Articles

Found 10 Documents
Search

High temperature drying properties and basic drying schedule of 5 lesser-known species from Riau Yuniarti, Karnita; Basri, Efrida
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Hidup dan Kehutanan Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18330/jwallacea.2017.vol6iss2pp91-99

Abstract

Drying process is a crucial stage in the utilization of any wood for construction and furniture purposes. The study aimed to: (i) investigate the sensitivity of several lesser-known wood species from natural forest in Riau to drying process at high temperature; and (ii) develop basic drying schedule for each wood. Five lesser-known species from Riau were investigated, namely punak (Tetramerista glabra), mempisang (Diospyros korthalsiana), pasak linggo (Aglaia argentea), meranti bunga (Shorea teysmanniana) and suntai (Palaquiumburckii). Modified Terazawa’s (1965) method was used for the experiment. The result shows that deformation was found for all species. The most severe deformation level was observed for both punak (score value of 4-6) and mempisang (score value of 4-5). On the other hand, pasaklinggo experienced the most severe initial end/surface check/split (score value of 6) and honeycombing (score value of 5). The result also showed that punak and pasaklinggo can be dried with the same drying schedule at the temperature range of 40-65° C and the humidity range of 38-88%. The proposed temperature and humidity ranges (or drying schedules) are 50-80° C and 28-80% for suntai, 50-70° C and 25-80% for mempisang, and 50-70° C and 40-84% for meranti bunga. Mempisang and suntai can use the same drying condition until fiber saturation point, then different drying condition applies.
DRYING RASAMALA WITH COMBINED HEAT RELEASED FROM SOLAR ENERGY, FUEL-POWERED STOVE AND HEATER Yuniarti, Karnita; Basri, Efrida
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2009.27.2.181 - 190

Abstract

Pengeringankcryu rasamala dilakukan dalam 2 tahap. Padatahap awal,pengeringan dilakukan dari kondisi basah hingga mencapai kadar air rata-rata 40% denganbanya menggunakanpanas surya. Pada tahap berikut fiJa, kcryu rasamala dengan kadar air 40% dikeringkan hingga mencapai kering udara menggunakan kombinasi panas surya dan panas tungkupada siang hari dan panas heater untuk proses pada malam hari.Waktu pengeringan kayu rasamala pada tahap pertama berlangsung selama 16  hari dan pada tahap kedua hanya selama 5 hari. Selama proses pengeringan dengan kombinasi energi surya dan panas buatan (tungku  bakar dan heater), penggunaan bahan bakar solar adalah 9,52 liter danpemakaian listrik sekitar 592,2 kwh.  Sebagian besar kayu rasamala yang dikeringkan memiliki kualitas yang baik. Analisa kelcryakanftnansial lebih lanjut menunjukkan bahwa pada tingkat suku bunga 15% dan dengan asumsi harga jual kayu rasamala kering adalah F.p 4.000.000 per,,/ diperoleh nilai NPV F.p 2.991.465 dan IRR 15,9%. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat suku bunga 15%, pengeri·ngan rasamala dalam bangunan pengantar tenaga surya dengan teknik yang digunakan dalam penelitian ini layak diterapkan pada skala industri. Biaya investasi yang dikeluarkan kembali dalam jangka waktu 5,1 tahun, sedangkan titik impas produksi akan tercapai pada produksi kayu rasamala kering sebesar4 3, 95 m1.
PENGARUH PENGGUNAAN KATALIS ZEOLIT DALAM ESTERIFIKASI TERHADAP RENDEMEN DAN KUALITAS BIODIESEL MINYAK JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) Sudradjat, Sudradjat; Marsubowo, Agung; Yuniarti, Karnita
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 3 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2009.27.3.256 - 266

Abstract

Esterifikasi merupakan salah satu tahapan dalam pembuatan biodiesel yang bertujuan untuk menurunkan nilai bilangan asam lemak bebas pada minyak nabati yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Pada umumnya proses esterifikasi dilakukan dengan menggunakan katalis asam cair seperti HCl dan H2SO4. Katalis padat, seperti zeolit, berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut dalam proses esterifikasi minyak jarak pagar. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan zeolit sebagai katalis pada proses esterifikasi minyak jarak pagar terhadap rendemen dan kualitas biodiesel yang dihasilkan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa zeolit teraktivasi dengan kadar 3% (b/b) dari minyak yang diesterifikasi memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai katalis pada proses esterifikasi minyak jarak pagar karena menurunkan kadar asam lemak bebas dalam minyak secara signifikan. Penggunaan ulang zeolit untuk proses esterifikasi minyak jarak pagar pada prinsipnya dapat dilakukan setelah zeolit dicuci dengan air atau alkohol, akan tetapi berpotensi menurunkan kualitas biodiesel yang dihasilkan.
Uji Pengaruh Kadar Air Awal dan Kerapatan Kayu terhadap Penyerapan Rubinate oleh Sitka Spruce yang Dikeringkan dengan Energi Mikrowave Yuniarti, Karnita; Hann, Jeff; Budiman, Ismail
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 26, No 2 (2008): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2008.26.2.174-180

