Articles

Found 9 Documents
Search

Identifikasi Akuifer Dangkal di Pulau Terdepan NKRI dengan Menggunakan Metode Geolistrik 2D: Studi Kasus Pulau Laut, Kab. Natuna Pryambodo, Dino Gunawan; Pihantono, Joko; Troa, Reiner Arief; Triarso, Eko
EKSPLORIUM Vol 37, No 1 (2016): Mei 2016
Publisher : Pusat Teknologi Bahan Galian Nuklir - BATAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17146/eksplorium.2016.37.1.2667

Abstract

Kebutuhan akan air bersih untuk menunjang aktivitas masyarakat di bidang perikanan di pulau terluar sangat diperlukan karena di lokasi tersebut kondisinya minim sumber air tawar. Penelitian geofisika dengan metode Geolistrik 2D telah dilakukan untuk mengidentifikasikan keberadaan akuifer di Pulau Laut, Kabupaten Natuna sebagai pulau terluar dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pengukuran di lapangan dengan enam lintasan geolistrik 2D menggunakan konfigurasi Wenner, bentangan kabel 160 meter, untuk mendapatkan kedalaman penetrasi 26,9 meter di bawah permukaan. Data tahanan jenis di Pulau Laut digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan akuifer di daerah penelitian. Akuifer berada pada kedalaman yang bervariasi di dekat permukaan dengan kedalaman 2,5 – 13 m di jalur utara, jalur PDAM, dan jalur Air Paying; 12 – 26,9 m di jalur Kadur, jalur Air Bunga, dan jalur Air Paying. Nilai tahanan jenis untuk setiap akuifer bervariasi di setiap jalur. Nilainya berkisar antara 0,651 – 14 Ωm. Litologi penyusun akuifer adalah satuan batupasir di jalur Kadur, Air Bunga, Talaga Tasik dan Air Paying; batulanau di jalur PDAM; dan batugamping di jalur utara. The need for fresh water to support community activities in the field of fisheries on the frontier island is necessary because this location has minimal condition to the source of fresh water. Geophysical research with 2D geoelectrical methods conducted to identify the aquifers in the area of Pulau Laut, Natuna Regency as the frontier island of United Country of Republic Indonesia (NKRI). In field, measurement is using six 2D geoelectric lines with Wenner configuration and 160 m cable stretching to obtain 26.9 m sub-surface depth penetration. Resistivity data in Pulau Laut used to identify the aquifer presence in research area. Aquifers are located on varies depth near the surface with a depth of 2.5 – 13 m in north line, PDAM line, and Air Paying line; 12 – 26.9 m in Kadur line, Air Bunga line, and Air Paying line. Resistivity value for each aquifer varies for each line. They are ranging from 0.651 – 14 Ωm. Lithologies, composing the aquifer, are sandstone unit in Kadur, Air Bunga, Talaga Tasik, and Air Paying lines; silstone in PDAM line; and limestone in the north line.  
Sediment Characteristics of Mergui Basin, Andaman Sea based on Multi-proxy Analyses Zuraida, Rina; Troa, Rainer Arief; Hendrizan, Marfasran; Gustiantini, Luli; Triarso, Eko
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 32, No 2 (2017)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper presents the characteristics of sediment from core BS-36 (6°55.85’ S and 96°7.48’ E, 1147.1 m water depth) that was acquired in the Mergui Basin, Andaman Sea. The analyses involved megascopic description, core scanning by multi-sensor core logger, and carbonate content measurement. The purpose of this study is to determine the physical and chemical characteristics of sediment to infer the depositional environment. The results show that this core can be divided into 5 lithologic units that represent various environmental conditions. The sedimentation of the bottom part, Units V and IV were inferred to be deposited in suboxic to anoxic bottom condition combined with high productivity and low precipitation. Unit III was deposited during high precipitation and oxic condition due to ocean ventilation. In the upper part, Units II and I occurred during higher precipitation, higher carbonate production and suboxic to anoxic condition.Keywords: sediment characteristics, Mergui Basin, Andaman Sea, suboxic, anoxic, oxic, carbonate content Makalah ini menyajikan karakteristik sedimen contoh inti BS-36 (6°55,85’ LS dan 96°7,48’ BT, kedalaman 1147,1 m) yang diambil di Cekungan Mergui, Laut Andaman. Metode analisis meliputi pemerian megaskopis contoh inti, pemindaian contoh inti dengan menggunakan multi-sensor core logger, dan pengukuran kandungan karbonat. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui karakteristik fisik dan kimiawi sedimen untuk menafsirkan kondisi lingkungan pengendapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa contoh inti ini dapat dibagi menjadi 5 unit litologi yang mewakili kondisi lingkungan yang berbeda. Pada bagian bawah sedimen, Unit V dan IV ditafsirkan sebagai hasil endapan pada kondisi suboksik hingga anoksik pada saat produktivitas tinggi dan curah hujan rendah. Unit III diendapkan pada saat curah hujan tinggi dan kondisi oksik yang diperkirakan berkaitan dengan ventilasi samudera. Pada bagian atas, Unit II dan I diendapkan pada saat curah hujan cukup tinggi dengan produksi karbonat yang cukup besar dan kondisi dasar laut suboksik hingga anoksik. Kata kunci: karakteristik sedimen, Cekungan Mergui, Laut Andaman, suboksik, anoksik, oksik, kandungan karbonat 
Calcareous Nannoplankton (marine algae) Analysis in Subsurface Sediments of Andaman Sea Hendrizan, Marfasran; Troa, Rainer Arief; Triarso, Eko; Zuraida, Rina; Liu, Shengfa
BULLETIN OF THE MARINE GEOLOGY Vol 31, No 2 (2016)
Publisher : Marine Geological Institute of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Andaman Sea in the Indo-Pacific Warm Pool (IPWP) is influenced by Indo-Australia monsoon winds. Marine sediment cores in this area, BS36 (06°55’50.8”N; 96°07’28.51”E; ; Water depth 1147.1 meters) were acquired by Geomarin III research vessel andanalysed its morphology for nannoplankton occurences. Results from qualitative identification on marine sediment core in Andaman Sea obtained 11 genus of nannoplankton marine algae in this area. Dominated genus discovered in this site is Gephyrocapsa, Emiliania, and Helicosphaera. Although this research is qualitative and preliminary study phase; however, this reference of modern nannoplankton taxonomy and features using Scanning Electron Microscope (SEM) would enhance marine algae biodiversity along Andaman Sea of Indonesian watersKeywords: Nannoplankton, morphology, sediment core, taxonomy, Andaman Sea Kawasan Laut Andaman terletak di wilayah kolam panas Indo-Pasifik sangat dipengaruhi oleh angin musim Indo-Australia. Conto inti sedimen laut di wilayah BS 36 (06°55’50.8” Utara; 96°7’28.51” Timur; kedalaman laut 1147,1 meter) diambil menggunakan wahana kapal riset Geomarin III dan dianalisis morfologi nanoplankton yang ditemukan di wilayah ini. Hasil dari pemerian kualitatif dari conto sedimen inti di Laut Andaman menghasilkan 11 genus nanoplankton sebagai alga laut yang dapat ditemukan pada lokasi ini. Genus yang sangat menonjol di satu lokasi titik pengambilan conto sedimen inti yaitu Gephyrocapsa, Emiliania, dan Helicosphaera. Meskipun kajian ini masih bersifat kualitatif dan tahap studi awal; namun acuan tentang taksonomi nanoplankton modern dan kenampakan dari Scanning Electron Microscope (SEM) akan memperkaya biodivesitas alga laut di sepanjang Laut Andaman dari perairan Indonesia.Kata Kunci: Nanoplankton, morfologi, conto sedimen inti, taxonomi, Laut Andaman
GUNUNGAPI BAWAH LAUT KAWIO BARAT, PERAIRAN SANGIHE, SULAWESI UTARA: AKTIVITAS HIDROTERMAL DAN MINERALISASI Troa, Rainer Arief; Sarmili, Lili; Permana, Haryadi; Triarso, Eko
