Articles

Found 23 Documents
Search

Live Feed Combination for knife fish -Chitala lopis) Sunarno, Mas Tri Djoko; Syamsunarno, Mas Bayu
Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 2 (2015)
Publisher : JURNAL PERIKANAN DAN KELAUTAN

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.172 KB)

Abstract

This study in aiming to evaluate response of knife fish to various life fish species as a diet sources in controllable tank. After adapting to experimental condition, 36 tested fish collected from nature of 326.6 ± 184.1 g in individual weight were randomly stocked in 7 fiber tanks at a rate of 4-5 fish per tank and fed on life fishes in fingerling size at different combinations (common carp, tilapia, shrimp, carp+tilipia, tilapia+shrimp, carp+tilapia+shrimp) every 6 hours for 5 days of culture period. The result showed than knife fish prefer combination life food of common carp and tilapia, and then followed by common carp, tilapia and shrimp. Night was feeding time for knife fish.
ISOLASI, SELEKSI, DAN IDENTIFIKASI BAKTERI SELULOLITIK DARI RUMPUT LAUT Turbinaria sp. DAN Sargassum sp. SEBAGAI KANDIDAT PENDEGRADASI SERAT KASAR PAKAN IKAN Mulyasari, Mulyasari; Melati, Irma; Sunarno, Mas Tri Djoko
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1451.526 KB)

Abstract

Kecernaan karbohidrat oleh ikan dapat ditingkatkan antara lain melalui penambahan bakteri selulolitik dalam pakan. Salah satu sumber bakteri selulolitik adalah rumput laut. Oleh karena itu, suatu penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan bakteri selulolitik dari rumput laut Turbinaria sp. dan Sargassum sp. Bakteri selulolitik diisolasi dengan metode pengenceran, streaking dan spreading pada media carboxymethylcellulose (CMC). Koloni yang didapat dimurnikan dan diseleksi dengan menggunakan uji aktivitas enzim selulase secara kualitatif (zona bening) dan kuantitatif, serta diidentifikasi secara biokimia dan molekuler menggunakan gen 16S-rRNA. Pada penelitian ini diperoleh 22 isolat murni bakteri dengan dua isolat yang mempunyai aktivitas selulolitik tertinggi, yaitu TS2b dan SS4b. Hasil uji biokimia dan karakterisasi secara molekuler menunjukkan bahwa kedua isolat tersebut adalah Bacillus subtilis dan B. megaterium.
PRODUKSI ENZIM SELULASE DARI BAKTERI TS2b YANG DIISOLASI DARI RUMPUT LAUT DAN PEMANFAATANNYA DALAM MENGHIDROLISIS KULIT UBI KAYU DAN DAUN UBI KAYU SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN Irma Melati, Irma; Mulyasari, Mulyasari; Sunarno, Mas Tri Djoko; Bintang, Maria; Kurniasih, Titin
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.672 KB)

