Articles

Found 5 Documents
Search

Keanekaragaman jenis ikan di Teluk Arguni, Kaimana, Papua Barat Hadiaty, Renny K.; Allen, Gerald R.; Erdman, Mark V.
ZOO INDONESIA Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.026 KB)

Abstract

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah melakukan penelitian di wilayah Papua dengan nama ekspedisi Wilayah Nusantara (EWIN). Penelitian dilakukan selama dua tahun di wilayah Raja Ampat, Papua Barat. Pada tahun 2007 penelitian dilakukan di Pulau Waigeo, sedangkan tahun 2008 di Pulau Batanta. Hasil penelitian di kedua pulau tersebut mengindikasikan tingginya tingkat endemisitas dan beberapa diantaranya merupakan jenis baru. Sekalipun penelitian di wilayah Papua banyak mendapatkan hasil yang menarik, namun sayangnya tidak dapat dilanjutkan. Beranjak dari hasil tersebut berhasil dijalin kerjasama penelitian dengan Conservation International (CI) Indonesia Marine Program. Penelitian dilakukan di 24 stasiun penelitian di wilayah perairan Kaimana, Papua Barat. Hasilnya sangat menarik, diperoleh 55 jenis ikan dari 20 familia, tujuh jenis diantaranya diperkirakan merupakan jenis baru yaitu: Melanotaenia sp., Glossamia sp., Pseudomugil sp1, Pseudomugil sp2, Mogurnda sp., Glossogobius sp. dan Gobiopterus sp. Dua jenis pertama telah dideskripsi pada tahun 2011 yaitu Melanotaenia mairasi Allen & Hadiaty, 2011 dan Glossamia arguni Hadiaty & Allen, 2011. Jenis lainnya masih perlu diteliti lebih lanjut.
Keanekaragaman Jenis Ikan Di Suaq Balimbing dan Ketambe, Taman Nasional Gunung Leuser, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Hadiaty, Renny K.
JURNAL BIOLOGI INDONESIA Vol 3, No 9 (2005): JURNAL BIOLOGI INDONESIA
Publisher : Perhimpunan Biologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1308.745 KB) | DOI: 10.14203/jbi.v3i9.3281

Abstract

ABSTRACTThe Biodiversity of Fish In Squaq Balimbing and Ketambe Gunung Leuser NationalPark, Sumatera. Gunung Leuser National Park (GLNP) is one of the biggest national park inIndonesia which is the habitat of various flora-fauna. GLNP is a conservation area inSumatera island that lies in the two province, North Sumatera Province and Nanggroe AcehDarussalam Province. Little has reported about fishes inhabiting inland waters of Acehprovince and Sumatera Utara province, because The Fisheries Service of both province andThe University of Syah Kuala and The University of Sumatera Utara are more interested inconducting research on marine fish.Ichthyofauna research was conducted at the two Research Stations of Gunung LeuserNational Park, i.e Suaq Balimbing and Ketambe Research Station. Research activity at Suaq- Balimbing RS which is located in South Aceh Regency was conducted in 1997, whileresearch activity in Ketambe RS which is located in South East Aceh Regency was conductedin 1998. The research activity successfully collected 64 fish species which is belong to 36familia. There were two endemik species, one of them was protected species, six species wereundescribe ones and has described as new species, besides of those there are several specieswhich are assummed as undescribe species and still being examined.Keywords : Fish, biodiversity, Gunung Leuser National Park, endemic, protected, newspecies
Collection of freshwater and coastal fishes from Sulawesi Tenggara, Indonesia [Koleksi ikan-ikan air tawar dan pantai di Sulawesi Tenggara] Parenti, Lynne R.; Hadiaty, Renny K.; Lumbantobing, Daniel N.
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 14, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1375.266 KB) | DOI: 10.32491/jii.v14i1.92

Abstract

We report 69 fish species in 34 teleost families nearly all collected during a preliminary survey of the Sungai Pohara and coastal localities in Sulawesi Tenggara, including Muna Island, in June 2010. Of these species, nine are introduced or exotic and another is questionably native. The family Gobiidae is the most diverse taxon, represented by 14 native species. Atherinomorph fishes of the family Adrianichthyidae are represented in the province by four endemic species and two others that are widespread, all in the genus Oryzias. This fish fauna contrasts sharply with the riverine ichthyo-fauna of the adjacent Sulawesi Tenggara islands of Buton and Kabaena in which there are reportedly no ricefishes and few endemics. New species are being described by the field team and collaborators. Our ultimate goal is to discover, describe, highlight, understand and encourage the conservation of the native freshwater and coastal fish biota of Sulawesi. AbstrakKami melaporkan hasil survei pendahuluan di Sungai Pohara dan perairan pantai di Sulawesi Tenggara, termasuk Pulau Muna. Tujuan utama kami adalah menemukan, mendeskripsikan, menggarisbawahi, memahami, dan menggiatkan upaya konservasi biota ikan air tawar dan pesisir asli Sulawesi. Survei yang dilakukan pada bulan Juni 2010 berhasil mendapatkan 69 spesies dari 34 famili Teleostei. Sembilan spesies di antaranya merupakan ikan introduksi atau bersifat eksotik dan satu spesies masih diragukan, asli setempat atau bukan. Gobiidae merupakan famili yang paling beragam, terwakili oleh 14 spesies asli. Ikan Atherinomorph dari famili Adrianichthyidae terwakili oleh empat spesies endemik di provinsi ini dan dua spesies lain yang penyebarannya sangat luas. Keenam spesies tersebut termasuk dalam genus Oryzias. Keragaman jenis fauna ikan ini sangat berbeda dengan jenis-jenis ikan sungai di dua pulau terdekat di wilayah Sulawesi Tenggara, yaitu Buton dan Kabaena. Di dua pulau tersebut tidak ditemukan ikan padi (Oryzias, ricefishes) dan hanya sedikit spesies endemik. Beberapa spesies baru dideskripsikan oleh tim lapangan dan para kolaborator.
Lokasi baru spesies grup Oryzias woworae (Adrianichthyidae) di Sulawesi Tenggara [ New localities of the Oryzias woworae species group (Adrianichthyidae) ] Yamahira, Kazunori; Mochida, Koji; Fujimoto, Shingo; Mokodongan, Daniel F.; Montenegro1, Javier; Kaito, Takuma; Ishikawa2, Asano; Kitano, Jun; Sue, Taketoshi; Mulis4, nFn; Hadiaty, Renny K.; Mandagi, Ixchel F.; Maseng, K.W. Alex
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1023.911 KB) | DOI: 10.32491/jii.v16i2.35

