Muarifuddin Muarifuddin, Muarifuddin
Jurusan Pendidikan Luar Sekolah FIP Universitas Negeri Semarang

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

ANALISIS IMPLEMENTASI 7 PILAR KONSERVASI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG DI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN Kisworo, Bagus; Muarifuddin, Muarifuddin
Journal of Nonformal Education Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Non-formal Education Program, Postgraduate Campus UNNES Kelud Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24914/pnf.v1i1.3979

Abstract

Konservasi masih cenderung dimaknai oleh banyak warga Unnes dengan perwujudan kampus yang hijau cenderung bersifat absurd pada sistem yang dibangun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, berusaha mendapatkan informasi selengkap mungkin implementasi 7 pilar konservasi UNNES di FIP. Subjek penelitian adalah civitas akademika di FIP. Teknik pengumpulan data memakai wawancara, dokumentasi dan observasi. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menyimpulkan pemahaman civitas akademika FIP terhadap wacara konservasi belum menujukkan sepenuhnya paham secara menyeluruh dari segi konteks makna koseervasi. Menunjukkan bahwa dari pejabat memiliki pemahaman lebih baik dibanding beberapa civitas akademika lain yang ada di FIP, baik itu mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan maupun tenaga teknis lainnya. Implementasi 7 pilar konservasi yang ada di lingkungan FIP masih menonjolkan beberapa pilar dominan saja yaitu arsitektur hijau dan transportasi internal. Pilar nirkertas; konservasi etika, seni dan budaya; kaderisasi konservasi; keanekaragaman hayati; pengelolaan limbah; dan energi bersih menjadi runtutan rensta sekaligus dimasukkan dalam perioritas yang membutuhkan pengembangan besar ke depan. Sedangkan pada faktor penghambat dan pendukung 7 pilar konservasi menempatkan psikologi mental perhatian utama. Komitmen dan partisipasi bersama menjadi tanggung jawab untuk mendukung, menjaga, memantau dan berkoordinasi dalam mewujudkan universitas konservasi yang unggul, sehat dan sejahtera.
PERAN PUSAT KEGIATAN BELAJAR MASYARAKAT DALAM MENANGGULANGI KEMISKINAN MELALUI PENDIDIKAN NONFORMAL DI JAWA TENGAH Raharjo, Tri Joko; Suminar, Tri; Muarifuddin, Muarifuddin
Journal of Nonformal Education Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Non-formal Education Program, Postgraduate Campus UNNES Kelud Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24914/pnf.v2i1.5310

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis program yang dikembangkan PKBM di Jawa Tengah dalam menanggulangi kemiskinan melalui pendidikan nonformal, peran PKBM, hambatan dan dukungan bagi PKBM dalam menyelenggarakan programnya. Pendekatan penelitian menggunakan deskriptif kualitatif, metode pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Sampel penelitian menggunakan metode multiple stage random sampling. Sampel didapatkan 6 PKBM yang ada di Jawa Tengah. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, metode dan teori. Teknik analisis data melalui pengumpulan data, reduksi penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil yang didapatkan jenis program yang dikembangkan PKBM di Jawa Tengah dalam menanggulangi kemiskinan adalah program PAUD, Keaksaraan, Kesetaraan, Kursus dan Pelatihan, KBU, Magang dan program lain. Program Kesetaraan, Kursus dan Pelatihan, serta KBU memiliki posisi dominan. Jenis program paling banyak dikembangkan adalah program kursus dan pelatihan. Adapun peran PKBM yaitu sebagai pusat informasi, belajar masyarakat, pendidikan dan latihan keterampilan serta adanya kemandirian masyarakat yang terbentuk. Hambatan internal belum terpenuhinya penyelenggaraan full beasiswa bagi semua warga belajar dan sulit mencari tutor yang diidealkan. Hambatan eksternal minimnya akses sumber keuangan serta persaingan pemasaran produk. Dukungan internal berupa komitmen yang tinggi dari semua pengelola serta budaya kerja secara kekeluargaan. Dukungan eksternal berupa berbagai dukungan baik dari pihak pemerintah, swasta, berbagai mitra kerja serta media massa yang ikut serta dalam publikasi.
ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN DESA WISATA BATIK KECAMATAN LASEM KABUPATEN REMBANG Muarifuddin, Muarifuddin; Mulyono, Sungkowo Edy; Malik, Abdul
Journal of Nonformal Education Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Non-formal Education Program, Postgraduate Campus UNNES Kelud Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24914/pnf.v2i1.5313

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis hambatan internal (kelemahan) maupun eksternal (tantangan) pengembangkan desa wisata batik Desa Babagan, merumuskan strategi alternatif serta keberadaan showroom dalam merespon terbentuknya koperasi. Penelitian deskriptif kualitatif ini pengumpulan datanya menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, metode dan teori. Teknik analisis data menggunakan model interaktif. Subjek penelitian terdiri dari pengrajin batik, kepala desa dan tokoh masyarakat. Simpulan yang didapatkan masih banyaknya kelemahan Desa Babagan sebagai desa wisata batik karena memang baru tahun 2015 diresmikan. Tantangan terbesar terletak pada penekanan budaya batik lokal bagi masyarakat luas.  Adapun Strategi alternatifnya dengan mendorong masyarakat dan pemerintah menciptakan iklim kondusif bagi berkembangnya kegiatan wisata sekaligus masyarakat menjadi pelaku sektor kepariwisataan dan penguatan usaha, mengikutsertakan masyarakat berbagai kegiatan, pemerintah dilibatkan setidaknya sebagai donatur penyelenggara kegiatan, diadakannya pelatihan berbasis hardskill dan softskill serta pembinaan dan pendampingan dari dinas terkait, pelatihan mengenai strategi pengelolaan usaha serta pemasaran, menata kembali organisasi pengelola desa wisata batik, rekondisi pengelolaan showroom sekaligus sebagai koperasi. Begitu pula yang terjadi pada showroom dapat merespon terbentuknya koperasi, dikarenakan pengelolaan showroom tersebut telah terjadi kegiatan menuju terbentuknya pra koperasi. Namun, hal yang menjadi perhatian yaitu masih kurangnya pemahaman masyarakat adanya keberadaan koperasi berikut pula pemanfaatannya.
IJITIHAD OF SULTAN MUHAMMAD IDRUS KAIMUDDIN (1824-1851) IN BUTON, SOUTHEAST SULAWESI, INDONESIA Melamba, M.A., Basrin; Muarifuddin, Muarifuddin
JICSA Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : JICSA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.035 KB)

Abstract

The introduction of Islam in the Sultanate of Buton has brought about changes in the social, political, and even intellectual aspects of the sultanate. This is observable in the thought of local scholars who try to blend Islam and local culture. One of these figures is Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin (1824-1851). The thought of Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin finds the essence of its concept of manners or etiquette in the teachings of the ancestors in Bula Kabanti Malino and several works of Sultan Muhammad Idrus Kaimuddin. The guidance of the public and court authorities in the Sultanate of Buton was basically and mostly coming from the teachings of Islam. Thinking in terms of ethics, morals, manners, the advice of Sultan Kaimuddin has deep horizons of knowledge and thought. The magnitude of the influence of Islam in the thought of Muhammad Idrus Kaimuddin evidently works, which proves that the process of acculturation between Islam and Butonese culture runs well. The acculturation between Islam and Butonese culture was essentially a formation process of Butonese civilization centered in the palace and passed on to Buton society in general, through the process of cultural dialogue between Buton (Wolio) and Islam. 
Analisis Kebutuhan Pengembangan Desa Wisata Batik Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang Muarifuddin, Muarifuddin; Mulyono, Sungkowo Edy; Malik, Abdul
Journal of Nonformal Education Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Nonformal Education Program, Postgraduate Campus UNNES Kelud Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24914/jne.v2i1.5313

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis hambatan internal (kelemahan) maupun eksternal (tantangan) pengembangkan desa wisata batik Desa Babagan, merumuskan strategi alternatif serta keberadaan showroom dalam merespon terbentuknya koperasi. Penelitian deskriptif kualitatif ini pengumpulan datanya menggunakan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, metode dan teori. Teknik analisis data menggunakan model interaktif. Subjek penelitian terdiri dari pengrajin batik, kepala desa dan tokoh masyarakat. Simpulan yang didapatkan masih banyaknya kelemahan Desa Babagan sebagai desa wisata batik karena memang baru tahun 2015 diresmikan. Tantangan terbesar terletak pada penekanan budaya batik lokal bagi masyarakat luas. Adapun Strategi alternatifnya dengan mendorong masyarakat dan pemerintah menciptakan iklim kondusif bagi berkembangnya kegiatan wisata sekaligus masyarakat menjadi pelaku sektor kepariwisataan dan penguatan usaha, mengikutsertakan masyarakat berbagai kegiatan, pemerintah dilibatkan setidaknya sebagai donatur penyelenggara kegiatan, diadakannya pelatihan berbasis hardskill dan softskill serta pembinaan dan pendampingan dari dinas terkait, pelatihan mengenai strategi pengelolaan usaha serta pemasaran, menata kembali organisasi pengelola desa wisata batik, rekondisi pengelolaan showroom sekaligus sebagai koperasi. Begitu pula yang terjadi pada showroom dapat merespon terbentuknya koperasi, dikarenakan pengelolaan showroom tersebut telah terjadi kegiatan menuju terbentuknya pra koperasi. Namun, hal yang menjadi perhatian yaitu masih kurangnya pemahaman masyarakat adanya keberadaan koperasi berikut pula pemanfaatannya.
Peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat dalam Menanggulangi Kemiskinan melalui Pendidikan Nonformal di Jawa Tengah Raharjo, Tri Joko; Suminar, Tri; Muarifuddin, Muarifuddin
Journal of Nonformal Education Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Nonformal Education Program, Postgraduate Campus UNNES Kelud Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24914/jne.v2i1.5310

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui jenis program yang dikembangkan PKBM di Jawa Tengah dalam menanggulangi kemiskinan melalui pendidikan nonformal, peran PKBM, hambatan dan dukungan bagi PKBM dalam menyelenggarakan programnya. Pendekatan penelitian menggunakan deskriptif kualitatif, metode pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Sampel penelitian menggunakan metode multiple stage random sampling. Sampel didapatkan 6 PKBM yang ada di Jawa Tengah. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, metode dan teori. Teknik analisis data melalui pengumpulan data, reduksi penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil yang didapatkan jenis program yang dikembangkan PKBM di Jawa Tengah dalam menanggulangi kemiskinan adalah program PAUD, Keaksaraan, Kesetaraan, Kursus dan Pelatihan, KBU, Magang dan program lain. Program Kesetaraan, Kursus dan Pelatihan, serta KBU memiliki posisi dominan. Jenis program paling banyak dikembangkan adalah program kursus dan pelatihan. Adapun peran PKBM yaitu sebagai pusat informasi, belajar masyarakat, pendidikan dan latihan keterampilan serta adanya kemandirian masyarakat yang terbentuk. Hambatan internal belum terpenuhinya penyelenggaraan full beasiswa bagi semua warga belajar dan sulit mencari tutor yang diidealkan. Hambatan eksternal minimnya akses sumber keuangan serta persaingan pemasaran produk. Dukungan internal berupa komitmen yang tinggi dari semua pengelola serta budaya kerja secara kekeluargaan. Dukungan eksternal berupa berbagai dukungan baik dari pihak pemerintah, swasta, berbagai mitra kerja serta media massa yang ikut serta dalam publikasi.
Analisis Implementasi 7 Pilar Konservasi Universitas Negeri Semarang di Fakultas Ilmu Pendidikan Kisworo, Bagus; Muarifuddin, Muarifuddin
Journal of Nonformal Education Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Nonformal Education Program, Postgraduate Campus UNNES Kelud Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24914/jne.v1i1.3979

Abstract

Konservasi masih cenderung dimaknai oleh banyak warga Unnes dengan perwujudan kampus yang hijau cenderung bersifat absurd pada sistem yang dibangun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, berusaha mendapatkan informasi selengkap mungkin implementasi 7 pilar konservasi UNNES di FIP. Subjek penelitian adalah civitas akademika di FIP. Teknik pengumpulan data memakai wawancara, dokumentasi dan observasi. Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian menyimpulkan pemahaman civitas akademika FIP terhadap wacara konservasi belum menujukkan sepenuhnya paham secara menyeluruh dari segi konteks makna koseervasi. Menunjukkan bahwa dari pejabat memiliki pemahaman lebih baik dibanding beberapa civitas akademika lain yang ada di FIP, baik itu mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan maupun tenaga teknis lainnya. Implementasi 7 pilar konservasi yang ada di lingkungan FIP masih menonjolkan beberapa pilar dominan saja yaitu arsitektur hijau dan transportasi internal. Pilar nirkertas; konservasi etika, seni dan budaya; kaderisasi konservasi; keanekaragaman hayati; pengelolaan limbah; dan energi bersih menjadi runtutan rensta sekaligus dimasukkan dalam perioritas yang membutuhkan pengembangan besar ke depan. Sedangkan pada faktor penghambat dan pendukung 7 pilar konservasi menempatkan psikologi mental perhatian utama. Komitmen dan partisipasi bersama menjadi tanggung jawab untuk mendukung, menjaga, memantau dan berkoordinasi dalam mewujudkan universitas konservasi yang unggul, sehat dan sejahtera.
Implementasi pembangunan Desa Wisata Batik Desa Babagan Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang Muarifuddin, Muarifuddin
JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat) Vol 4, No 1 (2017): March 2017
Publisher : Departement of Nonformal Education, Graduate Scholl of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.843 KB) | DOI: 10.21831/jppm.v4i1.12713

