Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Jurnal Teknik Kimia

PENGARUH SUHU PADA HYDROCRACKING OLI BEKAS MENGGUNAKAN KATALIS Cr/ZAA Dewi, Tri Kurnia; Mediana, Meta; Hidayati, Nopektaria
Jurnal Teknik Kimia Vol 20, No 2 (2014): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.295 KB)

Abstract

Jumlah kendaraan di Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun. Hal ini mengakibatkan oli bekas menjadi semakin banyak, yang berpotensi mencemari lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan cara untuk mengubah oli bekas menjadi sesuatu yang lebih berguna. Salah satunya adalah membuat bahan bakar cair dari oli bekas. Di dalam oli bekas terdapat rantai karbon yang dapat diubah menjadi hidrokarbon rantai pendek melalui proses hydrocracking menggunakan katalis Cr/ZAA. Proses hydrocracking dilakukan dengan suhu sebagai variabel bebas yaitu 300oC, 350oC, 400oC, 450oC dan 500oC. Variabel tetap yang digunakan adalah volume umpan 40 ml, berat katalis 1 gr, dan laju alir gas hidrogen 20 ml/det. Produk hydrocracking yang dihasilkan diukur kecepatan pembentukan produk dan berat jenisnya, serta dianalisa persen fraksi bensin, kerosin, dan solar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecepatan produksi dan persen fraksi bensin meningkat dengan semakin tingginya suhu, sedangkan persen fraksi kerosin dan solar semakin rendah, dan nilai berat jenisnya tetap, tidak dipengaruhi oleh suhu. Kata kunci : Oli bekas, bahan bakar cair, hydrocracking, katalis, Cr/ZAA.   
PENGARUH WAKTU PERENDAMAN, PENAMBAHAN SERAT DAN SUHU PEREBUSAN TERHADAP KUALITAS KERTAS HASIL DAUR ULANG KERTAS BEKAS Dewi, Tri Kurnia; Wirson, Putra Wijaya; Simaremare, Charles DW
Jurnal Teknik Kimia Vol 17, No 5 (2011): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.613 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian pembuatan kertas berbahan baku kertas bekas dengan proses daur ulang. Daur ulang kertas bekas dapat digunakan sebagai solusi pemanfaatan kertas bekas agar dapat mengurangi dampak buruknya terhadap lingkungan. Penelitian ini mengamati pengaruh waktu perendaman, penambahan serat, dan suhu perebusan  terhadap kualitas kertas yang dihasilkan. Jangkauan variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah waktu perendaman 8 ,10 ,12 ,14 ,16, 18, dan 20 jam, Penambahan serat dan suhu perebusan 60 ,80 dan 100oC. Hasil kualitas kertas  dianalisa secara gravimetri untuk mendapatkan % ISO Brightness dan Viskositas. Peningkatan waktu perendaman  tidak begitu berpengaruh terhadap % ISO brightness, tetapi berpengaruh terhadap viskositas. Peningkatan suhu perebusan berpengaruh terhadap % ISO brightness dan viskositas. Diperoleh hasil kertas terbaik pada waktu perendaman 20 jam, tidak menggunakan penambahan serat, dan suhu perebusan 100oC.
PENGARUH RASIO REAKTAN PADA IMPREGNASI DAN SUHU REDUKSI TERHADAP KARAKTER KATALIS KOBALT/ZEOLIT ALAM AKTIF Dewi, Tri Kurnia; Mahdi, Mahdi; Novriyansyah, Teguh
Jurnal Teknik Kimia Vol 22, No 3 (2016): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (551.927 KB)