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekspedisi INDEX-SATAL 2010 telah mengungkapkan fenomena aktivitas hidrotermal di bawah perairan barat Kepulauan Sangihe pada Gunungapi Bawah Laut Kawio Barat dengan puncaknya yang berada pada kedalaman laut sekitar 1860 m dan kakinya pada kedalaman sekitar 5400 m. Penyelaman ROV (Remotely Operated Vehicle) Little Hercules di Gunungapi Kawio Barat yang dipusatkan di sisi baratlaut dari puncak gunung menyapu mulai kedalaman 3000 m hingga menuju ke arah puncak pada kedalaman 1860 m. Kelompok batuan dicirikan oleh bongkahan lava yang sudah pecah ditutupi sedimen halus berwarna abu-abu cerah; sedangkan pada sisi tenggara umumnya ditempati aliran lava bantal. Pada sisi baratdaya, tempat lembah dalam menoreh Gunungapi Kawio Barat dijumpai kepulan asap dari lereng bagian bawah yang akhirnya pada kedalaman sekitar 1890 m dijumpai aktivitas hidrotermal bawah laut yang merupakan suatu fenomena yang pertama kali direkam langsung dari bawahlaut perairan Indonesia. Fenomena yang terekam berupa pemunculan asap (smokers) di sepanjang rekahan (fissures), dicirikan oleh warna asap yang bervariasi dari putih, kuning atau abu-abu cerah yang kemungkinan menunjukkan indikasi perbedaan komposisi kimiawi dari fluida hidrotermal. Selain asap, teramati juga adanya gelembung cairan (panas) atau bubbles dari rekahan. Penemuan baru lainnya adalah adanya fluida hidrotermal muncul ke permukaan dan membentuk suatu cerobong hidrotermal atau chimney di daerah yang secara tektonik dikontrol oleh konvergensi lempeng. Batuan-batuan di sekitar rekahan hidrotermal (hydrothermal vent) umumnya telah terubah dengan dominasi warna putih hingga kelabu. Di sekitar rekahan hidrotermal diendapkan belerang berwarna kuning kehitaman. Mineralisasi kemungkinan terjadi di sekitar cerobong hidrotermal, terakumulasi membentuk endapan mineral yang ditunjukkan oleh warna coklat, abu-abu, dan kemerahan. Hal ini terutama teramati di sekitar cerobong yang sudah tidak mengeluarkan gelembung atau asap, serta dijumpai kehadiran endapan serakan butiran batuan atau mineral berwarna coklat atau hitam. Kata kunci: INDEX-SATAL 2010, aktivitas hidrotermal, ROV, asap hidrotermal, gelembung cairan, cerobong hidrotermal, konvergensi lempeng, mineralisasi INDEX-SATAL Expedition 2010 has revealed the phenomenon of hydrothermal activity in the western part of the Sangihe Waters in Kawio Barat Submarine Volcano with the peak which is located at 1860 m depths and the bottom at about 5400 m depths. A ROV (Remotely Operated Vehicle) "Little Hercules" dive in Kawio Barat was centered on the northwest side of the mountain began to sweep from the depths of 3000 m toward the top of 1860 m depths. The lithologic unit is characterized by the present of broken lavas covered with fine grey colored sediment whilist in the southeast side is composed of pillows lavas. In the southwest side, in which the deep valleys incise Kawio Barat, a clouds of smoke from the lower slopes are observed; finally at 1890 m depths a submarine hydrothermal activity is noted. This phenomenon represents the first submarine direct record made from the bottom of the Indonesian Waters. Those smokers phenomena are recorded along fissures, characterized by various colors of white, yellow to grey due to different chemical composition of hydrothermal fluids. Besides, the hot bubbles are also arised from the fissures. The other new discovery is the presence of hydrothermal chimney in the area of tectonically controlled by convergence plates. Rocks surrounding the hydrothermal vents are generally altered giving grey to white colors and the presence of dark yellow sulfur deposits. Mineralization may occur and accumulated in hydrothermal chimney and its surrounding to form brown-, grey-, and reddish- color deposits The latter are commonly found in inactive chimneys, indicated by the presence of dispersed brown and black color grains/chips of both sedimentary rocks or minerals as well. Keywords: INDEX-SATAL 2010, hydrothermal activity, ROV, hydrothermal smokers, bubbles, hydrothermal chimney, plate convergence, mineralization
GEODINAMIKA KAWASAN TIMUR INDONESIA DAN IMPLIKASINYA TERHADAP POTENSI SUMBER DAYA DASAR LAUT Arief Troa, Rainer; Triarso, Eko; Dillenia, Ira
Jurnal Kelautan Nasional Vol 11, No 1 (2016): APRIL
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v11i1.6062