Abstract

Penggunaan gelombang mikro direkomendasikan untuk meningkatan permeabilitas kayu Sitka spruce. Akan tetapi kayu yang di proses dengan gelombang mikro yang dipancarkan melalui aplikator terowong cenderung mengalami kerusakan struktur, terutama patahnya sel-sel jari-jari. Proses impregnasi kayu dengan resin, seperti rubinate, diharapken dapat mengatasi masalah tersebut. Beberapa faktor perlu diperhatikan dalm proses impregnasi kayu dengan bahan kimia. beberapa faktor internal kayu yang berperan adalah tipe noktab antar sel, kadar air kayu awal dan kerapatan. penelitian dilakukan untuk menguji pengaruh kadar air awal dan kerapatan kayu Sitka spruce yang di keringkan dengan gelombang mikro terhadap penyerapan rubinate. Hasil yang di peroleh menunjukan bahwa penyerapan rubinate lebih dipengaruhi oleh kadar air awal kayu dan tidak dipengaruhi oleh kerapatan kayu
Several physical properties of Eucalyptus pellita F. Muell from different provenances and sampling position on tree Yuniarti, Karnita; Nirsatmanto, Arif
Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Kehutanan Wallacea
Publisher : Environment and Forestry Research and Development Institute of Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18330/jwallacea.2018.vol7iss2pp151-163

Abstract

Eucalyptus pellita F. Muell is one of the species selected for the development of the plantation forest in Indonesia. In order to obtain a superior plant for the continuity of the plantation forest program, various tree breeding techniques are often applied, one of which is through best provenance selection. Conventional or advanced tree breeding program generally aims to obtain a fast-growing plant with good physical appearance. The program rarely gives attention to the properties/characteristics of timber produced. This aspect becomes the main background of this particular study which aims to investigate the effect of four provenances and also to examine the effect of sampling position on the trees on several physical properties of E. pellita. The result showed that the highest moisture content (97.34 + 15.67%) was found in the bottom part of trees from Indonesia provenance. While, the highest air-dry moisture content (15.15 + 0.20%) was observed in the top-part samples from Provenance North Kiriwo PNG. Samples from Provenance Serisa Village PNG have the highest density ranges, approximately 590 + 90 kg/m3 and 630 + 80 kg/m3 in the bottom-part samples and in the top-part samples, respectively. The highest T/R ratio, approximately 1.91 + 0.26, was observed in the bottom-part samples from Provenance South Kiriwa, PNG. The T/R ratio values of all provenances were less than 2, indicating the lumber will be possibly stable during its uses or further processing. Further result showed provenance factor significantly affect initial moisture content and density. Sampling position on trees only affect affects the initial moisture content. Based on the results, the timber of E. pellita being examined can be further used for light-to-medium construction purpose.
PENGARUH PENGGUNAAN KATALIS ZEOLIT DALAM ESTERIFIKASI TERHADAP RENDEMEN DAN KUALITAS BIODIESEL MINYAK JARAK PAGAR (Jatropha curcas L.) Sudradjat, Raden; Marsubowo, Agung; Yuniarti, Karnita
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 3 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2438.658 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2009.27.3.256-266

Abstract

Esterifikasi merupakan salah satu tahapan dalam pembuatan biodiesel yang bertujuan untuk menurunkan nilai bilangan asam lemak bebas pada minyak nabati yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Pada umumnya proses esterifikasi dilakukan dengan menggunakan katalis asam cair seperti HCl dan H2SO4. Katalis padat, seperti zeolit, berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut dalam proses esterifikasi minyak jarak pagar. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan zeolit sebagai katalis pada proses esterifikasi minyak jarak pagar terhadap rendemen dan kualitas biodiesel yang dihasilkan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa zeolit teraktivasi dengan kadar 3% (b/b) dari minyak yang diesterifikasi memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai katalis pada proses esterifikasi minyak jarak pagar karena menurunkan kadar asam lemak bebas dalam minyak secara signifikan. Penggunaan ulang zeolit untuk proses esterifikasi minyak jarak pagar pada prinsipnya dapat dilakukan setelah zeolit dicuci dengan air atau alkohol, akan tetapi berpotensi menurunkan kualitas biodiesel yang dihasilkan.
DRYING RASAMALA WITH COMBINED HEAT RELEASED FROM SOLAR ENERGY, FUEL-POWERED STOVE AND HEATER Yuniarti, Karnita; Basri, Efrida
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 27, No 2 (2009): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2708.637 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2009.27.2.181-190