Abstract

Pada proses reaksi kimia seperti hidrogenasi, cracking maupun hydrocracking, dibutuhkan katalis perengkah yang merupakan katalis heterogen. Salah satu jenis katalis heterogen adalah katalis logam-pengemban, yang terdiri dari logam yang diembankan pada bahan pengemban padat seperti zeolit alam aktif. Pada penelitian ini, dilakukan pengembanan katalis logam kobalt ke dalam zeolit alam aktif melalui metode impregnasi. Variabel yang diteliti pada penelitian ini adalah rasio berat reaktan (Co dan zeolit alam aktif) pada impregnasi katalis dengan variasi 2:20; 3:20; 4:20; 5:20 dan 6:20 serta suhu reduksi dengan variasi 250oC; 300oC; 350oC; 400oC dan 450oC. Produk katalis Co/ZAA dianalisa tingkat keasamannya dengan cara adsorpsi amoniadan piridin. Luas permukaan katalis Co/ZAA dianalisa menggunakan Surface Area Analyzer dengan metode BET. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar rasio berat reaktan kobalt/zeolit alam aktif maka semakin besar pula keasaman dan luas permukaan katalis yang terbentuk. Keasaman dan luas permukaan katalis Co/ZAA juga mengalami kenaikan seiring dengan kenaikan suhu reduksi. Keasaman katalis terbesar pada penelitian ini adalah pada rasio reaktan Co/ZAA 6:20 dan pada suhu reduksi 450 oC yaitu masing-masing 6,4615 mol/g dan 7,5202 mol/g (keasaman dengan adsorbat amonia), 2,6047 mol/g dan 3,6662 mol/g (keasaman dengan adsorbat piridin). Luas permukaan katalis terbesar pada penelitian ini adalah pada rasio berat reaktan Co/ZAA 6:20 yaitu 32,63 m2/g dan pada suhu reduksi 450 oC yaitu 38,95 m2/g. Kata kunci: impregnasi, katalis Co/ZAA, keasaman
PEMBUATAN KARBON AKTIF DARI KULI UBI KAYU (Mannihot esculenta) Dewi, Tri Kurnia; Nurrahman, Arif; Permana, Edwin
Jurnal Teknik Kimia Vol 16, No 1 (2009): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.938 KB)

Abstract

Some research proved that activated carbon could be made from organic materials or anorganic material with very high carbon content. The exist research of activated carbon  from coconut shell, bagasse, and saw dust. In fact, there’s a lot of material can be used as raw material, like cassava skin. At this research, done with activator type variable ( HCL, NAOH, and CaCl2), activation period   ( 24 hours, 22 hours, 20 hours and 18 hours ), and particle size (- 115 mesh, - 60+115 mesh, - 32+60 mesh, and - 16+32 mesh). This research analyzed is volatile matter, water content, and iodium adsorption. The best activator at making of this activated carbon is HCl. The best activation period is 24 hours and the best particle size is - 115 mesh,  In industrial process, activated carbon is used for deodorized, adsorbs taste, eliminate colours and organic contaminant. Testing for active carbon in this research was based on activated carbon quality standard  from Standar Industri Indonesia  No. 0258-88.
PENGARUH TEMPERATUR, WAKTU PEMASAKAN DAN KONSENTRASI ASAM ASETAT PADA PROSES PEMBUATAN PULP DARI ECENG GONDOK Dewi, Tri Kurnia; Farera, Vina
Jurnal Teknik Kimia Vol 17, No 7 (2011): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.359 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian pembuatan pulp dari bahan baku eceng gondok dengan proses organosolv (acetocell) menggunakan larutan pemasak asam asetat dan katalis HCl. Tingginya kadar selulosa menunjukkan potensi eceng gondok baik untuk dijadikan bahan baku pembuatan pulp. Penelitian ini mengamati pengaruh temperatur pemasakan, waktu pemasakan dan konsentrasi asam asetat, terhadap pulp yang dihasilkan. Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah temperatur pemasakan 50 oC, 70 oC, 80 oC, 90 oC dan 100 oC, waktu pemasakan 30 menit, 60 menit, 90 menit dan 120 menit dan konsentrasi asam asetat 20 %, 40 %, 50 %, 60 % dan 70 %. Hasil pulp dianalisa untuk mengetahui kadar selulosa dan kadar lignin dalam pulp. Pada penelitian ini diperoleh hasil pulp terbaik pada temperatur 80 oC, waktu memasakan 1 jam dan konsentrasi asam asetat 50 %, dengan kadar selulosa 61,67% dan kadar lignin 6,11%.
PENGARUH PERLAKUAN BAHAN BAKU, JENIS MIKROBA, JUMLAH MIKROBA RELATIF, RASIO AIR TERHADAP BAHAN BAKU, DAN WAKTU FERMENTASI PADA FERMENTASI BIOGAS Dewi, Tri Kurnia; Amalia, Vikha Rianti; Agustin, Dini Rohmawati
Jurnal Teknik Kimia Vol 17, No 7 (2011): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.86 KB)

