Sari Dewiyani, Sari
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Calcium hydroxide as intracanal dressing for teeth with apical periodontitis Dewiyani, Sari
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 44, No 1 (2011): (March 2011)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v44.i1.p12-16

Abstract

Background: Root canal infection and periapical diseases are caused by bacteria and their products. Long term infection may spread bacteria throughout the root canal system. Apical periodontitis caused by infectious microbe that persistent in root canals can cause radiographic and histopathology periapical changes. Chemomechanical preparation and intracanal dressing then are recommended to be conducted and used in between visits to eliminate microbes in root canals. Calcium hydroxide (Ca(OH)2) can be used as intracanal dressing since it can be used as musical physical defense barrier to eliminate re-infection in root canal and to disturb nutrition supply for bacterial development. Purpose: The aim of this study is observe the effectiveness of Ca(OH)2 in treating endodontic teeth with apical periodontitis. Cases: Case 1 and 3 are about patients whose left posterior mandibular teeth had spontaneous intermittent pain. Case 2 is about a patient whose left posterior maxillary teeth had gingival abscess and fracture history. Based on the radiographic examination, it was known that the filling of root canal was incomplete and there was radiolucency in the apical area. Case management: The cases were treated with triad endodontics, which involves preparation, disinfection by using 2.5% NaOCl as irrigation substance and calcium hydroxide as intracanal dressing, and then the filling of root canal with gutta percha and endomethasone root canal cement. Evaluations were conducted one month, 12 months, and 24 months after the treatment. Conclusion: Calcium hydroxide is effective to be used as intracanal dressing in apical periodontitis cases.Latar belakang: Infeksi saluran akar dan penyakit periapeks disebabkan oleh mikroba dan produknya. Infeksi yang berlangsung lama memungkinkan bakteri masuk ke dalam seluruh sistem saluran akar. Periodontitis apikal disebabkan oleh infeksi persisten mikroba di dalam sistem saluran akar disertai perubahan radiografik dan histopatologik periapeks. Preparasi kemomekanis dan penggunaan obat saluran akar antar kunjungan sangat dianjurkan untuk mengeleminasi mikroba dalam saluran akar. Kalsium hidroksida merupakan obat saluran akar karena dapat berperan sebagai barrier pertahanan fisik, mencegah infeksi ulang dan mengganggu suplai nutrisi untuk perkembangan bakteri. Tujuan: Untuk membuktikan efektifitas kalsium hidroksida pada perawatan gigi dengan periodontitis apical yang disertai dengan keluhan sakit dan adanya gambaran radiolusensi di periapikal. Kasus: Kasus 1 dan 3 adalah penderita dengan keluhan gigi belakang bawah kiri sakit dengan nyeri spontan hilang timbul, kasus 2 adalah penderita yang gigi depan atas terdapat benjolan di gusi dan riwayat fraktur. Pada pemeriksaan radiografis terlihat pengisian saluran akar yang tidak sempurna dan gambaran radiolusensi di apikal. Tatalaksana kasus: Pada kasus ini dilakukan tindakan triad endodontik, yaitu preparasi saluran akar, desinfeksi dengan larutan irigasi NaOCl 2,5% dan obat intrakanal kalsium hidroksida disertai dengan pengisian saluran akar dengan gutta percha dan semen saluran akar endomethason. Evaluasi dilakukan 1 bulan, 12 bulan, dan 24 bulan. Kesimpulan: Kalsium hidroksida efektif sebagai obat intrakanal pada kasus periodontitis apikal.
Hemolysin activities as virulence factor of Enterococcus faecalis isolated from saliva and periapical abscess (gene detection by PCR) N.P.A, Dewa Ayu; Dewiyani, Sari; Ashari, Dessy Sulistya
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 46, No 1 (2013): (March 2013)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/j.djmkg.v46.i1.p45-49

