Aam Abdussalam, Aam
Unknown Affiliation

Published : 17 Documents
Articles

Found 17 Documents
Search

KONSEP BERPIKIR (AL-FIKR) DALAM ALQURAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN PAI DI SEKOLAH (Studi Tematik tentang Ayat-ayat yang Mengandung Term al-Fikr) Hidayat, Taufik; Abdussalam, Aam; Fahrudin, Fahrudin
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 3, No 1 (2016): May 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.329 KB)

Abstract

Pendidikan harus menghasilkan siswa yang cerdas dalam ilmu pengetahuan dan mempunyai karakter yang baik. Berpikir merupakan aktivitas manusia yang sangat mendasar untuk pembinaan dan pengembangan diri. Para ilmuan, ahli pendidikan bahkan Alquran telah mengemukakan pentingnya memberdayakan kemampuan berpikir khususnya dalam pendidikan. Akan tetapi kenyataan tersebut kurang disadari sebagian besar umat muslim sehingga masih tertinggal dibandingkan umat lain. Padahal berpikir adalah sumber kekuatan untuk meraih peradaban. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan konsep berpikir dalam Alquran kemudian dicari implikasinyaterhadap pembelajaran PAI di sekolah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan mengoperasikan metode tafsir mauḍu’ī, dengan menelusuri dan menganalisis seluruh termالفكر(al-fikr) dalam Alquran. Data primer penelitian ini adalah ayat-ayat dengan termالفكر(al-fikr), sedangkan data sekunder adalah tafsir, buku, jurnal dan literatur lain yang menunjang. Penelitian ini menemukan:tujuan berpikir dalam Alquran yaitu, 1) mendapatkan kebenaran, 2) mengamalkan syariat Islām, 3) lebih dekat dengan Allāh Swt, dan terakhir 4) berakhlak baik. Kedudukan berpikir dalam Alquran yaitu sangat dimuliakan, mendapat rahmat, dan tehindar dari azab Allāh. Selain itu adapula cara berpikir menurut Alquran yaitu; 1) berpikir dengan hati yang bersih, 2) berpikir dengan logika atau akal yang benar disertai bimbingan wahyu, 3) berpikir luas dengan cara yang sederhana agar mudah dipahami, 4) terbuka dengan pemikiran orang lain, dan terakhir, 5) berpikir dari proses hingga dampak yang dihasilkan. Adapun manfaat berpikir yang dimaksud dalam Alquran yaitu, 1) mengetahui hikmah dari syariat Islām, 2) mengetahui hikmah dan tujuan ciptaan Allāh Swt, 3) termotivasi melakukan kebaikan, 4) diangkat derajatnya, 5) terhindar dari hawa nafsu, dan 6) mendapat ilmu pengetahuan. Berdasarkan penelitian ini, konsep berpikir dalam Alquran memiliki ilmplikasi terhadap rancangan, perencanaan, proses, dan evaluasi pembelajaran PAI di sekolah.
STUDI DESKRPTIF PROFIL KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SMP SALMAN ALFARISI BANDUNG Abdullah, Husni; Syahidin, Syahidin; Abdussalam, Aam
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 3, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (545.154 KB)