Abstract

Kandungan di dalam kulit pisang berpotensi sebagai sumber energi terbarukan, seperti biogas. Penelitian ini menggunakan proses fermentasi. Kulit pisang yang diberi perlakuan difermentasikan selama 5 hari untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Setelah mendapatkan hasil terbaik, kulitt pisang yang diberi perlakuan, kemudian ditambahkan mikroba dan difermentasikan. Hasil yang paling banyak divariasikan jumlah mikrobanya. Jumlah mikroba yang menghasilkan banyak kadar metannya lalu ditambahkan air sesuai ketentuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar metan yang dihasilkan akan mencapai optimum pada waktu fermentasi tertentu (waktu optimum). Kadar metan tertinggi didapat pada kondisi bahan baku diblender, menggunakan mikroba Methanobacterium Sp., jumlah mikroba relative sebanyak 500 gram, air yang digunakan sebanyak 5 liter, dan waktu fermentasi selama 15 hari yaitu sebesar 2,234 %.
PROSES PEMBUATAN BIOETANOL DARI KULIT PISANG KEPOK Setiawati, Diah Restu; Sinaga, Anastasia Rafika; Dewi, Tri Kurnia
Jurnal Teknik Kimia Vol 19, No 1 (2013): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.529 KB)

Abstract

Kulit pisang kepok merupakan salah satu limbah pertanian yang belum banyak dimanfaatkan masyarakat. Salah satu kemungkinan pemanfaatannya adalah diubah menjadi sumber energi berupa bioetanol. Dalam kandungan karbohidrat yang cukup tinggi (yaitu 18,5%) limbah kulit pisang kepok mengandung monosakarida terutama glukosa sebesar 8,16 %, oleh karena itu limbah kulit pisang kepok berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan bioetanol melalui proses fermentasi. Penelitian ini mempelajari proses pembuatan bioetanol dengan mencari kondisi operasi terbaik. Variabel yang digunakan adalah jenis ragi roti dan ragi tape, konsentrasi ragi (1, 2, 3, 4, dan 5% berat umpan), pH (2, 3, 4, 5, dan 6), lama fermentasi (1, 2, 3, 4, dan 5 hari), dan perebusan sebelum fermentasi. Hasil terbaik yang diperoleh dari proses fermentasi kulit pisang kepok ini dengan variable yang digunakan adalah yeast Saccharomyces cerevicae (ragi roti), konsentrasi 3% berat umpan, pH 4, lama fermentasi 2 hari, dan dilakukan perebusan umpan terlebih dulu yaitu sebesar 9,7917%.
PENGARUH KONSENTRASI NaOH, TEMPERATUR PEMASAKAN, DAN LAMA PEMASAKAN PADA PEMBUATAN PULP DARI BATANG RAMI DENGAN PROSES SODA Dewi, Tri Kurnia; Dandy, Dandy; Akbar, Wahyu
Jurnal Teknik Kimia Vol 17, No 2 (2010): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.92 KB)

Abstract

Research has been conducted to study the effect of NaOH concentration, cooking temperature and cooking time on the production of pulp from Rami stalk using soda process. The use of Rami as raw material under study was because availability of wood as raw material for pulp is getting lesser by time, whilst Rami stalk may be a good substitute for it. Large stock of NaOH available in the market is the cause of the use of this chemical for the study. The range of variables studied were : NaOH concentrations at 5-15%, cooking temperatures of 100-120oC, and cooking time of 60-180 minutes. Analyses of the product was done for percent yield of the pulp produced, concentration of cellulose in the pulp, and lignin content in the pulp. Results show that in the range of values studied, the three variables, NaOH concentration, temperature of cooking and cooking time, did not give any significant effect on the amount of pulp produced and the concentration of cellulose in the pulp, whilst they give proportional effect on the lignin content in the pulp. Best condition with smallest lignin concentration of 6.83%, was found at NaOH concentrations of 5%, cooking temperature of 105oC,  and cooking time of 60 minutes.
PEMBUATAN GAS BIO DARI SERBUK GERGAJI, KOTORAN SAPI, DAN LARUTAN EM4 Dewi, Tri Kurnia; Dewi, Claudia Kartika
Jurnal Teknik Kimia Vol 20, No 1 (2014): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.248 KB)

