Erni H Purwaningsih, Erni H
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Gambaran kristal urin pada hewan model nefrolitiasis hasil induksi etilen glikol Purwono, Rini Madyastuti; Wientarsih, Ietje; Widodo, Setyo; Purwaningsih, Erni H; Harlina, Eva
ARSHI Veterinary Letters Vol 3, No 1 (2019): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingginya tingkat keterulangan kasus urolitiasis baik pada hewan maupun manusia, menuntut penelitian dalam mencari solusi menurukan angka keterulangan. Penelitian urolitiasis membutuhkan hewan model urolitiasis yang sesuai dengan kondisi sebenarnya. Salah satu metode yang digunakan adalah menciptakan kondisi hiperoksaluria. Penggunaan induksi etilen glikol menjadi metode yang paling umum digunakan. Induksi ini menghasilkan kristal kalsium oksalat monohidrat. 
Penetration effect of prostaglandin E2 gel on oral mucosa of rats Arifin, Rafinus; Widayati, Retno; Purwaningsih, Erni H; S, Dewi Fatma
Dental Journal (Majalah Kedokteran Gigi) Vol 45, No 3 (2012): (September 2012)
Publisher : Faculty of Dental Medicine, Universitas Airlangga

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Several researches reported that Prostaglandin E2 (PGE2) injection on buccal mucosa combined with orthodontic pressure can faster tooth movement but has disadvantages such as high alveolar bone and root resorption furthermore pain from injection needle. PGE2 gel was made to better replace the lacks of injectable PGE2. Purpose: This research was aimed to prove that PGE 2 gel can penetrate rat’s oral mucosa effecting the appearance of PMN cells. Methods: This research was an in vivo laboratory experiment using 36 Sprague Dawley rats which were divided into 3 groups: normal group, topical PGE2 gel group after 1, 2, 4, 8 hours (4 subgroups), and topical gel without PGE2 group after 1, 2, 4, 8 hours (4 subgroups). Each group consists of 4 rats, therefore the total sample for all research groups were 36 rats. Gel with 25 µg/mL of PGE2 and gel without PGE2 were applied on oral mucosa for 2 minutes. Then, the rats were sacrificed after 1 hour, 2 hours, 4 hours, and 8 hours application. After that, the samples were prepared for histological examination with Hematoxyllin and Eosin. The picture were taken with OptiLab View and PMN cells amount were counted with light microscope, set 400 times of magnification. Results: Penetration effect of PGE2 gel on rat’s oral mucosa result in PMN inflammation cells distribution. One-way ANOVA showed no significant difference on PMN cells count in rats’ lower jaws between groups of normal and gel without PGE2. There was significant difference between groups of PGE2 gel and gel without PGE2 (p=0,001). PGE2 gel application showed PGE2 as inflammatory media, even though administered topically. Conclusion: PGE2 gel can penetrate rat’s oral mucosa, effecting PMN cells 1, 2, 4 and 8 hours after application of PGE2 gel.Latar belakang: Beberapa penelitian melaporkan bahwa injeksi (Prostaglandin E2) PGE2pada mukosa bukal yang dikombinasikan dengan tekanan ortodonti dapat mempercepat pergerakan gigi, tapi mempunyai kekurangan berupa resorpsi yang besar pada tulang alveolar dan akar gigi, serta adanya rasa sakit akibat penggunaan jarum suntik. Gel PGE2 dibuat untuk mengatasi kekurangan pemberian PGE2 secara injeksi. Tujuan: Untuk membuktikan bahwa gel PGE2 dapat berpenetrasi pada mukosa mulut tikus dengan efek munculnya sel PMN. Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental laboratorik in vivo, menggunakan 36 tikus Sprague Dawley yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok normal; kelompok pengolesan gel PGE2 setelah 1 jam, 2 jam, 4 jam, 8 jam (4 sub kelompok); kelompok pengolesan gel tanpa PGE2 setelah 1 jam, 2 jam, 4 jam, 8 jam (4 sub kelompok). Masing-masing kelompok terdiri 4 sampel, sehingga total sampel seluruh kelompok penelitian 36 tikus. Gel PGE2 dosis 25 µg/mL dan gel tanpa PGE2 dioleskan pada mukosa mulut rahang bawah selama 2 menit. Tikus di sacrifice setelah 1 jam, 2 jam, 4 jam dan 8 jam pengolesan. Kemudian dibuat sediaan histologi dengan pewarnaan Hematoxylin dan Eosin. Foto preparat diambil menggunakan OptiLab View. Hitung jumlah sel-sel PMN menggunakan mikroskop cahaya dengan pembesaran 400x. Hasil: Efek penetrasi gel PGE2 pada mukosa mulut terlihat distribusi sel-sel inflamasi PMN. Uji one-way ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan jumlah sel PMN yang bermakna pada mukosa rahang bawah tikus antara kelompok gel tanpa PGE2 dan normal. Ada perbedaan bermakna antara jumlah sel PMN kelompok pengolesan gel PGE2 dengan gel tanpa PGE2. (p = 0,001). Hasil aplikasi gel PGE2 menunjukkan gel PGE2 sebagai media inflamasi, meskipun zat aktif diberikan secara topikal. Kesimpulan: PGE2 gel dapat berpenetrasi ke mukosa mulut tikus, dengan efek adanya sel-sel PMN pada 1 jam, 2 jam, 4 jam dan 8 jam setelah pengolesan gel PGE2.
Efek Kombinasi Ekstrak Etanol Acalypha indica dan Centella asiatica pada Jantung Tikus Pascahipoksia: Gen Hif-1a, Troponin I dan Stres Oksidatif Edhiatmi, Marsetyo; Arozal, Wawaimuli; Purwaningsih, Erni H
Jurnal Jamu Indonesia Vol 1 No 2 (2016): Jurnal Jamu Indonesia
Publisher : Pusat Studi Biofarmaka Tropika LPPM IPB; Tropical Biopharmaca Research Center - Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1083.737 KB)

