Asep Tata Gunawan, Asep Tata
Environmental Health Department, Polytechnic Health Ministry of Semarang

Published : 18 Documents
Articles

Found 18 Documents
Search

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DAN PHBS DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA KEBUMEN WILAYAH KERJA PUSKESMAS I BATURRADEN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015 Saefurahman, Faisal Ayun; Gunawan, Asep Tata
Buletin Keslingmas Vol 34, No 3 (2015): Bulletin Keslingmas Vol 34 No 3 Tahun 2015
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.423 KB)

Abstract

Diare merupakan buang air encer lebih dari empat kali sehari baik disertai lendir dan darah maupuntidak. Beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya penyakit diare disebabkan oleh kuman melaluikontaminasi makanan/minuman yang tercemar tinja dari faktor resiko lainya yaitu faktor penjamin dan faktorlingkungan (sumber air minum, kualitis fisik sumber air minum,dan kepemilikan jamban). Penelitian ini bertujuanmengetahui hubungan sanitasi lingkungan dan PHBS dengan kejadian diare pada balita di Desa Kebumenwilayah kerja Puskesmas I Baturraden Kabupaten Banyumas Tahun 2015. Metode yang digunakan analitikdengan pendekatan case control. Jumlah responden sebanyak 60 responden, 30 responden sebagai kasus dan 30responden sebagai kontrol. Variabel yang diteliti yaitu sumber air minum, kualitas fisik sumber air minum,kepemilikan jamban, penggunaan air bersih, mencuci tangan menggunakan sabun,dan penggunaan jamban sehat.Analisis dengan uji chi square dan OR dengan CI 95 % dan α 0,05. Hasil penelitian menunjukkan sanitasilingkungan dan PHBS yang memilki hubungan adalah mencuci tangan menggunakan sabun setelah BAB dengannilaip-value=0,024 ; OR=7,000 dan kebiasaan menggunakan jamban pada saat BAB dengan nilaip-value=0,019 ;4,125. Sumber air minum, kualitas fisik sumber air minum, kepemilikan jamban, dan penggunaan air bersih yangtidak memiliki hubungan yang signifikan tetapi beresiko.
HUBUNGAN LINGKUNGAN FISIK RUMAH DENGAN KEJADIAN TB PARU BTA (+) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II KEMBARAN KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2015 Wahyuni, Tri; Gunawan, Asep Tata
Buletin Keslingmas Vol 35, No 1 (2016): Bulletin Keslingmas Volume 35 Nomor 1 Tahun 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.238 KB)

Abstract

Salah satu faktor yang berhubungan dengan kejadian Tb Paru BTA positif adalah lingkungan fisik rumah yang tidak memenuhi syarat kesehatan.Puskesmas II Kembaran merupakan puskesmas yang paling tinggi Tb Paru BTA (+) yaitu sebesar 69 kasus.Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan lingkungan fisik rumah dengan kejadian Tb Paru BTA (+) di wilayah kerja Puskesmas II Kembaran tahun 2015.Penelitian ini bersifat observasional dengan menggunakan metode case control.Variabel yang diteliti meliputi luas jendela ruang keluarga, luas jendela kamar, luas ventilasi ruang keluarga, luas ventilasi kamar, kepadatan penghuni, jenis lantai dan jenis dinding. Analisis data menggunakan analisis univariat dan bivariat.Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: Luas jendela ruang keluarga (p=0,229;OR=1,974), luas jendela kamar (p=0,531;OR=1,818), luas ventilasi ruang keluarga (p=0,026; OR= 0,229), luas ventilasi kamar (p=1,000;OR= 0,643), kepadatan penghuni (p=0,004;OR=7,875), jenis lantai (p=0,026;OR=10,545),dan jenis dinding (p=0,004;OR= 7,875) Kesimpulan dari peneliti ini adalah ada hubungan antara luas ventilasi ruang keluarga, kepadatan penghuni, jenis lantai, jenis dinding dengan kejadian Tb Paru BTA Positif dan tidak ada hubungan antara luas jendela ruang keluarga, luas jendela kamar, luas ventilasi kamar dengan kejadian Tb paru BTA positif.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KONDISI SUHU DAN KELEMBABAN RUANG KELUARGA DI DUSUN KOTAYASA DESA KOTAYASA KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2016 Ernawati, Dian; Gunawan, Asep Tata
Buletin Keslingmas Vol 36, No 4 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 4 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.007 KB)

