Brotosunaryo Brotosunaryo, Brotosunaryo
Department of Urban and Regional Planning, Universitas Diponegoro

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

FAKTOR PENENTU NILAI VERTIKAL RUANG PERKOTAAN PADA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA BANDARHARJO-SEMARANG Agista, Chika Nadia; Brotosunaryo, Brotosunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akibat urbanisasi jumlah penduduk perkotaan dari tahun ke tahun semakin bertambah. Dengan terus meningkatnya jumlah penduduk perkotaan, permintaan akan lahan untuk pengembangan permukiman yang utamanya di pusat kota terus meningkat dengan penawaran lahan yang bersifat in-elastis sempurna, menjadikan harga lahan kota terus melonjak tinggi, sehingga para urbanis yang sebagian besar kemampuan ekonominya rendah mereka tidak mampu mengakses perumahan formal. Mereka yang tidak mampu mengakses perumahan formal, solusi empiris yang banyak kita jumpai di perkotaan adalah mereka bermukim di kawasan kumuh atau menempati lahan ilegal. Fenomena yang demikian terjadi di Kelurahan Bandarharjo-Semarang. Untuk mengatasi permasalahan yang demikian, Pemerintah Kota Semarang melalui program peremajaan lingkungan dengan konsep “membangun tanpa menggusur”, dibangunlah Rumah Susun Bandarharjo. Dengan adanya rumah susun, mereka mempunyai rumah yang layak, sehat, dan memenuhi syarat-syarat perumahan, guna menunjang berbagai aktifitas penghuni dalam melangsungkan kehidupan. Grand Theory Bergel (1955) menunjukkan bahwa, karena variabel aksesibilitas NVRP berkebalikan dengan letak ketinggiannya dan berdasarkan penelitihan-penelitihan sebelumnya, yaitu Lin (1998), Brotosunaryo (2009), dan Tegrasia (2011), menghasilkan NVRP yang berbeda dan tergantung pada pemanfaatan ruang vertikalnya. Dengan hasil yang berbeda atas NVRP tersebut, peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian lanjutan dengan lokasi yang berbeda, yakni dengan memilih lokasi Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Bandarharjo-Semarang. Fenomena empiris di Rumah Susun Bandarharjo, ditemukan bahwa semakin keatas letak lantai bangunan maka semakin murah harga sewanya dan sebaliknya semakin mendekati lantai dasar maka harga sewa semakin mahal. Pertanyaan penelitian yang diangkat dalam kajian ini adalah faktor-faktor penentu apakah yang mempengaruhi NVRP di Rumah Susun Bandarharjo-Semarang. Untuk menemukan faktor penentu NVRP di Rumah Susun Bandarharjo, pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan positivistic-rasionalistik, yang dianalisis melalui metode kuantitatif dengan teknik analisis R Factor Analysis. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, dengan pengumpulan melalui pengamatan, kuesioner, wawancara terstruktur, dan mencari dokumen yang ada pada instansi terkait. Teknik sampling yang digunakan adalah Stratified Purposive Sampling dan dengan ini berhasil diwawancarai 68 responden dari semua lantai unit satuan Rumah Susun Bandarharjo Blok Lama, Blok A, dan Blok B sebanyak 210 unit. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa NVRP untuk pemanfaatan Rumah Susun Bandarharjo-Semarang dipengaruhi oleh 2 (dua) variabel penentu berdasarkan konsepsi Lin I, yakni variabel ekonomi dengan parameter aksesibilitas, bahaya kebakaran, dan bahaya gempa bumi; variabel psikologi dengan parameter lingkungan dengan komponen harga sewa, pemandangan, kondisi cahaya sinar matahari, dan sosialisasi dengan tetangga; serta parameter kenyamanan dengan komponen kenyamanan dan kebisingan. Kontribusi variabel ekonomi dalam menjelaskan NVRP untuk pemanfaatan Rumah Susun Bandarharjo sebesar 60,25% dan variabel psikologi sebesar 39,74%. Apabila diverifikasikan dengan Grand Theory Bergel menunjukkan bahwa penelitian ini selaras, demikian juga dengan penelitian yang dilakukan Tegrasia di lokasi yang berbeda, yakni di Rumah Susun Kaligawe-Semarang. Sedangkan, terhadap NVRP untuk pemanfaatan Kondominium/Apartemen di Jakarta Pusat oleh Brotosunaryo terdapat kontradiksi yang cukup nyata.
