Aceng Kosasih, Aceng
Unknown Affiliation

Published : 13 Documents
Articles

Found 13 Documents
Search

IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER KEPATUHAN DI PESANTREN BUNTET CIREBON Yulyana, Intan Luwih; Abdussalam, Aam; Kosasih, Aceng
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 5, No 1 (2018): Vol 5, No 1 (2018): May 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

    ABSTRAK   Penelitian ini dilatarbelakangi maraknya berbagai kasus yang menunjukkan semakin rendahnya moral masyarakat utamanya para remaja. Selama ini, pesantren diakui sebagai lembaga yang tepat untuk membentuk karakter seseorang. Pesantren Buntet Cirebon terkenal akan kepatuhan santri terhadap kyainya yang begitu melekat hingga mereka menyebutnya dengan “patuh sampai mati”. Selain itu, pesantren Buntet Cirebon juga memiliki banyak keunikan seperti adanya soan, ḥaul, ngaji pasaran, komunitasnya yang homogen, dan lain sebagainya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perencanaan, pelaksanaan serta hasil pendidikan karakter kepatuhan di Pesantren Buntet Cirebon. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan karakter kepatuhan dilakukan dengan metode uswatun ḥasanah, targīb wa tarhib, dan kisah. Berdasarkan data-data penelitian, penulis menemukan bahwa kepatuhan merupakan aspek yang penting dan bersifat alami. Kepatuhan ini terjadi secara tulus yang terjadi dalam proses yang panjang. Terjadi secara tulus dan alami karena kyai memiliki sifat ikhlas, akhlak yang mulia, kasih sayang yang tulus, dan sifat tidak memaksa tehadap santri. Hal tersebut juga berpengaruh terhadap aktivitas religius dan kepribadian santri yang lebih baik, serta kepatuhan terhadap hal yang lainnya seperti terhadap guru, orangtua, masyarakat, sesama santri dan terhadap peraturan pesantren.  Kata kunci: pendidikan karakter, kepatuhan, pembiasaan di pesantren.  ABSTRACTThis present study is conducted based on the various cases indicating the decadence of community morality, especially among teenagers. During this time, Pesantren or Islamic boarding school has been recognized as the right institution to establish someone's character. In particular, Pesantren Buntet Cirebon is well-known for the obedience of the students (santri) to their beloved teachers (kyai). Moreover, they call it as "obedient to death". In addition, Pesantren Buntet Cirebon also has a number of uniqueness, such as the existence of soan, ḥaul, ngaji pasaran, homogenous community, and so forth. This study aims at finding out the planning, implementation, and education results of the obedience character at Pesantren Buntet Cirebon. This study employed a qualitative-descriptive approach. In addition, the data collection is carried out through observation, interviews, and documentation studies. The result of this study showed that the character education of obedience was implemented through uswatun ḥasanah (good examples), targib wa tarhib, and story methods. Based on the data found and analyzed in this present study, the researcher found that the obedience was considered as an important and natural aspect. This obedience was established sincerely in the long processes. In fact, this sincere and natural obedience were influenced by the characters possessed by the kyai, such as sincerity, noble character, sincere affection, and humbleness towards the santri / students. As a consequence, it resulted in the better religious activity and personality of santri, and this obedience also had an effect on respecting others, such as on the teachers, parents, community, fellow students, and even on the rules of pesantren. Keywords: character education, obedience, habituation in pesantren.
Pengelolaan pendidikan agama Islam di Islamic full day school Salman al-Farisi Bandung Sumarna, Andri Ramdani; Asyafah, Abas; Kosasih, Aceng
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 4, No 2 (2017): November 2017
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.416 KB)