Abstract

The Oryzias woworae species group, composed of O. asinua, O. wolasi, and O. woworae, is a group of the family Adrianichthyidae endemic to Sulawesi Tenggara (Southeast Sulawesi). Here, we report new localities of each of the three species in this group, which were collected during our field expeditions in 2014-2015. In total, six new localities were discovered throughout Sulawesi Tenggara, including Muna Island, suggesting that they may have wider species ranges than currently recognized. Some of the new localities were independent of the river systems of the known localities, suggesting that each species is genetically structured, and that the unit for conservation should be considered not as each species but as each local population.AbstrakKelompok spesies Oryzias woworae, family Adrianichthyidae, terdiri atas O. asinua, O. wolasi, dan O. woworae, merupakan spesies endemik di Sulawesi Tenggara. Selama ekspedisi lapangan tahun 2014-2015, kami mencatat setiap spesies dari ketiga spesies dalam grup ini dijumpai di beberapa lokasi baru. Secara keseluruhan, enam lokasi baru telah ditemukan sepanjang daerah Sulawesi Tenggara, termasuk Pulau Muna, yang menunjukkan bahwa grup tersebut kemungkinan memiliki daerah persebaran lebih luas dari yang diketahui saat ini. Sebagian lokasi baru berasal dari sistem aliran sungai yang berbeda dengan lokasi yang telah diketahui selama ini. Hal ini menunjukkan bahwa tiap spesies terstruktur secara genetik, dan bahwa unit konservasi harus dipertimbangkan bukan untuk tiap spesies tetapi untuk tiap populasi lokal.
Feeding effectivity of the arfak rainbowfish, Melanotaenia arfakensis, Allen 1990 on difference of water turbidity level: a laboratory approach Manangkalangi, Emmanuel; Rahardjo, M. F.; Hadiaty, Renny K.; Hariyadi, Sigid
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 17, No 3 (2017): October 2017
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.352 KB) | DOI: 10.32491/jii.v17i3.367

Abstract

The research on feeding effectivity of arfak rainbowfish conducted at Fisheries Laboratory, Faculty of Fishes and Marine Scince, University of Papua in July to December 2016. The purpose of this research is to describe feeding effectivity of the fish at several levels of water turbidity. The fish samples used in the treatment, collected from Nimbai Stream, Prafi River system, Manokwari were acclimatized for a month in the laboratory. The fish were selected based on the body length and categorized into six size classes. Each individual of the fish was treated with 200 individuals of mosquito larvae (instar IV stage) at seven turbidity levels (2.54, 25.07, 50.52, 100.20, 500.60, and 800.40 Nephelome-tric Turbidity Unit, NTU) using particles with size of <63um. Feeding effectivity was indicated by the level of preda-tion in a period of 15 minutes. The results of the research showed that average level of predation did not differ among size classes at the low level of turbidity (<50,52 NTU). The significant decrease in the average level of predation occurred at the higher level of turbidity (<100,12 NTU) with the values range from 23.2% to 65.9%. This indicated a decrease in the feeding effectivity as the turbidity levels increase. AbstrakPenelitian efektivitas ikan pelangi arfak dalam mencari makan dilaksanakan di Laboratorium Perikanan FPIK Univer-sitas Papua pada bulan Juli sampai Desember 2016. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan efektivitas ikan pela-ngi arfak mencari makan pada beberapa tingkat kekeruhan air. Contoh ikan yang digunakan dalam perlakuan dikoleksi dari Sungai Nimbai, sistem Sungai Prafi, Manokwari yang diaklimatisasi selama satu bulan di laboratorium. Individu ikan yang digunakan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan panjang tubuh dan dikelompokkan ke dalam enam kelas ukuran. Setiap individu ikan diberi perlakuan pakan berupa larva nyamuk (tahap instar IV) sebanyak 200 individu pada tujuh tingkat kekeruhan yang berbeda (2,54; 25,07; 50,52; 100,20; 200,20; 500,60 dan 800,40 Nephelometric Turbidity Unit, NTU) dengan menggunakan partikel berukuran <63um. Efektivitas mencari makan akan ditunjukkan berdasarkan tingkat pemangsaan dalam periode 15 menit. Tingkat pemangsaan rata-rata tidak berbeda pada tingkat kekeruhan yang rendah (<50,52 NTU) dalam setiap kelas ukuran. Penurunan tingkat pemangsaan rata-rata secara nyata mulai berlang-sung pada tingkat kekeruhan yang lebih tinggi (<100,12 NTU) dengan nilai sebesar 23,2%-65,9%. Kondisi ini menun-jukkan penurunan efektivitas mencari makan seiring dengan semakin meningkatnya tingkat kekeruhan air.