Rahardyan Nugroho Adi, Rahardyan Nugroho
Unknown Affiliation

Published : 10 Documents
Articles

Found 10 Documents
Search

PERBANDINGAN HASIL ESTIMASI POTENSI AIR BULANAN DAN HASIL PENGUKURAN LANGSUNG DI SUB DAS WURYANTORO, WONOGIRI Pramono, Irfan Budi; Adi, Rahardyan Nugroho
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1170.951 KB)

Abstract

Kualitas dan kuantitas air adalah faktor penting dalam evaluasi sumberdaya air. Kualitas dan kuantitas air harus diukur secara langsung. Namun demikian, tidak semua DAS memiliki stasiun hidrologi. Kuantitas atau jumlah air dapat dihitung dengan pemodelan. Salah satu model yang sederhana untuk memperkirakan potensi air bulanan adalah metode Thornthwaite-Mather. Metode ini didasarkan pada neraca air. Hujan sebagai masukan, evapotranspirasi dan debit sebagai luaran. Sifat fisik tanah dan karakteristik penutupan lahan sebagai pemroses. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang hasil perbandingan antara penaksiran potensi air bulanan dan hasil pengukuran langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penaksiran debit bulanan mempunyai korelasi yang tinggi dengan hasil pengukuran dengan Rberkisar antara 0,77 sampai 0,91. Dalam rangka mendapatkan hasil yang sesuai maka metode ini perlu mempertimbangkan perubahan asumsi surplus air. Asumsi surplus air 50% untuk bulan berikutnya kurang cocok untuk semua DAS. Beberapa DAS mungkin mempunyai asumsi surplus air lebih dari 50%, sedangkan beberapa DAS lainnya mungkin kurang dari 50%, tergantung pada karakteristik DAS, khususnya formasi geologi. Untuk mendapatkan hasil pembanding yang baik, maka hasil pengukuran langsung sebaiknya dilakukan pengecekan lagi.
PERBANDINGAN HASIL ESTIMASI POTENSI AIR BULANAN DAN HASIL PENGUKURAN LANGSUNG DI SUB DAS WURYANTORO, WONOGIRI Pramono, Irfan Budi; Adi, Rahardyan Nugroho
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 1 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.215 KB)

Abstract

Kualitas dan kuantitas air adalah faktor penting dalam evaluasi sumberdaya air. Kualitas dan kuantitas air harus diukur secara langsung. Namun demikian, tidak semua DAS memiliki stasiun hidrologi. Kuantitas atau jumlah air dapat dihitung dengan pemodelan. Salah satu model yang sederhana untuk memperkirakan potensi air bulanan adalah metode Thornthwaite-Mather. Metode ini didasarkan pada neraca air. Hujan sebagai masukan, evapotranspirasi dan debit sebagai luaran. Sifat fisik tanah dan karakteristik penutupan lahan sebagai pemroses. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang hasil perbandingan antara penaksiran potensi air bulanan dan hasil pengukuran langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penaksiran debit bulanan mempunyai korelasi yang tinggi dengan hasil pengukuran dengan R berkisar antara 0,77 sampai 0,91. Dalam rangka mendapatkan hasil yang sesuai maka metode ini perlu mempertimbangkan perubahan asumsi surplus air. Asumsi surplus air 50% untuk bulan berikutnya kurang cocok untuk semua DAS. Beberapa DAS mungkin mempunyai asumsi surplus air lebih dari 50%, sedangkan beberapa DAS lainnya mungkin kurang dari 50%, tergantung pada karakteristik DAS, khususnya formasi geologi. Untuk mendapatkan hasil pembanding yang baik, maka hasil pengukuran langsung sebaiknya dilakukan pengecekan lagi
PENENTUAN ZONASI TATAGUNA AIR TANAH DI KABUPATEN BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Adi, Rahardyan Nugroho; Setiawan, Ogi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesatnya perkembangan pembangunan di berbagai bidang dan wilayah termasuk juga perkembangan jumlah penduduk akan mendorong peningkatan berbagai macam kebutuhan, salah satunya adalah kebutuhan sumberdaya air, termasuk air tanah. Eksploitasi sumberdaya air secara berlebihan pada akhirnya akan menimbulkan permasalahan di kemudian hari karena sumberdaya alam khususnya air tanah juga mempunyai keterbatasan. Salah satu dampak negatif yang kini mulai dirasakan adalah terjadinya kekeringan (kekritisan air). Oleh karenanya diperlukan antisipasi dan penanganan yang serius kaitannya dengan tata guna air tanah sehingga pemanfaatan air tanah pada suatu wilayah dapat disesuaikan dengan potensinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tataguna dan konservasi air tanah melalui penyusunan peta potensi air tanah berdasarkan karakteristik air tanah, pembuatan peta kontur air tanah dan arah aliran air tanah, serta menentukan daerah tangkapan (recharge) dan daerah penurapan (discharge). Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bantul yang merupakan salah satu dari lima kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara pengharkatan (skor) terhadap beberapa karakteristik air tanah (kedalaman muka freatik air tanah, DHL air tanah, dan fluktuasi muka air tanah). Analisis data dilakukan dengan cara deskriptif kualitatif terhadap data karakteristik air tanah tersebut. Berdasarkan analisis yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut: 1) Dengan menggunakan analisis zonasi air tanah dapat diketahui potensi sumberdaya air tanah terutama kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya air tanah agar kelestarian sumberdaya air tanah tetap terjaga; 2) Tipe sungai di Kabupaten Bantul adalah efluent dimana pada tipe ini air sungai disuplai oleh air tanah sehingga air sungai akan mengalir sepanjang tahun; 3) Kabupaten Bantul mayoritas merupakan wilayah discharge yaitu dengan perbandingan luasan wilayah discharge dan recharge adalah 31.546,3 ha (discharge) dan 19.887,5 ha (recharge). Hal ini dipengaruhi oleh bentuk lahan yang ada di Kabupaten Bantul; 4) Potensi sumberdaya air tanah di Kabupaten Bantul dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelas yaitu rendah (0,7 ha), sedang (13.958,7 ha), dan tinggi (37.474,5 ha). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Bantul potensi sumberdaya airnya relatif tinggi; 5) Berdasarkan analisis tataguna air tanah Kabupaten Bantul, kawasan yang perlu dilakukan konservasi air tanahnya berdasarkan bentuk lahan adalah seluas 16.972,6 ha dan kawasan yang tidak perlu dilakukan konservasi adalah seluas 34.461,2 ha   
PERBANDINGAN HASIL ESTIMASI POTENSI AIR BULANAN DAN HASIL PENGUKURAN LANGSUNG DI SUB DAS WURYANTORO, WONOGIRI Pramono, Irfan Budi; Adi, Rahardyan Nugroho
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 2 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1170.951 KB) | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.2.127-137

