Asep Lukman Hamid, Asep Lukman
IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

KEPEMIMPINAN KYAI DI PESANTREN DALAM TANTANGAN GLOBALISASI Hamid, Asep Lukman
Al Tarbiyah : Jurnal Pendidikan Islam Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKepemimpinan mengandung makna akan visi, misi, tujuan, peran dan fungsi yang dimiliki oleh pemimpin, pemimpin merupakan penggerak dari sebuah operasionalisasi organisasi, bahkan pemimpin merupakan simbol nilai-nilai dan moral dari sebuah organisasi. Artinya jika pemimpin itu baik maka kebaikan sebuah organisasi, tetapi jika pemimpin itu buruk maka keburukan bagi organisasi. Sebuah organisasi tercermin dari sikap-sikap yang ditampilkan oleh pemimpin-pemimpinnya. Pesantren merupakan pendidikan yang menjadi identitas Islam, identitas yang dimiliki oleh Islam menjadi tolak ukur di dalam keberhasilan pemimpin-pemimpin kyai untuk membawa peserta didiknya ke arah tantangan globalisasi. Pesantren menjadi ikon moral yang selama ini dibicarakan bahkan benteng moral di dalam menghadapi era globalisasi. Ketika semua orang terlena dengan kehidupan yang penuh dengan kehinaan justru pesantren memberikan warna tersendiri di dalam membentuk akhlak generasi yang akan dengan meneladani kepemimpinan yang ada. Pesantren merupakan pondasi dasar dalam menyebarkan agama Islam, tentunya merupakan pendidikan Islam yang mencetak generasi Islam berdasarkan keteladanan pada kepemimpinan Rasulullah saw, di dalam tulisan ini akan dibahas tentang kepemimpinan kyai di menghadapi tantangan globalisasi yang menyangkut aspek, perilaku pemimpin, perilaku organisasi dalam tantangan globalisasi.Kata kunci: perilaku kepemimpinan, organisasi dan pesantren.
PERILAKU KEBERAGAMAAN MASYARAKAT KAMPUNG NAGA DALAM PERSPEKTIF TEORI RELIGIOUS BEHAVIOR MARIE CORNWALL Hamid, Asep Lukman
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol 1 No 1 (2018): al-Afkar, Journal for Islamic Studies
Publisher : Asosiasi Dosen DPK UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.1161554

Abstract

Masyarakat Kampung Naga adalah salah satu komunitas adat Indonesia. Secara administratif, Kampung Naga masuk dalam pemerintahan desa/kelurahan Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebagai sebuah komunitas adat yang memegang teguh kepercayaan setempat, masyarakat Kampung Naga masih melaksanakan berbagai tradisi yang mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Pada ranah perilaku religius individual, masyarakat Kampung Naga tetap melaksanakan berbagai ritual keagamaan, meski dengan frekuensi dan tingkat intensitas yang beragam sesuai dengan kapasitas masing-masing. Pada ranah perilaku komunal atau mode kelembagaan, masyarakat Kampung Naga begitu menjunjung tinggi tradisi adat. Sehingga, misalnya,bila ritual resmi dari agama jatuh pada hari-hari yang ditabukan, maka hanya ritual wajib saja yang dilaksanakan. Sedang hal-hal yang berlaku umum secara komunal dilakukan pada hari-hari yang tidak ditabukan.
POLITIK IDENTITAS AGAMA LOKAL Studi tentang Aliran Kepercayaan Perjalanan Ciparay Bandung Hamid, Asep Lukman
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol 2 No 1 (2018): Al-Afkar, Journal for Islamic Studies
Publisher : Asosiasi Dosen DPK UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia is one of the most pluralist countries. This plurality can be seen in terms of many religions, beliefs, ethnicities, cultures and languages. This reality on the one hand is very open possibility of potential tension and social conflict. On the other hand, if being able to manage it proportionally and professionally will grow into a force capable of bringing to a more meaningful life. This paper seeks to describe the good relationship between Muslims and followers of Aliran Kepercayaan Perjalanan. In social interaction between the two occurs symbiosis mutualism without any prejudice danger. This reality is interesting to examine in order to discover the factors that become the social glue between Muslims and the followers of Aliran Kepercayaan Perjalanan and to find the political practice of their identity. Based on the field survey found that one of the factors that become social glue is because upholding the values of delay as reflected in the expression of silih asih, silih asah, and silih asuh.
THE CONCEPTION OF MARTABAT TUJUH IN WIRID HIDAYAT JATI OF RANGGAWARSITA (KONSEPSI MARTABAT TUJUH DALAM WIRID HIDAYAT JATI RANGGAWARSITA) Hamid, Asep Lukman
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol 4 No 1 (2019): Al-Afkar: Journal for Islamic Studies
Publisher : Asosiasi Dosen DPK UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5281/zenodo.3333725