Abstract

The purpose of this study is to know the management of Islamic religious education in full day school Islamic Junior High School Salman Al-Farisi Bandung starting from planning, implementation, and results and advantages and weaknesses of PAI in full-day school program. The research conducted using qualitative approach descriptive method. To obtain research data, researchers used the method of observation, interview, and documentation. The results showed that: (1) Planning of Islamic education expanded into subjects tilāwati, taḥfiż, matrikulasi, and hours wali kelas for the seven sunnah habituation. Basic competencies are mapped into aspects of leadership and green education. (2) The implementation of Islamic education is carried out by teachers of PAI, other teacher and special teachers integrated in leadership, green education and IMTAQ (3) The result of Islamic education is evidenced by the special report of the application of Islamic education (4) with educational background become weakness of SAF Islamic Junior High School full day. The integration of the concept of leadership, green education in PAI as well as the habituation of seven sunnah became the excellence of SMP SAF Islamic full day school to achieve khalīfatullāh fī al-Arḍi the rahmatan lilālamīn ".Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengelolaan pendidikan agama Islam di Islamic full day school SMP Salman Al-Farisi Bandung. Penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode deskriptif. Untuk memperoleh data penelitian, peneliti menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Perencanaan pendidikan agama Islam diperluas ke dalam mata pelajaran tilawati, taḥfiż, matrikulasi, serta jam walikelas untuk pembiasaan seven sunnah. Kompetensi dasar dipetakan ke dalam aspek leadership dan green education. (2) Pelaksanaan pendidikan agama Islam dilaksanakan oleh guru PAI, guru mapel lain dan guru khusus yang terintegrasi dalam leadership, green education dan IMTAQ (3) Hasil pendidikan agama Islam dibuktikan dengan laporan khusus aplikasi pendidikan agama Islam (4) Guru PAI yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan menjadi kelemahan SMP SAF Islamic full day school. Pengintegrasian konsep leadership, green education dalam PAI serta pembiasaan seven sunnah menjadi keunggulan SMP SAF Islamic full day school untuk mencapai khalīfatullāh fīl Arḍi yang rahmatan lilālamīn". Kata Kunci: Islamic Full Day School, Pendidikan Agama Islam, Pengelolaan.
PENANGGULANGAN KENAKALAN REMAJA DI SMP DAARUT TAUHID BOARDING SCHOOL Herlina, Hani; Kosasih, Aceng
SOSIETAS Vol 6, No 2 (2016): JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.983 KB)

Abstract

This study investigates the prevention of juvenile delinquency at a boarding school, i.e. Daarut Tauhid Secondary Boarding School. The aim of this study is to explore the preventive and repressive attempts made by the boarding school to overcome juvenile delinquency. This study employed a qualitative approach in the framework of a study case method. Observation, interview, and documentation were used as the data collection. The informants of this study consisted of Darut Tauhid Boarding School staffs, the students, and the people who lived around the school area. The results of this study show that the preventive and repressive attempt to prevent juvenile delinquency is made by maximizing the role of Islamic education.
MODEL PENDIDIKAN ANTI TERORIS MELALUI INTERNALISASI NILAI DZIKIR DI PESANTREN Kosasih, Aceng; Hermawan, Wawan; Supriyono, Supriyono
JURNAL PENDIDIKAN ILMU SOSIAL Vol 25, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.28 KB)

