Indah Setyowati, Indah
Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta Jl. SWK 104 (Lingkar Utara), Yogyakarta 55283 Indonesia

Published : 9 Documents
Articles

Found 9 Documents
Search

ANALISIS RECOVERY GAS PADA PROSES DEWATERING SUMUR CBM 2# LAPANGAN XX PT YY CBM SEKAYU, KABUPATEN MUSI BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN Setyowati, Indah; Nusanto, Gunawan; ., Hartono; Ferdian, Rizky Ferdian
PROMINE Vol 2, No 1 (2014): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan FT UBB

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5.687 KB)

Abstract

PT YY CBM Sekayu telah melakukan lima pengeboran sumur eksplorasi yang dilanjutkan dengan pengeboran eksploitasi untuk memproduksi gas methane batubara di Blok Sekayu.Kelima sumur tersebut yaitu sumur CBM 1# , sumur CBM 2# , sumur CBM 3# , sumur CBM 4 # dan sumur CBM 5 #. Dari kelima sumur tersebut hanya sumur CBM 2 # yang sudah berproduksi, dengan dipasang pompa untuk kegiatan dewateringdan sudah menghasilkan gas.Sumur CBM 2# memiliki kedalaman 594,36 m dan terdapat tiga lapisan batubara yaitu lapisan batubara A pada kedalaman 271,88 – 305,71 m , lapisan batubara B pada kedalaman 318,21 – 339,24 m serta lapisan batubara C pada kedalaman 521,21 – 564,79 m. Kegiatan eksploitasi CBM di sumur CBM 2# menggunakan metode cased hole completion , yaitu air dan gas diproduksi bersamaan dari ke tiga lapisan batubara tersebut. Dari hasil perhitungan gas storage capacity dengan menggunakan persamaan Langmuir , maka laposan batubara A mempunyai storage capacity sebesar 114,72 scf/ton dan storage capacity pada lapisan batubara B sebesar 332,54 scf/ton. Banyaknya kandungan air dalam lapisan butubara di sumur CBM 2# yaitu 351.212.755,44 barel.Proses dewatering bertujuan untuk menurunkan tekanan reservoir dengan cara melakukan pemompaan air dari dalam lapisan batubara, dengan turunnya tekanan reservoir maka gas methane dapat keluar dari lapisan batubara dan mengalir melalui cleat menuju sumur pengeboran. Dari data hubungan antara tekanan reservoir dengan laju produksi air dan gas pada tekanan reservoir 1000 psia produksi air sebesar 2.703,2 barel sedangkan produksi gas 398,9 scf.Seiring dengan menurunnya tekanan reservoir dari kegiatan dewatering, maka produksi gas menjadi lebih besar dibandingkan dengan produksi air. Hal ini terlihat pada saat tekanan reservoir menurun sampai pada tekanan 500 psia maka produksi gas meningkat menjadi 59.284 scf sedangkan produksi air sebesar 32.351,6 barel.Untuk menghitung recovery gas pada saat produksi gas methane batubara dapat dihitung berdasarkan grafik Langmuir yang dihasilkan.