Abstract

Pengembangan kurikulum merupakan kegiatan yang penting yang harus dilakukan dalam rangka mengasilkan kurikulum yang baik, sebab kurikulum merupakan suatu komponen penting yang memiliki peran besar dalam mencapai tujuan pendidikan termasuk pendidikan agama Islam. Belakangan ini muncul permasalahan dekadensi moral di kalangan pelajar yang mengindikasikan kurang optimalnya PAI dilapangan. Minimnya upaya pengembangan kurikulum PAI di sekolah-sekolah disinyalir menjadi penyebab terjadinya permasalahan tersebut. Namun di tengah kondisi ini muncul beberapa lembaga pendidikan baru dengan ciri khas tertentu yang memiliki penekanan yang besar terhadap pengembangan kurikulum khusunya kurikulum pendidikan agama Islam. Salah satunya yaitu SMP Salman Al-Faris Bandung. Dalam kesempatan ini, peneliti berupaya untuk menggali dan memahami profil kurikulum PAI SMP Salman Al-Farisi Bandung. yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen penelitiannya adalah peneliti sendiri. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancawa, dan studi dokumen. Analisis data dengan cara mereduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Adapun hasil dalam penelitian ini diketahui bahwa terdapat pengembangan kurikulum PAI di SMP Salman Al-Farisi. Adapun implikasi dari pengembangan tersebut yaitu; tujuan PAI ditambah dengan dengan visi sekolah yaitu menjadikan khalifatullāh fil Arḍ yang raḥmatan lil’ālamīn, materi PAI diperluas yaitu; diintegrasikan nilai-nilai leadership, dan green education, baca tulis Alquran dengan metode tilawatī, taḥfiḍ juz 30 dan ayat-ayat pilihan, hafalan do’a-do’a,hafalan hadiś ‘Arbaīn, dan pembiasaan ibadah. Kurikulum PAI, diorganisakikan kembali kedalam beberapa bentuk program, diataranya tilawatī, taḥfiḍ, matrikulasi, serta pembiasan ibadah wajib dan sunnah (seven sunnah).
KONSEP KHALIFAH DALAM AL-QURAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM Abdussalam, Aam; Wibisana, Wahyu; Lisnawati, Yesi
123 XXX
Publisher : TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Manusia merupakan makhluk terbaik yang diciptakan Allah di permukaan bumi ini. Keunggulan manusia di antara makhluk lainnya adalah dengan dimilikinya akal untuk berpikir. Dengan akalnya tersebut, manusia dapat menciptakan sesuatu yang luar biasa, dan dengan akal yang dimilikinya itu pula, manusia diamanahi tanggung jawab yang besar yaitu amanah sebagai khalīfaħ untuk mengurus bumi. Namun demikian, seiring dengan perkembangan zaman, manusia melupakan tugasnya tersebut. Sekarang ini banyak orang yang memiliki kemampuan akal yang tinggi dan mempunyai kedudukan yang tinggi pula dalam pemerintahan, namun mereka menyalahgunakan apa yang mereka punya. Penyalahgunaan potensi yang mereka miliki tersebut dapat diindikasikan karena ketidakpahaman manusia akan tugas yang sebenarnya ia emban, yakni sebagai khalīfaħ. Hal ini juga dapat disebabkan adanya sesuatu yang kurang sesuai antara tugas yang diemban dan proses dalam pendidikan.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana khalīfaħ itu, syarat-syarat yang harus dimiliki seorang khalīfaħ, tugas dan fungsi seorang khalīfaħ yang terdapat dalam Al-Qur`ān dan tafsir Al-Mishbah, serta implementasinya terhadap pendidikan Islam.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode maudhu’i, dan teknis analisis dilalah dan munasabah.  Dalam penelitian ini ditemukan bahwa di dalam Al-Qur`ān terdapat dua bentuk pengungkapan kata khalīfaħ, yang pertama dalam bentuk tunggal khalīfaħ, dan dalam bentuk jamak yaitu khalā`if dan khulafā`. Tugas dan fungsi seorang khalīfaħ di antaranya yaitu menegakan hukum Allah, berlaku adil terhadap semua pihak, memiliki pengetahuan yang luas serta mampu bekerja sama dengan orang lain. Menarik implikasi edukatif dari padanya, sebagaimana di ungkapkan oleh para ahli pendidikan Islam, konsep khalīfaħ ini dapat dijadikan sebagai tujuan pendidikan Islam.Kata kunci : Al-Qur`ān, Manusia, Amanah, Al-Mishbah dan Pendidikan
NILAI-NILAI AKHLAK DALAM KOMUNIKASI EDUKATIF AYAH-ANAK DI DALAM AL-QURAN (Studi Tematis Terhadap Kisah Āzar-Nabi Ibrāhīm, Nabi Ibrāhīm-Nabi Ismā’il, Nabi Ya’qūb-Nabi Yūsuf) Sumarna, Elan; Abdussalam, Aam; Hardiyanti, Fitri
123 XXX
