Articles

Found 22 Documents
Search

Isomerisasi Eugenol Menjadi Isoeugenol Menggunakan Radiasi Gelombang Mikro Mulyono, Edy; Hidayat, Tatang
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8174.823 KB)

Abstract

Isomerisasi eugenol menjadi isoeugenol merupakan proses pergeseran ikatan rangkap yang terdapat pada gugus alkenil ke posisi konyugasi dengan ikatan rangkap pada cincin benzena dalam eugenol. Proses ini merupakan reaksi katalitik yang memerlukan bantuan katalis dan panas. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi katalis rhodium klorida trihidrat (RhCl3.3H2O) dan lama pemanasan yang optimal pada isomerisasi eugenol dengan menggunakan radiasi gelombang mikro. Perlakuan yang diuji terdiri atas dua faktor, yaitu : (A) konsentrasi katalis RhCl3.3H2O dengan tiga taraf : A1 = 0,08 %, A2 = 0,16 %, dan A3 = 0,24 %, dan (B) lama pemanasan dengan radiasi gelombang mikro dengan tiga taraf : B1 = 10 menit, B2 = 15 menit, dan B3 = 20 menit. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial (3x3) dengan 3 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan yang optimal dicapai pada konsentrasi katalis RhCl3.3H2O sebesar 0,24 % dengan lama pemanasan 15 menit. Kemurnian isoeugenol yang dihasilkan mencapai 91,27 % dengan komposisi isomer cis isoeugenol 18,03 % dan trans isoeugenol 73,24 % atau rasio isomer cis dan trans 1 : 4,1 (0,25). Jumlah bahan yang menguap pada perlakuan yang optimal mencapai 19,08 % atau identik dengan rendemen produk isoeugenol 80,92 %. Produk yang dihasilkan masih perlu dimurnikan untuk mendapatkan kemurnian dan isomer trans isoeugenol yang lebih tinggi, dan memperbaiki sifat fisiko-kimianya.
Education Values Based On The Thinking Of K.H. Choer Affandi And Their Relevance To The Modern Education Hidayat, Tatang
TADRIS: Jurnal Pendidikan Islam Vol 14, No 1 (2019): (In Progress)
Publisher : State Islamic Institute of Madura

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.563 KB)

Abstract

The existence of pesantrens in the Indonesian archipelago, such as Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Tasikmalaya is a major transformation for the development of the national education system. This present study aims at investigating the educational values based on the thinking of K.H. Choer Affandi and their relevance to the modern education. This study employed a qualitative approach and descriptive method. In this present study, the researcher acted as the main instrument. The data collection techniques employed in this study covered interviews, observation, and documentation studies. Based on the results of the study, it showed that K.H Choer Affandi was a salafiyah Islamic scholar born from a knowledgeable, fighter, and noble family. Coming from the aforementioned reason, he was eventually active in education realms and movements. Educational values of K.H. Choer Affandi consist of iman and taqwa values, leadership, independence, discipline, honesty, persistence (istiqomah), courage (syaja'ah), intelligence and simplicity values (tawaḍu) Therefore, the educational values of K.H. Choer Affandi is still relevant in modern education today, because modern education has lost its essential meaning, revoked from the roots of the values of education itself.Keywords: Education Values, K.H. Choer Affandi, Modern Education, Pondok Pesantren Miftahul Huda
Pengaruh Konsentrasi Dan Waktu Perendaman Dalam Asam Sitrat Terhadap Mutu Lada Hijau Kering Hidayat, Tatang; Risfaheri, nFN; Kailaku, Sari Intan
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 9, No 1 (2012): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.867 KB)