Abstract

Kawasan Timur Indonesia menyimpan potensi sumber daya dasar laut yang tinggi. Interaksi tiga lempeng besar dunia: Lempeng Pasifik, Hindia-Australia, dan Eurasia menjadikan kondisi geodinamikanya aktif dan kompleks. Tujuan penulisan untuk mengungkap potensi sumber daya dasar laut sebagai implikasi kondisi geodinamika. Metode penelitian menggunakan analisis tektonika berdasarkan tinjauan regional evolusi tektonik yang ditunjang metode tomografi seismik dengan hipotesis bahwa potensi sumber daya dasar laut sebagai implikasi kondisi geodinamikanya berkaitan erat dengan keberadaan gunungapi bawah laut dan aktivitas hidrotermal. Hasil penelitian menunjukkan potensi tersebut berada pada zona aliran fluida magma di bawah kerak bumi, diindikasikan anomali kecepatan rendah gelombang-S pada tomogram seismik. Hasil pengamatan ROV di Perairan Sangihe-Talaud mengindikasikan adanya peluruhan sebagian magma menerobos kerak bumi, muncul ke permukaan dasar laut membentuk cerobong hidrotermal gunungapi bawah laut Kawio Barat pada kedalaman 1890 meter. Di perairan dangkal Halmahera, manifestasi aktivitas hidrotermal berupa semburan air panas dari dasar laut. Di dataran pasang surut, temperatur mata air panas mencapai 80-100oC, sedangkan dari tipe alterasi batuannya diindikasikan temperatur bawah permukaan >200oC. Disimpulkan bahwa potensi sumber daya dasar laut terkait aktivitas hidrotermal dan gunungapi bawah laut di perairan Sangihe-Talaud adalah berasosiasi dengan mineralisasi logam pada cerobong hidrotermal. Di Halmahera, potensinya berupa uap panas hidrotermal yang dapat dimanfaatkan untuk energi terbarukan berbasis panas bumi. Implikasi kebencanaan juga melekat akibat kondisi geodinamika sehingga penelitian mitigasi bencana dan model adaptasinya disarankan dilakukan juga pada Kawasan Timur Indonesia.
PEMETAAN GEOLOGI GUNUNG API BAWAH LAUT KAWIO BARAT PERAIRAN SANGIHE-TALAUD MENGGUNAKAN MULTIBEAM ECHOSOUNDER RESOLUSI TINGGI Triarso, Eko; Arief Troa, Rainer
Jurnal Kelautan Nasional Vol 11, No 2 (2016): AGUSTUS
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v11i2.6108

Abstract

Indonesia terletak pada lingkaran cincin api Pasifik yang merupakan jalur gunung api. Gunung api ini tidak hanya terdapat di darat tetapi juga di laut. Potensi yang ada pada wilayah sekitar gunung api tidak hanya berupa potensi bencana tetapi juga terdapat mineral ekonomis. Penelitian gunung api bawah laut masih sangat jarang dilakukan. Ekspedisi laut dalam di kawasan perairan Sangihe-Talaud telah dilaksanakan atas kerjasama antara Badan Litbang KP, Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA), USA. Ekspedisi ini dilakukan dari tanggal 24 Juni hingga 6 Agustus 2010 dengan nama INDEX-SATAL (Indonesia Expedition Sangihe-Talaud), dimana salah satu tujuan dari ekspedisi ini adalah pemetaan detil dasar laut menggunakan multibeam echosounder. Pengolahan ulang data batimetri menghasilkan kenampakan pola struktur maupun morfologi gunung api bawah laut yang tumbuh pada Lembah Sangihe. Gunung api bawah laut Kawio Barat memperlihatkan kenampakan berbentuk kerucut ideal yang timbul dari kedalaman 5400 meter di bawah permukaan laut dengan puncaknya mencapai kedalaman 1890 meter di bawah permukaan laut. Kenampakan morfologi gunung api bawah laut Kawio Barat ini memperlihatkan bagian barat laut dari gunung api ini memiliki tekstur yang lebih kasar dibandingkan pada bagian di sebelah tenggaranya yang bertekstur lebih halus. Hal tersebut mengindikasikan produk vulkanik di sebelah barat laut berumur lebih tua dibandingkan dengan di sisi tenggara. Perbedaan itu dibatasi oleh lembah yang memanjang dari utara ke barat daya.
INDIKASI KEBERADAAN GAS HIDRAT PADA CEKUNGAN BUSUR MUKA SIMEULUE DAN POTENSINYA SEBAGAI SUMBER ENERGI MASA DEPAN Triarso, Eko; Arief Troa, Rainer
Jurnal Kelautan Nasional Vol 11, No 3 (2016): DESEMBER
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v11i3.6114