Abstract

Upaya untuk mendapatkan bahan baku pakan alternatif masih perlu dilakukanmengingat makin meningkatnya harga pakan ikan. Salah satu bahan yang berpotensi untuk dimanfaatkan adalah kulit ubi kayu (KUK) dan daun ubi kayu (DUK). Tingginya kadar serat kasar khususnya selulosa dalam bahan baku tersebut, menjadi kendala dalam upaya pemanfaatannya. Penggunaan enzim selulase dapat menjadi alternatif untuk menangani masalah tersebut. Kemampuan komplek enzim selulase dari bakteri selulolitik dalam mendegradasi selulosa sangat beragam. Tujuan penelitian ini adalah memproduksi dan memanfaatkan enzim selulase dari bakteri yang diisolasi dari rumput laut untuk menghidrolisis KUK, DUK, dan selulosa murni (Carboxymethyl Cellulose). Penelitian ini dilaksanakan dalam dua tahap yaitu: pertama adalah produksi optimum enzim selulase dari bakteri TS2b dengan waktu inkubasi 24, 48, 72, 78, dan 96 jam dan kedua adalah tahap untuk mengetahui kemampuan enzim selulase bakteri TS2b dalam menghidrolisis KUK, DUK, dan Carboxymethyl Cellulose (CMC) (in vitro). Parameter yang diamati adalah aktivitas enzim selulase berdasarkan modifikasi metode Miller dan kadar gula pereduksi (glukosa) berdasarkan metode DNS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimum untuk produksi enzim selulase terjadi pada jam ke-78 yaitu sebesar 0,0214 U/mL dengan kadar glukosa yang dilepaskan sebesar 0,0231 mg/L. Daya hidrolisis enzim selulase tertinggi diperoleh pada substrat KUK dengan aktivitas enzim selulase dan kadar gula pereduksi yang dilepaskan berturutturut sebesar 0,0179 U/mL dan 0,9701 mg/L; sedangkan daya hidrolisis terendah diperoleh pada substrat DUK dengan aktivitas selulase sebesar 0,0015 U/mL dan kadar gula pereduksi yang dilepaskan sebesar 0,0787 mg/L. Enzim selulase isolat TS2b mempunyai kemampuan menghidrolisis substrat KUK dengan baik, tapi kurang efektif untuk menghidrolisis CMC dan DUK.
PEMANFAATAN BAHAN BAKU LOKAL DI KLUNGKUNG, BALI UNTUK PAKAN IKAN NILA BEST (Oreochromis niloticus) Sunarno, Mas Tri Djoko; Kusmini, Irin Iriana; Prakoso, Vitas Atmadi
Media Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Desember, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.165 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengaplikasikan pemanfaatan bahan baku lokal di Klungkung, Bali sebagai pakan ikan nila BEST dibandingkan dengan pakan komersil. Pemilihan bahan baku lokal untuk memformulasikan pakan uji ditentukan berdasarkan hasil survei bahan baku yang mengandung nutrien terbaik sesuai dengan kebutuhan ikan nila dan harga yang relatif murah. Pakan uji yang diformulasikan mengandung protein 29%-30%. Performa pakan uji dibandingkan dengan pakan komersil dengan menggunakan uji-T. Setelah diaklimatisasi, benih ikan nila BEST (panjang total 5,7 ± 0,4 cm; bobot 3,1 ± 1,8 g) ditebar secara acak ke dalam enam buah hapa berukuran 2 m × 1 m × 1 m yang terletak di dalam kolam 100 m2 dengan kepadatan 65 ekor/m3 dan diberi pakan uji sebanyak 3% dari total bobot seluruh ikan uji per hari selama tiga bulan masa pemeliharaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan ikan nila BEST tidak berbeda nyata antara pakan uji hasil formulasi dengan pakan komersil (P>0,05). Nilai FCR pakan komersil tidak berbeda nyata dibandingkan pakan formulasi. Berdasarkan hasil tersebut, keuntungan dengan menggunakan bahan baku lokal lebih tinggi dibandingkan dengan pakan komersil.The purpose of this study was to compare the utilization effects of locally found feed ingredients in Klungkung, Bali for BEST strain tilapia feed compared to a commercial feed. The selection of local raw ingredients used in the feed formulation was based on the best nutrient composition for tilapia needs and its price determined through a separate survey. Formulated test feed contained 29%-30% protein. The formulated feed performance was compared to the commercial feed using the T-test. After acclimatization, the fish (BEST strain tilapia, total length of 5.7 ± 0.4 cm; weight of 3.1 ± 18 g) were randomly stocked into six hapas, each measuring 2 m × 1 m × 1 m in size placed inside a pond (100 m2) with a density of 65 fish/m3 and fed 3% of the total fish biomass per day for three months rearing period. The results showed that the growth of BEST tilapia was not significantly different between the formulated feed and commercial feed (P>0.05). The FCR value of the commercial feed was not significantly different compared to the formulation feed. Based on these results, the benefit of using local raw materials was higher than that of commercial feed. 
EFFECT OF DIFFERENT PROTEIN LEVELS ON THE GROWTH AND FEED EFFICIENCY OF SILVER BARB (Barbodes gonionotus) IN FERTILIZED PONDS Sunarno, Mas Tri Djoko
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 8, No 1 (2002): (2002)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5034.672 KB)