Abstract

Ruang keluarga harus sehat dan nyaman agar penghuninya dapat berkarya untukmeningkatkan produktifitas. Kondisi fisik lingkungan ruang keluarga yang tidak memenuhi syaratdapat menyebabkan gangguan penyakit. Data jenis penyakit tahun 2015 di wilayah Puskesmas IISumbang menunjukkan jumlah penderita yang tertinggi adalah penyakit ISPA (4.183 orang),terbanyak berada di Desa Kotayasa (1.151 orang).Penelitian bertujuan untuk mengetahui adanya faktor-faktor yang berhubungan dengankondisi suhu dan kelembaban ruang keluarga di Dusun Kotayasa, Desa Kotayasa, kecamatanSumbang, Kabupaten Banyumas.Jenis penelitian adalah observasional dengan pendekatan cross sectional. Metodepengumpulan data menggunakan wawancara, observasi langsung, pengukuran dan perhitungan.Kondisi suhu ruang keluarga yang memenuhi syarat 68,9%,yang tidak memenuhi 31,1%.Kondisi kelembaban yang memenuhi syarat 54,4%, yang tidak memenuhi 45,6%. Ada hubungan yangbermakna antara jenis lantai dengan suhu dan kelembaban, luas ventilasi dengan suhu tidak adahubungan sedangkan dengan kelembaban ada hubungan, pencahayaan dengan suhu dan kelembabantidak ada hubungan, ada hubungan jenis dinding dengan suhu dan kelembaban, kepadatan penghunitidak ada hubungan yang bermakna dengan suhu dan kelembaban.
The Use of ion Plasmaclsuter in Decreasing level of Fe in Clean Water Cahyono, Tri; Indro Wardono, Hari Rudijanto; Gunawan, Asep Tata
Jurnal Riset Kesehatan Vol 3, No 3 (2014): September 2014
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1593.773 KB)

Abstract

The purpose of this research describe the difference of decreasing level of Fe between the well water before and after ionized. This type of research is pre-experimental, with design and pre-test post-test group design. The well water is collected in drum of 200 liter and given a cover. With the pump, water sprayed through a nozzle in a basin of aeration (control). The treatment group, using plasmacluster ion generator. Each replication three times. Data Analysis with One Sample Test and ANOVA. The measurement result  for the Fe content of the one nozzle control the average 0.617 mg / l, two nozzle 0.640 mg / l, three nozzle 0.639 mg / l and four nozzle 0.635 mg / l. Treatment group (ionization plasmacluster), the one nozzle average 0.571 mg / l, two nozzle 0.581 mg / l, three nozzle 0.573 mg / l and four nozzle 0.587 mg / l. Analized test with One Sample Test showed the significant difference (0.000 and 0.001 <0.05) with plasmacluster use of ionization in decreased levels of iron (Fe) and just well water with  using aeration. That were significant difference before (0.000) and after (0.001) uses plasmacluster ion in decreasing level of Fe well water (<0.05). The recomendation researcher  measured levels of early oxygen, the color before and after the ionization process.
Effectiveness Of Light Trap In Reducing Populatio House Fly (Musca Domestica) Hilal, Nur; Gunawan, Asep Tata; Firdaust, Mela
Jurnal LINK Vol 9, No 1 (2013): Januari 2013
Publisher : UPPM Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5858.482 KB)

Abstract

Flies are insects meperupakan fototropik is like light. At night off, but can be activated by the presence of artificial light. Fototropik properties form the basis for controlling flies fly population by using a Light Trap. Therefore, research on the effectiveness of Trap Light Lowering Population In house flies (Musca domestica) are particularly relevant to be implemented.This study aimed to calculate the population of house flies (Musca domestica) before using Light Trap, counting house fly populations (Musca domestica) after using Light Trap, counting the number of flies caught on Light Trap, counting insects can be caught light trap, calculating the effectiveness decline in house fly populations (Musca domestica) using Light Trap and calculate the effectiveness of light traps in catching flies.This type of research is experimental, by applying the tool Light Trap at the diner kitchen study sampled. Measurements of temperature, humidity, density of flies before and after the application of tools and light intensity performed at the study site. While the identification of the type and number of insects trapped done in the laboratory.The results showed that populations of the house fly (Musca domestica) on average before using Light Trap 3 tails / grill block, while the population of flies after use Light Trap is 2.67 head / block grill. Average flies caught 31 fish / trap. Insects that can trap the light caught; fly home 651 tail; 628 tail flying insects as mosquitoes 91 tail; ant 79 tail; butterfly 60 head; wasp 2 heads, spiders and beetles 1 tail. Effectiveness of light traps in catching flies 97% compared to controls.
STUDI HYGIENE SANITASI PENGOLAHAN MAKANAN DAN KANDUNGAN Salmonella sp PADA BAKSO YANG DIJUAL DI JALAN JENDERAL SUDIRMAN SOKARAJA TAHUN 2016 Wiji, Bening Ratri; Gunawan, Asep Tata
Buletin Keslingmas Vol 36, No 1 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 1 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.214 KB)

