Articles

Found 7 Documents
Search

KAJIAN INTERAKSI OBAT POTENSIAL ANTIHIPERTENSI PADA PASIEN HIPERTENSI RAWAT INAP DI RSUD DR. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA PERIODE APRIL-MEI 2017 Hartiwan, Mutiara; alifiar, Ilham; Fatwa, Maritsa Nur
Jurnal Farmasi Sains dan Praktis Vol 4 No 2 (2018)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat (drug-related problem)yang diidentifikasikan sebagai kejadian atau keadaan terapi obat yang dapat mempengaruhi luaranklinis pasien.Hipertensi adalah salah satu faktor risiko utama terhadap penyakit jantung, gagaljantung kongestif, stroke, gangguan penglihatan, dan penyakit ginjal. Penelitian ini bertujuan untukmelihat profil penggunaan obat antihipertensi dan obat lainnya, dan untuk melihat interaksi obatpotensial antihipertensi yang diberikan pada pasien hipertensi yang dirawat di RSUD dr. SoekardjoKota Tasikmalaya periode April-Mei 2017. Pengambilan data dilakukan secara prospektif, data pasiendidapatkan dari ruang rawat inap pasien dan wawancara.Data dianalisis menggunakan statistik danDrug Interaction Facts sebagai acuan. Hasil penelitian menunjukkan dari 90 pasien hipertensi yangmengalami interaksi obat potensial sebanyak 68 pasien, jumlah kasus 234 interaksi obat potensialdengan tingkat signifikansi yang paling banyak yaitu non signifikansi sebanyak 170 kasus (72,6%)dan tingkat keparahan dari penelitian ini yang paling banyak yaitu moderate 135 kasus (57,2%)yang berarti memberikan efek yang sedang, dimana dapat menyebabkan kerusakan pada organsehingga membutuhkan pengobatan tambahan, tingkat keparahan yang paling sedikit terjadi yaitutingkat mayor sebanyak 29 (12,2%).
Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Jengkol (Pithecellobium Lobatum Benth) Terhadap Penyembuhan Luka Insisi Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yunitasari, Dea; Alifiar, Ilham; Priatna, Muharam
Jurnal Farmasi Sains dan Praktis Vol 2 No 1 (2016): Vol. II, No 1, September 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka adalah rusaknya kesatuan atau komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang. Daun jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) telah terbukti secara empiris digunakan oleh masyarakat untuk mengobati luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) terhadap penyembuhan luka insisi serta mengetahui dosis yang tepat untuk penyembuhan luka insisi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental, dengan menggunakan tikus sebagai hewan uji. Punggung tikus diinsisi dengan diameter 1 cm. Luka pada punggung tikus diberi sediaan ekstrak etanol daun jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) dan dilakukan pengukuran diameter luka setiap hari selama 2 minggu. Berdasarkan hasil pengujian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) dengan dosis 0,051 gram, 0,103 gram, 0,206 gram menunjukan adanya aktivitas penyembuhan luka bila dibandingkan terhadap kelompok kontrol negatif, bila dibandingkan dengan povidone iodine memiliki aktivitas yang sama yaitu mempercepat penyembuhan luka. Pemberian ekstrak etanol daun jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) dengan dosis 0,206 gram (dosis III) memiliki aktivitas yang lebih besar dibanding dengan dosis I dan dosis II.
Uji Aktivitas Ekstrak Etanol Daun Jengkol (Pithecellobium Lobatum Benth) Terhadap Penyembuhan Luka Insisi Pada Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yunitasari, Dea; Alifiar, Ilham; Priatna, Muharam
Jurnal Farmasi Sains dan Praktis Vol 2 No 1 (2016): Vol. II, No 1, September 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Luka adalah rusaknya kesatuan atau komponen jaringan, dimana secara spesifik terdapat substansi jaringan yang rusak atau hilang. Daun jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) telah terbukti secara empiris digunakan oleh masyarakat untuk mengobati luka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas ekstrak etanol daun jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) terhadap penyembuhan luka insisi serta mengetahui dosis yang tepat untuk penyembuhan luka insisi. Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental, dengan menggunakan tikus sebagai hewan uji. Punggung tikus diinsisi dengan diameter 1 cm. Luka pada punggung tikus diberi sediaan ekstrak etanol daun jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) dan dilakukan pengukuran diameter luka setiap hari selama 2 minggu. Berdasarkan hasil pengujian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) dengan dosis 0,051 gram, 0,103 gram, 0,206 gram menunjukan adanya aktivitas penyembuhan luka bila dibandingkan terhadap kelompok kontrol negatif, bila dibandingkan dengan povidone iodine memiliki aktivitas yang sama yaitu mempercepat penyembuhan luka. Pemberian ekstrak etanol daun jengkol (Pithecellobium lobatum Benth) dengan dosis 0,206 gram (dosis III) memiliki aktivitas yang lebih besar dibanding dengan dosis I dan dosis II.
EVALUASI PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA PADA PASIEN PASCA BEDAH RAWAT INAP DI RSUD SMC KABUPATEN TASIKMALAYA PERIODE APRIL-MEI 2017 Nurlela, Sani; Alifiar, Ilham; Idacahyati, Keni
JFL : Jurnal Farmasi Lampung Volume 7 Nomor 1 Juni 2018
Publisher : Universitas Tulang Bawang Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.406 KB)