MODEL PERTAMBANGAN PASIR BATU DALAM RANGKA KONSERVASI SUMBER MATA AIR DI SEKITAR GUNUNG PRAU, KECAMATAN NGORO KABUPATEN MOJOKERTO DAN KECAMATAN GEMPOL, KABUPATEN PASURUAN Nusanto, Gunawan; Hariyanto, Raden; Setyowati, Indah
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stone sand mining in Gempol, Pasuruan District and Ngoro, Mojokerto District strongly support government programs of physical development in Surabaya and surrounding areas. However, the presence of the mining has not noticed the carrying power support of the conservation of springs is much needed by the people in the area.Factors have to be considered in the model mine in the area is horizontal restrictions such as geotechnical design of mine, recharge water area, protected areas and public facilities. The vertical boundary is the water table and landscape aesthetics.Such limitations must be integrated, so that the environmental impact is mainly springs much needed community can be conservated continuity.Key words: mining, vertical ? horizontal restrictions??ABSTRAKPertambangan pasir batu di Kecamatan Gempol, Pasuruan dan Kecamatan Ngoro, Mojokerto sangat mendukung program pembangunan fisik terutama di Surabaya dan sekitarnya. Namun, keberadaan pertambangan tersebut belum memperhatikan daya dukung terhadap konservasi sumber mata air yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat di daerah tersebut.Perihal yang harus dipertimbangkan dalam memodelkan tambang di daerah tersebut adalah batasan horizontal berupa geoteknik rancangan tambang, zona imbuhan (recharge area), kawasan lindung dan fasilitas umum. Adapun batasan vertical adalah water table dan estetika bentang alam.Batasan tersebut harus terintegrasi, sehingga dampak lingkungan terutama sumber mata air yang sangat dibutuhkan masyarakat dapat terjaga kelestariannya.Kata kunci : tambang, batasan vertical - horisontal
KAJIAN TEKNIS PRODUKSI ALAT GALI-MUAT DAN ALAT ANGKUT UNTUK MEMENUHI TARGET PRODUKSI PENGUPASAN OVERBURDEN PENAMBANGAN BATUBARA PT. CITRA TOBINDO SUKSES PERKASA KABUPATEN SAROLANGUN PROVINSI JAMBI Pramana, Genta Dwi; Sudiyanto, Anton; Setyowati, Indah; Titisariwati, Indun
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. Citra Tobindo Sukses Perkasa adalah perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan yang terletak di Jalan Muara Tembesi KM 41, desa Bukit Paranginan, Kecamatan Mandiangan, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi. Sistem penambangan yang digunakan oleh PT. Citra Tobindo Sukses Perkasa adalah sistem tambang terbuka. Kegiatan pengupasan overburden pada saat ini dilakukan dengan menggunakan backhoe Volvo EC460BLC dan diangkut menggunkan articulated dump truck? Volvo A40F menuju lokasi penimbunan. Jarak angkut terjauh dari lokasi penambangan menuju ke lokasi penimbunan adalah 900 meter.Permasalahan yang terjadi pada saat ini adalah belum tercapainya target produksi pengupasan overburden sebesar 150.000 BCM/bulan. Produksi nyata dari kombinasi antara alat gali-muat dan alat angkut saat ini sebesar 109.952,00 BCM/bulan, sehingga masih terdapat kekurangan sebesar 40.048,00 BCM/bulan. Hal ini disebabkan rendahnya waktu kerja efektif sebagai akibat dari hambatan-hambatan yang ada sehingga menyebabkan efisiensi kerja alat yang rendah serta kondisi kerja dan jalan angkut yang kurang baik yang ada di lokasi penambangan.Upaya yang dapat dilakukan agar target produksi pengupasan overburden dapat tercapai ada beberapa alternatif. Alternatif pertama yaitu perbaikan waktu edar yang dapat dilakukan dengan memperbaiki kondisi yang ada di lapangan, seperti memperbaiki pola pemuatan, memperlebar kondisi jalan angkut dan memperbaiki tempat kerja alat. Alternatif kedua yaitu dengan melakukan peningkatan terhadap waktu kerja efektif.Setelah dilakukan perbaikan alternatif I yaitu perbaikan waktu edar maka didapat kemampuan produksi sebesar 135.850,699 BCM/bulan, namun hasil tersebut belum mencapai target produksi pengupasan overburden yang telah ditetapkan. Alternatif kedua yang dapat dilakukan yaitu peningkatan waktu kerja efektif, sehingga kemampuan produksi menjadi 132.694,296 BCM/bulan dan masih belum dapat memenuhi target produksi pengupasan overburden yang telah ditetapkan. Alternatif III yang dilakukan yaitu melakukan perbaikan terhadap waktu edar? dan peningkatan waktu kerja efektif dari alat. Setelah dilakukan perbaikan tersebut didapat kemampuan produksi sebesar 150.015,943 BCM/bulan dan telah dapat memenuhi target produksi pengupasan overburden yang ditetapkan.Kata Kunci : Target produksi, waktu edar, gali-muat
