Articles
14
Documents
MANAJEMEN KAMPANYE ELIMINASI KAKI GAJAH DALAM UPAYA PENINGKATAN KESEHATAN DI KABUPATEN BOGOR

PRofesi Humas : Jurnal Ilmiah Ilmu Hubungan Masyarakat Vol 2, No 1 (2017): PRofesi Humas
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (345.084 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses prakampanye, proses pengelolaan kampanye, dan hasil evaluasi kampanye oleh Kementerian Kesehatan. Penelitian ini menggunakan konsep manajemen kampanye oleh Antar Venus yang dikembangkan berdasarkan Model Kampanye Ostergaard. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan data kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, teknik dokumen, studi kepustakaan, dan angket menggunakan teknik pengumpulan informan dengan purposive sampling. Teknik analisis data menggunakan deskriptif kualitatif, sedangkan teknik validitas data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini mengemukakan bahwa proses kampanye Belkaga dibagi dalam tiga tahap yaitu prakampanye, pengelolaan kampanye, dan evaluasi kampanye. Hasil prakampanye menyatakan bahwa masih banyak daerah di Indonesia yang merupakan daerah endemis dan belum melaksanakan program Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis (POPMF). Hasil pengelolaan menunjukkan bahwa Kementerian Kesehatan RI tidak melakukan identifikasi segmentasi sasaran berdasarkan klasifikasi warga yang sehat, terduga tertular virus, serta warga yang teridentifikasi penyakit sehingga pesan yang disampaikan dibuat sama rata. Selain itu, penyebaran informasi yang kurang jelas mengakibatkan pesan yang diterima khalayak tidak sesuai dengan apa yang ingin disampaikan komunikator. Kesimpulannya, masalah kampanye Belkaga timbul karena manajemen kampanye yang kurang efektif oleh Kementerian Kesehatan RI. Peneliti menyarankan agar Kementerian Kesehatan RI menyesuaikan pesan berdasarkan klasifikasi warga sehat, terduga tertular virus, serta warga yang teridentifikasi penyakit sehingga pesan tepat sasaran, mengoptimalkan media yang digunakan, memberikan pelatihan penyampaian informasi kepada kader kesehatan.

Manajemen Kampanye Pencegahan Eksploitasi Seksual Komersial Anak Oleh “Kompak” Jakarta

J-IKA Vol 4, No 1 (2017): JURNAL J-IKA
Publisher : J-IKA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah  untuk mengetahui proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kampanye pencegahan Eksploitasi Seksual Komersial Anak (ESKA) oleh KOMPAK di DKI Jakarta. Metodologi yang digunakan adalah kualitatif dengan studi deskriptif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan cara observasi, wawancara terstruktur, dan studi literatur. Hasil penelitian menjelaskan bahwa : proses perencanaan umumnya sudah sesuai, namun ada beberapa elemen yang perlu ditingkatkan seperti penentuan tujuan masih belum berdasarkan skala prioritas, identifikasi sasaran hanya berdasarkan asumsi dan mengandalkan link, penentuan strategi & taktik belum komprehensif dan matang, alokasi waktu belum memiliki pertimbangan yang jelas, dan evaluasi perencanaan luput dalam tahapan ini. Proses pelaksanaan dimulai dengan realisasi unsur kampanye, kenyatannya masih banyak pelaku yang belum menjadikan kegiatan ini prioritasnya, pelatihan kampanye belum mengacu pada setiap tugas divisi yang ada, pesan pada setiap khalayak sama dan tidak dibedakan, komunikator dan saluran dipertimbangkan sesuai kebutuhan namun kurang efektif karena tidak diperhitungkan dengan baik, implementasi masih mundur dari timeline seharusnya. Proses evaluasi menggunakan metode evaluasi yang belum tepat dan sesuai dengan rencana. Hal tersebut berdampak pada efek yang ditimbulkan kurang optimal. Kata kunci: Manajemen, Kampanye, Komunitas, Deskriptif, Kualitatif. ABSTRACT The research aims to determine the planning, actuating, and evaluating process of this campaign by KOMPAK in DKI Jakarta. The methodology used in this research is qualitative with descriptive study. Data of the research was collected with some observations, structural interviews, and study of literature. The results of the study explained that: the planning process generally appropriate, but there are some elements that need to be improved as the goal-setting is still not based on priorities, target identification based only on assumptions and relying on the link, the determination of strategies and tactics have not been comprehensive and detail, time allocation yet have clear consideration and planning evaluation spared in this stage. The implementation process begins with the realization of the elements of the campaign, the facts are there are many campaigners who have not make this event their priority, a training campaign has not been based on each task divisions, a message on each audience are alike and not differentiated, communicators and channel considered as necessary but less effective because it it is not taken into account properly, the implementation timeline is still delayed. The evaluation process does not use proper evaluation method and not according to plan. So that,  It has less impact. Keywords: Management, Campaign, Community, Descriptive, Qualitative