Abstract

Pengeringan kayu rasamala dilakukan dalam 2 tahap. Pada tahap awal, pengeringan dilakukan dari kondisi basah hingga mencapai kadar air rata-rata 40% dengan banyak menggunakan panas surya. Pada tahap berikutnya, kayu rasamala dengan kadar air 40% dikeringkan hingga mencapai kering udara menggunakan kombinasi panas surya dan panas tungku pada siang hari dan panas heater untuk proses pada malam hari. Waktu pengeringan kayu rasamala pada tahap pertama berlangsung selama 16  hari dan pada tahap kedua hanya selama 5 hari. Selama proses pengeringan dengan kombinasi energi surya dan panas buatan (tungku  bakar dan heater), penggunaan bahan bakar solar adalah 9,52 liter dan pemakaian listrik sekitar 592,2 kwh. Sebagian besar kayu rasamala yang dikeringkan memiliki kualitas yang baik. Analisa kelayakan finansial lebih lanjut menunjukkan bahwa pada tingkat suku bunga 15% dan dengan asumsi harga jual kayu rasamala kering adalah F.p 4.000.000 per/ diperoleh nilai NPV F.p 2.991.465 dan IRR 15,9%. Hal ini menunjukkan bahwa pada tingkat suku bunga 15%, pengeringan rasamala dalam bangunan pengantar tenaga surya dengan teknik yang digunakan dalam penelitian ini layak diterapkan pada skala industri. Biaya investasi yang dikeluarkan kembali dalam jangka waktu 5,1 tahun, sedangkan titik impas produksi akan tercapai pada produksi kayu rasamala kering sebesar 43,95 m3.
HONEYCOMBING AND DEFORMATION OF SIX WOOD SPECIES AND THEIR RELATIONSHIP WITH SEVERAL PHYSICAL Yuniarti, Karnita; Basri, Efrida; Abdurachman, Abdurachman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2017.35.2.115-122

Abstract

It is presumed that the wood susceptibility to drying defects is related to several physical properties. This paper examines the drying defects: honeycombing and deformation of six wood species (trema, fast growing teak, bayur, jabon, angsana and lamtoro) during high temperature drying and analyses their relationship with initial moisture content, T/R shrinkage ratio and density. Terazawa method was used to examine the defect during high temperature drying. Result shows that after high temperature drying, lamtoro suffers the worst honeycombing (level 4-6), and fast growing teak deforms severely (level 4-6). Regression analysis shows multiple regression models using all physical properties as predictors provides better estimation on deformation and honeycombing than single-predictor regression models. The multiple regression model for each defect could explain 57.52% and 39.46% of variation in deformation and honeycombing, respectively.
Pengaruh Tingkat Penekanan dan Posisi Pengambilan Sampel pada Dolok terhadap Penyerapan Rubinate oleh Sitka Spruce yang Dipanaskan Dahulu dengan Microwave Yuniarti, Karnita; Hann, Jeff
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 4 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.4.317-325

Abstract

Penggunaan energi mikrowave pada tingkat cukup tinggi dapat menyebabkan perubahan dimensi kayu akibat patahnya beberapa struktur kayu yang lemah. Modifikasi lebih lanjut dengan resin diikuti penekanan kayu selama proses fiksasi resin dapat memperbaiki kualitas kayu tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penekanan selama proses fiksasi resin rubinate dan faktor posisi pengambilan sampel kayu terhadap penyerapan rubinate oleh Stika spruce yang sebelumnya dipanaskan dengan mikrowave. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan akhir dipengaruhi oleh tingkat penekanan yang digunakan selama proses fiksasi resin dan kurang dipengaruhi oleh faktor posisi pengambilan sampel kayu. Penyerapan akhir rubinate juga dipengaruhi oleh interaksi antara kedua faktor tersebut.
Pengaruh Lama Perendaman dan Bidang Permukaan Samping Contoh Uji Terhadap Retensi Tembaga Sulfat pada Kayu Pinus Radiata Kering Oven Yuniarti, Karnita; Hann, Jeff
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 23, No 5 (2005): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2005.23.5.363-374

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menganalisa pengaruh lama perendaman dalam larutan pengawet tembaga sulfat dan bidang permukaan samping yang terekspos terhadap nilai retensi tembaga sulfat pada kayu Pinus radiata D. Donn yang dikeringkan dengan oven. Hasil penelitian menunjukkan nilai retensi tembaga sulfat dipengaruhi dengan sangat nyata oleh faktor waktu rendam dan bidang permukaan samping contoh uji yang terekspos selama proses rendaman. Nilai retensi tembaga sulfat tertinggi (91,10 kg/m3) dihasilkan melalui proses rendaman selama 1800 detik (30 menit) dengan bidang permukaan samping contoh uji yang terekspos adalah tangensial atas. Perendaman selama 10 detik dengan membiarkan permukaan samping radial contoh uji yang terekspos menghasilkan nilai retensi tembaga sulfat terendah (6,26 kg/m3).