PENGARUH HARGA LAHAN TERHADAP INTENSITAS PEMANFAATAN LAHAN DI KORIDOR JALAN MGR. SUGIOPRANOTO-SILIWANGI SEMARANG Purbalangi, Guntur Aditya; Brotosunaryo, Brotosunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring perkembangan zaman, semakin sulit untuk menemukan lahan kosong di daerah perkotaan  Indonesia. Kalaupun ada, harganya pasti sangatlah tinggi karena semakin strategis letak lahan tersebut maka akan semakin mahal pula harganya. Harga lahan yang tinggi mengakibatkan pemilik lahan mengintensifkan pemanfaatan lahannya agar dapat menutupi biaya sewa lahan yang mahal. Pengintensifan pemanfaatan lahan tersebut yaitu dengan memaksimalkan intensitas pemanfaatan lahan. Akan tetapi, pembangunan tersebut juga diatur oleh pemerintah melalui intensitas pemanfaatan lahan yaitu KDB,KLB, dan GSB agar tidak terjadi penyimpangan pembangunan. Koridor Jalan Mgr. Sugiopranoto-Siliwangi merupakan koridor yang berada di dekat pusat kota Semarang. Harga lahan pada koridor tersebut cukup mahal dibanding dengan daerah pinggiran karena lokasinya cukup strategis. Didukung dengan teori lokasi Von Thunen yang mengatakan bahwa semakin dekat dengan pusat kota, maka harga lahannya akan semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh harga lahan terhadap intensitas pemanfaatan lahan di koridor Jalan Mgr. Sugiopranoto-Siliwangi Semarang. Dalam penelitian ini analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara harga lahan dengan intensitas pemanfaatan ruang di sepanjang koridor jalan Mgr. Sugiopranoto-Siliwangi yang kemudian didukung dengan pembuktian teori lokasi B.J. Berry(1963) mengenai lonjakan harga pada persimpangan jalan apakah masih berlaku pada wilayah studi atau tidak. Selain itu juga dianalisis mengenai keanekaragaman fungsi ruang yang ada pada wilayah studi seperti persimpangan jalan, jalur pesawat terbang dan sungai banjir kanal barat mengenai bagaimana pengaruhnya terhadap harga lahan dan intensitas pemanfaatan lahannya. Hasil yang didapatkan menunjukkan adanya pengaruh antara harga lahan dengan intensitas pemanfaatan. Berdasarkan analisis regresi sederhana yang dilakukan antara harga lahan terhadap KDB, KLB dan GSB didapatkan angka probabilitias (sig) sebesar kurang dari 0,5 dilihat dari tabel correlation (tabel terlampir pada lampiran 1). Ketentuan mengatakan jika angka probabilitas < 0.05 maka ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel. Berdasar data yang diperoleh dan dianalisis, antara KDB, KLB dan GSB terhadap harga lahan akhirnya menunjukkan adanya hubungan yang cukup signifikan. Namun, teori Berry (1963) pada penelitian ini tidaklah berlaku karena persimpangan jalan yang memotong memiliki kelas jalan yang lebih kecil sehingga tidak terjadi lonjakan harga.
Street Vendors Hypergrowth: Consequence of Uncontrolled Urbanization In Semarang City Sariffuddin, Sariffuddin; Wahyono, Hadi; Brotosunaryo, Brotosunaryo
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v9i1.8497

Abstract

This paper aims to understand the role of urbanization to street vendors emerging. In the case of Semarang, more than 54% Semarang’s street vendors come from its hinterlands. These sectors turn to development dichotomy that have a positive and negative impact. Positively, this area becomes resilience economy people. In the negative side, more than 60% vendors make their stall in the public space. This research used a mix-method approach taking 271 samples, Focus Group Discussion (FGD) and in deep interviews. From this study, it can be concluded that urbanization had led to the outbreak of street vendors through (1) rural-urban migration, and (2) the social change as a result of gentrification. Working as street vendors turned out to be an alternative way of life to adapt to global economic uncertainty. Also, there are 71.6% of street vendors open their stalls in 2003-2009, or about 6-7 years after the monetary crisis (1997). It shows that the financial crisis is not the primary trigger for the outbreak of street vendors. Another interesting finding is that there is a new phenomenon in the form of the intervention of the middle class who took part in this business.