KONSTRUKSI MAKNA REPUTASI DIGITAL MELALUI PERSPEKTIF PENYIAR RADIO

Profetik: Jurnal Komunikasi Vol 11, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1146.933 KB)

Abstract

Reputasi digital saat ini menjadi salah satu penilaian dalam jenjang karir penyiar radio di Kota Bandung. Agar mereka bisa bertahan di antara penyiar radio lainnya, mereka harus membentuk reputasi digital yang memengaruhi jenjang karir mereka. Ketika penyiar radio tidak aktif dalam menggunakan sosial media dan tidak membentuk reputasi digital, maka tidak akan bertahan di dunia broadcast. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna reputasi digital, motif dalam membentuk reputasi digital, dan interaksi yang dilakukan oleh penyiar radio dalam membentuk reputasi digital. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fenomenologi. Penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme dengan jenis studi fenomenologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna reputasi digital bagi penyiar radio dibagi menjadi dua. Pertama adalah yang berkenaan dengan diri penyiar radio sebagai individu atau self oriented dan yang kedua adalah makna reputasi digital yang berhubungan dengan kepentingan perusahaan yaitu company oriented. Motif dalam membentuk reputasi digital dibagi menjadi dua, yaitu because motives dan in order to motives. Because motives diantaranya adalah latar belakang individu dan pengaruh lingkungan, sedangkan in order to motives yaitu tujuan penyiar radio dalam membentuk reputasi digital. Interaksi yang dilakukan oleh penyiar radio dapat dibagi menjadi dua yaitu yang berhubungan dengan antarpersonal sebagai individu dan yang kedua adalah interaksi yang didasari konteks profesi sebagai penyiar radio.Digital reputation has currently become one of the standards in a radio announcer’s carrier. They have to be capable to create a digital reputation that is able to influence their carrier, so that they are able to survive in between all the other radio announcers out there. When a radio announcer isn’t active in using social media and does not create a digital reputation, they will not be able to last in the broadcasting industry. The purpose of this study is to figure out the meaning of digital reputation, the motive behind the creation of a digital reputation, and the interaction that has been done by a radio announcer in order to create it. The theory used in this study is phenomenology theory. This study used the constructivism paradigm with the study’s concentration in phenomenology. The results in this study shown, that the meaning of digital reputation for a radio announcer has been divided into two. The first has a correlation between a radio announcer and themselves as an individual or self orientation and the second as a correlation between the radio announcer and company interests as being company orientated. Motives in creating digital reputations have also been divided in two, which are because motives and in order to motives. Because motives are individual backgrounds and environmental influences, while in order to motives are radio announcer’s aims in creating a digital reputation. There are two types of interactions that a radio announcer does and those are interpersonal relationships as individuals and interactions that are based on the profession’s context as a radio announcer.

