LBP diantara keempat variabel yang diteliti adalah merokok dengan nilai OR 2,813. Pada penelitian penentuan posisi kerja dan beban pekerjaan ditentukan atas dasar wawancara antara petugas dan responden sehingga masih menimbulkan bias.   Kata Kunci: Nyeri pinggang, merokok, posisi kerja, beban kerja, indeks massa tubuh
Asam nukleat bebas untuk deteksi DNA dan RNA Dalam plasma dan serum Legiran, Legiran
Jurnal Kedokteran dan Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 4, No 3 (2017): Oktober 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang. Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1940an, circulating nucleid acid in plasma and serum (CNAPS) masih banyak hal perlu dijawab sebelum konsep ini dapat benar-benar diterapkan untuk mendeteksi DNA dan RNA dalam plasma atau serum. Berbagai penelitian mendukung bahwa DNA dan RNA bebas memiliki peluang untuk menjadi pemeriksaan laboratorium untuk diagnosis dan prognosis penyakit terutama keganasan.Tujuan. Memberi gambaran perkembangan konsep CNAPS dari awal ditemukan disertai hasil-hasil penelitian yang mendukungnya.Hasil. DNA sel bebas (cell-free DNA) dapat berasal dari sel nekrosis, apoptosis, atau yang asalnya dari sel itu sendiri, khususnya sel limfosit dan dapat disimpulkan dua sumber yang mungkin CNAPS adalah pelepasan pasif dari sel mati (apoptosis) dan dari pelepasan aktif dari sekresi sel. Asal CNA pada orang normal dari hasil apoptosis limfosit dan inti sel lainnya dan pada pasien kanker, dimana apoptosis sel hilang karena proliferasi sel meningkat yang ditunjukkan seringkali pada elektroforesis muncul pola tangga (pada kanker paru dan pankreas) yang mirip seperti pola apoptosis sel. Untuk DNA fetal yang masuk ke plasma maternal, dapat berasal dari berbagai kemungkinan yaitu transfer DNA langsung, sel-sel placenta dan hematopoeitic, dan placenta sebagai sumber predominan.Kesimpulan.  Penelitian-penelitian yang telah dilakukan memberi harapan CNAPS dapat menjadi metode pemeriksaan yang cepat, non invasif, sensitif, dan akurat jika diteliti dengan standarisasi teknik pemeriksaan, evaluasi yang hati-hati, dan analisis data sesuai parameter.
Using N-terminal pro-B-type natriuretic peptide to diagnose cardiac abnormalities in children with dyspneaen with dyspnea Mukalla, Zakaria; Nova, Ria; Legiran, Legiran; Yangtjik, Yangtjik
Paediatrica Indonesiana Vol 57 No 3 (2017): May 2017
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.356 KB)

Abstract

Background. Dyspnea could be caused by various reason, one of which is the presence of cardiac abnormality. Physical examination sometimes difficult to distinguish breath caused by heart abnormalities, especially small children, so we need another way to find out.Objective. To evaluate whether the examination of NT-proBNP levels can be used as a screening tool to diagnose cardiac abnormality in children presenting with dyspnea.Methods. A Cross sectional study was conducted from August to October 2015 on pediatric patients aged 1 month to 18 years presenting with dyspnea in pediatric ward Mohammad Hoesin Hospital Palembang. All subjects performed blood sampling for NT-proBNP examination and echocardiography to assess the presence of cardiac abnormalities. The diagnostic value analyzed by ROC curve, and determined the optimal cut-off point, sensitivity and specificity. Result. We obtained 58 subjects with median age 9.5 (1-180) months, consisted of 39 subjects with cardiac abnormalities and 19 subjects without cardiac abnormality. There is a significant difference (p = 0.002) of NT-proBNP levels in both groups with a median  1,775 (189-9,000) pg/ml vs 759 (245-9,000) pg/ml. In ROC curve analysis, AUC value was 0.75, and at the optimal cut-off point 1,235 pg/ml, sensitivity was 74.4% and specificity was 73.7%.Conclusion. The level of NT-proBNP can be used to diagnose cardiac abnormalities in children presenting with dyspnea.
Dukungan Petugas terhadap Kepatuhan Imunisasi Hepatitis B pada Wilayah Kerja Puskesmas Ariodillah Kota Palembang Ridwan, Achmad; Legiran, Legiran
SyifaMEDIKA:Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2015): Syifa Medika
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.042 KB)

