Articles

Found 4 Documents
Search

Bias Gender Dalam Prestasi Akademik Siswa: Studi tentang Perbandingan Prestasi Akademik Siswa Laki-laki dan Perempuan di SMA 12 Bekasi

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol 17, No 4 (2011)
Publisher : Balitbang Kemendikbud

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.185 KB)

Abstract

This article has two purposes for writing. Firstly, explain the differences in academic achievement between students of men and women on the subjects of Physics, Sociology and Indonesian? Secondly, to explain the tendency of academic achievement differences between boys and girls on the subjects of Physics, Sociology and Bahasa Indonesian. It can be concluded that the subjects of Physics, women have higher grades than men. On the subject of Sociology and the Indonesian language, there were no significant differences between men and women. The results of this study was influenced by developments or changes in the mindset that embraced the values of society regarding women’s position in society. This study use a quantitative approach with secondary data analysis methods (ADS). Data collection method used is the method of documentation. It should be done early gender socialization to students about gender equality in an effort to minimize the occurrence of gender bias. ABSTRAKArtikel ini memiliki dua tujuan penulisan. Pertama, menjelaskan perbedaan prestasi akademik antara siswa laki-laki dan perempuan pada mata pelajaran Fisika, Sosiologi dan Bahasa Indonesia? Kedua, menjelaskan kecenderungan perbedaan prestasi akademik antara siswa laki-laki dan perempuan pada mata pelajaran Fisika, Sosiologi dan Bahasa Indonesia. Dapat disimpulkan bahwa pada mata pelajaran Fisika, perempuan mempunyai nilai yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Pada mata pelajaran Sosiologi dan Bahasa Indonesia, tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan. Hasil penelitian ini dipengaruhi oleh perkembangan pola pikir atau perubahan nilai-nilai yang dianut masyarakat berkaitan posisi perempuan dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis data sekunder (ADS). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi. Perlu dilakukan sosialisasi gender sejak dini kepada pelajar tentang kesetaraan gender dalam upaya meminimalisir terjadinya bias gender.

PERAN PUBLIC RELATIONS DALAM MENINGKATKAN IMAGE DI SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN KOMPUTER CIC CIREBON ( Studi Deskriptif kualitatif tentang Peran Public Relations di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer CIC Cirebon )

Jurnal Signal Vol 1, No 2 (2013): JURNAL SIGNAL
Publisher : UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.441 KB)

Abstract

Latar belakang skripsi ini adalah membahas tentang bagaimana peran Public Relations dalam meningkatkan image di Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) CIC Cirebon.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui peran dan strategi apa yang dilakukan oleh Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer (STMIK) CIC Cirebon dalam meningkatkan imagenya, juga untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mendukung tercapainya hal tersebut juga untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang ditemui. Kajian teoritis membahas tentang bagaimana peran komunikasi dalam menunjang kegiatan Public Relations dalam hal ini apa pengertian Public Relations, bagaimana peranannya serta ruang lingkupnya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif yang mana data digambarkan secara objektif berdasarkan fakta dan informan. Hasil penelitian yaitu bahwa selama ini peran Public Relations di STMIK CIC sudah dijalankan dengan cukup baik ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah pendaftar. Kesimpulan dan saran, peran Public Relations telah dijalankan dengan cukup baik, semoga STMIK CIC selalu mempertahankan dan tetap menjalankan peranannya dengan baik agar hasilnya dapat dirasakan oleh semua pihak terutama dalam menciptakan image yang positip. Kata Kunci : Public Relations, Komunikasi, Image.

Strategi Humas Keraton Kasepuhan dalam Meningkatkan Citra Objek Wisata di Kota Cirebon

Jurnal Signal Vol 1, No 2 (2013): Jurnal Ilmiah SIGNAL
Publisher : UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (620.486 KB)

Abstract

Pengembangan kepariwisataan berkaitan dengan pengembangan nilai-nilai kepribadian dan pengembangan budaya bangsa. Pemanfaatan disini bukan berarti merubah secara total, tetapi lebih memanfaatkan, mengelola, melestarikan setiap potensi yang ada, dimana potensi tersebut dirangkaikan menjadi satu daya tarik wisata agar mendapatkan citra yang baik bagi masyarakat. Penelitian tentang “Strategi Humas Keraton Kasepuhan Dalam Meningkatkan Citra Objek Wisata Kota Cirebon ” ini bertujuan untuk: (1) Menggambarkan dengan jelas strategi humas Keraton Kasepuhan dalam meningkatkan citra objek wisata kota Cirebon. (2) Untuk mengetahui faktor-faktor pendukung peningkatan citra Keraton Kasepuhan sebagai objek wisata Kota Cirebon (3) Untuk mengetahui hambatanhambatan yang dihadapi dalam meningkatkan citra objek wisata Keraton Kasepuhan Kota Cirebon. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Strategi Humas Keraton Kasepuhan yang dijalankan melalui kegiatan publikasi website dan penyebaran brosur ini telah dilaksanakan dengan baik, memberikan kesempatan bekerja sama kepada kelompok ,asyarakat tertentu juga adalah salah satu strategi Humas Keraton Kasepuhan untuk meningkatkan citra positif dan menjadikan Keraton Kasepuhan sebagai objek wisata yang lebih memasyarakat, (2) Nilai sejarah dan budaya yang sudah selalu dijaga dan dilestarikan oleh Keraton Kasepuhan agar masyarakat juga ikut melestarikannya menjadi faktor yang mendukung Humas Keraton Kasepuhan melakukan serangkaian kegiatan publikasi untuk meningkatkan citranya, dan untuk menjadikan objek wisata Keraton Kasepuhan yang memiliki kegiatan positif di masyarakat, (3) Hambatan yang dihadapi dalam meningkatkan citra objek wisata Keraton Kasepuhan terdapat pada penilaian wisatawan yang berbeda-beda. Penilaian beberapa wisatawan yang menganggap objek wisata Keraton Kasepuhan masih kurang bersih ini menimbilkan kesan yang tidak baik bagi beberapa wisatawan. Hal ini menjadi hambatan bagi Humas Keraton Kasepuhan karena penilaian, kesan, kepercayaan dan sikap dari wisatawan atau masyarakat akan sangat mempengaruhi citra objek wisata Keraton Kasepuhan.

Democratic Citizenship of Teacher Movement in Indonesia Post-Soeharto: Between Democratic Citizenship and Civic Engagement

Jurnal Ilmiah Peuradeun Vol 6 No 3 (2018): Jurnal Ilmiah Peuradeun
Publisher : SCAD Independent

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

After May 1998, Indonesia began the transition from centralization to the era of autonomy. During 32 years, Soeharto’s New Order regime (1966-1998) demonstrated authoritarian regime in many sectors, like politics, economics, social, especially in education. The political freedom of the Reform era has opened up an opportunity for the revival of social movements in Indonesia. Reform has enabled more open political structure, including a friendlier political atmosphere for the teacher movement. The purpose of this research is to explain how teacher movement in Indonesia made transformation from authoritarian which close movement to liberal with open movement. In New Order regime with authoritarian performance, Persatuan Guru Republik Indonesia (Teacher Union in Indonesia) is as the single actor. The paper discussed three main aspects: (1) the explanation of the emerging of teacher movements in the process of democratic citizenship (2) the dynamics of teacher movement in developing teacher capacity in era of decentralization of Indonesia (3) the relations of teacher movement between the civil societies in era of decentralization. The teacher movement influences Indonesia’s democratization process. Teacher movement has contributed substantially in increasing participation and democracy in Indonesia, building the legal and institutional infrastructure for democracy, and providing voice and educational advocacy in supporting the reform.