Abstract

Peneitian ini dilatar belakangi oleh adanya indikasi keterlibatan individu dengan latar belakang pendidikan pesantren dalam kasus terorisme. Dalam kurikulum keagamaan, perbuatan-perbuatan yang bersifat teror tidak dibenarkan. Sehingga perlu ada kajian tentang model pembelajaran di Pesantren yang dikhawatirkan mengembangkan sikap radikal. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan model pendidikan anti teroris yang didalamnya mengembangkan pendidikan melalui pembelajaran implementasi nilai dzikir, toleransi beragama, dan cinta tanah air. Hasil penilitian menggambarkan bahwa proses pembelajaran di Pondok Pesantren Darul Falah dan Pondok Pesantern Darussalam tidak menyebabkan sikap yang radikal. Santri yang masuk ke Pondok Pesantren Pesantren Darul Falah dan pondok pesantern Darussalam memiliki latar belakang yang berbeda dari segi ekonomi dan asal daerah. Sedangkan faktor pendorong mereka masuk ke pondok pesantren karena motif menuntut ilmu agama, dan memperbaiki akhlak. Pengimplementasian nilai dzikir dalam membangun sikap cinta tanah air di pondok pesantren pertama; menanamkan nilai-nilai dan ajaran toleransi terhadap sesama muslim dan non muslim, kedua; menanamkan pandangan positif terhadap negara dan pemberlakuan hukum Islam. Ketiga; nilai-nilai jihad yang komprehensif.Kata kunci : teroris, pembelajaran, pesantren.
KONSEP TASAWUF SYAIKH NAWAWI AL-BANTANI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI PERSEKOLAHAN Hidayatulloh, Muhammad Ridwan; Kosasih, Aceng; Fahrudin, Fahrudin
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 2, No 1 (2015): May 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.609 KB)