RANCANGAN TEKNIS PENAMBANGAN BIJIH NIKEL DI BUKIT CHEEROKE PT. ANTAM. (Persero) Tbk UBPN SULAWESI TENGGARA KECAMATAN POMALAA KABUPATEN KOLAKA Mega Putra, I Made Dermawan; Bargawa, Waterman Sulistyana; Setyowati, Indah
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT Antam (Persero).Tbk UBPN Sultra adalah badan usaha milik Negara yang bergerak di sektor pertambangan dan pengolahan bijih nikel yang? memiliki wilayah IUP yang berlokasi di Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara. PT Antam Tbk mempunyai beberapa front penambangan, salah satunya Bukit Cheeroke. Sistem penambangan yang digunakan adalah tambang terbuka dengan metode open cast. Bijih nikel yang ditambang mempunyai kadar Ni >1,8%. Endapan bijih nikel pada Bukit Cheeroke mempunyai kadar Ni >1,8% berada di daerah yang relatif datar sehingga diperlukan metode penambangan yang tepat sesuai dengan keadaan endapan bijih nikel dengan kemajuan penambangan per bulan sampai dengan mine out.Desain yang dibuat untuk mencapai target produksi 1600 ton/hari di Bukit Cheeroke harus memperhatikan kondisi endapan bijih nikel tersebut. Dimensi penambangan direncanakan sesuai dengan rekomendasi PT Antam Tbk yaitu: tinggi jenjang 6 m, lebar jenjang 3 m dengan single slope 60o.Berdasarkan data cadangan yang diperoleh dari blok model didapat cadangan 153.755 ton dengan kadar Ni 1,8% dengan umur tambang selama 5 bulan dengan metode penambangan yang digunakan adalah open pit secara selektif. Hasil rancangan pada bulan pertama sebesar 26.734 ton dengan waste 40.443 ton. Selanjutnya pada bulan kedua bijih nikel yang tertambang sebesar 32.747 ton dengan waste yang terbongkar 39.970. Pada bulan ketiga bijih nikel yang tertambang sebesar 33.175 ton dengan waste yang terbongkar 38.413 ton. Pada bulan keempat bijih nikel yang tertambang sebesar 32.677 dengan waste yang terbongkar 36.843 ton dan pada bulan kelima bijih nikel yang terbongkar sebesar 28.422 ton dengan waste yang terbongkar 38.223 ton.Berdasarkan perhitungan dimensi jalan diperoleh lebar jalan angkut adalah 5m untuk jalan lurus dengan nilai cross slope 1,72? dan 9m untuk jalan tikungan dengan nilai superelevasi 0,0395m/m dengan kebutuhan alat perbulan 2 alat gali dengan 9 alat angkut .Setelah dilakukan rancangan desain penambangan pada bukit cheeroke didapat bahwa mampu memenuhi target produksi yang telah ditetapkan, disarankan untuk terus melakukan evaluasi kadar blok model dengan realisasi lapangan agar kadar bijih nikel yang ditambang sesuai dengan kadar blok modelKata Kunci : Nikel, Rancangan Teknis, PT. ANTAM
KAJIAN RADIUS AMAN ALAT GALI MUAT TERHADAP FLYROCK PELEDAKAN PADA PIT 4500 BLOK 12 PT TRUBAINDO COAL MINING KUTAIBARAT KALIMANTAN TIMUR Usman, Arif; Sudarsono, Sudarsono; Setyowati, Indah
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PT. TCM (Trubaindo Coal Mining) merupakan perusahaan tambang batubara yang terletak di Kutai Barat, Kalimantan Timur. Pembongkaran lapisan overburden dilakukan dengan metode pengeboran dan peledakan dengan radius jarak aman untuk alat 300 m dan jarak aman manusia 500 m. Seiring dengan kemajuan penambangan, luas pit menjadi lebih sempit serta lokasi peledakan yang banyak dan menyebar pada Pit 4500 Blok 12. Kondisi tersebut mengakibatkan perpindahan alat muat terlampau jauh ketika dilakukan evakuasi sebelum peledakan dilakukan. Oleh karena itu, jika pada kondisi saat ini akan dilakukan penurunan radius jarak aman terhadap alat, maka diperlukan kajian terhadap flyrock dari kegiatan peledakan tersebut apakah radius aman tersebut dapat dikurangi atau tetap seperti keadaan saat ini. Penelitian dilakukan dengan menghitung lemparan flyrock terjauh dari lokasi peledakan baik secara teoritis maupun aktual di lapangan. Pengambilan data dilakukan sebanyak 13 kali pada kondisi lubang ledak basah dan 11 kali pada kondisi lubang ledak kering. Berdasarkan dari pengambilan data tersebut didapatkan lemparan flyrock terjauh secara teoritis menurut Adrian J. Moore dan Alan B. Richard pada lubang ledak basah, face burst: 177,49 m, cratering: 374,98 m, sedangkan pada lubang ledak kering, face burst: 141,53 m, cratering: 70,93 m. Lemparan aktual di lapangan