Abstract

Lada hijau kering merupakan produk lada yang diolah dari buah lada yang masih muda dengan warna hijaunya dipertahankan sampai produk akhir. Pada pengolahan lada hijau kering terjadi reaksi pencoklatan enzimatik yang menyebabkan perubahan warna hijau menjadi kehitaman. Pengolahan lada hijau kering pada penelitian ini menggunakan asam sitrat sebagai zat penghambat reaksi pencoklatan yang aman untuk kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan waktu perendaman dalam asam sitrat terhadap mutu dan sifat organoleptik lada hijau kering. Perlakuan yang dicobakan yaitu konsentrasi asam sitrat (0,5; 2,0; dan 3,5%) dan waktu perendaman (15, 30, dan 45 menit). Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap faktorial dengan tiga kali ulangan. Parameter mutu yang diuji yaitu warna, kadar lada kehitaman, pH, kadar minyak atsiri, densitas kamba dan sifat organoleptik. Lada hijau kering yang dihasilkan dari perlakuan terbaik, mutunya dianalisis lebih lanjut meliputi kadar piperin, total mikroba dan komponen aroma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asam sitrat efektif menghambat reaksi pencoklatan yang dibuktikan oleh warna lada yang tetap hijau. Kondisi pengolahan lada hijau kering terbaik diperoleh pada konsentrasi asam sitrat 2,0% dengan waktu perendaman 30 menit. Hasil penilaian organoleptik, produk lada hijau kering dapat diterima panelis dengan tingkat penerimaan pada rentang netral sampai suka. Hasil analisis komponen aroma dengan GC-MS menunjukkan bahwa komponen aroma lada hijau kering didominasi oleh senyawa monoterpen dan sesquiterpen. Mutu lada hijau kering yang dihasilkan lebih baik dari produk serupa yang tersedia di pasar, terutama pada parameter intensitas warna kehijauan, kadar piperin, dan total mikroba.
Formulasi Vernis Berbasis Resin Fenolik dari Destilat Cairan Kulit Biji Mete Hidayat, Tatang; Sailah, Illah; Suryani, Ani; Sunarti, Titi C; Risfaheri, nFN
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 5, No 1 (2009): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.101 KB)

Abstract

Resin fenolik dari destilat cairan kulit biji mete (Cashew Nut Shell Liquid/CNSL) merupakan produk polimer yang dihasilkan dari hasil reaksi formaldehida dengan destilat CNSL. Resin ini banyak digunakan dalam produk pelapis permukaan seperti cat, vernis, dan enamel. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan resin fenolik dari destilat CNSL dengan minyak pengering yang tepat untuk formulasi vernis interior dan eksterior (pemakaian di dalam dan di luar ruangan). Perlakuan yang diuji yaitu perbandingan resin fenolik dengan minyak pengering (b/v) : 1:0; 1:0,5; 1:1; dan 1:1,5. Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan minyak pengering (linseed oil) berpengaruh nyata terhadap sifat lapisan film vernis, yaitu kekerasan, daya lentur, daya kilap, dan ketahanan terhadap air, sedangkan terhadap karakteristik vernis (kadar bahan menguap dan bobot jenis) serta sifat lapisan film vernis lainnya tidak berpengaruh nyata. Formula vernis terbaik diperoleh pada perbandingan resin fenolik dengan minyak pengering 1:1. Formula tersebut menghasilkan kadar bahan menguap 59,9% dan bobot jenis 0,899 g/ml. Waktu kering sentuh dan kering keras lapisan film vernis masing-masing 1,8 jam dan 5,8 jam dengan daya kilap setelah pengujian cuaca 60,9%. Nilai-nilai tersebut memenuhi persyaratan mutu SNI untuk vernis tipe A (pemakaian interior dan eksterior). Selain itu, formula vernis tersebut menghasilkan lapisan film dengan kekerasan 3H, daya lentur Ø 3 mm, daya lekat 5B, dan lapisan film yang tahan terhadap air. Secara umum, karakteristik dan sifat lapisan film yang dihasilkan setara dengan vernis komersial K1 (vernis interior dan eksterior), dan lebih baik dari vernis komersial K2. Formula vernis terbaik sangat prospektif digunakan sebagai vernis kayu untuk pemakaian interior dan eksterior.
ANALISIS TEKNIS DAN FINANSIAL PAKET TEKNOLOGI PENGOLAHAN LADA PUTIH (White Pepper) SEMI MEKANIS Hidayat, Tatang; Nurdjannah, Nanan; Usmiati, Sri
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 20, No 1 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.695 KB)