Abstract

Data World Health Organization (WHO) tahun 2012 memperkirakan bahwa satu individu yang hidup telah terinfeksi hepatitis B, sehingga lebih dari 200 juta orang di seluruh dunia terinfeksi. Cakupan imunisasi hepatitis di Puskesmas Ariodillah masih rendah yaitu Hepatitis B (0-7) hari uniject 6,9%, DPT-HB1 8,2% dan DPT-HB2 8,0% dari standar yang ditargetkan yaitu sebesar 100%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap ibu serta dukungan petugas terhadap kepatuhan imunisasi Hepatitis B di wilayah kerja Puskesmas Ariodillah Palembang dengan menggunakan penelitian analitik observasional melalui pendekatan cross sectional. Metode pengumpulan data menggunakan teknik cluster sampling. Jumlah sampel penelitian adalah 178 subjek. Dari 178 subjek diperoleh 137 subjek (77,0%) yang patuh dan 41 subjek (23,0%) tidak patuh terhadap imunisasi Hepatitis B. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden yang patuh imunisasi hepatitis B memiliki pengetahuan baik (86,2%), memiliki sikap positif (82,8%), dan memiliki dukungan petugas yang baik (55,6%). Tenaga kesehatan diharapkan lebih meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu mengenai imunisasi Hepatitis B serta meningkatkan pelayanan yang lebih baik.
Obesitas dan pengeroposan tulang, Bagaimana hubungannya? Legiran, Legiran
Jurnal Kedokteran Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 5, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.773 KB)

Abstract

Latar Belakang: Penelitian tentang hubungan obesitas dan pengeroposan tulang telah banyak dilakukan dan secara epidemiologik menunjukkan obesitas berhubungan dengan peningkatan massa tulang. Penelitian lainnya menemukan bahwa obesitas menjadi faktor risiko terjadinya osteoporosis. Berat badan lebih dianggap sebagai faktor protektif bagi terjadinya proses pengeroposan tulang terutama pada wanita pascamenopause akibat dipertahankannya kadar estrogen selama masa menopause. Bagaimana hubungan obesitas dalam menghambat terjadinya proses pengeroposan tulang?Tujuan: Mendiskusikan hubungan obesitas sebagai faktor protektif proses pengeroposan tulang.Isi: Tulang sebagai bagian dari rangka tubuh manusia memiliki fungsi utama sebagai kerangka yang keras untuk mendukung, melindungi, dan memudahkan fungsi jaringan lunak. Jika ukuran rangka semua orang sama berapapun berat badannya, pasti beberapa tulang akan kesulitan memenuhi tugasnya dan akan tidak menguntungkan jika rangka yang ada secara signifikan lebih berat dari kebutuhannya. Pada individu yang gemuk maka dibutuhkan rangka yang lebih kuat dibanding kurus. Ini secara sederhana ingin menyebutkan bahwa gemuk memiliki hubungan dengan rangka. Penelitian membuktikan bahwa obesitas berhubungan dengan peningkatan kadar adipokin-adipokin seperti leptin, adinopektin, visfatin, resistin, apelin, dan lainnya yang dapat berpengaruh terhadap makronutrien metabolisme dan selanjutnya adipokin-adipokin tersebut mungkin saja berinteraksi dengan modulator energy jangka panjang  seperti insulin. Hal ini masih belum bisa diungkap hubungan erat antara obesitas, hormon-hormon yang dipengaruhinya, dan efek fisiologi yang ditimbulkan. Obesitas dapat menguntungkan bagi kesehatan tulang karena efek mekanik dari berat badan pada pembentukan tulang karena obesitas berkaitan dengan inflamasi kronik dimana terjadi peningkatan sitokin proinflamasi di jaringan dan sirkulasi yang dapat meningkatkan aktivitas osteoklas dan resorpsi tulang melalui modifikasi receptor activator nuclear kappa B, RANK Ligand, dan Osteoprotegerin (RANK/RANKL/OPG) pathway. Obesitas juga dapat menjadi sebuah mekanisme patofisiologi berupa efek metabolic toksik asam lemak bebas dan adipokin yang berpengaruh pada metabolisme tulang.Kesimpulan: Obesitas mungkin berhubungan dengan penghambatan proses pengeroposan tulang dan sebaliknya obesitas mungkin juga menjadi faktor yang menyebabkan pengeroposan tulang. Nyatanya proses pengeroposan tulang sangat dipengaruhi baik oleh faktor genetik dan faktor lingkungan.
Hubungan antara penggunaan tas sekolah dan keluhan muskuloskeletal pada siswa sekolah dasar Legiran, Legiran; Suciati, Tri; Pratiwi, Meirisa Rahma
Jurnal Kedokteran Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 5, No 1 (2018): Januari 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.758 KB)