Abstract

Di era modern yang hampir runtuh ini, masih banyak manusia yang menegasikan unsur spiritual, sehingga terjadi dekadensi moral. Fenomena tersebut harus diantisipasi oleh umat Islam dengan menggali kembali ajaran spiritual dan mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari. Dalam agama Islam terdapat ajaran yang sangat menanamkan unsur spirtual dan manajemen hati, yaitu tasawuf. Di antara berbagai tokoh yang menyebarkan pemahaman tentang tasawuf, Syaikh Nawawi Al-Bantani menggambarkan tasawuf yang terintegrasi dalam setiap ibadah dan aktivitas muslim. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konsep tasawuf Syaikh Nawawi Al-Bantani dan implikasinya terhadap Pendidikan Agama Islam di persekolahan. Penelitian ini menggunakan pen-dekatan kualitatif  dengan metode deskriptif. Pertimbangan penggunaan metode ini adalah untuk mengung-kap konsep tawasuf Syaikh Nawawi Al-Bantani dari berbagai karyanya, dan bagaimana implikasinya terha-dap Pendidikan Agama Islam di persekolahan. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan teknik studi literatur dan library research. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh gambaran mengenai tasawuf Syaikh Nawawi Al-Bantani yang mengintergrasikan antara syariat, tarekat dan hakikat, serta wasiat-wasiat Syaikh Nawawi kepada setiap muslim yang hendak menempuh jalan menuju Allah. Konsep ini terimplikasi dalam Pendidikan Agama Islam yang harus menyeimbangkan antara ketiga aspek, yaitu Aqidah, Syariah, dan Akhlak, serta mengintegrasikan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotor
PEMBINAAN KEAGAMAAN BAGI SANTRI WARIA DI PESANTREN AL-FATAḤ KOTAGEDE YOGYAKARTA Yulistiani, Yulinda Nurul; Kosasih, Aceng; Hermawan, Wawan
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 1, No 1 (2014): May 2014
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.555 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya sebagian individu yang merasakan ketidaksamaan dalam pemberian sikap masyarakat terhadap dirinya sendiri. Inilah yang terjadi pada waria. Fenomena kaum waria merupakan suatu paparan nyata yang tidak dapat ditolak eksistensinya di masyarakat. Dewasa ini, perilaku waria seringkali menyimpang dari ajaran agama Islam, oleh karena itu waria membutuhkan pembinaan keagamaan agar waria meninggalkan perilaku buruk yang selama ini ditampakkan. Pembinaan keagamaan di pesantren bagi santri waria hanya ada satu di Indonesia yaitu, Pesantren Al-Fataḥ Kotagede Yogyakarta. Pesantren Al-Fataḥ membina banyak waria di dalamnya agar menjadi manusia lebih baik dan terarah. Keberlangsungan pembinaan keagamaan bagi waria ini menarik untuk diteliti. Pada penelitian ini yang diteliti adalah pembinaan keagamaan yang terdapat di pesantren tersebut. Oleh karena itu, pokok permasalahan dari penelitian ini yaitu tentang bagaimana pembinaan keagamaan bagi santri waria di Pesantren Al-Fataḥ Kotagede Yogyakarta. Adapun tujuan pokoknya yakni untuk mengetahui lebih dalam proses pembinaan keagamaan di Pesantren Al-Fataḥ Kotagede Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Kemudian, pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan studi dokumen. Analisis data pada penelitian ini yaitu reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil temuan dari penelitian di pesantren ini yaitu perencanaan yang terdapat di Pesantren Al-Fataḥ dilakukan dengan cara berdiskusi antara pengurus dan para ustāż. Kegiatan yang dilaksanakan di Pesantren Al-Fataḥ terbagi menjadi tiga yaitu kegiatan mingguan, kegiatan bulanan, dan kegiatan tahunan. Pembinaan keagamaan yang telah dilaksanakan secara rutin ini telah berhasil membuat perubahan dalam diri waria dari segi ibadah, tingkah laku dan profesi, adanya pesantren waria tersebut memberikan sumbangsih kepada masyarakat.
POLA ADAPTASI SOSIAL BUDAYA KEHIDUPAN SANTRI PONDOK PESANTREN NURUL BAROKAH Setiawan, Yogi; Kosasih, Aceng; Komariah, Siti
SOSIETAS Vol 5, No 1 (2015): JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.32 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini  adalah menggambarkan pola adaptasi sosial dan budaya santri, hambatan santri, pola pendidikan, kenakalan santri, dan kontrol sosial serta upaya pesantren supaya santri dapat beradaptasi dengan kondisi sosial budaya Pondok Pesantren Nurul Barokah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Terdapat lima kesimpulan dari penelitian ini. Pertama, setiap santri pada awalnya tidak betah tinggal di Pondok Pesantren Nurul Barokah hingga tiga sampai enam bulan dengan menguasai bahasa Sunda melalui proses peniruan dan pembelajaran oleh dewan asatidz. Kedua, hambatan utama dari luar Sunda dalam beradaptasi adalah perbedaaan bahasa, karena dalam kegiatan harian dan pembelajaran, warga pesantren menggunakan bahasa Sunda. Ketiga, pola pendidikan di pesantren adalah dengan penggunaan metode hapalan, sorogan dan bandungan. Keempat, bentuk kenakalan dikategorikan pada pelanggaran ringan dan berat seperti mencuri, gasab, berkelahi, kabur, bolos, merokok dan berambut gondrong. Adapun kontrol sosial dilakukan dengan upaya preventif, yaitu pembuatan tata tertib dan janji santri, dan represif, yaitu hukuman yag disesuaikan dengan kenakalan yang dilakukan oleh santri. Kelima, upaya yang dilakukan pesantren supaya santri dapat beradaptasi seperti dengan mengadakan kegiatan orientasi, hiburan, mengajarkan bahasa Sunda dan menciptakan lingkungan yang nyaman bagi seluruh warga pesantren. Kata Kunci : Pola, Adaptasi Sosial dan Budaya, Santri
STRATEGI PIHAK PESANTREN DALAM MENGATASI SANTRI YANG MELAKUKAN PERILAKU MENYIMPANG Hoerunisa, Elsa; Wilodati, Wilodati; Kosasih, Aceng
SOSIETAS Vol 7, No 1 (2017): JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.352 KB)