Abstract

Bedah merupakan suatu tindakan pengobatan dengan cara membuka dan menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani, pembukaan ini umumnya dilakukan dengan membuat sayatan, dan selanjutnya dilakukan perbaikan yang diakhiri dengan penutupan. Penyayatan yang dilakukan dapat menyebabkan perlukaan sehingga dapat beresiko tinggi menimbulkan infeksi, adanya infeksi harus ditangani dengan antibiotik yang tepat dan rasional. Penggunaan antibiotika yang tidak terkontrol memungkinkan munculnya bakteri yang resisten, sehingga pengobatan infeksi menjadi tidak efektif. Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi data penggunaan antibiotika pada pasien pasca bedah rawat inap di sebuah Rumah Sakit di Kabupaten Tasikmalaya periode bulan April-Mei 2017 dan melakukan evaluasi gambaran pola penggunaan antibiotika. Penelitian ini merupakan penelitian obsevasional dengan pengambilan data dilakukan secara prospektif dan desain penelitian cross sectional. Analisis data dilakukan dengan menggunakan SPSS 21.0. jumlah sampel penelitian yang didapatkan sebanyak 80 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan antibiotika tunggal yang paling banyak digunakan adalah ceftriaxone, baik pada operasi bersih maupun pada operasi bersih terkontaminasi. Sedangkan antibiotika kombinasi yang paling banyak digunakan adalah ceftriaxone kombinasi dengan metronidazole, baik pada operasi bersih maupun pada operasi bersih terkontaminasi. Kata kunci: pasca bedah, antibiotika, evaluasi obat
Kajian Farmakoekonomi Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi yang Dirawat di RSUD Kota Tasikmalaya Alifiar, Ilham; Idacahyati, Keni
Jurnal Pharmascience Vol 5, No 2 (2018): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v5i2.5794

Abstract

Penyakit hipertensi merupakan penyakit menahun yang membutuhkan pengobatan jangka panjang, seringkali seumur hidup. Banyak pasien kemudian mengeluhkan mengenai biaya yang harus dikeluarkan untuk pembelian dan pengobatan penyakit ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pengobatan yang paling cost minimal pada pasien hipertensi yang dirawat di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian obsevasional dengan desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dan pengambilan data dilakukan secara prospektif. Data dikumpulkan pada periode bulan April sampai dengan September, Data yang dihimpun kemudian dianalisa secara farmakoekonomi. Total jumlah pasien yang bersedia untuk mengikuti penelitian ini sebanyak 100 orang pasien, namun yang termasuk dalam criteria inklusi sebanyak 32 pasien. Hasil analisa cost effective analysis untuk obat golongan ACEI sebesar 1,320.397.5, untuk golongan CCB 435,230.5, untuk golongan ARB 1,113.380.5, dan untuk golongan B-Bloker sebesar 556,411.5. Oleh karena itu, pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa golongan obat Calcium Channel Blocker merupakan obat yang paling cost minimal terhadap golongan obat hipertensi yang lain. Kata kunci : Farmakoekonomi, Cost Minimalize Analysis, Obat Antihipertensi
GAMBARAN PENGGUNAAN ANALGETIKA PADA PASIEN PASCA BEDAH DI RUANG III DAN MELATI LANTAI 4 RSUD DR. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA Darajatun, Laila Awaliyah; Alifiar, Ilham; Nofianti, Tita
FITOFARMAKA | Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 7, No 1 (2017): Vol 7 No 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.442 KB)