Abstract

Kualitas dan kuantitas air adalah faktor penting dalam evaluasi sumberdaya air. Kualitas dan kuantitas air harus diukur secara langsung. Namun demikian, tidak semua DAS memiliki stasiun hidrologi. Kuantitas atau jumlah air dapat dihitung dengan pemodelan. Salah satu model yang sederhana untuk memperkirakan potensi air bulanan adalah metode Thornthwaite-Mather. Metode ini didasarkan pada neraca air. Hujan sebagai masukan, evapotranspirasi dan debit sebagai luaran. Sifat fisik tanah dan karakteristik penutupan lahan sebagai pemroses. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang hasil perbandingan antara penaksiran potensi air bulanan dan hasil pengukuran langsung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penaksiran debit bulanan mempunyai korelasi yang tinggi dengan hasil pengukuran dengan R berkisar antara 0,77 sampai 0,91. Dalam rangka mendapatkan hasil yang sesuai maka metode ini perlu mempertimbangkan perubahan asumsi surplus air. Asumsi surplus air 50% untuk bulan berikutnya kurang cocok untuk semua DAS. Beberapa DAS mungkin mempunyai asumsi surplus air lebih dari 50%, sedangkan beberapa DAS lainnya mungkin kurang dari 50%, tergantung pada karakteristik DAS, khususnya formasi geologi. Untuk mendapatkan hasil pembanding yang baik, maka hasil pengukuran langsung sebaiknya dilakukan pengecekan lagi.
PENENTUAN ZONASI TATAGUNA AIR TANAH DI KABUPATEN BANTUL, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA Adi, Rahardyan Nugroho; Setiawan, Ogi
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam Vol 7, No 4 (2010): Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2380.207 KB) | DOI: 10.20886/jphka.2010.7.4.315-339