Abstract

This study proposed to establish a suitable protein level in feed formulation for silver barb in a semi-intensive pond.
CONCENTRATION OF NICKEL (Ni) AND CHROMIUM (Cr) lN SEDIMENT AND SUSO SNAIL (Tylomelania patriarchalis) AT BOTTOM LAYER OF MATANO LAKE, SOUTH SULAWESI Kasim, Kamaluddin; Sunarno, Mas Tri Djoko
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 15, No 2 (2009): (December 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3760.167 KB)

Abstract

Research on nickel (Ni) and chromium (Cr) concentration in sediment and meat of suso snail (Tytometania patriarchatis) collected from bottom layer of Lake Matano, South Sulawesi, was conducted on July-August 2004. Research station was established purposively according to a distance from source of industrial activities, namely station A (25 km), station B (14 km), station C (5 km), and station D (7 km), respectively.
BIOLOGIGAL REPRODUCTIVE OF ESTUARINE FISH COMPARING BETWEEN DEMERSAL (LONG TONGUE SOLE, Cynoglossus lingua)AND PELAGICAL: (MUTACHED THRYSSA, Thryssa mystax) ASSEMBLAGES Kamal, M. Mukhlis; Sunarno, Mas Tri Djoko
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 15, No 2 (2009): (December 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4836.129 KB)

Abstract

An investigation on biological reproductive of demersal (represented by the long tongue-sole, Cynoglossrrs lingua) and pelagic (represented by Thryssa mystax) marine fish was carrted out in Ujung Pangkah Estuary during 2005-2006 representing 12 months period, so that a yearly-rotlnd reproductive pattern is known.
GROWTH AND NUTRIENT DIGESTIBlLITY OF JELAWAT (Leptobarbus hoeveni) FRY FED WITH VARIOUS DIETARY PROTEIN LEVELS Sunarno, Mas Tri Djoko
Indonesian Fisheries Research Journal Vol 8, No 1 (2002): (2002)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5411.581 KB)