Abstract

Pengolahan limbah organik menjadi biogas merupakan salah satu upaya untuk menciptakan sumber energi terbarukan. Salah satu upaya tersebut adalah pemanfaatan limbah dari penggergajian kayu dan kotoran sapi. Biogas merupakan sebuah proses produksi biogas dari material organik dengan bantuan bakteri. Kandungan utama dari biogas adalah gas metana. Gas metana terbentuk karena terjadinya proses fermentasi secara anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri metana atau bakteri metanogenik sehingga terbentuk gas metana (CH4), yang apabila dibakar dapat menghasilkan energi panas maupun untuk menghasilkan listrik. Limbah dari penggergajian kayu atau serbuk gergaji memerlukan waktu yang cukup lama untuk dilakukan proses fermentasi, sebab serbuk gergaji masih mengandung lignin sehingga sulit untuk diuraikan. Penguraian serbuk gergaji akan mempercepat proses fermentasi biogas, maka dalam penelitian ini digunakan Effective Microorganisme (EM4) agar serbuk gergaji lebih cepat diuraikan. Kotoran sapi mengandung bakteri metanogenik yang membantu dalam proses fermentasi sehingga mempercepat proses pembentukan biogas. Percobaan ini telah diteliti dengan menggunakan Gas Kromatografi, sehingga dari penelitian ini didapatkan hasil konsentrasi terbaik yakni konsentrasi kotoran sapi pada 55,5 %, konsentrasi serbuk gergaji 22,2%, dan konsentrasi larutan Effective Microorganisme (EM-4) 10,25%. Kata kunci : biogas, serbuk gergaji, Effective Microorganisme
PENGARUH METODA DISTRIBUSI DAN LAJU ALIR UDARA PADA PROSES PENCUCIAN KATALIS ZEOLIT SECARA FLUIDISASI Dewi, Tri Kurnia; Mandasari, Karas; Pratiwi, Laras Diah
Jurnal Teknik Kimia Vol 22, No 1 (2016): Jurnal Teknik Kimia
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.441 KB)

Abstract

Zeolit merupakan mineral yang banyak terdapat di alam, salah satu fungsi yang dimiliki zeolit adalah sebagai katalis pada proses hydrocracking. Sebelum digunakan sebagai katalis, zeolit harus diaktifasi agar permukaan pori-pori zeolit lebih besar dan bersih dari senyawa pengotor yang terperangkap di dalam pori-pori zeolit. Pada penelitian ini, zeolit diaktifasi dengan cara direfluks selama 6 jam dengan larutan H2SO4 0,5 M. Zeolit yang telah diaktifasi (berupa H-zeolit) harus dinetralkan untuk menghilangkan asam yang masih tersisa. Proses penetralan zeolit yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan metode fluidisasi dengan variasi laju alir udara yaitu 1,0 lpm; 2,0 lpm; 3,0 lpm serta distributor udara yang digunakan adalah distributor tunggal; ganda; dan melingkar. Alat yang digunakan adalah kolom fluidisasi yang berdiameter 5,5 cm dan tinggi 200 cm. Air cucian H-zeolit yang keluar dari kolom fluidisasi diukur pH nya dalam interval 10 menit sampai dicapai pH 6,28 (netral). Waktu fluidisasi sempurna terpendek yang didapat pada penelitian ini adalah 15 menit yaitu pada laju alir udara 3 lpm dan penggunaan distributor tunggal. Hasil penetralan terbaik yang didapat dari penelitian ini adalah ketika laju alir udara 2 lpm dan penggunaan distributor udara tunggal dengan waktu penetralan selama 90 menit.     Kata kunci : Zeolit, laju alir udara, distributor udara, fluidisasi, kolom fluidisasi, pH, waktu.