Abstract

Background: Enterococcus faecalis is a normal flora of the oral cavity, commonly detected in saliva and persistence in endodontic infections. These bacteria have diverse survival and virulence factors. Hemolysin is one of the factor and still had unclear role as a virulence factor of the Enterococcus faecalis to survive in the root canal. Purpose: The purpose of this research was to analyze the presence and activity of hemolysin gene and its activity as a virulence factor isolated from saliva and root canals with periapical abscess. Yet by understanding one of the phenotypes characters which is hemolysin, it is expected a successful endodontic treatment can be provided with the persistent of Enterococcus faecalis bacteria. Methods: Method of the research starting with the identification of Enterococcus faecalis bacteria in isolated saliva and periapical abscess was done in the first part of the study. Then the phenotypes character of Enterococcus faecalis such as gene detection and expression of hemolysin in blood agar cultures of the 60 colonies samples were performed in the later part. Results: Not all of the colonies cultured were identified as Enterococcus faecalis. All positive detection on hemolysin gene showed hemolysin expresion in both isolated samples. However, there were samples with hemolysin expression eventough no hemolysin gene detected. Hemolysin expression detection in saliva was higher due to different activation phase of hemolysin in saliva. The study with just one primer could lead to the possibility of undetected hemolysin gene, eventough there were samples that did not have hemolysin gene. The proportion of hemolysin expression in root canals were less than saliva, this could be influenced by environmental factors. However, Hemolysin was considered as important virulence factor, particularly for disease therapy. Conclusion: The conclusion of this research was hemolysin gene discovered in clinical isolated saliva and root canals samples as virulence factor of the Enterococcus faecalis, and hemolysin expression occured from both sources.Latar belakang: Bakteri Enterococcus faecalis adalah flora normal rongga mulut dan merupakan mikroorganisme yang umum dideteksi dalam saliva dan infeksi endodontik persistensi. Bakteri ini memiliki berbagai faktor survival dan virulensi. Hemolysin adalah salah satunya tetapi masih merupakan faktor virulensi yang belum terlalu jelas mekanismenya. Tujuan: Tujuan riset ini adalah untuk menganalisis keberadaan gen hemolysin dan aktifitas hemolysin Enterococcus faecalis sebagai faktor virulen yang diisolasi dari saliva dan saluran akar gigi dengan abses periapikal. Mengetahui salah satu karakter fenotip Enterococcus faecalis yaitu hemolysin diharapkan berguna untuk kesuksesan perawatan endodontik akibat pesistensinya bakteri tersebut. Metode: Penelitian diawali pada bagian pertama penelitian adalah identifikasi bakteri Enterococcus faecalis isolat saliva dan abses periapikal. Bagian kedua melihat karakter fenotip Enterococcus faecalis berupa deteksi gen hemolysin serta ekspresi hemolysin di kultur agar darah dari 60 sampel koloni. Hasil: Tidak semua kuman yang tumbuh dikultur teridentifikasi sebagai Enterococcus faecalis. Pada deteksi gen hemolysin positif menunjukkan seluruhannya terekspresi hemolysin di kedua sumber isolat klinik. Namun, terdapat sampel yang menunjukkan terekspresi hemolysin meskipun gen hemolysin tidak ada dan itu lebih banyak di saliva, walaupun tidak bermakna. Hal ini dapat disebabkan perbedaan tahap aktivasi hemolysin di saliva. Pengujian hanya dengan satu primer dapat menyebabkan kemungkinan ada gen hemolysin tetapi tidak terdeteksi. Walaupun memang ada sampel yang tidak memiliki gen hemolysin. Proporsi keberadaan ekspresi hemolysin pada saluran akar lebih sedikit dari saliva karena ekspresi hemolysin dipengaruhi faktor lingkungan. Namun demikian, Hemolysin adalah faktor viruensi yang penting khususnya untuk terapi penyakit. Kesimpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah ditemukan gen hemolysin pada sampel isolat klinik saliva dan saluran akar sebagai faktor virulen bakteri Enterococcus faecalis serta terjadi ekspresi hemolysin dari kedua sumber tersebut.
RESTORASI GIGI ANTERIOR MENGGUNAKAN TEKNIK DIRECT KOMPOSIT (Kajian Pustaka) Dewiyani, Sari
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi Vol 13, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (59.818 KB) | DOI: 10.32509/jitekgi.v13i2.843

Abstract

Restorasi gigi anterior yang terlihat natural merupakan faktor estetik yang penting. Restorasi resin komposit adalah restorasi estetik di bidang konservasi gigi. Restorasi resin komposit direct paling umum dilakukan pada pasien karena langsung dikerjakan didalam mulut, menggunakan bahan yang sewarna dengan gigi aslinya dan cara manipulasi yang mudah. Restorasi direct pada gigi anterior dilakukan pada kasus diastema anterior, fraktur gigi anterior, karies kelas III, IV GV Black dan perubahan warna pada gigi. Teknik restorasi ini merupakan perawatan konservatif di kedokteran gigi.