Abstract

Penggunaan tas sekolah sering kali menjadi topik permasalahan terkait dengan keluhan muskuloskeletal, diperkirakan sekitar 33% anak mengalami cedera yang berhubungan dengan penggunaan tas sekolah yang salah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penggunaan tas sekolah dan keluhan muskuloskeletal pada siswa sekolah dasar di kecamatan Ilir Barat I Kota Palembang. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan pendekatan crossectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI sekolah dasar di wilayah Kecamatan Ilir Barat I Kota Palembang. Sampel dalam penelitian ini di ambil secara purposive sampling, dengan menggunakan kriteria inklusi dan kemudian di dapat 4 sekolah dasar dengan jumlah murid keseluruhan sebanyak 100 siswa. Mayoritas responden berusia 11 tahun, siswa laki-laki lebih banyak dari pada perempuan, mayoritas siswa masuk kategori indeks massa tubuh “normal”, dan melakukan aktivitas olahraga, jenis “tas punggung” lebih banyak digunakan oleh siswa dengan memakainya di kedua bahu, beban tas yang paling banyak dibawa masuk kategori sedang atau 10-15% berat badan,dengan durasi siswa memakai tas terbanyak selama 15-30 menit dalam sehari. Keluhan muskuloskeletal yang dialami oleh siswa terletak pada bagian leher 29,9%, bahu 32,5%, punggung 22,7%, dan pinggang 14,9%. Variabel “beban tas” dan “durasi” terbukti berhubungan dengan keluhan muskuloskeletal yang dialami oleh siswa (p value 0,000).Terdapathubungan yang signifikan antara berat tas dan durasi dengan keluhan muskuloskeletal pada siswa sekolah dasar.
Hubungan Polimorfisme Gen XRCC1 Arg399Gln Terhadap Kejadian Kanker Serviks Pada Wanita Ras Melayu Sary, Mega; Legiran, Legiran; Saleh, Irsan
Biomedical Journal of Indonesia: Jurnal Biomedik Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.887 KB)

Abstract

Kanker serviks merupakan kanker yang terjadi pada serviks atau leher rahim, suatu daerah yang terletak pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim, letaknya antara rahim (uterus) dan liang senggama atau vagina. Insiden terjadinya kanker serviks dipengaruhi oleh Human Papiloma Virus (HPV), usia, usia terlalu muda berhubungan seksual, paritas, riwayat keluarga dan RAS. Gen XRCC1 sebagai perancah dalam BER yang terlibat dalam membantu memperbaiki kesalahan-kesalahan selama replikasi DNA serta  menjaga integritas genom. Single Nukleotida Polymorphism (SNP) di XRCC1 telah dikaitkan dengan pengembangan yang terjadi pada kanker serviks yang dapat mengurangi aktivitas perbaikan DNA, meningkatkan terjadinya mutasi sehingga kerentanan terhadap kanker. Penelitian ini bertujuan untuk melihat adakah hubungan polimorfisme gen XRCC1 Arg399Gln dengan kejadian kanker serviks. Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain case-control dengan jumlah sampel sebanyak 35 orang wanita kanker serviks dan 35 orang wanita normal yang setiap sampel memiliki RAS melayu Jambi. Identifikasi polimorfisme gen XRCC1 Arg399Gln dilakukan dengan teknik PCR-RLFP amplifikasi dengan primer spesifik yang digunakan untuk melihat mutagenesis. Hasil analisis dengan uji Chi-Square genotipe G/G (Wild Type), G/A (Mutant Heterozigot) dan G/A (Mutant Heterozigot) terhadap kanker serviks nilai ? = 0,032 (OR : 10.074 ; CI : 1,186 -85,570). Kesimpulan ada hubungan polimorfisme genotip gen XRCC1 Arg399Gln terhadap kejadian kanker serviks pada wanita RAS Melayu Jambi. 
Sleep and Bone Density: A Study on Postmenopausal Indonesian Women Irmayati, Shafira; Reagan, Muhammad; Legiran, Legiran
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 3 No 1 (2019): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.93 KB)

Abstract

Background: Low bone density has been known as one of the factors that increased fracture risk. Aging, estrogen deficiency, low BMI, and inadequate calcium intake are known factors that contribute to decreased bone density. Other than the known factors, some research show that sleep duration can also lower bone density. Sleep affects bone density in a way that it causes increased level of cortisol, proinflammatory cytokine, and decreased in physical activity. Method: This study is an observational analytic study with cross-sectional design. It is conducted on menopausal patients that has been examined with bone mineral densitometry at Poliklinik Reumatologi Penyakit Dalam RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang in November 2017 to Oktober 2018. Samples are collected using total sampling technique. Results: From 93 subjects that participated in this study, 20,4% of them had osteopenia, and 51,6% had osteoporosis. Patients with low bone density, mainly slept for 6 to 8 hours at night per day, 30 minutes of nap per day, and has a total sleep duration for less than 8 hours each day. This study shows no significant association between night-time sleep, daytime napping, and total sleep duration with bone density (p value = 0,168, p value = 0,831, p value = 0,984). Analysis on other risk factors show significant association between body mass index and low bone density (p value = 0,002). Conclusion: There are no significant association between sleep duration and bone density in menopausal patients at Poliklinik Reumatologi RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang.