Articles

Found 13 Documents
Search

Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas X-1 SMA Negeri 12 Banjarmasin Melalui Penerapan Model Pengajaran Langsung Pada Pokok Bahasan Gerak Melingkar

Berkala Ilmiah Pendidikan Fisika Vol 1, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurangnya peran aktif siswa selama proses pembelajaran berdampak pada rendahnya hasil belajar. Oleh karena itu, dilakukan penelitian tindakan kelas dengan model Hopkins. Tujuan khusus  mendeskripsikan keterlaksanaan RPP, hasil belajar, aktivitas, dan respon siswa terhadap proses pengajaran langsung. Hasil penelitian menunjukkan (1) kategori keterlaksanaan RPP pada siklus I 61% (baik), II 82% (sangat baik), dan III 89% (sangat baik), (2) peningkatan ketuntasan hasil belajar siswa secara klasikal pada siklus I 42% (belum tuntas), II 73% (belum tuntas), dan III 96% (tuntas), (3) aktivitas siswa mengalami peningkatan dengan kriteria baik, (4) respon siswa terhadap proses pengajaran langsung berkategori baik. Simpulan bahwa penerapan model pengajaran langsung pada materi pokok gerak melingkar di kelas X-1 SMAN 12 Banjarmasin dapat meningkatkan hasil belajar siswa.  

DISPENSASI KAWIN DI BAWAH UMUR (ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 74/PUU-XII/2014 UJI MATERIIL PASAL 7 AYAT 2 UNDANG-UNDANG PERKAWINAN)

eL-Mashlahah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pertimbangan hakim dalam putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 74 / PUU-XII / 2014 tentang Peninjauan Kembali Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 7 Ayat (2) Interpretasi frasa “pejabat lainnya”, serta implikasi dari keputusan Mahkamah Konstitusi.Jenis penelitian ini bersifat -normatif dengan menggunakan pendekatan hukum (statute approach). Jenis penelitian ini adalah metode penelitian eksplanatif yang menjelaskan, memperkuat, atau menguji ketentuan hukum yang merupakan dasar dari keputusan peninjauan kembali Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 7 ayat (2). Teknik pengumpulan bahan hukum dan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini menggunakan teknik penelitian pustaka dan wawancara. Bahan hukum yang digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga bahan, yaitu bahan hukum primer, sekunder dan tersier yang terdiri dari undang-undang dalam undang-undang, keputusan pengadilan, buku, kamus hukum, dan jurnal ilmiah dan diproses dengan metode deskriptif analitis.Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa penilaian hakim dalam keputusan menggunakan metode interpretasi gramatikal dari kata "atau" dalam teks artikel. Oleh karena itu diketahui bahwa hukum perkawinan menyediakan pilihan bebas bagi orang-orang yang ingin meminta dispensasi pernikahan asalkan ada kesulitan atau akses terbatas ke yurisdiksi Pengadilan. Dari bunyi teks Pasal 7 Ayat (2) dilihat dari sifat hukumnya, pasal tersebut bersifat fakultatif / mengatur. Ini berarti bahwa dalam keadaan konkretnya dispensasi pernikahan melalui Pengadilan dapat dikesampingkan karena kesulitan atau keterbatasan akses sehingga pasal tersebut tidak mengikat atau harus dipatuhi oleh Pengadilan. Implikasi putusan Mahkamah Konstitusi secara yuridis harus diambil lebih lanjut sehingga substansi yang diberikan kewenangan perkawinan di bawah umur memiliki payung hukum sebagai legal formal yang jelas. Sementara di tingkat sosiologis, putusan itu memunculkan dualisme otoritas antara Pengadilan dan Kantor Urusan Agama. Oleh karena itu, upaya untuk menyelaraskan peran Mahkamah dengan lembaga adalah dengan menjaga proses dispensasi di Kantor Urusan Agama melalui proses pengadilan oleh Pengadilan

DISPENSASI KAWIN DI BAWAH UMUR (ANALISIS PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 74/PUU-XII/2014 UJI MATERIIL PASAL 7 AYAT 2 UNDANG-UNDANG PERKAWINAN)

