Gunawan Nusanto, Gunawan
Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Jl. SWK 104 (Lingkar Utara), Yogyakarta 55283 Indonesia

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

ANALISIS RECOVERY GAS PADA PROSES DEWATERING SUMUR CBM 2# LAPANGAN XX PT YY CBM SEKAYU, KABUPATEN MUSI BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN

PROMINE Vol 2, No 1 (2014): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UBB

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT YY CBM Sekayu telah melakukan lima pengeboran sumur eksplorasi yang dilanjutkan dengan pengeboran eksploitasi untuk memproduksi gas methane batubara di Blok Sekayu.Kelima sumur tersebut yaitu sumur CBM 1# , sumur CBM 2# , sumur CBM 3# , sumur CBM 4 # dan sumur CBM 5 #. Dari kelima sumur tersebut hanya sumur CBM 2 # yang sudah berproduksi, dengan dipasang pompa untuk kegiatan dewateringdan sudah menghasilkan gas.Sumur CBM 2# memiliki kedalaman 594,36 m dan terdapat tiga lapisan batubara yaitu lapisan batubara A pada kedalaman 271,88 – 305,71 m , lapisan batubara B pada kedalaman 318,21 – 339,24 m serta lapisan batubara C pada kedalaman 521,21 – 564,79 m. Kegiatan eksploitasi CBM di sumur CBM 2# menggunakan metode cased hole completion , yaitu air dan gas diproduksi bersamaan dari ke tiga lapisan batubara tersebut. Dari hasil perhitungan gas storage capacity dengan menggunakan persamaan Langmuir , maka laposan batubara A mempunyai storage capacity sebesar 114,72 scf/ton dan storage capacity pada lapisan batubara B sebesar 332,54 scf/ton. Banyaknya kandungan air dalam lapisan butubara di sumur CBM 2# yaitu 351.212.755,44 barel.Proses dewatering bertujuan untuk menurunkan tekanan reservoir dengan cara melakukan pemompaan air dari dalam lapisan batubara, dengan turunnya tekanan reservoir maka gas methane dapat keluar dari lapisan batubara dan mengalir melalui cleat menuju sumur pengeboran. Dari data hubungan antara tekanan reservoir dengan laju produksi air dan gas pada tekanan reservoir 1000 psia produksi air sebesar 2.703,2 barel sedangkan produksi gas 398,9 scf.Seiring dengan menurunnya tekanan reservoir dari kegiatan dewatering, maka produksi gas menjadi lebih besar dibandingkan dengan produksi air. Hal ini terlihat pada saat tekanan reservoir menurun sampai pada tekanan 500 psia maka produksi gas meningkat menjadi 59.284 scf sedangkan produksi air sebesar 32.351,6 barel.Untuk menghitung recovery gas pada saat produksi gas methane batubara dapat dihitung berdasarkan grafik Langmuir yang dihasilkan.

RENCANA REKLAMASI PADA LAHAN BEKAS PENAMBANGAN TANAH LIAT DI KUARI TLOGOWARUPT. SEMEN INDONESIA (Persero) Tbk. PABRIK TUBAN, JAWA TIMUR

Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian dilakukan di area penambangan tanah liat di kuari Tlogowaru yang merupakan salah satu lokasi penambangan milik PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Lokasi penambangan tanah liat terletak di Desa Temandang, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban, Provinsi Jawa Timur.Sistem penambangan yang digunakan yaitu tambang terbuka dengan metode kuari (quarry).Sehingga mengakibatkan terbentuknya lubang bekas penambangan setelah lahan tersebut selesai ditambang. Adanya kegiatan reklamasi yang terencana terhadap lahan bekas penambangan diharapkan dapat memperbaiki kualitas lingkungan dan ekosistem sehingga lahan tersebut dapat dimanfaatkan kembali sesuai peruntukannya.Pada area penambangan di kuari Tlogowaru dibagi menjadi 10 blok penambangan. Kegiatan reklamasi dilakukan setelah penambangan pada suatu blok selesai seiring dilakukannya penambangan pada blok berikutnya. Pada blok V seluas 19,9 Ha dengan lahan yang dapat direklamasi 1,2 Ha dan yang dijadikan kolam adalah 18,68 Ha. Pada blok VI seluas 29,8 Ha dengan jenjang yang dapat direklamasi 2,3 Ha dan yang dijadikan kolam adalah 26, 5 Ha. Berdasarkan kondisi morfologi lahan bekas penambangan tanah liat dan ketersediaan top soil maka dipilih metode penataan top soil yang efisen dengan penggunaan sedikit topsoil. Pada lahan reklamasi blok V top soil yang dibutuhkan 2.520 LCM dengan metode penataan top soil sistem guludan, jumlah tanaman 308 pohon dan waktu yang dibutuhkan utuk pembuatan dan pengisian lubang dengan tenaga manusia adalah 8 hari 108 menit. Pada jenjang yang akan direklamasi di blok VI membutuhkan top soil sebanyak 68,89 LCM dengan metode penataan top soil sistem pot, jumlah pohon 2.555 pohon dan waktu yang dibutuhkan untuk membuat dan mengisi lubang adalah 37 hari 121 menit.Dengan mengetahui rencana penataan lahan, top soil dan revegetasi maka dapat digunakan sebagai acuan pada pelaksanaan reklamasi nantinya setelah kegiatan penambngan selesai. Dan reklamasi dapat berjalan baik dan dapat dikatakan berhasil sesuai kriteria keberhasilan reklamasi.Kata Kunci: Tanah Liat, Quarry, Reklamasi.

MODEL PERTAMBANGAN PASIR BATU DALAM RANGKA KONSERVASI SUMBER MATA AIR DI SEKITAR GUNUNG PRAU, KECAMATAN NGORO KABUPATEN MOJOKERTO DAN KECAMATAN GEMPOL, KABUPATEN PASURUAN

Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stone sand mining in Gempol, Pasuruan District and Ngoro, Mojokerto District strongly support government programs of physical development in Surabaya and surrounding areas. However, the presence of the mining has not noticed the carrying power support of the conservation of springs is much needed by the people in the area.Factors have to be considered in the model mine in the area is horizontal restrictions such as geotechnical design of mine, recharge water area, protected areas and public facilities. The vertical boundary is the water table and landscape aesthetics.Such limitations must be integrated, so that the environmental impact is mainly springs much needed community can be conservated continuity.Key words: mining, vertical – horizontal restrictions  ABSTRAKPertambangan pasir batu di Kecamatan Gempol, Pasuruan dan Kecamatan Ngoro, Mojokerto sangat mendukung program pembangunan fisik terutama di Surabaya dan sekitarnya. Namun, keberadaan pertambangan tersebut belum memperhatikan daya dukung terhadap konservasi sumber mata air yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat di daerah tersebut.Perihal yang harus dipertimbangkan dalam memodelkan tambang di daerah tersebut adalah batasan horizontal berupa geoteknik rancangan tambang, zona imbuhan (recharge area), kawasan lindung dan fasilitas umum. Adapun batasan vertical adalah water table dan estetika bentang alam.Batasan tersebut harus terintegrasi, sehingga dampak lingkungan terutama sumber mata air yang sangat dibutuhkan masyarakat dapat terjaga kelestariannya.Kata kunci : tambang, batasan vertical - horisontal