Abstract

Bedah merupakan tindakan yang dilakukan oleh dokter untuk mengatasi masalah pasien yang mengakibatkan kerusakan jaringan tubuh sehingga menimbulkan rasa nyeri. Nyeri adalah pengalaman  perasaan emosional  yang tidak menyenangkan  akibat terjadinya kerusakan jaringan yang aktual maupun potensial. Penanganan nyeri umumnya menggunankan analgetik seperti golongan opioid dan Non Steroid Anti-Inflammantory Drugs.  Penelitian  ini  bertujuan  untuk  mengetahui  gambaran  penggunaan  analgetik dalam  menghilangkan  nyeri  pasca  bedah  meliputi  penggunaan  analgetik  tunggal maupun analgetik kombinasi. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain Cross sectional dan pengambilan data dilakukan secara prospektif. Subjek pada penelitian ini adalah pasien pasca bedah  yang  menerima analgetik di Ruang Pasca Bedah yang dirawat di sebuah RSUD dr. Soekardjo, Kota Tasikmalaya periode April- Mei  tahun 2017. Jumlah  pasien  yang bersedia  untuk  mengikuti  penelitian  ada 111 pasien. Data-data yang diperoleh menunjukkan analgetik yang paling banyak digunakan adalah ketorolak sebanyak 49,5%, penggunaan terbanyak kedua adalah tramadol sebanyak  21,6%,  kemudian  asam  mefenamat  sebanyak  22,5%  dan  parasetamol sebanyak  4,5%.  Penggunaan  analgetik  kombinasi  yaitu  antara  tramadol  dengan ketorolak sebanyak 1,8%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah analgetik tunggal lebih banyak digunakan terhadap pasien pasca operasi di RSUD dr. Soekardjo, Kota Tasikmalaya. Kata kunci:   Pereda nyeri, anagesik, pasca bedah
Gambaran Potensi Interaksi Obat dengan Makanan pada Pasien Hepar yang Dirawat di Sebuah Rumah Sakit di Kota Tasikmalaya Alifiar, Ilham
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol 2 No 1 (2016): Jurnal Surya Medika
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v2i1.374

Abstract

Interaksi obat adalah salah satu tipe dari permasalahan yang terkait dengan obat.penggunaan obat bersama dengan makanan berpotensi untuk merubah efek dari obat yang bersangkutan, baik meningkatkan efek atau justru menurunkan efek dari obat yang bersangkutan.Penelitian ini bertujuan untuk mencari potensi interaksi obat dengan makanan pada pasien dengan gangguan hepar yang dirawat di salah satu rumah sakit di Kota Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian kohort, dengan pengambilan data dilakukan secara prospektif. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara consecutive sampling.Jumlah pasien didapatkan sebanyak 40 orang pasien dengan gangguan hepar dan pasien kontrol.Pasien dengan gangguan hepar mencakup sirosis hepatic, abses hepar, dan hepatitis.Sebanyak 7 obat berpotensi untuk mengalami interaksi obat dengan makanan.Obat tersebut adalah furosemide, spironolakton, omeprazole, lansoprazole, parasetamol, ondansetron, dan aspirin. Pasien dengan gangguan hepar mempunyai potensi 1,294 kali lebih tinggi untuk mengalami interaksi antara obat dengan makanan (p: 0,040; RR: 1,294; CI: 1,032-1,623) dengan potensi paling tinggi untuk berinteraksi dengan makanan adalah antara furosemide, spironolakton, ondansetron, dan aspirin Kesimpulan dari penelitian ini adalah pasien dengan gangguan hepar mempunyai potensi lebih tinggi untuk mengalami interaksi obat dengan makanan.