OPTIMALISASI FUNGSI HUMAS PEMERINTAH THE OPTIMIZATION OF GOVERNMENT PUBLIC RELATIONS FUNCTION

EDUTECH Vol 13, No 1 (2014): DINAMIKA PENDIDIKAN DAN PEMBELAJARAN
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract, world democratization forces many organizations including the government in this case, of all types in many regions of the world, to consider giving more attention to the government public relations activities. The role will include contributing to good governance and respect for human rights. That would mean public relations in Indonesia, as elsewhere in Asia, will be involved in the development of public diplomacy. Aware of the problems as well as the demands of optimization and revitalization of the role of public relations in the era of reform, democratization and transparency of public information, Indonesian Ministry of Home Affairs issued the Regulation of the Minister of the Home Affairs (Permendagri ) No. 13 of 2011, in which it sets the Implementation Guidelines for PR Tasks in the milieu of Ministry of Home Affairs and Local Government. The regulation represents the desire of the Ministry of Home Affairs to fix the governments role and functions of public relations in its internal milieu. The research question of this study concerns how the understanding of the public relations officer in the Ministry of Home Affairs of the Permendagri 13/2011 and how the implementation of Permendagri 13/2011 by public relations officials of Ministry of Home Affairs. The method used was qualitative method using the theory of social constructs of reality and symbolic interaction. The results showed that public relations officials in the Ministry of Home Affairs understood that the regulation was to improve the professionalism of Public Relations of the Ministry of Internal Affairs and as an effort to encourage the active participation of the public. While the background history of the regulation discovered in the implementation, there were efforts to socialize the regulation; its impacts, constraints and solutions related to its implementation and other four main public relations activities of the Ministry of Home Affairs which include public information services, public affairs, content analysis of media and crisis management.Key words : government public relations, Regulation of the Minister of the Home Affairs 13/2011Abstrak, demokratisasi dunia memaksa organisasi, termasuk juga pemerintah dalam hal ini, dari semua jenis di banyak wilayah di dunia untuk mempertimbangkan memberikan perhatian lebih pada aktivitas kehumasan pemerintah. Peran yang akan mencakup kontribusi bagi pemerintahan yang baik dan menghormati hak asasi manusia. Itu akan berarti hubungan masyarakat di Indonesia, seperti di tempat lain di Asia, akan terlibat dalam upaya pengembangan diplomasi publik.Sadar akan persoalan sekaligus tuntutan optimalisasi serta revitalisasi peran humas pemerintah di era reformasi, demokratisasi dan transparansi informasi publik, Kementerian Dalam Negeri Indonesia (Kemendagri) mengeluarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 tahun 2011, yang di dalamnya mengatur Pedoman Pelaksanaan Tugas Kehumasan di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah. Permendagri 13/2011 merepresentasikan keinginan Kementerian Dalam NegePertanyaan penelitian ini adalah bagaimana pemahaman para pejabat kehumasan di lingkungan Kemendagri terhadap Permendagri No.13 Tahun 2011 dan bagaimana implementasi Permendagri No.13 Tahun 2011 oleh pejabat kehumasan Kemendagri.Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan menggunakan teori kostruksi sosial atas realitas dan interaksi simbolik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pejabat humas Kemendagri memahami Permendagri 13/2011 sebagai regulasi yang mendorong Humas Kemendagri untuk meningkatkan profesionalismenya dan merupakan upaya untuk mendorong partisipasi aktif publik. Sementara dalam implementasi Permendagri 13/2011 ditemukan beberapa latar belakang lahirnya Permendagri 13/2011, terdapat upaya sosialisasi Permendagri 13/2011, dampak, kendala serta solusi terkait implementasi Permendagri 13/2011 dan 4 aktivitas kehumasan utama Kemendagri yaitu layanan public information, public affairs, analisis isi media dan manajemen krisis.Kata Kunci : government public relations, humas pemerintahan, indonesia, permendagri 13/2011

Konstruksi Makna Sekolah Islam bagi Orang Tua Siswa

Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies Vol 10, No 1 (2016): Ilmu Dakwah: Academic Journal for Homiletic Studies
Publisher : Faculty of Dawah and Communication, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.362 KB)

Abstract

The presence of Islamic schools is a revolutionary of the outmoded of Islamic education system to elite and prestigious institutions. Initially, the Islamic school was formed in an effort to create intelligent students who also have a religious character. However, the trend of Islamic schools is growing rapidly along with economic progress of society. The overhauled system that offers many advantages apparently succeeded in making high demand of Islamic schools. Although the price offered is fantastic, the public interest is so high to this model by building positive image and reputation. This study reveals the meaning, motives and experiences of parents in the Internatonal Islamic Schools Jakarta. The method used is qualitative with phenomenology type of study. The result that Islamic school was interpreted by student parents as positive view. Their motives to chosse the Islamic school because Islamic schools could balance between live now and hereafter.