Abstract

Kasus keracunan makanan menduduki urutan penyebab kejadian luar biasa (KLB) kedua di Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini adalah Mendeskripsikan hygiene sanitasi pengolahan makanan dan kandungan bakteri Salmonella sp pada bakso yang dijual di Jl. Jenderal Sudirman  Sokaraja Tahun 2016. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hygiene sanitasi pengolahan makanan dan kandungan bakteri Salmonella sp pada bakso yang dijual di Jl. Jenderal Sudirman  Sokaraja Tahun 2016. Jenis penelitian ini termasuk penelitian deskriptif yang menggambarkan hygiene sanitasi pengolahan makanan dan kandungan Salmonella sp pada bakso. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi menggunakan checklist dan pemeriksaan bakso di laboratorium. Hasil hygiene sanitasi pengolahan bakso di 5 pedagang mulai dari penjamah, sanitasi alat, sanitasi tempat pengolahan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan bakso, pengangkutan bakso, dan penyajian bakso dikategorikan tidak memenuhi syarat. Sedangkan bahan makanan, pemilihan bahan makanan, dan penyimpanan bakso dikategorikan memenuhi syarat. Berdasarkan pemeriksaan 5 sampel bakso di laboratorium kelima sampel bakso negatif Salmonella sp. Untuk pemeriksaan Angka Lempeng Total (ALT) pada alat makan kelima warung bakso semuanya tidak memenuhi syarat. Kesimpulan hygiene sanitasi pengolahan bakso di 5 pedagang masih ada yang tidak memenuhi syarat, serta dalam 5 sampel bakso negatif Salmonella sp dan Angka Lempeng Total dari 5 warung tidak memenuhi syarat. Saran yang dapat diberikan yaitu sebaiknya pemilik warung memperbaiki hygiene sanitasi pengolahan makanan dan menggunakan 3 bak cuci untuk mencuci alat-alat dapur agar mengurangi angka kuman di alat pengolahan.
EFEKTIVITAS VARIASI KONSENTRASI LARUTAN AIR GARAM DAN VARIASI WAKTU PERENDAMAN DALAM MENURUNKAN KADAR FORMALIN PADA TAHU PUTIH Suprapti, Suprapti; Utomo, Budi; Gunawan, Asep Tata
Buletin Keslingmas Vol 36, No 2 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 2 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan protein dan kadar air tahu yang cukup tinggi menyebabkan tahu tidak dapat bertahan lama,sehingga ada pedagang yang menggunakan formalin sebagai pengawet. Formalin merupakan bahan beracun danberbahaya bagi kesehatan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi kadar garam dan variasiwaktu yang efektif untuk menurunkan kadar formalin pada tahu. Desain penelitian ini adalah True Experimentaldengan dengan bentuk posttest only control group design. Sampel diambil dengan metode Simple RandomSampling. Uji hipotesis secara statistik dengan menggunakan uji Anova Factorial dengan α=0,005. Konsentrasilarutan air garam 5%, dapat menurunkan kadar formalin rata-rata 2.702 ppm (16%); konsentrasi 10% menurunkan5.741 ppm (34%); dan konsentrasi 15%, dapat menurunkan 8.655 ppm (51%). Perendaman selama 15 menit dapatmenurunkan formalin rata-rata 5.714 ppm (33%); perendaman 30 menit menurunkan 5.261 ppm (31%); danperendaman 60 menit menurunkan 6.122 ppm 36). Interaksi konsentrasi 15% selama 60 menit menurunkan kadarformalin tahu optimal rata-rata sebesar 9.575 ppm (62%). Semua variasi konsentrasi larutan air garam dan variasiwaktu perendaman dapat menurunkan kadar formalin pada tahu putih.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS MIKROBIOLOGI PADA DEPOT AIR MINUM DI PUSKESMAS PURWOKERTO SELATAN TAHUN 2016 Rahayu, Widyastuti; Suparmin, Suparmin; Gunawan, Asep Tata
Buletin Keslingmas Vol 35, No 4 (2016): Bulletin Keslingmas Volume 35 Nomor 4 Tahun 2016
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.046 KB)