Abstract

A growth and nutnent dtgesttbility study was executed for jelawat fry in the laboratory. The fry (40 day-old) were reared in 9 aquariums of 37.5L water volume at 30 per tank and fed an isocaloric diet(42kcal) contatning 3 dietary protein levels (33, 40, 47%) at 10% of body weigh tadayfor 49 days. Biomass was weighed fortnightly.
PERTUMBUHAN IKAN BETOK (Anabas testudineus Bloch) DI BERBAGAI HABITAT DI LINGKUNGAN DANAU MELINTANG - KALIMANTAN TIMUR Mustakim, Moh; Sunarno, Mas Tri Djoko; Affandi, Ridwan; Kamal, M Mukhlis
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 15, No 2 (2009): (Juni 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan ikan betok di berbagai habitat di lingkungan Danau Melintang Kalimantan Timur. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei selama musim penghujan, yaitu bulan November 2007 hingga Januari 2008. Stasiun pengamatan ditetapkan secara sengaja di perairan danau, sungai dan rawa banjiran (flood plain). Di setiap stasiun pengamatan tersebut, ikan betok (Anabas testudinus) ditangkap dengan alat tangkul, jaring insang dan keblat. Ikan contoh dihitung dan masing-masing diukur panjang total dan bobotnya. Hubungan panjang berat dan pendugaan pertumbuhan ikan betok di masing-masing habitat diamati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tangkapan ikan betok terbanyak di rawa. Pola pertumbuhan ikan betok jantan dan betina di habitat rawa berbeda, masing-masing mengikuti pola isometrik dan alometrik. Pola pertumbuhan ikan tersebut di sungai dan danau adalah alometrik, baik jantan maupun betina. Berdasarkan atas dugaan parameter pertumbuhan Von Bertalanffy, nilai K dan Loo untuk ikan betok adalah 0,73 th-1 dan 214, 2 mm di rawa, 0,66 th-1 dan 204,23 mm di sungai dan 1,30 th-1 dan 200,55 mm di danau. This research proposed to observe growth pattern of climbing perch (Anabas testudineus) in different habitats of Lake Melintang area, East Kalimantan Provincy. The research was executed using survey methods during rainy season, namely from November 2007 to January 2008. Sampling station was defined purposively in body of lake, river and floodplain area, respectively. In each station, the climbing perch was caught using lift net, gill net and trap (keblat). The fishes were numbered and measured for their total length and weight individually. Lenght and weight relationship and estimation of fish growth were calculated. The results indicated that the highest number of the climbing perch was observed in floodplain. Differences of growth pattern were observed for male and female of the fishes caught in floodplain, namely isometric and allometric respectively. However, there was no differences of the growth pattern in lake and river, following allometric growth. Base on von Bertalanffy equation, the values of K and Loo for climbing perch were 0.73 yr-1 and 214.2 mm; 0,66 yr-1 and 204,23 mm and 1,30 yr-1 and 200,55 mm for floodplain, river and lake, respectively.
BEBERAPAASPEK BIOLOGI IKAN BILIH (Mystacoleucus padangensis) DI DANAU SINGKARAK Purnomo, Kunto; Sunarno, Mas Tri Djoko
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 2, No 6 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (679.985 KB)

Abstract

Sebagai ikan endemik di Danau Singkarak dan ekonomis penting, ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) menyumbang sekitar 71,2% dari total produksi ikan pada tahun 2003 dan cenderung menurun populasinya akibat tangkap lebih dan degradasi lingkungan. Untuk kelestarian ikan tersebut,antara lain perlu didukung oleh data dan informasi mengenai aspek biologinya. Oleh karena itu, suatu penelitian telah dilakukan untuk pengumpulan beberapa aspek biologi ikan bilih mulai bulan Agustus 2003-Oktober 2004 di Danau Singkarak. Contoh ikan bilih diambil dari stasiun penelitian yang ditetapkan secara sengaja di empat tempat. Contoh ikan diukur panjang dan bobotnya, isi saluran pencernaannya, serta diameter dan jumlah telurnya. Parameter pertumbuhan von Bertalanffy(L dan K), mortalitas alami (M), mortalitas penangkapan (F), mortalitas total (Z), dan laju eksploitasi (E) dihitung dengan menggunakan data frekuensi panjang total, kemudian diolah dengan menggunakan program FiSAT. Pola kebiasaan makan dari ikan dianalisis memakai indeks preponderan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa panjang total ikan bilih berkisar 4,2-8,6 cm (rata-ratanya 6,2 cm). Pertumbuhan ikan bilih bersifat alometrik positif (p<0,05). Rasio ikan jantandan betina adalah 2:1. Ikan betina mempunyai 5.830-7.390 butir telur per ekor atau 436-628 butir per gram bobot tubuh. Ikan bilih secara teoritis dapat tumbuh sampai mencapai panjang 11,6 cm (L ) dengan laju pertumbuhan (K) 0,5 cm per tahun. Mortalitas alami (M) sebesar 1,46 tahun-1, Nilaimortalitas penangkapan (F)=1,56 tahun-1 dan mortalitas total (Z)=3,02 tahun-1 (kisarannya 2,47-3,55) serta laju eksploitasi (E) sebesar 0,52. Makanan ikan bilih terdiri atas detritus (38,9±7,1%), fitoplankton (33,0±9,2%), zooplankton (22,6±13,6%), dan tumbuhan air (5,4±2,7%).