Abstract

Salah satu masalah dalam industri lada di Indonesia yaitu rendahnya mutu lada yang dihasilkan di tingkat petani. Untuk meng-atasi hal tersebut, telah dikembangkan paket teknologi pengolahan lada semi mekanis yang saat ini unit percontohannya telah dibangun di Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menguji paket teknologi pengolahan lada putih semi mekanis baik dari segi teknis mau-pun finansial. Tahapan penelitian meliputi : 1) Produksi lada putih dengan dua cara penge-ringan, yaitu penjemuran dan alat pengering, 2) Analisis mutu lada putih, dan 3) Analisis finansial pengolahan lada putih. Hasil pene-litian menunjukkan bahwa secara teknis paket teknologi pengolahan lada putih semi mekanis memiliki kinerja yang cukup baik. Rendemen lada putih yang dihasilkan berkisar antara 19,63-20,62%. Lada putih yang dihasilkan baik dengan alat pengering maupun dengan pen-jemuran memenuhi standar mutu IPC WP-1 dan WP-2, kecuali kadar kotoran yang meme-nuhi standar mutu IPC WP-2. Total mikroba lada putih kedua cara pengeringan tersebut relatif sama dan memenuhi standar mutu IPC untuk lada putih yang disterilkan. Hasil analisis finansial pengolahan lada putih di Kalimantan Timur pada kapasitas 0,5 ton bahan baku per proses, baik yang menggunakan alat pengering maupun penjemuran, layak direalisasikan. Penggunaan alat pengering menghasilkan NPV Rp 114.258.359,-, IRR 44,9%, B/C rasio 1,07 dengan masa pengembalian modal 2,18 tahun, sedangkan penjemuran menghasilkan NPV    Rp 142.603.460,-, IRR 48,5%, B/C rasio 1,09 dengan masa pengembalian modal 1,9 tahun. Analisis sensitivitas pengolahan lada putih dengan alat pengering dapat mentolerir ke-naikan harga bahan baku dan penurunan harga jual produk sampai 5%, sedangkan dengan penjemuran dapat mentolerir sampai 7%.
Pengeringan Lada Hitam dengan Alat Pengering Tipe Bak Hidayat, Tatang; Nurdjanah, Nanan; Risfaheri, NFN
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 8, No 1 (1993): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.731 KB)

Abstract

Percobaan pengeringan lada hitam dengan alat pengering tipe bak telah dilakukan di Laboratorium Teknologi Balai Penelitian tanaman Rempah dan Obat pada bulan Agustus 1992. Perlakuan yang diuji adalah suhu pengeringan (suhu ruang plenum) yang terdiri atas kisaran suhu 40-45, 50-55 dan 60-650C. bahan percobaan yang digunakan adalah buah lada segar kultivar Belantung yang berasal dari KP. Sukamulya-Sukabumi. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua ulangan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa alat pengering tipe bak dapat diterapkan pada pengeringan lada hitam. Pengeringan buah lada sebanyak 100 kg memerlukan waktu selama 7, 12, dan 21 jam masing-masing pada kisaran suhu 60-65, 50-55 dan 40-450C untuk menurunkan kadar air sampai 11.64-11.95% BB (13.17-13.57% BK). Mutu lada hitam yang dihasilkan pada pengeringan dengan kisaran suhu 50-55 dan 60-650C memenuhi persyaratan Standar Perdagangan (SP) dan Standar Internasional (ISO). Lada hitam yang dikeringkan pada kisaran suhu 40-450C selama 19-20 jam tidak memenuhi persyaratan mutu. Ditinjau dari segi waktu dan biaya, pengeringan dengan kisaran suhu 60-650C akan lebih menguntungkan.
Rancangan dan Pengujian Prototipe Alat Perontok Bunga Cengkeh Tipe Aksial Hidayat, Tatang; Nurdjanah, Nanan
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 7, No 1 (1992): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.524 KB)