eL-Mashlahah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pertimbangan hakim dalam putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 74 / PUU-XII / 2014 tentang Peninjauan Kembali Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 7 Ayat (2) Interpretasi frasa “pejabat lainnya”, serta implikasi dari keputusan Mahkamah Konstitusi.Jenis penelitian ini bersifat -normatif dengan menggunakan pendekatan hukum (statute approach). Jenis penelitian ini adalah metode penelitian eksplanatif yang menjelaskan, memperkuat, atau menguji ketentuan hukum yang merupakan dasar dari keputusan peninjauan kembali Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 7 ayat (2). Teknik pengumpulan bahan hukum dan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini menggunakan teknik penelitian pustaka dan wawancara. Bahan hukum yang digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga bahan, yaitu bahan hukum primer, sekunder dan tersier yang terdiri dari undang-undang dalam undang-undang, keputusan pengadilan, buku, kamus hukum, dan jurnal ilmiah dan diproses dengan metode deskriptif analitis.Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa penilaian hakim dalam keputusan menggunakan metode interpretasi gramatikal dari kata "atau" dalam teks artikel. Oleh karena itu diketahui bahwa hukum perkawinan menyediakan pilihan bebas bagi orang-orang yang ingin meminta dispensasi pernikahan asalkan ada kesulitan atau akses terbatas ke yurisdiksi Pengadilan. Dari bunyi teks Pasal 7 Ayat (2) dilihat dari sifat hukumnya, pasal tersebut bersifat fakultatif / mengatur. Ini berarti bahwa dalam keadaan konkretnya dispensasi pernikahan melalui Pengadilan dapat dikesampingkan karena kesulitan atau keterbatasan akses sehingga pasal tersebut tidak mengikat atau harus dipatuhi oleh Pengadilan. Implikasi putusan Mahkamah Konstitusi secara yuridis harus diambil lebih lanjut sehingga substansi yang diberikan kewenangan perkawinan di bawah umur memiliki payung hukum sebagai legal formal yang jelas. Sementara di tingkat sosiologis, putusan itu memunculkan dualisme otoritas antara Pengadilan dan Kantor Urusan Agama. Oleh karena itu, upaya untuk menyelaraskan peran Mahkamah dengan lembaga adalah dengan menjaga proses dispensasi di Kantor Urusan Agama melalui proses pengadilan oleh Pengadilan

DISPENSASI KAWIN DI BAWAH UMUR (ANALISIS PUTUSAN MK NO.74?PUU-XII/2014 UJI MATERIIL PASAL 7 AYAT 2 UU PERKAWINAN)

eL-Mashlahah Vol 8, No 1 (2018)
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.617 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pertimbangan hakim dalam putusan MahkamahKonstitusi Nomor 74 / PUU-XII / 2014 tentang Peninjauan Kembali Undang-Undang Nomor 1Tahun 1974 Pasal 7 Ayat (2) Interpretasi frasa “pejabat lainnya”, serta implikasi dari keputusanMahkamah Konstitusi. Jenis penelitian ini bersifat -normatif dengan menggunakan pendekatanhukum (statute approach). Jenis penelitian ini adalah metode penelitian eksplanatif yangmenjelaskan, memperkuat, atau menguji ketentuan hukum yang merupakan dasar dari keputusan peninjauan kembali Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 7 ayat (2). Teknik pengumpulan bahan hukum dan informasi yang diperlukan dalam penelitian ini menggunakan teknik penelitian pustaka dan wawancara. Bahan hukum yang digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini dibagi menjadi tiga bahan, yaitu bahan hukum primer, sekunder dan tersier yang terdiri dariundang-undang dalam undang-undang, keputusan pengadilan, buku, kamus hukum, dan jurnalilmiah dan diproses dengan metode deskriptif analitis. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwapenilaian hakim dalam keputusan menggunakan metode interpretasi gramatikal dari kata "atau"dalam teks artikel. Oleh karena itu diketahui bahwa hukum perkawinan menyediakan pilihanbebas bagi orang-orang yang ingin meminta dispensasi pernikahan asalkan ada kesulitan atauakses terbatas ke yurisdiksi Pengadilan. Dari bunyi teks Pasal 7 Ayat (2) dilihat dari sifathukumnya, pasal tersebut bersifat fakultatif / mengatur. Ini berarti bahwa dalam keadaankonkretnya dispensasi pernikahan melalui Pengadilan dapat dikesampingkan karena kesulitanatau keterbatasan akses sehingga pasal tersebut tidak mengikat atau harus dipatuhi olehPengadilan. Implikasi putusan Mahkamah Konstitusi secara yuridis harus diambil lebih lanjutsehingga substansi yang diberikan kewenangan perkawinan di bawah umur memiliki payunghukum sebagai legal formal yang jelas. Sementara di tingkat sosiologis, putusan itumemunculkan dualisme otoritas antara Pengadilan dan Kantor Urusan Agama. Oleh karena itu,upaya untuk menyelaraskan peran Mahkamah dengan lembaga adalah dengan menjaga prosesdispensasi di Kantor Urusan Agama melalui proses pengadilan oleh Pengadilan.