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembangunan desa wisata batik dengan fokus penelitian; proses pembangunan, wujud partisipasi, faktor pendukung dan penghambat, dan dampak. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Subyek penelitian adalah pengrajin batik dan kepala desa, sebagai informan adalah pembatik, dan tokoh masyarakat. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi. Keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber, metode dan teori. Teknik analisis data melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian adalah proses pembangunan dari perencanaan telah adanya aktivitas membatik. Pelaksanaan terciptanya interaksi antara pengrajin dan pembatik yang terjalin hubungan patron-klien. Wujud partisipasi bersumber dari masyarakat lokal dan sistem sosial di luar masyarakat. Faktor pendukung berupa daya dukung fisik, sosial, budaya, dan ekonomi. Faktor penghambat berupa tidak semua warga setempat bisa membatik. Dampak secara fisik adanya peningkatan infrastruktur, dan dampak nonfisik terdapatnya peningkatan yang terdiri dari segi pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya.Kata kunci: pembangunan masyarakat; desa wisata; budaya; batik The Implementation of the Development of Batik Tourism Village in Babagan Lasem Sub-District Rembang Regency AbstractThis research aims to describe the implementation of rural batik tourism development focusing on; process of development, their participation, the supporting factors and obstacles, and the impact. This is a descriptive qualitative approach research. The research subjects were batik craftsmen and the head of the village, the informants were batik makers, and community leaders. The data were collected through interviews, observation and documentation. The validation used triangulation techniques of sources, methods and theory. The data were analyzed through some stages of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion. The results are the development process of batik village planning activities. Interaction between craftsmen and batik makers established patron-client relations. The participation of local communities is realized and social system outside the community. The support factors are in the form of physical capability, social, cultural, and economic capacity. The obstacles are not all the society members are batik makers. The physical impacts are the improvement of infrastructure buildings, and the non-physical impact can be seen from education, economic, social and cultural improvement.Keywords: community development; tourism village; culture; batik
POSTMODERNISME SEBAGAI PANDANGAN DUNIA DALAM NOVEL LITTLE WHITE HORSE KARYA ELIZABETH GOUDGE Muarifuddin, Muarifuddin; Azi, Rahmawati
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 6 No 1 (2017): Volume 6 Nomor 1, Februari 2017
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini merupakan luaran dari Penelitian Dosen Pemula (PDP) dengan judul “Pandangan Dunia Elizabeth Goudge dalam Novel Little White Horse”. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori strukturalisme genetik dan postmodernisme whiteheadian. Dipilihnya dua teori ini karena beberapa alasan; diantaranya adalah untuk melepaskan karya-karya fantasi dari perangkap budaya popular kemudian merambah sisi religiusitas dan filosofisnya serta mengungkapkan sejarah pergulatan subyek kolektif melawan rezim kemapanan dengan menggunakan strategi destrukturasi yang terdapat dalam strukturalisme genetik. Alasan lainnya adalah untuk meluruskan kesalahpahaman dalam pemetaan terhadap strukturalisme genetik itu sendiri utamanya dalam posisinya terhadap postmodernisme.  Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Metode analisis data memanfaatkan metode keseluruhan-bagian dan bagian keseluruhan yang dirumuskan oleh Goldmann dimana di dalamnya postmodernisme sebagai bentuk dan pandangan dunia karya sastra dapat dielaborasikan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa novel Little White Horse memiliki bentuk dan pandangan dunia yang bersifat postmodernis. Bentuk novel Little White Horse perpaduan antara contentism dan coterie fiction, sedangkan  pandangan dunianya mengusung filsafat postmodernisme Whiteheadian dimana terdapat imanensi Tuhan dan persaudaraan lintas spesies.  Hal ini merupakan hasil destruktrukturasi dan strukturasi dari subjek transindividual yang tergabung dalam Romantic Novel Association (RNA) terhadap pandangan dunia modern yang dianggap bersifat sekuler dan destruktif. RNA adalah kelompok penulis yang di dalamnya Elizabeth Goudge sebagai pengarang Novel Little White Horse tergabung. Kata kunci:, pandangan dunia, strukturalisme genetik, transindividual, postmodernisme
ANALISIS STRUKTUR DAN EKO-KRITIK TERHADAP SASTRA LISAN ”WA NDIU-DIU” Muarifuddin, Muarifuddin
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 5 No 3 (2016): Volume 5 Nomor 3, Oktober 2016
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.718 KB)

Abstract

This study aims to lift the oral literature Wa Ndiu-Diu are feared to be extinct due to the strong currents of globalization and modernism. Problems seen in this study is the narrative structure of oral literature Wa Ndiu-Diu and relationships as well as the function of oral literature with the natural environment. Those problems were analyzed by using the theory of folklore and eko-kritik, using qualitative methods which consist of primary data that every word, dialogue, as well as actions and events experienced figure in oral literature Wa Ndiu-Diu and secondary data that all matters relating to the object of research. These results indicate that the story Wa Ndiu-Diu has a function and a very significant position in Buton. That function is, first, the function of education (paedagogy), educational functions include education of children, and the function of education to parents. Second, the function of beliefs or myths, and third, the function of the ecological balance or nature conservation.