PELATIHAN LITERASI KOMUNIKASI POLITIK PEMILIH PEMULA SMA DARUL HIKAM BANDUNG

Dharmakarya Vol 6, No 4 (2017): Desember
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.532 KB)

Abstract

Potensi pemilih pemula dalam tiap pemilu memang besar, terbukti KPU pun memberikan perlakuan khusus terhadap segmentasi ini dengan memberikan sejumlah kegiatan sosialisasi khusus pada pemilih pemula . Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa skeptisme dan antipasti politik dari kaum pemilih pemula memang masih sangat tinggi, dapat menghasilkan implikasi yang tidak baik terhadap partisipasi politik di masa yang akan datang. Dari pra-riset yang dilakukan, Pemilih pemula banyak yang merasa bahwa komunikasi politik yang dilakukan sejumlah actor politik dirasa berbau pencitraan dan kotor, hal ini berkontribusi terhadap pengetahuan dan sikap mereka terhadap aktvitas pemilu dan pilkada, bentuk nyata partisipasi politik bagi pemilih pemula. Solusi masalah ini adalah literasi komunikasi politik, khususnya bagi para pemilih pemula. Maka dari itu, tim kami dalam kegiatan pengabdian pada masyarakat, sebagai bagian dari tridharma perguruan tinggi memutuskan untuk melakukan kegiatan pelatihan literasi komunikasi politik di SMA Darul Hikam Bandung. Banyak partisipan kegiatan ini yang awalny kurang terinformasikan mengenai sejumlah pengetahuan dasar tentang komunikasi politik, menjadi lebih kenal tentang fenomena tersebut. Kegiatan ini dihadiri oleh sekitar 300-an peserta.

Hubungan Persepsi terhadap Perilaku Swamedikasi Antibiotik: Studi Observasional melalui Pendekatan Teori Health Belief Model

Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.019 KB)

Abstract

Tingginya perilaku swamedikasi antibiotik dapat meningkatkan peluang penggunaan antibiotik yang tidak rasional sehingga berdampak pada peningkatan resistensi antibiotik. Perubahan perilaku swamedikasi antibiotik diperlukan untuk menurunkan penggunaan antibiotik yang irasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persepsi masyarakat terhadap praktik swamedikasi antibiotik yang bermanfaat untuk mengembangkan model intervensi dalam rangka menurunkan praktik swamedikasi antibiotik (SMA). Studi observasional analitik dilakukan pada bulan November–Desember 2014 kepada masyarakat yang berkunjung ke fasilitas kesehatan primer di Kota Bandung. Wawancara terstruktur dengan menggunakan kuesioner tervalidasi dilakukan untuk melihat variabel perilaku swamedikasi serta variabel persepsi ancaman, keuntungan, hambatan, dan kemamampuan bertindak berdasarkan teori perubahan perilaku health belief model (HBM). Wawancara dilakukan terhadap 506 responden dewasa yang diambil secara acak di 43 puskesmas dan 8 apotek. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif dan regresi logistik (CI 95%, α=5%).Validitas kuesioner dinyatakan dengan koefisien korelasi >0,3 dan nilai reabilitas alpha-cronbach sebesar 0,719. Terdapat 29,45% responden yang melakukan swamedikasi antibiotik selama 6 bulan terakhir. Tidak terdapat hubungan signifikan antara variabel HBM (persepsi ancaman, keuntungan, hambatan, dan kemampuan bertindak) dengan perilaku swamedikasi antibiotik (p>0,05). Persepsi ancaman, keuntungan, hambatan, dan kemauan bertindak berdasarkan teori HBM menunjukkan hubungan yang lemah terhadap perilaku swamedikasi antibiotik. Mudahnya akses dalam membeli antibiotik secara bebas diduga menjadi faktor dalam perilaku SMA sehingga regulasi yang ketat diperlukan sebagai dasar intervensi dalam menurunkan perilaku SMA.Kata kunci: Antibiotik, health belief model, swamedikasiAssociation between Perceived Value and Self-Medication with Antibiotics: An Observational Study Based on Health Belief Model TheoryHigh prevalence of self medication with antibiotics can increase the probability of irrational use of antibiotics which may lead antibiotics resistance. Thus, shifting of behavior is required to minimize the irrational use of antibiotics. This study was aimed to determine the association between public perceivedvalue and self-medication with antibiotics which can be used to develop an intervention model in order to reduce the practice of self-medication with antibiotics. An observational study was conducted during the period of November–December 2014.The subjects were patients who visit primary health care facilities in Bandung. A structured-interview that has been validated was used to investigate the association between perceived value and self-medication behavior based on the Health Belief Model theory (perceived susceptibility, benefits, barrier, and cues to action). Approximately 506 respondents were drawn randomly from 43 community healthcare centers and 8 pharmacies. Data was analyzed by using descriptive statistics and logistic regression (CI 95%, α = 5%). Validity and reliability of the questionnaire were shown with a correlation coefficient of >0.3 and a cronbach-alpha value of 0.719, respectively. We found that 29.45% of respondents practiced self-medication with antibiotics over the last six months. Additionally, there was no significant association between the perceived susceptibility, benefits, barrier, and cues to action with self-medication behavior (p>0.05). Easiness to access antibiotics without prescription was presumed as a factor that contribute to self-medication with antibiotics, therefore strict regulation in antibiotics use is very needed as a basic intervention to decrease self-medication with antibiotic.Key words: Antibiotics, health belief model, self-medication