Hubungan Antara Jenis Kelamin, Uang Jajan, Kebiasaan Sarapan, Kebiasaan Membawa Bekal, Dan Pengetahuan Gizi Dengan Perilaku Siswa Memilih Makanan Jajanan Di SDN Keraton 1 Martapura

Jurnal Kesehatan Indonesia Vol 8 No 3 (2018): Juli
Publisher : HB PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.894 KB)

Abstract

School-aged children have habit to eating hawker foods. Hawker foods are less qualified health and nutrition, so it will health threats to children The study aimed to find out the correlation between gender, pocket money, habitual breakfast and bringing packed meal and nutrition knowledge with the student behaviors on choosing hawker foods. This study type was observational with Cross Sectional approach. This study population was 49 children. The study results that the children’s knowledge level on choosing hawker food, mostly of them had good knowledge of 53%. The gender of student behaviors chose the best hawker foods of 32,7%. Pocket money of student behaviors chose the best hawker foods of 32,7%. Habitual breakfast of student behaviors chose the best hawker foods of 51%. The habitual bringing pack meal of student behaviors chose the best hawker foods of 22,4%. Based on Rank Spearman correlation analysis, that there was no relation between children's knowledge and choosing hawker food (value p = 0,165), There was no relation between sex and choosing hawker food (p value = 0,482), no relation between pocket money and choosing hawker food (value p = 0,127), there was no relation between the habitual bringing packed meal and the choosing hawker food (p = 0, 495), there was relation between habitual breakfast and  choosing hawker food (p = 0,030 )

Pengaruh Proporsi Tepung Terigu Dan Tepung Ubi Jalar Ungu (Ipomoea Batatas Var Ayamurasaki) Terhadap Kadar Protein, Volume, Pengembangan Dan Mutu Organoleptik Roti Manis

Jurnal Kesehatan Indonesia Vol 6 No 2 (2016): Maret
Publisher : HB PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.518 KB)

Abstract

Sweet bread is a food which is made from fermented wheat flour mixture and baked. Purple sweet potato has not been widely used as flour added to the sweet bread with a protein content of 2.62%, which can be recommended for the PMT-Recovery on nutritional problems KEP. The more purple sweet potato flour is added to the mixture the wheat flour less , this means that less gluten with an important role in the development volume and organoleptic sweetbreads. This study aims to analyze the influence of the proportion of wheat flour and purple sweet potato flour on the protein content, the volume and the development of organoleptic sweet bread. This study was an experimental study with RAL and three times the replication report (100%: 0%, 97.5%, 2.5%, 95%, 5%, 92.5: 7.5%, 90%: 10%). This study was conducted on 25 qualified speakers somehow STIKES Husada Borneo Banjarbaru. Receiving data for data analysis of protein levels using ANOVA, and to test the organoleptic quality (color, aroma, texture and taste) use traditional Friedman data analysis. The results showed that the average value of the highest protein content of the test on P0 (3.24%) and the lowest in the P4 (2.92%), the average value of the test volume higher P0 (35.58) and the lowest in P4 (25.42%) and the maximum development at P0 (36.5%) and the lowest in Q4 (24.7%) significantly influenced the sweet bread product as p <α = 0.05. Sweetbreads organoleptic quality tests that include the color with the highest average in P3 (3.28%) and the lowest in the P4 (2.92%), flavor with the highest average value P0 (3.24% ) and the lowest on P4 (2.76%), the texture with the highest average value to P0 (3.4%) and the lowest in the P4 (2.44%), taste with the smallest average high in P3 (3.32%) and lowest in the P4 (3.04%). Poses the most preferred by the speakers is P3 proportion of flour and flour purple sweet potato that is 92.5%: 7.5%.

Hubungan Sikap Diet Penurunan Berat Badan dan Pengetahuan Diet Terhadap Status Gizi Remaja Putri di Pondok Pesantren Asrama Rasydiyah Khalidiyah Amuntai Hulu Sungai Utara

Jurnal Kesehatan Indonesia Vol 5 No 2 (2015): Maret
Publisher : HB PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.267 KB)

Abstract

Teenage girls in Pondok Pesantren Rasydiyah Khalidiyah Amuntai Hulu Sungai Utara contained 21.42% of young women who go on a diet to gain weight , maintain weight 18.57% and 57.14% who lose weight posture is not too fat even there thin based on measurement results using the body mass index according to age (BMI / U) . This study aims to determine the correlation of dietary attitudes and knowledge of weight loss diet on the nutritional status of teenage girls in Pondok Pesantren Rasydiyah Khalidiyah Amuntai Hulu Sungai Utara . This study was an observational analytic with cross sectional design , the population is young women who totaled 272 people, sample in this study as many as 162 respondents with propotionate stratified random sampling technique . The analysis was performed by descriptive and statistical tests using Chi-Square . The results obtained there is a correlation between attitudes weight loss diet of the nutritional status of young women with p value <0.05 is 0.034 . Teenage girls with unfavorable attitudes diet weight loss diet as much as 90.6% of normal nutritional status . There is a correlation between knowledge of diet and nutritional status of teenage girls with p value <0.05 is 0.029 . The knowledge of diet high at 89.1% of normal nutritional status.