Abstract

Alat perontok bunga cengkeh hasil rekayasa Ballittro bekerja berdasarkan prinsip tumbuk dan geseran yang dihasilkan oleh gigi perontok pada silinder. Alat tersebut dioperasikan dengan menggunakan motor listrik I HP dan penyaluran tenaganya melalui system tranmisi sabuk (V-belt). Dari hasil pengujian alat, kondisi optimal proses perontokan diperoleh pada putaran silinder perontok 480 rpm. Hasil perontokan yang diperoleh pada kondisi ini sebagai berikut: efisiensi perontokan 92.11%, kebersihan bunga dari kotoran (tangkai) 82.41%, kerusakan bunga 8.46%, kehilangan hasil 8.98% dan kapasitas alat 76.43 kg bunga/jam. Keadaan fisik bunga cengkeh kering dan kadar minyaknya tidak berbeda dibandingkan dengan hasil perontokan secara tradisional. Biaya perontokan menggunakan alat ini sebesar Rp. 17.71 tiap kg bunga yang dihasilkan. Alat ini masih memerlukan perbaikan terutama untuk mengurangi kehilangan, kerusakan serta meningkatkan kebersihan bunga.
Peningkatan Mutu dan Efisiensi Produksi Minyak Akar Wangi Melalui Teknologi Penyulingan Dengan Tekanan Uap Bertahap Mulyono, Edy; Sumangat, Djajeng; Hidayat, Tatang
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 8, No 1 (2012): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (634.294 KB)

Abstract

Minyak akar wangi (Java Vetiver Oil) merupakan salah satu jenis minyak atsiri yang dihasilkan dari distilasi akar tanaman Vetivera zizanioides Stapf. Minyak akar wangi memiliki daya fiksasi aroma yang kuat sehingga banyak digunakan terutama dalam industri parfum, kosmetik, aromatherapy dan pewangi sabun. Mutu minyak akar wangi Indonesia relatif rendah jika dibandingkan dengan minyak asal Haiti dan Reunion. Warna yang gelap dan aroma gosong (smoky burn) pada minyak akar wangi Indonesia disebabkan oleh penggunaan tekanan tinggi (± 5 bar) yang konstan sejak awal penyulingan. Perbaikan mutu dan peningkatan efisiensi produksi minyak akar wangi perlu segera dilakukan agar minyak akar wangi Indonesia kembali dapat bersaing di pasar dunia. Peningkatan rendemen dan mutu minyak akar wangi dapat dilakukan melalui perbaikan cara panen dan penanganan pascapanen serta metode dan kondisi proses penyulingan. Penyulingan dengan tekanan uap bertahap merupakan salah satu solusi yang dapat digunakan untuk memperbaiki mutu minyak dan meningkatkan efisiensi produksi minyak akar wangi. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tekanan uap bertahap (tekanan uap 2,0; 2,5; dan 3,0 bar dengan total waktu penyulingan 9 jam) dapat menghasilkan recovery minyak sebesar 92,58%, lebih tinggi dibandingkan dengan recovery minyak pada tekanan uap 3 bar secara konstan (90,4%). Mutu minyak yang dihasilkan memenuhi syarat SNI No. 06-2386-2006. Penggunaan tekanan uap bertahap juga dapat menghemat konsumsi energi (bahan bakar) rata-rata sebesar 8,30% dibandingkan dengan konsumsi energi yang digunakan pada penyulingan rakyat.
EKSTRAKSI PEWARNA ALAMI DARI KAYU SECANG DAN JAMBAL DENGAN BEBERAPA JENIS PELARUT Hernani, Hernani; Risfaheri, Risfaheri; Hidayat, Tatang
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 34, No 2 (2017): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1362.899 KB)