LANGKAH BISINIS TRANS STUDIO MALL BANDUNG DALAM MELAKUKAN REPOSITIONING

Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Ilmu Komunikasi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk tetap beriringan dengan perubahan iklim bisnis, manajemen Trans Studio Mall Bandung(TSM Bandung) melakukan penyesuaian atas produknya. Pusat perbelanjaan yang terletak di Jalan JendralGatot Subroto Kota Bandung ini menempatkan kembali posisi produknya atau melakukan repositioningsebagai jawaban dari bagaimana TSM Bandung beradaptasi dalam perubahan iklim bisnis tersebut. Padatahun 2012, TSM Bandung menempatkan kembali posisinya sebagai “pusat belanja dan gaya hidup palingberkelas di Bandung”. Hal tersebut dilakukan karena manajemen melihat adanya kesempatan untukmemanfaatkan preferensi publik baru yang menjanjikan serta masuknya pesaing yang menempatkandirinya berdampingan sehingga mendorong TSMBandung untuk menjadi lebih baik lagi. Olehkarenaitu,penelitianini akan menjawab bagaimana strategi komunikasi yang dilakukan TSMBandung, bagaimanaatribut-atribut produk yang disampaikan TSMBandung, serta untuk mengetahui bagaimana positioningstatement baru yang dimiliki TSMBandung dalam menerapkan repositioning. Pendekatan yang digunakandalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis studi deskriptif. Subjek dalam penelitian ini merupakanindividu yang terlibat dalam pelaksanaan serta memiliki pemahaman tentang repositioning yang dilakukan.Selain itu, subjek dalam penelitian ini merupakan individu yang telah bekerja di TSMBandung darisebelum repositioning hingga saat ini. Dalam penelitian ini, data diperoleh dengan cara observasi partisipan,wawancara mendalam semi terstruktur, studi pustaka, serta dokumenter. Dalam penelitian ini, dapatdisimpulkan bahwa strategi komunikasi yang dilakukan TSMBandung sudah baik, hal tersebut ditandaidengan tercapainya tujuan awal dari repositioning ini, yaitu meningkatnya jumlah pengunjung dan jumlahpenjualan yang terdapat pada para penyewa. Selain itu, atribut-atribut yang dimiliki oleh TSMBandungdapat dengan baik menguatkan posisi baru TSM Bandung. Kesimpulan lainnya adalah pernyataan posisiyang dimiliki oleh TSMBandung sudah sangat baik, hal tersebut ditandai dengan banyaknya informasi yangdapat diperoleh oleh publik. Publik dapat mengetahui konsep bisnis, atribut, serta manfaat baru lainnyayang dapat diperoleh. Adapun saran yang dapat diberikan adalah dalam mempertahankan posisinyasaat ini dapat menggunakan bauran pemasaran yang sama namun dengan bentuk (event) yang berbeda.Hal tersebut dapat memberikan variasi sehingga target sasaran atau publik lainnya tidak merasa bosan.Kemudian mengenai atribut-atribut yang dimiliki TSM Bandung, TSM Bandung perlu terus mempertahankankualitas serta terus menyesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan target sasarannya. Hal tersebutdikarenakan target sasaran menentukan pilihan karena menimbang dan mengakumulasi atribut yang dimiliki.Positioning statement harus selalu dimunculkan dalam setiap media komunikasi yang dimiliki olehTSM Bandung. Karena pengulangan terus menerus pada media akan menarik perhatian publik hinggamerubah perilaku publik.