Abstract

Hipoksia meningkatkan pembentukan dan pelepasan spesies oksigen reaktif (ROS). Sel mempunyai mekanisme melindungi diri terhadap kerusakan akibat pembentukan ROS yang terjadi secara alami. Jika pembentukan radikal bebas terjadi berlebihan maka dapat menyebabkan stres oksidatif yang memicu kerusakan sel terutama pada jantung. Sehingga tubuh memerlukan asupan antioksidan. Acalypha indica dan Centella asiatica terbukti memiliki efek antioksidan dan melindungi banyak organ dari kondisi hipoksia, sehingga penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui efek antioksidan kombinasi ekstrak etanol Acalypha indica dan Centella asiatica pada organ jantung tikus Spraque-Dawley pascahipoksia. Tiga puluh lima ekor tikus Sprague-Dawley jantan diinduksi hipoksia selama 7 hari dalam ruang khusus, kemudian diberi perlakuan. Ekstrak Acalypha indica, ekstrak Centella asiatica dan kombinasinya diberikan kepada kelompok tikus yang telah dibagi menjadi grup A (hipoksia dan diberi air), B (hipoksia dan diberi kombinasi Acalypha indica 200 mg/kgBB dan Centella asiatica 150 mg/kgBB), C (hipoksia dan diberi kombinasi Acalypha indica 250 mg/kgBB dan Centella asiatica 100 mg/kgBB), D (hipoksia dan diberi Acalypha indica 250 mg/kgBB), E (hipoksia dan diberi Centella asiatica 150 mg/kgBB), F (hipoksia dan diberi vitamin C 100mg/kgBB) dan kelompok normal. Perlakuan diberikan secara oral selama 7 hari setelah hipoksia. Parameter yang diamati adalah ekspresi mRNA HIF-1α, kadar MDA, aktivitas enzim SOD dan ekspresi mRNA cTnI. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada ekspresi HIF-1α antara grup A dan kelompok tikus normal (p>0,05). Kadar MDA meningkat signifikan pada grup A (p<0,05) dibanding tikus normal. Kadar MDA grup D mengalami penurunan secara signifikan (p<0,05) dibanding grup A. Aktivitas SOD menurun signifikan pada grup A (p<0,05) dibanding tikus normal. Aktivitas SOD grup B dan E (p<0,05) mengalami peningkatan secara signifikan dibanding grup A. Grup B meningkat signifikan (p<0,05) dibanding grup E. Tidak terdapat perbedaan bermakna antar kelompok perlakuan pada Ekspresi cTnI. Tidak terdapat korelasi antara kadar MDA dan aktivitas SOD serta ekspresi mRNA HIF-1a dan mRNA cTnI. Pemberian kombinasi ekstrak Acalypha indica dan Centella asiatica tidak dapat membantu memproteksi kerusakan jantung pascahipoksia.