Abstract

Gas hidrat merupakan gas metana (CH4) yang bersenyawa dengan air membentuk padatan kristal es pada temperatur dan tekanan tertentu sehingga pada kristal es ini mengandung molekul CH4 di dalam rongga molekul air (H2O). Keberadaan gas hidrat diharapkan dapat menjadi sumber energi baru masa depan. Cekungan Busur Muka (Cekungan) Simeulue memiliki kondisi tektonik dengan akumulasi sedimen laut dalam yang tebal sertadiindikasikan memiliki temperatur dan tekanan yang memungkinkan bagi terbentuknya zona stabilitas gas hidrat (Gas Hydrate Stability Zone-GHSZ).Tujuan penelitian adalah melakukan identifikasi keberadaan gas hidrat melalui interpretasi pada penampang seismik Cekungan Simeulue. Metodologi yang digunakan adalah melakukan pengolahan data seismik (seismic data processing) untuk menghasilkan penampang bawah permukaan dasar laut yang dapat memberikan gambaran struktur geologi dan perlapisan sedimen dengan cukup detail dan akurat. Karakteristik bottom simulating reflector(BSR) pada penampang seismik merupakan indikasi utama keberadaan gashidrat di dalam lapisan sedimen dasar laut. Data primer yang digunakan adalah hasil survei akuisisi seismik multichannel 2-Dpada 3 lintasan di Cekungan Simeulue. Survei seismik ini merupakan hasil kerjasama riset kelautan Indonesia-Jerman SEACAUSE II pada tahun 2006 di perairan barat Sumatera yang berhasil mendapatkan data pada 43 lintasan seismik. Berdasarkan hasil penelitian ini, BSR sebagai indikasi keberadaaan gas hidrat ditemukan pada 3 lintasan seismik pada Cekungan Simeulue yaitu lintasan BGR06-136, BGR06-137, dan BGR06-139 dengan karakteristik membentuk lensa, sejajar ataupun memotong horison perlapisan sedimen.
Penentuan Siklus Glasial – Interglasial Terakhir Pada Sedimen Dasar Laut Kawasan Lepas Pantai Pelabuhan Ratu Zuraida, Rina; Troa, Rainer A.; Hendrizan, Marfasran; Triarso, Eko; Gustiantini, Luli; Nurdin, Nazar; Hantoro, Wahyu S.; Liu, Shengfa
Jurnal Segara Vol 11, No 2 (2015): Desember
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/segara.v11i2.7355

Abstract

Kawasan Lepas Pantai Pelabuhan Ratu yang terletak di wilayah Jawa Barat bagian selatan dipengaruhi oleh dinamika laut Selat Sunda dan Samudera Hindia bagian timur. Kondisi ini terekam dalam sedimen dasar laut dan tersimpan sebagai informasi berbagai proses yang terjadi di perairan tersebut pada rentang waktu geologi tertentu. Penelitian ini menggunakan contoh inti sedimen dasar laut SO184-10043 (7°18,57 LS dan 105° 3,45’ BT, kedalaman 2166 m, panjang 360 cm) yang diambil pada saat cruise PABESIA dengan menggunakan kapal riset Sonne di Selat Sunda. pada tahun 2005. Metode penelitian yang digunakan adalah pentarikhan umur (dating) radiokarbon (14C) dan analisis isotop oksigen (d18O) pada foraminifera plankton Globigerinoides ruber. Hasil pentarikhan umur isotop 14C terhadap 16 cuplikan contoh menunjukkan bahwa contoh inti SO184-10043 merekam Siklus Glasial Terakhir hingga 35.000 tahun yang lalu. Hasil pengukuran d18O memberikan nilai Deglasiasi yang lebih besar dari daerah sekelilingnya yang diduga akibat terbukanya Laut Jawa yang memungkinkan mengalirnya air dari Laut Cina Selatan dengan salinitas dan suhu yang lebih rendah menuju Samudera Hindia melalui daerah penelitian. Rekonstruksi suhu permukaan laut dari data isotop d18O memberikan nilai suhu Deglasiasi yang jauh lebih tinggi yang diduga akibat faktor lokal yang mempengaruhi nilai salinitas di daerah penelitian.
GUNUNGAPI BAWAH LAUT KAWIO BARAT, PERAIRAN SANGIHE, SULAWESI UTARA: AKTIVITAS HIDROTERMAL DAN MINERALISASI Troa, Rainer Arief; Sarmili, Lili; Permana, Haryadi; Triarso, Eko
JURNAL GEOLOGI KELAUTAN Vol 11, No 1 (2013)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (867.577 KB) | DOI: 10.32693/jgk.11.1.2013.226