Abstract

This research aims to answer: What is the background of writing the Wirid Hidayat Jati Book?, bagaimana konsep martabat tujuh dalam kitab tersebut ? , what is the concept of seven dignity in the book?, dan bagaimana pengaruhnya terha dap laku spiritual masyarakat Jawa? , and how does it affect the spiritual behavior of the Javanese people? .. Dengan mengaplikasikan pendekatan kajian pustaka (library research) By applying the library research and descriptive analysis can be concluded that: P ertama , Ranggawarsita adalah seorang pujangga Keraton dan dianggap sebagai pujangga penutup (as the coping stone of javanese writers) yang mampu menggabungkan antara ajaran tasawuf Islam dengan mistik Jawa. Ranggawarsita is a poet palace and is regarded as the coping stone of Javanese writers who are able to combine the teachings of Islam with Javanese mystical. K edua , martabat tujuh adalah sebuah pemahaman bahwa TuhanDignity seven is an understanding that God ber- tajalli emanation as many as seven stages, namely sajaratul yakin, nur Muhammad, mirátul hayaí, roh idlafi, kandil, dharrah and hijab. Ketiga, Wirid Hidayat Jati merupakan filsafat mistik yang dibangun oleh Ranggawarsita sebagai jawaban terhadap situasi politik dan budaya masyarakat J awa yang memiliki kecenderungan kuat kepada alam metafisika seperti ngelmu kasampurnan, ngelmu sangkan paran dan manekung (semedi, tirakat).Wirid Hidayat Jati is a mystical philosophy built by Ranggawarsita in response to the political and cultural situation of the Javanese people who have a strong tendency towards metaphysics such as ngelmu kasampurnan, ngelmu sangkan paran and manekung (semedi, tirakat). Dengan mempelajari metafisika, diharapkan mampu menjadi insan kamil , manusia yang memiliki kekuatan magis ( karamah ). Penelitian ini bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan penelitian (research questions) yaitu: bagaimana latar belakang penulisan Kitab Wirid Hidayat Jati?, bagaimana konsep martabat tujuh dalam kitab tersebut?, dan bagaimana pengaruhnya terhadap laku spiritual masyarakat Jawa?. Dengan mengaplikasikan pendekatan kajian pustaka (library research) mengingat masalah yang diteliti adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan isi Kitab Wirid Hidayat Jati. Adapun metode penelitiannya  adalah analisis deskriptif  sebab menganalisa data dengan penelaahan yang dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail, dan komprehensif. Melalui pendekatan dan metode tersebut dapat disimpulkan bahwa: Pertama, Ranggawarsita adalah seorang pujangga Keraton dan dianggap sebagai pujangga penutup (as the coping stone of javanese writers) yang mampu menggabungkan antara ajaran tasawuf Islam dengan mistik Jawa. Kedua,  martabat tujuh adalah sebuah pemahaman bahwa Tuhan ber-tajalli (baca: emanasi) sebanyak tujuh tahap, yakni sajaratul yakin, nur Muhammad, mirátul hayaí, roh idlafi, kandil, dharrah dan hijab. Ketiga, Wirid Hidayat Jati merupakan filsafat mistik yang dibangun oleh Ranggawarsita sebagai jawaban terhadap situasi politik dan budaya masyarakat Jawa yang memiliki kecenderungan kuat kepada alam metafisika seperti ngelmu kasampurnan, ngelmu sangkan paran dan manekung (semedi, tirakat).