Abstract

Pesatnya perkembangan pembangunan di berbagai bidang dan wilayah termasuk juga perkembangan jumlah penduduk akan mendorong peningkatan berbagai macam kebutuhan, salah satunya adalah kebutuhan sumberdaya air, termasuk air tanah. Eksploitasi sumberdaya air secara berlebihan pada akhirnya akan menimbulkan permasalahan di kemudian hari karena sumberdaya alam khususnya air tanah juga mempunyai keterbatasan. Salah satu dampak negatif yang kini mulai dirasakan adalah terjadinya kekeringan (kekritisan air). Oleh karenanya diperlukan antisipasi dan penanganan yang serius kaitannya dengan tata guna air tanah sehingga pemanfaatan air tanah pada suatu wilayah dapat disesuaikan dengan potensinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi tataguna dan konservasi air tanah melalui penyusunan peta potensi air tanah berdasarkan karakteristik air tanah, pembuatan peta kontur air tanah dan arah aliran air tanah, serta menentukan daerah tangkapan (recharge) dan daerah penurapan (discharge). Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Bantul yang merupakan salah satu dari lima kabupaten/kota di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara pengharkatan (skor) terhadap beberapa karakteristik air tanah (kedalaman muka freatik air tanah, DHL air tanah, dan fluktuasi muka air tanah). Analisis data dilakukan dengan cara deskriptif kualitatif terhadap data karakteristik air tanah tersebut. Berdasarkan analisis yang dilakukan diperoleh hasil sebagai berikut: 1) Dengan menggunakan analisis zonasi air tanah dapat diketahui potensi sumberdaya air tanah terutama kaitannya dengan pemanfaatan sumberdaya air tanah agar kelestarian sumberdaya air tanah tetap terjaga; 2) Tipe sungai di Kabupaten Bantul adalah efluent dimana pada tipe ini air sungai disuplai oleh air tanah sehingga air sungai akan mengalir sepanjang tahun; 3) Kabupaten Bantul mayoritas merupakan wilayah discharge yaitu dengan perbandingan luasan wilayah discharge dan recharge adalah 31.546,3 ha (discharge) dan 19.887,5 ha (recharge). Hal ini dipengaruhi oleh bentuk lahan yang ada di Kabupaten Bantul; 4) Potensi sumberdaya air tanah di Kabupaten Bantul dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelas yaitu rendah (0,7 ha), sedang (13.958,7 ha), dan tinggi (37.474,5 ha). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Kabupaten Bantul potensi sumberdaya airnya relatif tinggi; 5) Berdasarkan analisis tataguna air tanah Kabupaten Bantul, kawasan yang perlu dilakukan konservasi air tanahnya berdasarkan bentuk lahan adalah seluas 16.972,6 ha dan kawasan yang tidak perlu dilakukan konservasi adalah seluas 34.461,2 ha   
Specific Peak Discharge of Two Catchments Covered by Teak Forest with Different Area Percentages Basuki, Tyas Mutiara; Adi, Rahardyan Nugroho; Wijaya, Wahyu Wisnu
Forum Geografi Vol 31, No 1 (2017): July 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (951.165 KB) | DOI: 10.23917/forgeo.v31i1.3236

Abstract

In watershed area, forest has important roles in relation with peak discharge. This  research was conducted to study the impacts of teak forest on peak discharge. On-screen digitizing of IKONOS imagery was done to classify the land cover of the study area. Kejalen and Gagakan catchments covered by old teak forests by 74% and 53% respectively, were chosen as the study area. These catchments are located in Blora Regency. Automatic streamflow recorder was set at the outlet of each catchment and subsequently, peak discharges were examined from the recorded data. During the observation, there were 36 evidences of specific peak discharge. The results showed that a trend of lower peak discharges occurred in Kejalen catchment which has the higher percentage of teak forest area  in compared to Gagakan catchment with lower percentage of teak forest area, except when extreme rainfalls happened. At rainfall of 163 mm/day, specific peak discharge in Kejalen was higher than in Gagakan catchment. Although there is a relationship between specific peak discharge and the percentage of forest cover area, the increase of specific peak discharge is not only affected by forest cover, but also affected by daily rainfall, antecedent soil moisture, and rainfall intensity. Coefficients of determination between specific peak discharge and daily rainfall are 0.64 and 0.61 for Kejalen and Gagakan catchments, respectively.
Temporal distribution of sediment yield from catchments covered by different pine plantation areas Basuki, Tyas Mutiara; Pramono, Irfan Budi; Adi, Rahardyan Nugroho; Nugrahanto, Esa Bagus; Auliyani, Diah; Wijaya, Wahyu Wisnu
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol 5, No 3 (2018)
Publisher : University of Brawjiaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2018.053.1259

Abstract

Soil erosion and sedimentation are environmental problems faced by tropical countries. Many researches on soil erosion-sedimentation have been conducted with various results. Quantifying soil erosion-sedimentation and its temporal distribution are important for watershed management. Therefore, a study with the objective to quantify the amount of suspended sediment from catchments under various pine plantation areas was conducted. The research was undertaken during 2010 to 2017 in seven catchments with various percentage of pine coverage in Kebumen Regency, Central Java Province. The rainfall data were collected from two rainfall stations. A tide gauge was installed at the outlet of each catchment to monitor stream water level. The water samples for every stream water level increment were analyzed to obtain sediment concentration. The results showed that monthly suspended sediment of the catchments was high in January to April and October to December, and low in May to September. The annual suspended sediment fluctuated during the study period. Non-linear correlations were observed between suspended sediment and rainfall as well as suspended sediment and percentage pine areas. The line trend between suspended sediment and percentage of pine areas showed that the increase in pine areas decreased suspended sediment, with the slope of the graph is sharp at the percentage of pine areas from 8% to 40%, then is gentle for pine plantation areas more than 40%.
PENDUGAAN INFILTRASI MENGGUNAKAN DATA NERACA AIR DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI WATUJALI, GOMBONG (Estimation of infiltration based on water balance method at Watujali Sub Watershed, Gombong) Pramono, Irfan Budi; Adi, Rahardyan Nugroho
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (836.732 KB) | DOI: 10.20886/jppdas.2017.1.1.35-48