Street Vendors Hypergrowth: Consequence of Uncontrolled Urbanization In Semarang City Sariffuddin, Sariffuddin; Wahyono, Hadi; Brotosunaryo, Brotosunaryo
KOMUNITAS: INTERNATIONAL JOURNAL OF INDONESIAN SOCIETY AND CULTURE Vol 9, No 1 (2017): Komunitas, March 2017
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/komunitas.v9i1.8497

Abstract

This paper aims to understand the role of urbanization in the emergence of in urban area street vendors. In the case of Semarang, more than 54% of its street vendors come from its hinterlands. These sectors turn to development dichotomy that have a positive and negative impact. Positively, this area becomes peoples economic resilience. In the negative side, more than 60% of vendors make their stall in the public space. This research uses a mix-method approach taking 271 samples, Focus Group Discussion (FGD) and in-depth interview. From this study, it can be concluded that urbanization has led to the outbreak of street vendors through (1) rural-urban migration, and (2) social change as a result of gentrification. Working as street vendors turned out to be an alternative way of life to adapt to global economic uncertainty. Also, there are 71.6% of street vendors open their stalls in 2003-2009, or about 6-7 years after the monetary crisis (1997). It shows that the financial crisis is not the primary trigger for the outbreak of street vendors. Another interesting finding is that there is a new phenomenon in the form of the intervention of the middle class who took part in this business.
FAKTOR PENENTU NILAI VERTIKAL RUANG PERKOTAAN PADA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA BANDARHARJO-SEMARANG Agista, Chika Nadia; Brotosunaryo, Brotosunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 2, No 3 (2013): Agustus 2013
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Akibat urbanisasi jumlah penduduk perkotaan dari tahun ke tahun semakin bertambah. Dengan terus meningkatnya jumlah penduduk perkotaan, permintaan akan lahan untuk pengembangan permukiman yang utamanya di pusat kota terus meningkat dengan penawaran lahan yang bersifat in-elastis sempurna, menjadikan harga lahan kota terus melonjak tinggi, sehingga para urbanis yang sebagian besar kemampuan ekonominya rendah mereka tidak mampu mengakses perumahan formal. Mereka yang tidak mampu mengakses perumahan formal, solusi empiris yang banyak kita jumpai di perkotaan adalah mereka bermukim di kawasan kumuh atau menempati lahan ilegal. Fenomena yang demikian terjadi di Kelurahan Bandarharjo-Semarang. Untuk mengatasi permasalahan yang demikian, Pemerintah Kota Semarang melalui program peremajaan lingkungan dengan konsep ?membangun tanpa menggusur?, dibangunlah Rumah Susun Bandarharjo. Dengan adanya rumah susun, mereka mempunyai rumah yang layak, sehat, dan memenuhi syarat-syarat perumahan, guna menunjang berbagai aktifitas penghuni dalam melangsungkan kehidupan. Grand Theory Bergel (1955) menunjukkan bahwa, karena variabel aksesibilitas NVRP berkebalikan dengan letak ketinggiannya dan berdasarkan penelitihan-penelitihan sebelumnya, yaitu Lin (1998), Brotosunaryo (2009), dan Tegrasia (2011), menghasilkan NVRP yang berbeda dan tergantung pada pemanfaatan ruang vertikalnya. Dengan hasil yang berbeda atas NVRP tersebut, peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian lanjutan dengan lokasi yang berbeda, yakni dengan memilih lokasi Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) Bandarharjo-Semarang. Fenomena empiris di Rumah Susun Bandarharjo, ditemukan bahwa semakin keatas letak lantai bangunan maka semakin murah harga sewanya dan sebaliknya semakin mendekati lantai dasar maka harga sewa semakin mahal. Pertanyaan penelitian yang diangkat dalam kajian ini adalah faktor-faktor penentu apakah yang mempengaruhi NVRP di Rumah Susun Bandarharjo-Semarang. Untuk menemukan faktor penentu NVRP di Rumah Susun Bandarharjo, pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan positivistic-rasionalistik, yang dianalisis melalui metode kuantitatif dengan teknik analisis R Factor Analysis. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, dengan pengumpulan melalui pengamatan, kuesioner, wawancara terstruktur, dan mencari dokumen yang ada pada instansi terkait. Teknik sampling yang digunakan adalah Stratified Purposive Sampling dan dengan ini berhasil diwawancarai 68 responden dari semua lantai unit satuan Rumah Susun Bandarharjo Blok Lama, Blok A, dan Blok B sebanyak 210 unit. Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan bahwa NVRP untuk pemanfaatan Rumah Susun Bandarharjo-Semarang dipengaruhi oleh 2 (dua) variabel penentu berdasarkan konsepsi Lin I, yakni variabel ekonomi dengan parameter aksesibilitas, bahaya kebakaran, dan bahaya gempa bumi; variabel psikologi dengan parameter lingkungan dengan komponen harga sewa, pemandangan, kondisi cahaya sinar matahari, dan sosialisasi dengan tetangga; serta parameter kenyamanan dengan komponen kenyamanan dan kebisingan. Kontribusi variabel ekonomi dalam menjelaskan NVRP untuk pemanfaatan Rumah Susun Bandarharjo sebesar 60,25% dan variabel psikologi sebesar 39,74%. Apabila diverifikasikan dengan Grand Theory Bergel menunjukkan bahwa penelitian ini selaras, demikian juga dengan penelitian yang dilakukan Tegrasia di lokasi yang berbeda, yakni di Rumah Susun Kaligawe-Semarang. Sedangkan, terhadap NVRP untuk pemanfaatan Kondominium/Apartemen di Jakarta Pusat oleh Brotosunaryo terdapat kontradiksi yang cukup nyata.
