Fauziatul Fajaroh, Fauziatul
Articles
3
Documents
PENGARUH PROBLEM SOLVING BERKELOMPOK TERHADAP MOTIVASI BELAJAR, KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, DAN HASIL BELAJAR SISWA

Jurnal Ilmu Pendidikan Vol 21, No 1 (2015): (Available for free access and download since June 1, 2015)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (119.515 KB)

Abstract

Abstract: The Impacts of Group Problem Solving on Students’ Learning Motivation, Critical Thinking, and Learning Achievements. The aim of this study was to know the impacts of the imple­mentation of group problem solving on the students’ learning motivation, critical thinking, and learning achievements on concept and algorithm. This quasi-experimental research used pretest-posttest control group design. The research samples were the students of XI grade of Science 1 (problem solving class) and XI grade of Science 3 (expository class) at the Public Senior High School 6, Malang. The study was carried out in the 2013/2014 academic year. The results show that the students’ learning motivation, criti­cal thinking, and conceptual and algorithmic learning achievements in the problem solving class are higher than those in the expository class.Keywords: problem solving, learning motivation, critical thinking, learning achievementsAbstrak. Pengaruh Problem Solving Berkelompok terhadap Motivasi Belajar, Kemampuan Ber­pikir Kritis, dan Hasil Belajar Siswa. Artikel ini memaparkan pengaruh penerapan pembelajaran model problem solving berkelompok dibandingkan dengan model ekspositori terhadap motivasi belajar, ke­mampuan berpikir kritis, hasil belajar konseptual, dan hasil belajar algoritmik. Penelitian kuasi eks­perimen ini dilakukan dengan menggunakan pretest-posttest control group design. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI IPA 1 (kelas problem solving) dan XI IPA 3 (kelas ekspositori) SMAN 6 Malang tahun pelajaran 2013/2014. Hasil penelitian menngungkap bahwa motivasi belajar, kemampuan ber­pikir kritis, hasil belajar konseptual, dan hasil algoritmik siswa pada kelas problem solving lebih tinggi dibandingkan siswa pada kelas ekspositori.Kata kunci: problem solving, motivasi belajar, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar konseptual, ha­sil belajar algoritmik

ANALISIS MISKONSEPSI SISWA SMA PADA MATERI HIDROLISIS GARAM DAN LARUTAN PENYANGGA

Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol 2, No 7: JULI 2017
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.717 KB)

Abstract

The aim of this research was to analyze misconception on salt hydrolysis and buffer solution material on students taught by using conceptual change approach Dual Situated Learning Model with animation aid and students taught by conventional approach. Students on two classes in SMAN 4 Malang were given two-tier test about salt hydrolysis and buffer solution material. Method used in this research was descriptive method. Research instrument was two-tier diagnostic test which was consist of 16 items, Finding showed that amount of misconceptions of student taught by conceptual change approach Dual Situated Learning Model with animation aid was lower than students taught by conventional approach.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis miskonsepsi pada materi hidrolisis garam dan larutan penyangga pada siswa yang diajar menggunakan pendekatan perubahan konseptual Dual Situated Learning Model berbantuan animasi dan siswa yang diajar dengan pendekatan konvensional. Siswa pada dua kelas di SMAN 4 Malang diberikan tes two-tier mengenai materi hidrolisis garam dan larutan penyangga. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode penelitian deskriptif. Instrumen penelitian adalah tes diagnostic two-tier yang terdiri atas 16 soal. Temuan penelitian menunjukkan bahwa jumlah miskonsepsi siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan perubahan konseptual Dual Situated Learning Model (DSLM) berbantuan animasi lebih sedikit dibandingkan dengan siswa yang dibelajarkan dengan pendekatan konvensional.

PENGARUH PENERAPAN LEARNING CYCLE 6E THINK PAIR SHARE TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF PESERTA DIDIK DENGAN KEMAMPUAN AWAL BERBEDA

Jurnal Pendidikan: Teori, Penelitian, dan Pengembangan Vol.2, No.2, Februari 2017
Publisher : Graduate School of Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (457.908 KB)

Abstract

Learning cycle 6 E-think pair share (LC6E-TPS) is a combination of constructivist learning model. The purpose of this study was to know the influence of the learning model, prior knowledge of learners, and the interaction between prior knowledge of learners with the learning model to the cognitive achievement in solubility and solubility product. The research method in this study was quasi-experimental. The population were students of XI grade of SMAN 8 Malang. The sample was determined using cluster random sampling. From the results of data analysis using two ways anova, there is a significant differences in cognitive learning outcomes of solubility and solubility product topic between students that learned using LC6E-TPS and LC6E. This happens both on students who have high and low prior knowledge. In addition it was found that there was no interaction between learners prior knowledge with learning model to the cognitive achievement of students in this topic.Model pembelajaran learning cycle 6 E-think pair share (LC6E-TPS) merupakan kombinasi model pembelajaran konstruktivistik. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh model pembelajaran LC6E-TPS, kemampuan awal peserta didik, dan interaksi antara kemampuan awal peserta didik dengan model pembelajaran terhadap hasil belajar kognitif peserta didik pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah eksperimen semu. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI SMAN 8 Malang. Sampel penelitian ditentukan secara cluster random sampling. Dari hasil analisis data menggunakan anava dua jalur, terdapat perbedaan hasil belajar kognitif yang signifikan antara peserta didik yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC6E-TPS dengan model pembelajaran LC6E. Hal ini terjadi baik pada peserta didik yang memiliki kemampuan awal tinggi maupun rendah. Selain itu, ditemukan bahwa tidak ada interaksi antara kemampuan awal peserta didik dengan model pembelajaran terhadap hasil belajar kognitif peserta didik pada materi tersebut.