Articles
5
Documents
Age at Menarche and Eating Pattern among High School Students in Jatinangor in 2013

Althea Medical Journal Vol 3, No 1 (2016)
Publisher : Althea Medical Journal

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Age at menarche has notably declined over the past several decades; the fact is in line with the improvement of nutritional intake. Age at menarche can affect health outcomes in adulthood. This study aimed to describe the age at menarche and eating pattern among students in Jatinangor.Methods: Data were obtained from Survey of Adolescent Reproductive Health in Jatinangor in 2013 with total sampling technique. The sample criteria were data from students who had started their periodwhen the study was conducted. Dietary information was collected by eating pattern recall questionnaire and was taken by trained enumerators. Nutrient intakes and proportion of energy intake were divided into groups according to Recommended Dietary Allowance 2012.Results: In total, 59 data were analyzed. The age at menarche were ranged from 9 (n=1) to 15 (n=1). Most of students had their menarche at 12 (37.3%). Intake of energy (49.2%), protein (64.4%), fat (61%), and carbohydrate (54.2%) were mostly deficient, but the proportion of energy intake from fat (49.2%) and carbohydrate (66.1%) were mostly adequate. The student with youngest age at menarche had adequate energy intake, excess protein intake and excess proportion of energy intake from fat. Student with the oldest age had deficient energy, fat, and protein intake and excess proportion of energy intake from carbohydrate. Conclusions: This study shows that student with youngest age at menarche has different eating pattern compared to the oldest, while the others seem similar. [AMJ.2016;3(1):156–63] DOI: 10.15850/amj.v3n1.714

GAMBARAN MOTIVASI MENJADI DOKTER PADA MAHASISWA TAHUN PERTAMA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 1, No 1 (2015): Volume 1 Nomor 1 September 2015
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dokter adalah profesi yang luhur dan dibutuhkan untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Pendidikan kedokteran merupakan pendidikan yang tidak mudah dan membutuhkan motivasi yang kuat untuk menyelesaikannya. Motivasi internal maupun eksternal telah diketahui dapat memengaruhi proses belajar maupun hasil belajar mahasiswa. Dengan mengetahui motivasi mahasiswa maka program studi dapat merancang kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan motivasi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui motivasi mahasiswa kedokteran memilih pendidikan dokter dan persepsinya terhadap profesi dokter. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode fenomenologi. Seluruh mahasiswa yang masuk tahun 2014, pada bulan pertamanya ditugaskan menuliskan motivasi memilih program pendidikan dokter. Esai tersebut lalu dianalisis untuk mendapatkan kesamaan tema. Seluruh mahasiswa sebanyak 281 orang (209 perempuan, 72 laki-laki) menyatakan bahwa motivasi menjadi dokter terutama adalah untuk menolong dan menjaga kesehatan masyarakat. Motivasi lain adalah ingin mempelajari tubuh manusia lebih mendalam. Yang lain menyatakan faktor agama dan dorongan keluarga. Hampir semua mahasiswa memandang profesi kedokteran adalah profesi yang selalu dibutuhkan. Beberapa mahasiswa memandang profesi dokter masih menjanjikan kesejahteraan secara finansial. Data ini menunjukkan bahwa mahasiswa tahun pertama masih memiliki motivasi yang luhur untuk menjadi dokter. Hal ini akan dapat membantu mereka dalam menempuh pendidikan. Penelitian lanjut perlu dilakukan untuk mengetahui perubahan motivasi mereka setelah lulus dokter.Kata kunci: motivasi, mahasiswa, profesi dokter

Film yang Efektif Sebagai Media Promosi Kesehatan bagi Masyarakat

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 2 (2016): Volume 2 Nomor 2 Desember 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masalah kesehatan yang paling sering terjadi pada remaja adalah merokok. Penyebab yang paling berperan adalah pengaruh media audio visual, salah satu diantaranya yaitu iklan rokok. Salah satu upaya pencegahan dan penanggulangannya adalah kegiatan promosi kesehatan dengan media yang mudah diakses, menarik dan sesuai dengan karakteristik remaja yaitu film. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perancangan dan pembuatan media promosi kesehatan film pendek yang efektif tentang rokok dan bahayanya. Penelitian dilaksanakan pada Desember 2015 sampai dengan Januari 2016 yang disusun menggunakan desain kualitatif dengan paradigma kontruktivisme melalui metode kajian literatur dari 35 jurnal dan 16 buku teks dari internet dan perguruan tinggi. Hasil penelitian menyatakan jenis film yang efektif untuk menyampaikan pesan kesehatan khususnya tentang bahaya rokok harus memiliki 9 (sembilan) komponen pendukung yaitu tujuan pembuatan film, tema film, konten atau isi pesan, alur cerita yang jelas, konflik yang terjadi dalam cerita film, bahasa film, durasi penayangan film, tata artistik yang dikemas nyata untuk menarik dan menguatkan cerita serta penokohan yang ditampilkan dalam cerita film. Pada akhirnya remaja sebagai target penonton dapat tertarik dan antusias untuk melihat film tersebut dan dapat memperoleh pengetahuan yang lengkap, jelas dan benar, yang berujung pada peningkatan sikap serta menumbuhkan motivasi.Kata kunci : film, merokok, promosi kesehatan, remaja