Abstract

Ekspedisi INDEX-SATAL 2010 telah mengungkapkan fenomena aktivitas hidrotermal di bawah perairan barat Kepulauan Sangihe pada Gunungapi Bawah Laut Kawio Barat dengan puncaknya yang berada pada kedalaman laut sekitar 1860 m dan kakinya pada kedalaman sekitar 5400 m. Penyelaman ROV (Remotely Operated Vehicle) Little Hercules di Gunungapi Kawio Barat yang dipusatkan di sisi baratlaut dari puncak gunung menyapu mulai kedalaman 3000 m hingga menuju ke arah puncak pada kedalaman 1860 m. Kelompok batuan dicirikan oleh bongkahan lava yang sudah pecah ditutupi sedimen halus berwarna abu-abu cerah; sedangkan pada sisi tenggara umumnya ditempati aliran lava bantal. Pada sisi baratdaya, tempat lembah dalam menoreh Gunungapi Kawio Barat dijumpai kepulan asap dari lereng bagian bawah yang akhirnya pada kedalaman sekitar 1890 m dijumpai aktivitas hidrotermal bawah laut yang merupakan suatu fenomena yang pertama kali direkam langsung dari bawahlaut perairan Indonesia. Fenomena yang terekam berupa pemunculan asap (smokers) di sepanjang rekahan (fissures), dicirikan oleh warna asap yang bervariasi dari putih, kuning atau abu-abu cerah yang kemungkinan menunjukkan indikasi perbedaan komposisi kimiawi dari fluida hidrotermal. Selain asap, teramati juga adanya gelembung cairan (panas) atau bubbles dari rekahan. Penemuan baru lainnya adalah adanya fluida hidrotermal muncul ke permukaan dan membentuk suatu cerobong hidrotermal atau chimney di daerah yang secara tektonik dikontrol oleh konvergensi lempeng. Batuan-batuan di sekitar rekahan hidrotermal (hydrothermal vent) umumnya telah terubah dengan dominasi warna putih hingga kelabu. Di sekitar rekahan hidrotermal diendapkan belerang berwarna kuning kehitaman. Mineralisasi kemungkinan terjadi di sekitar cerobong hidrotermal, terakumulasi membentuk endapan mineral yang ditunjukkan oleh warna coklat, abu-abu, dan kemerahan. Hal ini terutama teramati di sekitar cerobong yang sudah tidak mengeluarkan gelembung atau asap, serta dijumpai kehadiran endapan serakan butiran batuan atau mineral berwarna coklat atau hitam. Kata kunci: INDEX-SATAL 2010, aktivitas hidrotermal, ROV, asap hidrotermal, gelembung cairan, cerobong hidrotermal, konvergensi lempeng, mineralisasi INDEX-SATAL Expedition 2010 has revealed the phenomenon of hydrothermal activity in the western part of the Sangihe Waters in Kawio Barat Submarine Volcano with the peak which is located at 1860 m depths and the bottom at about 5400 m depths. A ROV (Remotely Operated Vehicle) "Little Hercules" dive in Kawio Barat was centered on the northwest side of the mountain began to sweep from the depths of 3000 m toward the top of 1860 m depths. The lithologic unit is characterized by the present of broken lavas covered with fine grey colored sediment whilist in the southeast side is composed of pillows lavas. In the southwest side, in which the deep valleys incise Kawio Barat, a clouds of smoke from the lower slopes are observed; finally at 1890 m depths a submarine hydrothermal activity is noted. This phenomenon represents the first submarine direct record made from the bottom of the Indonesian Waters. Those smokers phenomena are recorded along fissures, characterized by various colors of white, yellow to grey due to different chemical composition of hydrothermal fluids. Besides, the hot bubbles are also arised from the fissures. The other new discovery is the presence of hydrothermal chimney in the area of tectonically controlled by convergence plates. Rocks surrounding the hydrothermal vents are generally altered giving grey to white colors and the presence of dark yellow sulfur deposits. Mineralization may occur and accumulated in hydrothermal chimney and its surrounding to form brown-, grey-, and reddish- color deposits The latter are commonly found in inactive chimneys, indicated by the presence of dispersed brown and black color grains/chips of both sedimentary rocks or minerals as well. Keywords: INDEX-SATAL 2010, hydrothermal activity, ROV, hydrothermal smokers, bubbles, hydrothermal chimney, plate convergence, mineralization