Infografis Sebagai Media Dalam Meningkatkan Pemahaman Dan Keterlibatan Publik Bank Indonesia

Jurnal Komunikasi Vol 8, No 2 (2016): Jurnal Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK:Suatu studi eksploratif mengenai penggunaan infografis sebagai media komunikasi kebijakan dapat membentuk ketertarikan situasi, pemahaman situasi, dan cara berperilaku publik non-ahli ekonomi terhadap informasi kebijakan ekonomi Bank Indonesia yang kompleks. Studi ini menggunakan metode penelitian gabungan dan konsep teori ‘Medium is The Message’ dari Marshall McLuhan. Sampel dalam penelitian ini sebanyak lima belas (15) orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian dan simpulan penelitian yaitu infografis Bank Indonesia sudah cukup baik dalam membentuk ketertarikan situasional publik. Namun, masih terdapat beberapa aspek yang harus diperbaiki agar dapat memaksimalkan ketertarikan publik. Pada pemahaman situasional, infografis belum mampu membentuk pemahaman publik. Permasalahan ini disebabkan oleh masih banyak terdapatnya bahasa ekonomi dan keterbatasan pengetahuan umum publik mengenai dunia ekonomi. Terakhir, cara berperilaku publik terhadap informasi ekonomi belum dapat terbentuk karena tidak tercapainya pemahaman situasional oleh publik. Meskipun begitu, publik memiliki keinginan dan harapan yang cukup baik terhadap perekonomian Indonesia.ABSTRACT:An exploratory design about the use of infographic as an communication medium can establish situational interest, situational understanding, and public behavior by non-experts towards the information of economics complex policy. This study used Mixed Methods and Medium is The Message Theory propounded by Marshall McLuhan. The sample of this study is fifteen (15) people and use purposive sampling as the sampling technique. The results and conclusions of this research shows that infographic of Bank Indonesia has been good-enough on establishing situational interest by public. However, there is still room for improvement that can optimize more public interest. In situational understanding, infographic has not been good-enough to establish situational understanding. This problem is caused by the presence of many economics terms and languages in the infographic and the limitation of economics knowledge by the public. Lastly, the public behavior towards economics information can not be established due to the unsuccessful forming of situational understanding by the public. Even so, the public still has the desire and hope towards the economics of Indonesia. The public is willing to get involved in the efforts to maintain and improve the economics of Indonesia. 

Implementasi Kegiatan Corporate Communication oleh Divisi Corporate Secretary PT. Bio Farma (Persero)

PRofesi Humas : Jurnal Ilmiah Ilmu Hubungan Masyarakat Vol 1, No 1 (2016): PRofesi Humas
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (318.675 KB)

Abstract

Perkembangan komunikasi perusahaan juga melibatkan perluasan orientasi komunikasi dari yang berfokus pada pengembangan merek (brand), menjadi kombinasi dari image, profil, dan karakteristik perusahaan termasuk produk dan jasa yang dihasilkan. Wilayah komunikasi merupakan pertemuan dari pengembangan karakter merek perusahaan, pengembangan pemahaman publik, dan terkomunikasikannya nilai dan komitmen perusahaan.Beberapa transformasi komunikasi perusahaan yang berkembang adalah brand perusahaan sebagai konsekuensi dari manajemen CSR, komunikasi perusahaan sebagai perspektif dan fungsi manajemen, pengembangan dialog, keterlibatan dan partisipasi antara perusahaan dan pemangku kepentingan, dan memperkuat nilai dari proses bisnis perusahaan. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi program CSR Mizumi Koi Sukabumi.