Keinginan untuk Membayar Pembiayaan Kesehatan Pemerintah Kota pada Masyarakat Mampu di Kota Bandung

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 4 (2017): Volume 2 Nomor 4 Juni 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembiayaan kesehatan diselenggarakan dengan prinsip ekuitas, artinya penduduk yang mampu akan membayar iuran/ premi secara penuh, dan masyarakat miskin dibayarkan oleh pemerintah. Banyak faktor yang memengaruhi keinginan untuk membayar (WTP). Penelitian ini bertujuan mendapatkan gambaran keinginan masyarakat mampu membayar pembiayaan kesehatan dan faktor-faktor yang memengaruhinya. Penelitian kuantitatif dilakukan pada Agustus – September 2011 terhadap 303 kepala keluarga yang tergolong  masyarakat mampu di Kota Bandung. Mampu dalam penelitian ini adalah penduduk tinggal di perumahan elite. Kriteria inklusi yaitu kepala keluarga, memiliti KTP Kota Bandung, bersedia diwawancara. Teknik pemilihan sampel menggunakan cluster sampling, dengan klaster adalah perumahan elit di Kota Bandung. Subjek di tiap klaster ditentukan secara proporsional systematic sampling. Analisis data menggunakan distribusi frekuensi dan regresi logistik. Dari 303 responden, 54,9% yang memiliki asuransi, tidak ingin membayar dan 60% yang belum memiliki, ingin membayar pembiayaan kesehatan Pemkot Bandung. Sebagian besar masyarakat mampu hanya ingin membayar premi kurang dari Rp. 25.000 dengan berharap mendapatkan semua jenis pelayanan kesehatan. Agama dan pendidikan terakhir merupakan faktor yang menentukan secara bermakna keinginan membayar pembiayaan kesehatan. Rendahnya kesadaran responden untuk ikut serta program pembiayaan kesehatan Pemkot Bandung harus dapat diantisipasi pemerintah dengan lebih mendorong masyarakat dari semua golongan status sosial – ekonomi untuk mengikuti program pembiayaan kesehatan.Kata kunci: Keinginan, Kesehatan, Pembiayaan, Masyarakat mampu

Asas Perlindungan Hukum Dan Entrustable Professional Activities (Epas) Dalam Proses Kredensial Mahasiswa Dokter Layanan Primer Masa Transisi Di Wahana Pendidikan

Jurnal Sistem Kesehatan Vol 4, No 1 (2018): Volume 4 Nomor 1 September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

   Dalam Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) terkait pendidikan Dokter Layanan Primer (DLP), terdapat konsep program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi dokter yang telah berpraktik lebih dari lima tahun untuk melalui Pendidikan Masa Transisi selama enam bulan. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai proses supervisi terhadap peserta didik dalam program singkat ini. Di luar negeri, proses supervisi untuk peserta program spesialis kedokteran mulai dikembangkan dengan program bernama Entrustable Professional Activities (EPAs). Penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif yang bersifat deskriptif berdasarkan analisis data secara kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah deskripsi tentang proses kredensial Mahasiswa Program DLP Masa Transisi di wahana pendidikan, deskripsi asas-asas perlindungan hukum terkait Mahasiswa Program DLP Masa Transisi, dan jawaban bahwa asas perlindungan hukum akan terpenuhi dengan integrasi EPAs ke dalam proses kredensial antara Mahasiswa Program DLP dengan wahana pendidikan. Diskusi penelitian ini adalah tentang gambaran proses kredensial Peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis berdasarkan aturan yang telah ada, jika diterapkan bagi Mahasiswa Program DLP Masa Transisi di wahana pendidikan yang memakai EPAs dalam sistem supervisinya, gambaran asas perlindungan hukum yang terkait dengan Mahasiswa Program DLP Masa Transisi, serta menjawab apakah integrasi EPAs dalam proses kredensial Mahasiswa Program DLP Masa Transisi akan memenuhi asas perlindungan hukum bagi mereka.Kata kunci: perlindungan hukum, Entrusted Professional Activities, Program Dokter Layanan Primer Masa Transisi