Abstract

Infiltration rate in a watershed is very important for water management. There are many methods for estimating the rate of infiltration in a watershed. Among of them are direct measurements, hydrograph analysis and water balance calculation. The purpose of this study was to estimate infiltration in the sub watershed  under pine forest. The method was based on a relationship between water balance and regression of monthly rainfall and discharge. The results showed that the infiltration rate of pine forest in Watujali Sub Watershed  range from 125 mm/year up to 1,193 mm/year. The infiltration rate was highly depended on rainfall as the input. In  2010 with 5,826 mm rainfall, the infiltration rate reached 1,193 mm/year. Estimation of infiltration using water balance data was easy to implement because it only used data of streamflow, rainfall and evapotranspiration.
HASIL AIR HUTAN JATI PADA DUA SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI DENGAN LUAS BERBEDA (Water yield of Teak Forest at two different catchment sizes) Basuki, Tyas Mutiara; Adi, Rahardyan Nugroho; Sulasmiko, Edi
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (822.75 KB) | DOI: 10.20886/jppdas.2017.1.1.1-14

Abstract

Effects of catchment sizes on hydrological responses were still being debated. Therefore, a study on hydrological effects of different catchment sizes was conducted in teak catchments. The catchments were Cemoro and Modang with their sizes were 13.5 and 3.4 km2, respectively. Research sites were in Forest Management Sub Unit (BKPH) Pasar Sore, Forest Management Unit (KPH) Cepu, and administratively were located in Blora Regency. Physical conditions of these catchments were similar. Rainfall was measured everyday at 07.00 a.m. Stream Water Level (SWL) data were collected from tide gauge measurements which were constructed at the outlet of the catchments. Discharge data were obtained by convertion of the SWL into discharge based on regression equations between direct discharge measurements in the field and SWL. Data analysed from 2001 to 2015 showed that Cemoro catchment had higher annual runoff than Modang. Generally, monthly runoff from Cemoro catchment was higher than Modang catchment, only for several years the Modang catchment had higher monthly runoff than Cemoro catchment. Annual runoff coefficient of Cemoro catchment was always higher than Modang catchment during 2001 to 2015. The runoff coefficient ranged from 0.20 to 0.62 and from 0.06 to 0.38 for Cemoro and Modang catchments, respectively.
PENGARUH PERSENTASE PENUTUPAN HUTAN TERHADAP DEBIT PUNCAK DI SUB DAERAH ALIRAN SUNGAI HUTAN ALAM KABUPATEN TANAH LAUT (The effect of forest coverage percentage on peak discharge in the natural forest sub watershed, Tanah Laut Regency) Nugrahanto, Esa Bagus; Adi, Rahardyan Nugroho; Supangat, Agung Budi; Nugroho, Nunung Puji
Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Vol 2, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengelolaan DAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jppdas.2018.2.2.123-136

Abstract

The percentage of forest coverage holds an important role in regulating water in watersheds. This paper studies the influence of forest coverage percentage on peak discharge in sub watersheds with various percentage of natural forest areas. The study took place in Bakar, Tanjung, Iwakan, and Langsat Sub Watersheds, Tanah Laut Regency, South Kalimantan Province in 2017. The percentage of natural forest varied from 9,7 to 98% of the the sub watershed areas. This research was conducted by direct measurement of rainfall and stream water levels that were converted into peak discharge. The peak discharges between sub watersheds were compared to the rainfall and the percentage of forest. The results showed that in general the percentage of natural forest coverage affect the peak discharge. The forest coverage showed a positive response in lowering the peak discharge when the rainfall was below 115 mm/day. Bakar and Tanjung Sub Watersheds that had low percentage of natural forest coverage had higher peak discharge than Langsat and Iwakan Sub Watersheds, which had higher percentage of forest coverage. The relationship between the percentages of natural forest coverage with peak discharge marked by the coefficient of   determination value of 53.3%. Since the existence of forest is very important as the hydrological controller, forest conservation efforts and reforestation should be conducted in the upper sub watersheds.