Publisher : TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dekadensi moral pada anak muda zaman sekarang khususnya terkait akhlak anak terhadap orang tua. Pendidikan informal dalam keluarga yang tidak sesuai dengan ajaran Islam mengakibatkan hal tersebut terjadi. Dalam penelitian ini akan dibahas tentang penanaman nilai-nilai akhlak dalam komunikasi ayah-anak di dalam al-Qur`ān. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi dan nilai-nilai akhlak dari kisah Azar-Nabi Ibrāhim, Nabi Ibrāhim-Ismā’il, Nabi Ya’qūb-Yūsuf dan implikasinya dalam pembelajaran PAI.Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Adapun metode yang digunakan adalah metode tafsir maudū’i, teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka. Adapun  teknik analisis data yang digunakan adalah dilālaħ dan munāsabaħ. Data yang diperoleh dari al-Quran sebagai sumber utama juga dilengkapi dengan tafsir lainnya beserta buku-buku yang ada relevansinya dengan masalah penelitian sebagai sumber sekunder.Dari hasil penelitian ditemukan komunikasi yang ideal dalam kisah Nabi Ibrāhim-Ismā’il dan Nabi Ya’qūb-Yūsuf karena keduanya memiliki kesamaan iman sehingga dapat mewujudkan komunikasi yang efektif. Keduanya mendiskusikan suatu permasalahan dan meminta pendapat lawan bicara sehingga terdapat keterbukaan pikiran dan perasaan. Adapun komunikasi antara Nabi Ibrāhim dengan azar menjadi suatu pembelajaran bagi seorang anak dalam menghadapi orang tua yang kafir, bentuk komunikasi Nabi Ibrāhim kepada ayahnya berupa seruan kebaikan, mengingatkan pada kebenaran dan menasehati dengan penuh kelembutan. Dalam penelitian ini juga ditemukan nilai-nilai akhlak dalam komunikasi tersebut di antaranya akhlak kepada Allah dan akhlak kepada manusia. Implikasi kajian ini bagi pembelajaran PAI sebagai pengembangan komunikasi edukatif di antaranya: prinsip kasih-sayang, prinsip ketulusan, dan prinsip komunikasi verbal (Qaulan sadidan, Qaulan layyinan, Qaulan ma’rufan dan Qaulan kariman); dan pengembangan sistem instruksional pembelajaran, di antaranya perlu: metode pembelajaran edukatif, guru sebagai role model, dan interaksi pembelajaran intrapersonal-interpersonal. Kata Kunci: Dekadensi moral, Nilai-nilai akhlak, Komunikasi, Pembelajaran PAI
PROGRAM PEMBELAJARAN TILAWAH AL-QURAN PADA PONDOK PESANTREN AL-QURAN AL-FALAH CICALENGKA BANDUNG (STUDI DESKRIPTIF TENTANG PROGRAM PEMBELAJARAN TILAWAH AL-QURAN TAHUN 2015) Abdussalam, Aam; Fakhruddin, Agus; Nursahid, Rofik
123 XXX
Publisher : TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kitab suci al-Quran merupakan pedoman dan penyelamat kehidupan manusia di dunia. Upaya memahami al-Quran sebagai petunjuk umat manusia di dunia yakni dengan mempelajari al-Quran dan mengajarkan al-Quran. Akan tetapi, umat Islam yang mayoritas di Indonesia tidak lantas membuat seluruh penganutnya mampu membaca al-Quran dengan benar. Kondisi ini justru memprihatinkan dengan terdapatnya umat Islam yang tidak bisa membaca al-Qur’an. Untuk mengatasi kondisi tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti lembaga pendidikan yang memfokuskan pendidikan di bidang al-Quran yakni Pondok Pesantren Al-Quran Al-Falah.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana program pembelajaran tilawah al-Quran dengan memfokuskan penelitian kepada perencanaan, proses, dan hasil. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Dari data tersebut dianalisis dengan mereduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini ditemukan data bahwa Pondok Pesantren Al-Quran Al-Falah melaksanakan program pembelajaran tilawah al-Quran dengan 4 tahapan, yang disebut tahapan belajar al-Quran. Tahapan-tahapan tersebut yakni tahajjī, mu’allam, murattal dan mujawwad. Kemudian, perencanaan pembelajaran tilawah al-Quran meliputi visi, misi, tujuan, dan rencana kerja. Selanjutnya, pelaksanaan meliputi organisasi program, pelaksanaan kegiatan program, bidang peserta didik, bidang kurikulum dan rencana pembelajaran, bidang pendidik dan tenaga kependidikan, bidang sarana dan prasarana, dan bidang pendanaan. Langkah-langkah pembelajaran tilawah al-Qur’an disesuaikan dengan tahapan belajar al-Quran dengan menggunakan metode talaqqī. Ditinjau dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 49 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan PendidikanNonformal, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran tilawah al-Quran di Pondok Pesantren Al-Quran Al-Falah dikategorikan baik dan cukup baik, serta menghasilkan santri dari serangkaian evaluasi yang memiliki kompetensi membaca al-Quran yang baik, bahkan berprestasi di bidang tilawah al-Quran tingkat Regional, Nasional dan Internasional.Kata Kunci: Pembelajaran, Tilawah, Al-Quran, Pondok Pesantren
KONSEP KHALĪFAH DALAM AL-QUR`ᾹN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM (STUDI MAUDU’I TERHADAP KONSEP KHALĪFAH DALAM TAFSIR AL-MISBAH) Lisnawati, Yesi; Abdussalam, Aam; Wibisana, Wahyu
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 2, No 1 (2015): May 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.888 KB)