didapatkan lemparan batuan terjauh pada kondisi lubang ledak basah: 277,18 m sedangkan pada kondisi lubang ledak kering: 96,96 m. Berdasarkan data tersebut maka diperlukan peninjauan kembali pada kondisi lubang ledak basah jika akan dilakukan penurunan radius jarak aman alat. Untuk mendekati lemparan batuan aktual pada pit 4500 blok 12 maka dilakukan rekomendasi isian dan stemming berdasarkan teori skala pengisian (scaled depth of burial) dari Livingston (1956) yang dikembangkan oleh PT. Orica Mining Service dan prediksi kontrol flyrock berdasarkan Adrian J. Moore & Alan B. Richard (2005). Sesuai teori tersebut, maka didapatkan range pada lokasi lubang ledak kondisi basah sebagai berikut: ? Kedalaman 3 m, isian 0,5-0,8 m dan stemming 2,2 ? 2,5 m. ? Kedalaman 4 m, isian 1,5-1,7 m dan stemming 2,3 ? 2,5 m. ? Kedalaman 5 m, isian 2,5-2,7 m dan stemming 2,3 ? 2,5 m. ? Kedalaman 6 m, isian 3,3 m dan stemming 2,7 m. ? Kedalaman 7 m, isian 3,8 m dan stemming 3,2 m. ? Kedalaman 8 m, isian 4,5 m dan stemming 3,5 m. Berdasarkan dari rekomendasi dan pendekatan tersebut, maka didapatkan lemparan batuan secara teoritis pada kondisi lubang ledak basah, face burst: 24,61 m, cratering: 77,84 m dan lemparan batuan aktual terjauh pada saat trial: 80,7 m sehingga rekomendasi jarak aman evakuasi alat gali muat dapat diturunkan menjadi 200 m.Kata kunci: Peledakan, Flyrock, Scaled Depth of Burial, Penurunan Jarak Aman Alat.
STUDI HIDROGEOLOGI PADA RENCANA PENAMBANGAN BATUBARA DI DAERAH MUARA BAKAH, IUP PT. DUTA NURCAHYA, BARITO UTARA PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Suyono, Suyono; Setyowati, Indah; Rosadi, Peter Eka; Wijaya, Bagus Arief
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 1, No 2 (2016)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian dilakukan di IUP PT. Duta Nurcahya yang berlokasi di Desa Muara Bakah, Kecamatan Lahai, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah. Berkaitan dengan rencana PT. Duta Nurcahya untuk membuat bukaan tambang yang baru, studi hidrogeologi sangat mutlak diperlukan. Hal ini dikarenakan lokasi rancangan bukaan tambang yang berdekatan dengan sungai besar di Kalimantan Tengah yaitu Sungai Lahai. Lokasi Sungai Lahai yang sangat dekat dengan lokasi rancangan bukaan tambang berpotensi mempengaruhi kondisi airtanah disekitar bukaan tambang.Berdasarkan hasil studi hidrogeologi yang telah dilakukan, diketahui terdapat dua jenis akuifer, yaitu akifer bebas dan akuifer tertekan. Akuifer bebas terdiri dari pasir halus hingga sedang. Sedangkan akuifer tertekan terdiri dari batupasir dengan ukuran pasir halus-sedang yang terperangkap lapisan batulempung. Sebaran ketebalan akuifer bebas dan akuifer tertekan di daerah penyelidikan tidak merata. Akuifer bebas memiliki ketebalan antara 3,00 ? 22,60 meter, sedangkan akuifer tertekan memiliki ketebalan antara 8,00 ? 37,35 meter.Hasil pengujian berdasarkan metode slug test diketahui nilai permeabilitas (k) akuifer berkisar antara (1,1294 . 10-6 ? 5,3528 . 10-6) meter/detik. Sedangkan melalui uji pumping test pada lubang bor GH_DN_05 didapatkan nilai konduktivitas hidrolik (K) sebesar 1,330 . 10-5 meter/detik. Dilihat dari? jenis batuan penyusun akuifer, sebaran nilai permeabilitas dan konduktivitas hidrolik yang kecil, maka potensi airtanah di daerah penyelidikan relatif rendah. Pengaruh penambangan endapan batubara terhadap keberadaan airtanah (terutama airtanah bebas) tidak signifikan, karena material penyusun akuifer memiliki ukuran butir relatif kecil/halus, dengan sebaran akuifer tidak merata. Pada kondisi nilai permeabilitas yang tergolong rendah, aliran airtanah di dalam akuifer relatif terbatas (temporary), apalagi hanya dipengaruhi oleh perbedaan muka airtanah akibat penggalian maupun gaya gravitasi.Disamping itu, PT. Duta Nurcahya juga harus memperhatikan kualitas air yang ada pada daerah tambang dan sekitarnya karena air tersebut digunakan banyak orang yang berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari. Dari hasil uji laboratorium menyatakan bahwa pada sepuluh sampel air yang diambil, delapan sampel air merupakan air kelas satu (I), sedangkan sampel air anak Sungai Lahai (162.c / Air / 2015) dan sampel air dari sungai kecil (162.i / Air / 2015) tergolong air kelas tiga (III) karena mengandung bakteri total koli > 10.000 Jml/100mL.Kata Kunci: akuifer, slugtest, pumping test.