Abstract

Penggunaan bahan pewarna alami untuk batik memiliki beberapa keunggulan karena menghasilkan warna khas yang eksotis dengan pencitraan yang eksklusif dan bersifat ramah lingkungan akibat limbah yang dihasilkan  mudah terdegradasi.  Tujuan dari penelitian adalah untuk mendapatkan ekstrak pewarna tekstil dari secang (Caesalpinia sappan L) dan jambal (Pelthoporum pterocarpum) dengan berbagai jenis pelarut terhadap kualitas warna yang dihasilkan dalam aplikasinya pada kain mori. Metode ekstraksi secara maserasi dengan menggunakan beberapa jenis pelarut, yaitu air, etanol, etanol asam, metanol, dan metanol asam. Dari ekstrak yang dihasilkan kemudian diujicobakan terhadap kain mori setelah diberi mordan. Jenis mordan yang digunakan adalah tawas, kapur dan tunjung. Pengamatan yang dilakukan meliputi rendemen ekstrak, intensitas warna ekstrak, intensitas warna pada kain mori dan uji kelunturan. Hasil ekstraksi dari masing-masing zat warna mempunyai rendemen dengan kisaran 10,76 sampai 23% untuk secang dan 12,52 sampai 23,51% untuk jambal. Intensitas warna ekstrak dengan nilai hue tertinggi dihasilkan dari ekstrak metanol asam secang (77,95) dan terendah ekstrak metanol secang (64,44).  Hasil aplikasi ekstrak secang terhadap kain mori dengan berbagai bahan mordan menunjukkan bahwa nilai hue terendah dihasilkan dari ekstrak air dengan mordan kapur (8,41) dan nilai tertinggi dari ekstrak metanol asam dengan mordan tawas (59,64). Untuk ekstrak jambal nilai hue terendah dari ekstrak metanol mordan tawas (50,06) dan nilai hue tertinggi dari ekstrak air mordan tunjung (82,80). Dari uji kelunturan, nilai ΔE terkecil (3,30) dan tertinggi (58,21) masing-masing dari ekstrak etanol secang dengan mordan tunjung dan ekstrak air secang tanpa mordan. 
PARADIGMA ISLAM DALAM METODOLOGI PENELITIAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENELITIAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Hidayat, Tatang; Asyafah, Abas
Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 4 No 2 (2018): Tadrib: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan UIN Raden Fatah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.996 KB)

Abstract

In principle, research is considered as an important thing in the realm of academics, especially for students and lecturers. However, in the reality, it is still easily found that many academia encounter difficulties in conducting research, especially in the field of Islamic education in which its paradigm is different compared to others. The purpose of this present study is to investigate the Islamic paradigm in research methodology and its implication for Islamic Education studies. This study employed a qualitative approach and literature review method. The collected data were analyzed thoroughly using a descriptive analysis method and in the same time, the writer also elaborated as well as provided understanding and explanation proportionally. Based on the results of the discussion, it is obvious that the Islamic paradigm appeared to be different from the paradigm developed by the western world in research methodology. The Islamic paradigm considers that science is not value-free. In addition, the Islamic paradigm has a special characteristic which is different from other paradigms. As a result, a researcher puts Islam as a fundamental paradigm in conducting research on Islamic Education and it in fact has implications for the research processes from the beginning to the end of the research, in relation to research intentions, finding problems, formulating the background of the research problems, formulating research problems, research objectives, research benefits, research theories, and research methodology. In particular, research methodology in this case covers bayani, burhani, tajribi, and 'irfani method. Similarly, all the processes covering data processing, data analysis, conclusions, research publication, research facilities, and all necessary things related to the research should always be associated with the commands and prohibitions as well as permission of Allah Subhanahu wa Ta’ala.