Abstract

Manusia merupakan makhluk terbaik yang diciptakan Allah di permukaan bumi ini. Keunggulan manusia diantara makhluk lainnya adalah dengan dimilikinya akal untuk berpikir. Dengan akalnya tersebut, manusia dapat menciptakan sesuatu yang luarbiasa, dan dengan akal yang dimilikin yaitu pula, manusia diamanahi tanggungjawab yang besar yaitu amanah sebagai khalīfaħ untuk mengurus bumi. Namun demikian, seiring dengan perkembangan zaman, manusia melupakan tugasnya tersebut. Sekarang ini banyak orang yang memiliki kemampuan akal yang tinggi dan mempunyai kedudukan yang tinggi pula dalam pemerintahan, namun mereka menyalahgunakan apa yang mereka punya. Penyalahgunaan potensi yang mereka miliki tersebut dapat diindikasikan karena ketidakpahaman manusia akan tugas yang sebenarnya ia emban, yakni sebagai khalīfaħ. Hal ini juga dapat disebabkan adanya sesuatu yang kurang sesuai antara tugas yang diemban dan proses dalam pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana khalīfaħ itu, syarat-syarat yang harus dimiliki seorang khalīfaħ, tugas dan fungsi seorang khalīfaħ yang terdapat dalam Al-Qur`ān dan tafsir Al-Mishbah, serta implementasinya terhadap pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, metode maudhu’i, dan teknis analisis dilalah dan munasabah.  Dalam penelitian ini ditemukan bahwa di dalam Al-Qur`ān terdapat dua bentuk pengungkapan kata khalīfaħ, yang pertama dalam bentuk tunggal khalīfaħ, dan dalam bentuk jamak yaitu khalā`if dan khulafā`. Tugas dan fungsi seorang khalīfaħ diantaranya yaitu menegakan hokum Allah, berlaku adil terhadap semua pihak, memiliki pengetahuan yang luas serta mampu bekerjasama dengan orang lain. Menarik implikasi edukatif daripadanya, sebagaimana di ungkapkan oleh para ahli pendidikan Islam, konsep khalīfaħ ini dapat dijadikan sebagai tujuan pendidikan Islam.
PROGRAM PEMBELAJARAN TILAWAH AL-QURAN PADA PONDOK PESANTREN AL-QURAN AL-FALAH CICALENGKA BANDUNG (Studi Deskriptif tentang Program Pembelajaran Tilawah Al-Quran Tahun 2015) Nursahid, Rofik; Abdussalam, Aam; Fakhruddin, Agus
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 2, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.493 KB)