KAJIAN UNIT UNIT PEREMUK BATU ANDESIT UNTUK KEBUTUHAN ASHPALT MIX DI PT. DELTAMARGA ADYATAMA BASECAMP KUDUS JAWA TENGAH Irawan, Novel Holda; WA, Dwi Poetranto; Setyowati, Indah
Jurnal Teknologi Pertambangan Vol 2, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Teknologi Pertambangan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study evaluated the technical and economic problems that arise because of the production capacity of crusher plant are still far from the expected target capacity is equal to 200 tons / day. From the results of the study found that the production of the crusher unit 120.47 tons / day or 17.21 tons / hour, with a size of 12.5 mm -19 + 10.53 tons / hour or 56.43%, the size -12 , 5 + 5 mm of 3.83 tons / hour or 20.52% and -5 mm size (gray stone) 2,85 ton / hour or 15.27%. Total crusher unit production costs to produce one ton of crushed stone products is Rp. 165 410, - / ton. After the improvements gained increased production crusher unit became 241.36 ton / day or 34.48 tons / hour, with a product size ?of ??-19 + 12.5 mm ?to ?21.67 tons / hour ?or ?61.91%, ?-12 fraction, 5 + 5mm be 8.65 tons / hour or 24.71%, and the fraction of -5 mm (stone dust) amounted to 4.16 tons / hour or 13.38%. Total crusher unit production costs to produce one ton of crushed stone products after experiencing improved to Rp. 81,525, - / ton.?ABSTRAKPenelitian ini mengkaji masalah secara teknis dan ekonomi yang muncul karena kapasitas produksi unit peremuk masih jauh dari kapasitas target yang diharapkan yaitu sebesar 200 ton/hari. Dari hasil kajian ditemukan bahwa hasil produksi dari unit peremuk yakni 120,47 ton/hari? atau ?17,21 ton/jam, ?dengan ?ukuran ??-19 + 12,5? mm? sebesar 10,53? ton/jam?? atau?? 56,43 %,?? ukuran?? -12,5 + 5 mm? sebesar? 3,83 ton/jam atau 20,52 % serta ukuran -5 mm (abu batu) sebesar 2,85 ton/jam atau 15,27 %.? Biaya produksi unit peremuk total untuk memproduksi satu ton produk batu pecah adalah sebesar Rp. 165.410,-/ton. ?Setelah perbaikan diperoleh peningkatan hasil produksi unit peremuk ?menjadi ?241,36 ton/hari atau ?34,48 ton/jam, ?dengan produk ?ukuran ?-19 + 12,5 mm menjadi 21,67 ton/jam atau 61,91 %, fraksi -12,5 + 5 mm menjadi? 8,65 ton/jam atau 24,71 %, serta fraksi -5 mm (abu batu) sebesar 4,16 ton/jam atau 13,38%. Biaya produksi unit peremuk total untuk memproduksi satu ton produk batu pecah setelah mengalami perbaikan menjadi Rp. 81.525,-/ton.