Abstract

Penelitian ini membahas upaya pondok pesantren dalam mengatasi perilaku menyimpang pada santri di pondok pesantren Miftahul Huda III Kelurahan Margabakti Kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya permasalahan perilaku menyimpang yang dilakukan oleh santri di pondok pesantren. perilaku menyimpang tersebut berkaitan dengan pelanggaran-pelanggaran peraturan tata tertib yang telah ditetapkan oleh pesantren. Pesantren sebagai bengkel moral tentunya memiliki peranan penting dalam upaya mengatasi segala bentuk perilaku menyimpang yang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pondok pesantren dalam mengatasi perilaku menyimpang pada santri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari pengurus pondok pesantren, santri laki-laki dan santri perempuan, serta masyarakat sekitar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan oleh pondok pesantren dalam mengatasi santri yang berperilaku menyimpang yaitu dengan memberikan teguran, memberikan sanksi dan denda, serta melakukan kerja sama dengan masyarakat. Diharapkan dengan upaya tersebut, santri mampu berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku agar tercipta kembali kondisi sosial yang tertib.
TUNGGU TUBANG DALAM PEMBAGIAN HARTA WARISAN PADA MASYARAKAT SUKU SEMENDE Velinda, Azelia; Wilodati, Wilodati; Kosasih, Aceng
SOSIETAS Vol 7, No 2 (2017): JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (139.621 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh cara pembagian harta warisan pada masyarakat Suku Semende yang cukup unik dan berbeda dengan wilayah lainnya, sistem ini disebut dengan Tunggu Tubang. Penelitian ini dilakukan di Desa Gunung Agung Kecamatan Semende Darat Tengah Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatra Selatan. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode studi deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan studi literatur. Temuan hasil penelitian ini adalah proses pembagian harta warisan di Desa Gunung Agung dilakukan dengan sistem Tunggu Tubang dimana anak perempuan yang terlahir pertama yang mendapatkan harta pusaka, harta pusaka ini berupa sebuah rumah dan sebidang sawah. Harta pusaka tidak dapat dijual dan hanya dapat menikmati hasil. Tugas Tunggu Tubang adalah menghimpun keluarga besar, mewakili keluarga besar, mengurus harta pusaka.
INTERNALISASI NILAI TAWAKAL PADA SANTRI DI PONDOK PESANTREN BADRUL ULUM AL-ISLAMI PACET – KABUPATEN BANDUNG Fakhrurrozi, Pupu; Kosasih, Aceng; Fahrudin, Fahrudin
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 5, No 1 (2018): May 2018
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.29 KB)

Abstract

This research was conducted in Pondok Pesantren Badrul Ulum Al-Islami al-Salaf Islamic boarding school which was founded in 1918 and still exists until now. The method used in this research is descriptive method with qualitative approach and literature study. The result obtained from this research are: The goal of internalization of tawakal value with zikr ya wakil is for clearing the soul (saffat asraruhu). Internalization process of tawakal value, among others, applied in the activity of congregation of zikr, learning activity, and daily activity. The result of the internalization of the value of tawakal is that the person will have a happy feeling. The obstacles of in the process of internalization are no thorough awareness of the internalization of tawakal value, the existence of takhassus student under the age of high scholl, and the lack of cohesiveness amongst students in order to help to maximaze pondok pesantren’s program. Penelitian ini di laksanakan di Pondok Pesantren Badrul Ulum Al-Islami sebagai pesantren salaf yang di dirikan pada tahun 1918 dan masih eksis hingga sekarang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif serta ditunjang oleh studi kepustakaan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu: Tujuan internalisasi nilai tawakal denganzikir yā wakīl adalah agar hati jernih (ṣaffat asrāruhu). Proses internalisasi nilai tawakal diantaranya diterapkan dalam aktivitas zikir berjamaah, kegiatan pengajian, dan aktivitas keseharian. Hasil internalisasi nilai tawakal adalah bahwa orang yang sudah bertawakal akan mempunyai perasaan bahagia. Hambatannya adalah belum begitu menyeluruhnya kesadaran mengenai internalisasi nilai tawakal, adanya santri takhassus di bawah usia SMA, serta kurangnya kekompakan sesama kepengurusan santri dalam rangka membantu memaksimalkan program kepesantrenan.