Articles

Found 3 Documents
Search

KOMPLEKSITAS ANTARA HAK GUNA USAHA (HGU) DAN PENYELAMATAN ASET NEGARA TERHADAP TANAH-TANAH TERLANTAR MELALUI KOMUNIKASI (NEGOSIASI) OLEH BADAN PERTANAHAN NASIONAL (BPN) DI KABUPATEN ENREKANG Saefullah, Saefullah; Cangara, Hafied; Salle, Aminuddin
KAREBA : Jurnal Ilmu Komunikasi Vol.7 No.1 Januari - Juni 2018
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT This study aims to determine (1) the factors of abandonment of The Land Cultivation Rights, (2) the role of the National Land Agency (BPN) on the implementation of the authority and mechanism for handling the abandoned lands, and (3) the communication effort (negotiation)conducted by BPN in the handling of abandoned lands. This research was conducted at the Regional Office of the Provincial National Land Agency South Sulawesi and Enrekang. The method performed was qualitative descriptive approach.The informantswere determined by the use of purposive sampling technique. The data have been obtained through observation, in-depth interviews,and documentation as well. The results showed that the the factors of abandonment of The Land Cultivation Rightsare consisting oftechnical factors, business management and socio-economic factors.  Then the role of the National Land Agency (BPN) on the implementation of the authority and mechanism for handling the abandoned lands were preparing all forms of data and facts eitherresearch based or document based.  The communication (negotiation) efforts by BPN in the handling of abandoned lands have been conducted to public tenants by the direct dialogueor personal approachfor deliberation, group and formal/bureaucracy approach through socialization and involvement of the community leaders and authorities. The communication effort (negotiation) conducted by BPN in the handling of abandoned lands has been in the form of coordination in order to achieve public common goals: the common perception and common pattern-making on economic resource benefits. Keywords: Communication effort (negotiation), The Land Cultivation Rights (HGU), abandoned land ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) faktor-faktor terjadinya penelantaran tanah-tanah Hak Guna Usaha (HGU), (2) peranan Badan Pertanahan Nasional (BPN) dalam pelaksanaan kewenangan dan mekanisme penanganan tanah-tanah terlantar, dan (3) upaya komunikasi (negosiasi) oleh BPN dalam penanganan tanah-tanah terlantar. Penelitian ini dilaksanakan di Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Enrekang. Metode yang dilakukan dalam penelitian adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan penentuan narasumber atau informan dilakukan secara sengaja (purposive). Pengumpulan data diperoleh melalui pengamatan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor terjadinya penelantaran tanah Hak Guna Usaha (HGU) terdiri atas : faktor teknis manajemen usaha dan faktor sosial ekonomi. Kemudian peranan BPN dalam pelaksanaan kewenangan dan mekanisme penanganan tanah terlantar sebagai lembaga berwenang yang menyiapkan segala bentuk data dan fakta baik yang ditemukan berdasarkan hasil kajian lapangan maupun dokumen-dokumen penting yang dibutuhkan dalam rangka melakukan penanganan tanah-tanah terlantar melalui mekanisme yang berlaku.  Adapun upaya komunikasi (negosiasi) dalam penanganan tanah terlantar yaitu komunikasi (negosiasi) dengan masyarakat penggarap dengan melakukan dialog secara langsung untuk musyawarah mufakat dengan melakukan pendekatan pribadi, pendekatan kelompok dan pendekatan formal/birokrasi melalui sosialisasi dan pelibatan tokoh masyarakat maupun aparat desa.  Selanjutnya upaya komunikasi (negosiasi) dengan instansi/pihak-pihak terkait dengan melakukan koordinasi  dalam rangka mencapai tujuan bersama untuk kepentingan publik sehingga terjadi kesamaan persepsi dan pola pengambilan manfaat ekonomi atas sumberdaya ekonomi di areal HGU. 
MUSEUM GEOLOGI DAN PRASEJARAH DI MAKASSAR DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIGH TECH Saefullah, Saefullah; Muthmainnah, Muthmainnah
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 2, No 2 (2015): Nature
Publisher : Jurusan Arsitektur uin alauddin makassar

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1429.547 KB)

Abstract

Indonesia is rich geological resources consisting of rocks, minerals and minerals. Talking about the geology is very closely related to prehistoric times because of not finding written evidence from prehistoric times, the information concerning this age obtained through fields like paleontology, astronomy, biology, geology, anthropology, and archeology importance of preserving and maintaining prehistoric relics. So will foster a sense of responsibility to it. This is in line with the duties of the Directorate General of Culture Ministry of Education and Indonesian culture in its performance report which suggested that the remains of important historical remains preserved as a living lesson for the next generation. The research objective construct a conceptual foundation design of the design of the Museum of Geology and prehistory with high-tech architecture approach, applying double facade system, Ligth Pipe and photovoltaic systems in buildings, applying intelligent systems in utility buildings. This report is the result of designing buildings and prehistoric geological museum in Makassar with high-tech architecture approach.
Nalar Ekologi Dalam Perspektif Islam Saefullah, Saefullah
Jurnal Penelitian Volume 13 Nomor 2 2016
Publisher : IAIN Pekalongan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Problematika lingkungan hidup hingga saat ini kian menunjukkan tingkat yang mengkhawatirkan. Berbagai fakta kerusakan lingkungan yang terjadi di Bumi telah   menjadikan penghuninya terusik. Tulisan ini bercorak library research dan berupaya menelisik kontribusi Islam dalam menyelesaikan masalah ini. Hasilnya, Islam memberi perhatian besar  pada  berbagai problematika kehidupan manusia, termasuk terhadap  lingkungan hidup.  Rumusan ini tentu berbeda dengan pandangan ilmuwan  modernis Barat yang cenderung menggunakan pendekatan teknis saja, tanpa melihat aspek-aspek lain. Padahal, menggunakan pendekatan teknis semata tidak mencukupi, namun juga membutuhkan pendekatan  lain,  di antaranya yang bersifat transendental dan profan.