ANALISIS RECOVERY GAS PADA PROSES DEWATERING SUMUR CBM 2# LAPANGAN XX PT YY CBM SEKAYU, KABUPATEN MUSI BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN Setyowati, Indah; Nusanto, Gunawan; Hartono, Hartono; Ferdian, Rizky
PROMINE Vol 2 No 1 (2014): PROMINE
Publisher : Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.78 KB)

Abstract

PT YY CBM Sekayu telah melakukan lima pengeboran sumur eksplorasi yang dilanjutkan dengan pengeboran eksploitasi untuk memproduksi gas methane batubara di Blok Sekayu.Kelima sumur tersebut yaitu sumur CBM 1# , sumur CBM 2# , sumur CBM 3# , sumur CBM 4 # dan sumur CBM 5 #. Dari kelima sumur tersebut hanya sumur CBM 2 # yang sudah berproduksi, dengan dipasang pompa untuk kegiatan dewatering dan sudah menghasilkan gas. Sumur CBM 2# memiliki kedalaman 594,36 m dan terdapat tiga lapisan batubara yaitu lapisan batubara A pada kedalaman 271,88 – 305,71 m , lapisan batubara B pada kedalaman 318,21 – 339,24 m serta lapisan batubara C pada kedalaman 521,21 – 564,79 m. Kegiatan eksploitasi CBM di sumur CBM 2# menggunakan metode cased hole completion , yaitu air dan gas diproduksi bersamaan dari ke tiga lapisan batubara tersebut. Dari hasil perhitungan gas storage capacity dengan menggunakan persamaan Langmuir , maka laposan batubara A mempunyai storage capacity sebesar 114,72 scf/ton dan storage capacity pada lapisan batubara B sebesar 332,54 scf/ton. Banyaknya kandungan air dalam lapisan butubara di sumur CBM 2# yaitu 351.212.755,44 barel. Proses dewatering bertujuan untuk menurunkan tekanan reservoir dengan cara melakukan pemompaan air dari dalam lapisan batubara, dengan turunnya tekanan reservoir maka gas methane dapat keluar dari lapisan batubara dan mengalir melalui cleat menuju sumur pengeboran. Dari data hubungan antara tekanan reservoir dengan laju produksi air dan gas pada tekanan reservoir 1000 psia produksi air sebesar 2.703,2 barel sedangkan produksi gas 398,9 scf.Seiring dengan menurunnya tekanan reservoir dari kegiatan dewatering, maka produksi gas menjadi lebih besar dibandingkan dengan produksi air.Hal ini terlihat pada saat tekanan reservoir menurun sampai pada tekanan 500 psia maka produksi gas meningkat menjadi 59.284 scf sedangkan produksi air sebesar 32.351,6 barel. Untuk menghitung recovery gas pada saat produksi gas methane batubara dapat dihitung berdasarkan grafik Langmuir yang dihasilkan.
POLICE ROLE IN IDENTIFYING FINGERPRINT BUSINESS CRIME (Studies in the Central Java Police) Setyowati, Indah; Arini, Ika Setya
Jurnal Pembaharuan Hukum Vol 5, No 3 (2018): Jurnal Pembaharuan Hukum
Publisher : UNISSULA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.164 KB)

Abstract

Fingerprint identification is a technical assistance Police and plays an important role in proving the identity of the perpetrators of criminal acts, able to support a rapid, precise and accurate and to improve the effectiveness and efficiency in law enforcement. This study aims to determine the role of the police in the process of identifying fingerprint to uncover the perpetrators of criminal acts and to identify constraints as a barrier to the implementation of the process of identifying fingerprints by the police to uncover the perpetrators of criminal acts. This study uses empirical juridical approach to analyze the problem by combining the juridical aspect is legislation that was secondary data and empirical aspects by conducting interviews and observations at the site of research is the primary data. Results showed that: 1. The Role of the Police in identifying the perpetrator Crime Fingerprint carried out in several stages conducted by the Criminal dactyloscopy field dactyloscopy Unit (Daktikrim) under Section Identification Ditreskrimum Central Java Regional Police, in charge of the formulation, examination, comparison of equation fingerprint to reveal the identity of the offender. 2. Obstacles that Being inhibitors in Implementing Fingerprint Identification Process by the Police for Revealing Actors Crime: a. Constraints of the Police (Internal constraints) b. Constraints from outside the Police (External constraints).