Abstract

Kitab suci al-Quran merupakan pedoman dan penyelamat kehidupan manusia di dunia. Upaya memahami al-Quran sebagai petunjuk umat manusia di dunia yakni dengan mempelajari al-Quran dan mengajarkan al-Quran. Akan tetapi, umat Islam yang mayoritas di Indonesia tidak lantas membuat seluruh penganutnya mampu membaca al-Quran dengan benar. Kondisi ini justru memprihatinkan dengan terdapatnya umat Islam yang tidak bisa membaca al-Qur’an. Untuk mengatasi kondisi tersebut, peneliti meneliti lembaga pendidikan yang memfokuskan pendidikan di bidang al-Quran yakni Pondok Pesantren Al-Quran Al-Falah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana program pembelajaran tilawah al-Quran dengan memfokuskan penelitian kepada perencanaan, proses, dan hasil. Penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan studi dokumentasi. Dari data tersebut di analisis dengan mereduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini ditemukan data bahwa Pondok Pesantren Al-Quran Al-Falah melaksanakan program pembelajaran tilawah al-Quran dengan 4 tahapan, yang disebut tahapan belajar al-Quran. Tahapan-tahapan tersebut yakni tahajjī, mu’allam, murattal dan mujawwad. Kemudian, perencanaan pembelajaran tilawah al-Quran meliputi visi, misi, tujuan, dan rencana kerja. Selanjutnya, pelaksanaan meliputi organisasi program, pelaksanaan kegiatan program, bidang peserta didik, bidang kurikulum dan rencana pembelajaran, bidang pendidik dan tenaga kependidikan, bidang sarana dan prasarana, dan bidang pendanaan. Langkah-langkah pembelajaran tilawah al-Qur’an disesuaikan dengan tahapan belajar al-Quran dengan menggunakan metode talaqqī. Ditinjau dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 49 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan oleh Satuan Pendidikan Nonformal, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran tilawah al-Quran di Pondok Pesantren Al-Quran Al-Falah dikategorikan baik dan cukup baik, serta menghasilkan santri dari serangkaian evaluasi yang memiliki kompetensi membaca al-Quran yang baik, bahkan berprestasi di bidang tilawah al-Quran tingkat Regional, Nasional dan Internasional.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM QS. AL MĀ’ŪN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN PAI DI PERSEKOLAHAN (Studi Tafsīr tentang QS. al-Mā’ūn) Noviana, Nabila Fajrina; Abdussalam, Aam; Fahrudin, Fahrudin
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 3, No 1 (2016): May 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.454 KB)

Abstract

Alquran diyakini mengandung banyak nilai-nilai pendidikan baik bersifat implisit maupun eksplisit. Di dalamnya terdapat ayat-ayat untuk membimbing dan mendidik manusia agar senantiasa berada di jalan yang lurus. Akan tetapi kenyataannya, penelitian mengenai nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam Alquran ini masih terhitung sedikit. Dan seringkali terlupakan pelaksanaannya dalam pembelajaran PAI di persekolahan. Padahal Alquran merupakan pedoman sebagai sumber nilai yang utama bagi umat Islām. Qs. Al Mā’ūn adalah salah satu surat yang sangat penting. Maka dari itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) Pendapat para mufasir mengenai isi kandungan Qs. Al Mā’ūn; (2) Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Qs. Al Mā’ūn dan (3) Implikasi nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Qs. Al Mā’ūn terhadap pembelajaran PAI di Persekolahan.Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan metode tafsir mauḍū’i. Peneliti berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada berdasarkan data-data yang relevan dengan cara menyajikan data dan menganalisis sehingga ditemukan penemuan mengenani nilai-nilai pendidikan dalam Qs. Al Mā’ūn. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode studi pustaka (Library Research). Data sekunder penelitian ini adalah tafsir, buku, jurnal dan literatur lain yang menunjang. Kemudian teknik analisis menggunakan kaidah dilālah al-lafẓ dan munāsabaħ.Adapun nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Qs. Al Mā’ūn, yaitu: Pendidikan Aqidah (Agar tidak termasuk pada orang-orang munafik yang cenderung menyepelekan agama/mendustakan agama), Pendidikan Ibadah Jalur Vertikal (Larangan melalaikan ṣalāt dengan melatih keikhlasan dalam beribadah) dan Jalur Horizontal (Memperhatikan anak yatim serta senantiasa membantu orang miskin), serta Pendidikan Akhlak (Larangan berbuat riya dan menjauhi sifat kikir). Berdasarkan penelitian ini, nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam Qs. Al Mā’ūn memiliki implikasi terhadap tujuan, metode dan pendidik dalam pembelajaran PAI di persekolahan.
NILAI-NILAI AKHLAK DALAM KOMUNIKASI EDUKATIF AYAH-ANAK DI DALAM AL-QURAN (Studi Tematis Terhadap Kisah Āzar-Nabi Ibrāhīm, Nabi Ibrāhīm-Nabi Ismā’il, Nabi Ya’qūb-Nabi Yūsuf) Hardiyanti, Fitri; Abdussalam, Aam; Sumarna, Elan
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 2, No 2 (2015): November 2015
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.716 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh dekadensi moral pada anak muda zaman sekarang khususnya terkait akhlak anak terhadap orangtua. Pendidikan informal dalam keluarga yang tidak sesuai dengan ajaran Islam mengakibatkan hal tersebut terjadi. Dalam penelitian ini akan dibahas tentang penanaman nilai-nilai akhlak dalam komunikasi ayah-anak di dalam al-Qur`ān. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi dan nilai-nilai akhlak dari kisah Azar-Nabi Ibrāhim, Nabi Ibrāhim-Ismā’il,Nabi Ya’qūb-Yūsuf dan implikasinya dalam pembelajaran PAI. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Adapun metode yang digunakan adalahmetode tafsirmaudū’i, teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka.Adapun  teknik analisis data yang digunakan adalahdilālaħdanmunāsabaħ. Data yang diperoleh darial-Quransebagai sumber utama jugadilengkapi dengan tafsir lainnya beserta buku-buku yang ada relevansinya dengan masalah penelitian sebagai sumber sekunder. Dari hasil penelitian ditemukan komunikasi yang ideal dalam kisah Nabi Ibrāhim-Ismā’il dan Nabi Ya’qūb-Yūsuf karena keduanya memiliki kesamaan iman sehingga dapat mewujudkan komunikasi yang efektif. Keduanya mendiskusikan suatu permasalahan dan meminta pendapat lawan bicara sehingga terdapat keterbukaan pikiran dan perasaan. Adapun komunikasi antara Nabi Ibrāhim dengan azar menjadi suatu pembelajaran bagi seorang anak dalam menghadapi orang tua yang kafir, bentuk komunikasi Nabi Ibrāhim kepada ayahnya berupa seruan kebaikan, mengingatkan pada kebenaran dan menasehati dengan penuh kelembutan. Dalam penelitian ini juga ditemukan nilai-nilai akhlak dalam komunikasi tersebut diantaranya akhlak kepada Allah dan akhlak kepada manusia. Implikasi kajian ini bagi pembelajaran PAI sebagai pengembangan komunikasi edukatif diantaranya: prinsip kasih-sayang, prinsip ketulusan, dan prinsip komunikasi verbal (Qaulan sadidan, Qaulan layyinan, Qaulan ma’rufan dan Qaulan kariman); dan pengembangan sistem instruksional pembelajaran, diantaranya perlu: metode pembelajaran edukatif, guru sebagai role model, daninteraksi pembelajaran intrapersonal-interpersonal.
ETIKA PERGAULAN DALAM ALQURAN DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN PAI DI SEKOLAH Pranoto, Agus; Abdussalam, Aam; Fahrudin, Fahrudin
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 3, No 2 (2016): November 2016
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.278 KB)