PENGARUH HARGA LAHAN TERHADAP INTENSITAS PEMANFAATAN LAHAN DI KORIDOR JALAN MGR. SUGIOPRANOTO-SILIWANGI SEMARANG Purbalangi, Guntur Aditya; Brotosunaryo, Brotosunaryo
Teknik PWK (Perencanaan Wilayah Kota) Vol 3, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring perkembangan zaman, semakin sulit untuk menemukan lahan kosong di daerah perkotaan  Indonesia. Kalaupun ada, harganya pasti sangatlah tinggi karena semakin strategis letak lahan tersebut maka akan semakin mahal pula harganya. Harga lahan yang tinggi mengakibatkan pemilik lahan mengintensifkan pemanfaatan lahannya agar dapat menutupi biaya sewa lahan yang mahal. Pengintensifan pemanfaatan lahan tersebut yaitu dengan memaksimalkan intensitas pemanfaatan lahan. Akan tetapi, pembangunan tersebut juga diatur oleh pemerintah melalui intensitas pemanfaatan lahan yaitu KDB,KLB, dan GSB agar tidak terjadi penyimpangan pembangunan. Koridor Jalan Mgr. Sugiopranoto-Siliwangi merupakan koridor yang berada di dekat pusat kota Semarang. Harga lahan pada koridor tersebut cukup mahal dibanding dengan daerah pinggiran karena lokasinya cukup strategis. Didukung dengan teori lokasi Von Thunen yang mengatakan bahwa semakin dekat dengan pusat kota, maka harga lahannya akan semakin tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh harga lahan terhadap intensitas pemanfaatan lahan di koridor Jalan Mgr. Sugiopranoto-Siliwangi Semarang. Dalam penelitian ini analisis yang digunakan adalah analisis kuantitatif yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara harga lahan dengan intensitas pemanfaatan ruang di sepanjang koridor jalan Mgr. Sugiopranoto-Siliwangi yang kemudian didukung dengan pembuktian teori lokasi B.J. Berry(1963) mengenai lonjakan harga pada persimpangan jalan apakah masih berlaku pada wilayah studi atau tidak. Selain itu juga dianalisis mengenai keanekaragaman fungsi ruang yang ada pada wilayah studi seperti persimpangan jalan, jalur pesawat terbang dan sungai banjir kanal barat mengenai bagaimana pengaruhnya terhadap harga lahan dan intensitas pemanfaatan lahannya. Hasil yang didapatkan menunjukkan adanya pengaruh antara harga lahan dengan intensitas pemanfaatan. Berdasarkan analisis regresi sederhana yang dilakukan antara harga lahan terhadap KDB, KLB dan GSB didapatkan angka probabilitias (sig) sebesar kurang dari 0,5 dilihat dari tabel correlation (tabel terlampir pada lampiran 1). Ketentuan mengatakan jika angka probabilitas < 0.05 maka ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel. Berdasar data yang diperoleh dan dianalisis, antara KDB, KLB dan GSB terhadap harga lahan akhirnya menunjukkan adanya hubungan yang cukup signifikan. Namun, teori Berry (1963) pada penelitian ini tidaklah berlaku karena persimpangan jalan yang memotong memiliki kelas jalan yang lebih kecil sehingga tidak terjadi lonjakan harga.