KAJIAN TEKNIS DIMENSI KOLAM PENGENDAPAN DI SETTLING POND 71 C PT. PERKASA INAKAKERTA KECAMATAN BENGALON KABUPATEN KUTAI TIMUR PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Perkasa Inakakerta adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang pertambangan batubara, berlokasi di Bengalon, Provinsi Kalimantan Timur. Sistem penambangan yang diterapkan adalah sistem penambangan terbuka. Lokasi penelitian berada di Settling Pond 71 C. Pengukuran parameter kualitas air dilakukan terlebih dahulu sebelum dialirkan keperairan bebas. Adapun parameter yang diukur adalah pH 6-9, TSS < 300 Mg/l, Besi (Fe) < 4 Mg/l dan Mangan (Mn) < 7 Mg/l dengan menggunakan kertas lakmus, TSS meter dan Colorimeter DR 890.Kolam pengendapan terdiri dari 7 kompartemen, 3 komapartemen sebagai proses pengendapan dan 4 kompartemen sebagai perawatan (treatment) , luas kolam 7.644 m2 dan volume 31.734 m3 dengan debit hasil pemompaan yang mengalir pada zona inlet sebesar 729,27 m3/jam atau 14.585 m3 dengan waktu pemompaan selama 20 jam. Koagulan yang digunakan untuk menetralkan pH adalah kapur padam (CaO) sebanyak 71 kg/jam. Alat mekanis yang digunakan untuk perawatan kolam adalah Backhoe PC 200 dengan jangkauan gali mendatar 9,19 meter dan kedalaman 5,78 meter.Saat ini untuk parameter kualitas air yang belum memenuhi standar baku mutu adalah pH dan TSS, koagulan yang digunakan terlalu banyak, faktor yang mempengaruhi adalah dimensi kolam pengendapan yang terlalu luas sehingga kurang efektif.Upaya agar parameter kualitas air memenuhi baku mutu dan koagulan yang digunakan tidak terlalu banyak adalah melakukan perbaikan pada dimensi kolam menjadi 2 kompartemen sebagai proses pengendapan material padatan dan 3 kompartemen untuk perawatan (treatment) dengan luas 5.505 m2 dan volume 24.663 m3 sehingga koagulan yang digunakan sebanyak 48 kg/jam.Kata kunci : kualitas, dimensi kolam pengendapan, kapur padam (CaO), Back Hoe PC 200

ANALISIS RECOVERY GAS PADA PROSES DEWATERING SUMUR CBM 2# LAPANGAN XX PT YY CBM SEKAYU, KABUPATEN MUSI BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN

PROMINE Vol 2 No 1 (2014): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.78 KB)

Abstract

PT YY CBM Sekayu telah melakukan lima pengeboran sumur eksplorasi yang dilanjutkan dengan pengeboran eksploitasi untuk memproduksi gas methane batubara di Blok Sekayu.Kelima sumur tersebut yaitu sumur CBM 1# , sumur CBM 2# , sumur CBM 3# , sumur CBM 4 # dan sumur CBM 5 #. Dari kelima sumur tersebut hanya sumur CBM 2 # yang sudah berproduksi, dengan dipasang pompa untuk kegiatan dewatering dan sudah menghasilkan gas. Sumur CBM 2# memiliki kedalaman 594,36 m dan terdapat tiga lapisan batubara yaitu lapisan batubara A pada kedalaman 271,88 – 305,71 m , lapisan batubara B pada kedalaman 318,21 – 339,24 m serta lapisan batubara C pada kedalaman 521,21 – 564,79 m. Kegiatan eksploitasi CBM di sumur CBM 2# menggunakan metode cased hole completion , yaitu air dan gas diproduksi bersamaan dari ke tiga lapisan batubara tersebut. Dari hasil perhitungan gas storage capacity dengan menggunakan persamaan Langmuir , maka laposan batubara A mempunyai storage capacity sebesar 114,72 scf/ton dan storage capacity pada lapisan batubara B sebesar 332,54 scf/ton. Banyaknya kandungan air dalam lapisan butubara di sumur CBM 2# yaitu 351.212.755,44 barel. Proses dewatering bertujuan untuk menurunkan tekanan reservoir dengan cara melakukan pemompaan air dari dalam lapisan batubara, dengan turunnya tekanan reservoir maka gas methane dapat keluar dari lapisan batubara dan mengalir melalui cleat menuju sumur pengeboran. Dari data hubungan antara tekanan reservoir dengan laju produksi air dan gas pada tekanan reservoir 1000 psia produksi air sebesar 2.703,2 barel sedangkan produksi gas 398,9 scf.Seiring dengan menurunnya tekanan reservoir dari kegiatan dewatering, maka produksi gas menjadi lebih besar dibandingkan dengan produksi air.Hal ini terlihat pada saat tekanan reservoir menurun sampai pada tekanan 500 psia maka produksi gas meningkat menjadi 59.284 scf sedangkan produksi air sebesar 32.351,6 barel. Untuk menghitung recovery gas pada saat produksi gas methane batubara dapat dihitung berdasarkan grafik Langmuir yang dihasilkan.