Abstract

Penelitian ini tentang etika pergaulan dalam Alquran dan implikasinya terhadap pembelajaran PAI di sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan etika pergaulan dalam Alquran kemudian dicari implikasinya terhadap pembelajaran PAI di sekolah. Pendekatan yang digunakan yakni pendekatan kualitatif metode tafsir muqaran dengan menelusuri ayat-ayat yang berhubungan dengan etika pergaulan kemudian menganalisa dengan studi pustaka dan analisis deskriptif. Sumber data primer berasal dari Alquran, sedangkan sumber data sekunder dari literatur tafsir, buku, jurnal dan literatur lain yang menunjang. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa; etika pergaulan sesama muslim dalam Alquran yaitu, 1) mengadakan perdamaian, 2) menciptakan persaudaraan, 3) tidak menghina sesama muslim, 4) menjauhi prasangka buruk, mencari-cari kesalahan orang lain, dan menggunjing, 5) saling mengenal satu sama lain, dan terakhir 6) berkasih sayang terhadap sesama muslim. Adapun etika pergaulan muslim dengan non-muslim menurut Alquran yaitu; 1) saling bekerja sama, 2) bersikap tegas dalam hal prinsip terhadap non-muslim, 3) berdamai dengan non-muslim, 4) berbuat baik dan adil terhadap non-muslim, 5) tidak menjadikan teman orang yang memerangi karena agama, dan terakhir 6) tidak berbuat aniaya kepada non-muslim. Implikasi yang dapat diperoleh adalah hendaknya pembelajaran mengarahkan peserta didik untuk dapat hidup damai, rukun dan saling toleran terhadap perbedaan yang ada baik di internal maupun eksternal muslim.