Hubungan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Terhadap Status Gizi Dan Status Kesehatan Anak Sekolah Dasar Negeri Angsau 2 Pelaihari

Jurnal Kesehatan Indonesia Vol 7 No 1 (2016): November
Publisher : HB PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.208 KB)

Abstract

The state of health is the health situation experienced by a person and the disease is a factor that is associated with the state of health of a person. The health of a person is said to be good if in a person's body is good nutrition and a maximum satisfied. Meanwhile, nutritional status is a state of the body because of food consumption and utilization of nutrients; health status is affected by the balance between intake and expenditure of nutrients for its use by the body. Nutritional needs that have a role in child development largely covers energy, carbohydrates and proteins, vitamins and minerals are known as elements of nutrition that influence growth and development of children. The nutritional needs of children can be met from the intake of food or beverages consumed at home and consumed outside the home, or often referred to as a street food. In addition to the consumption of food as a major factor affecting the health and nutritional status of a person, there are also other factors that can affect the health of children, behavior of living healthy and clean. Clean and healthy lifestyle behaviors, in essence, is the prevention of human behavior of various diseases. This study aims to determine the relationship of clean and healthy lifestyle behaviors to the health and nutritional status of children SDN Angsau 2 Pelaihari. This research used analytic investigation with the design of the cross section. The study population for all students SDN Angsau 2 samples Pelaihari. total sample of 60 respondents with two criteria for inclusion and exclusion. Based on the results of the statistical tests of Spearman correlation showed there was have association between clean and healthy lifestyle behaviors (p = 0.000) with children’s health status and nutritional status of children SDN Angsau 2 Pelaihari. Keywords : Clean and Healthy Lifestyle Behaviors, Nutritional Status, Children’s Health Status

Hubungan Indikator Obesitas Terhadap Kadar Total Kolesterol Dan Trigliserida Pasien Penyakit Jantung

Jurnal Kesehatan Indonesia Vol 8 No 2 (2018): Maret
Publisher : HB PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.947 KB)

Abstract

The main cause of heart disease (cardiovascular) is manifestation of arterosclerosis in coronary arteries. Risk factors for coronary heart disease are abnormalities of lipid profile and obesity. Waist circumference is an indicator used to determine the amount of excess fat in the abdomen. Based on the research, the higher ratio of waist circumferencewill be followed by high LDL cholesterol, triglyceride levels and total cholesterol levels. The purpose of this study is the association of obesity indicators with total cholesterol and triglyceride levels of heart disease patients in the Heart Polyclinic of RSUD Brig. H. Hasan Basry Kandangan. This research is an observational analytic research and use cross sectional design. The sample in this study amounted to 78 respondents (48 men and 30 women) with accidental sampling technique. Data analysis with Pearson correlation test with p value <0,05. Based on the research that has been done, the results obtained thatratio of waist circumference ideal of male respondents as much as 30 respondents and women as many as 9 respondents. Total cholesterol content of respondents mostly in the high category (≥ 240 mg/dl), which is 41 respondents; triglyceride levels of respondents are mostly in the high category (250-500 mg/dl), as many as 38 respondents. There is a relationship between ratio of waist circumference with total cholesterol and triglyceride levels of respondents at H. Hasan Basry Kandangan Hospital.

Hubungan Sikap Diet Penurunan Berat Badan dan Pengetahuan Diet Terhadap Status Gizi Remaja Putri di Pondok Pesantren Asrama Rasydiyah Khalidiyah Amuntai Hulu Sungai Utara

Jurnal Kesehatan Indonesia Vol 4 No 1 (2013): November
Publisher : HB PRESS

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (134.024 KB)

Abstract

Teenage girls in Pondok Pesantren Rasydiyah Khalidiyah Amuntai Hulu Sungai Utara contained 21.42% of young women who go on a diet to gain weight , maintain weight 18.57% and 57.14% who lose weight posture is not too fat even there thin based on measurement results using the body mass index according to age (BMI / U) . This study aims to determine the correlation of dietary attitudes and knowledge of weight loss diet on the nutritional status of teenage girls in Pondok Pesantren Rasydiyah Khalidiyah Amuntai Hulu Sungai Utara . This study was an observational analytic with cross sectional design , the population is young women who totaled 272 people, sample in this study as many as 162 respondents with propotionate stratified random sampling technique . The analysis was performed by descriptive and statistical tests using Chi-Square . The results obtained there is a correlation between attitudes weight loss diet of the nutritional status of young women with p value <0.05 is 0.034 . Teenage girls with unfavorable attitudes diet weight loss diet as much as 90.6% of normal nutritional status . There is a correlation between knowledge of diet and nutritional status of teenage girls with p value <0.05 is 0.029 . The knowledge of diet high at 89.1% of normal nutritional status.