Abstract

Pemenuhan kebutuhan air minum masyarakat saat ini sangat bervariasi.Di kota-kota besar untuk memenuhi kebutuhan air minum, sebagian besar masyarakat mengkonsumsi air minum isi ulang yang diproduksi dari Depot Air Minum (DAM). Air minum isi Ulang dari DAM harus memiliki persyaratan yang tercantum dalam Permenkes 492 Tahun 2010 Tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Wilayah Puskesmas Purwokerto Selatan memiliki DAMsebanyak 45. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas mikrobiologi pada depot air minum di Wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Selatan Tahun 2016. Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Purwokerto Selatan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua Depot Air Minum di Wilayah Puskesmas Purwokerto Selatan tahun 2016 sebanyak 45 Depot. Penelitian ini menggunakan penelitian total populasi atau Sampling Jenuh. Analisis Data yang digunakan adalah analisis deksriptif statistikdilanjutkan dengan uji Chi Square. Analisa statistik yang digunakan adalah SPSS 17. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas mikrobiologi air minum pada DAM di wilayah Puskesmas Purwokerto Selatan pada penelitian ini adalah faktor: tempat (p-value = 0,176), peralatan (p-value = 0,312), perilaku penjamah (p-value = 0,108), kualitas filter (p-value = 0,108), dan jenis alat desinfeksi (p-value = 0,103)
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI DESA SUMBANG KECAMATAN SUMBANG KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2016 Widiastuti, Tri Asih; Gunawan, Asep Tata
Buletin Keslingmas Vol 36, No 4 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 4 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.367 KB)

Abstract

Diare merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, hal ini dikarenakan masihtingginya angka kesakitan diare yang menimbulkan kematian terutama pada balita. Faktor lingkungan yangburuk dapat menyebabkan seorang balita terkena diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubunganfaktor lingkungan dengan kejadian diare pada balita di desa Sumbang, Kecamatan Sumbang, KabupatenBanyumas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analitik inferensial denganpendekatan cese control. Semua populasi menjadi obyek dalam penelitian ini. Populasi dalam penelitian inidibagi menjadi 2 yaitu populasi kasus dan populasi control. Populasi kasus adalah balita diare yang berobatke Puskesmas 1 Sumbang pada bulan Maret-Mei 2016 sejumlah 21 penderita, sedangkan populasi kontroladalah balita bukan penderita diare yang berobat pada bulan Maret-Mei 2016 sejumlah 21 penderita.Analisis dilakukan dengan uji Chi Square Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan antara faktorlingkungan yang meliputi sarana air bersih (p=0,001, OR=13,6), jamban (p=0,013, OR=6,4), penyimpananmakanan (p=0,01, OR=8), penyediaan air minum(p=0,000, OR=23,75), cucitangan (p=0,029=, OR=5,2) danpembuangan tinja (p=0,012, OR=6,906) dengan kejadian diare pada balita di desa Sumbang. Ada pengaruhsecara bersama-sama antara sarana air bersih (p=0,006) dan penyediaan air minum (p=0,002) terhadapkejadian diare pada balita di desa Sumbang. Sebagai upaya pencegahan terjadinya diare pada balitadisarankan kepada masyarakat untuk memperbaiki kondisi fisik sumur gali, menggunakan jamban sanitersebagai sarana buang air besar, memperhatikan penyimpanan makanan dan penyediaan air minum yang baikserta membiasakan cuci tangan pakai sabun.
EFEKTIVITAS VARIASI KONSENTRASI LARUTAN AIR GARAM DAN VARIASI WAKTU PERENDAMAN DALAM MENURUNKAN KADAR FORMALIN PADA TAHU PUTIH Suprapti, Suprapti; Utomo, Budi; Gunawan, Asep Tata
Buletin Keslingmas Vol 36, No 2 (2017): Bulletin Keslingmas Vol 36 No 2 Tahun 2017
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kandungan protein dan kadar air tahu yang cukup tinggi menyebabkan tahu tidak dapat bertahan lama,sehingga ada pedagang yang menggunakan formalin sebagai pengawet. Formalin merupakan bahan beracun danberbahaya bagi kesehatan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi kadar garam dan variasiwaktu yang efektif untuk menurunkan kadar formalin pada tahu. Desain penelitian ini adalah True Experimentaldengan dengan bentuk posttest only control group design. Sampel diambil dengan metode Simple RandomSampling. Uji hipotesis secara statistik dengan menggunakan uji Anova Factorial dengan α=0,005. Konsentrasilarutan air garam 5%, dapat menurunkan kadar formalin rata-rata 2.702 ppm (16%); konsentrasi 10% menurunkan5.741 ppm (34%); dan konsentrasi 15%, dapat menurunkan 8.655 ppm (51%). Perendaman selama 15 menit dapatmenurunkan formalin rata-rata 5.714 ppm (33%); perendaman 30 menit menurunkan 5.261 ppm (31%); danperendaman 60 menit menurunkan 6.122 ppm 36). Interaksi konsentrasi 15% selama 60 menit menurunkan kadarformalin tahu optimal rata-rata sebesar 9.575 ppm (62%). Semua varias