Articles

Found 7 Documents
Search

SORDARIOMYCETES, KELOMPOK JAMUR YANG PALING BANYAK TERISOLASI DARI DAUN JARUM Pinus radiata DI AUSTRALIA Prihatini, Istiana
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : BBPPBPTH

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.142 KB)

Abstract

Jamur endofit pada daun jarum beberapa jenis konifer telah banyak dipelajari melalui teknik isolasi jamur namun belum banyak penelitian yang dilakukan pada jenis Pinus radiata dan belum ada studi yang dilaporkan dari Tasmania. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kelompok terbesar jamur endofit yang berhasil diisolasi dari daun jarum P. radiata dengan beberapa kondisi  yang berbeda dari beberapa hutan tanaman di Tasmania, Victoria dan New South Wales serta mengkonfirmasinya dengan analisis filogenetik berdasarkan pada sekuen gen ITS. Sebanyak 16 jenis jamur endofit dari golongan kelas Sordariomycetes terisolasi dan Coniochaeta sp. 1 merupakan jenis yang paling banyak terisolasi pada penelitian ini.
PENGGUNAAN PENANDA MIKROSATELIT UNTUK MENGANALISIS INDUK Acacia Mangium WILLD Prihatini, Istiana; Taryono, Taryono; Rimbawanto, Anton
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol 3, No 2 (2006): JURNAL PENELITIAN HUTAN TANAMAN
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13062.773 KB) | DOI: 10.20886/jpht.2006.3.2.139-148

Abstract

Penanda molekuler diketahui memiliki potensi menggantikan upaya penyerbukan buatan secara manual dalam program pemuliaaan. Kebun benih persilangan A. mangium dapat dibangun menggunakan induvidu-induvidu terpilih agar penyerbukan terbuka (open pollination) yang terjadi dapat menghasilkan induvidu unggul. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari penggunaan penanda mikrosatelit bagi pengujian induk A. mangium. Analisis induk dilakukan menggunakan DNA genomik total dari 251 induvidu sebagai kadidat induk dan 296 induvidu hasil keturunannya. Reaksi PCR dilakukan menggunakan 15 penanda mikrosatelit (SSR). Genotipa dari semua induvidu tersebut digunakan untuk menentukan pasangan induk dari setiap keturunan yang diuji. Penelitian yang dilakukan dapat mendeteksi pasangan induk dari 202 induvidu (68,2%).
SORDARIOMYCETES, KELOMPOK JAMUR YANG PALING BANYAK TERISOLASI DARI DAUN JARUM Pinus radiata DI AUSTRALIA Prihatini, Istiana
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 9, No 2 (2015): Jurnal pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.142 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2015.9.2.61-75

Abstract

Endophytes fungi have been extensively studied in conifer needles involving culture dependent methods, however little number have been conducted in Pinus radiata and no record have been reported from Tasmania. This study aimed to identify the major group of endophyte fungi isolated from P. radiata needles with varied conditions collected from Tasmania, Victoria and New South Wales plantation and confirmed by phylogenetic analysis of ITS gene. Sixteen endophyte fungi species as member of Sordariomycetes were isolated and Coniochaeta sp. 1 was the most frequently isolated species in this study.
KARAKTER MORFOLOGI ISOLAT Phlebiopsis sp.1 JAMUR PENGENDALI HAYATI YANG POTENSIAL UNTUK Ganoderma philippii Puspitasari, Desy; Wibowo, Arif; Rahayu, Sri; Prihatini, Istiana; Rimbawanto, Anto
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 10, No 1 (2016): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.664 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2016.10.1.51-61

Abstract

Identification of wood decay fungi based on morphological character of isolates is very helpful where identification of fruit body morphology is ambiguous. Nine isolates of Phlebiopsis sp.1 obtained from the isolation root of Eucalyptus pellita in permanent plots with root rot disease have the potential as biological control for G. philippii. The verification based on ITS sequences of rDNA showed that these isolates were closely related to P. gigantea and P. flavidoalba. The characterisation of morphological was performed on isolates grown on Malt Extract Agar media with sawdust. Based on the macroscopic observation, the isolates were categorized into three different morphotypes: (1). Cottony mycelium from the beginning to the advanced stage, one isolate (Pb5); (2). Cottony at the beginning and then turned into farinaceous to floccose on the advanced stage, 7 isolates (Pb1, Pb2, Pb4, PB6, PB8, Pb9, Pb10); (3). Absent at the beginning and then turned into zonate on the advanced stage, one isolate (Pb11). Morphotype 2 is the dominant group of Phlebiopsis sp.1 isolates, with fine tufts of white mycelium which turned brown on the surface of the colonies. Morphotype 3 has very different morphological characters than other 8 isolates, it has very characteristic concentric circle with different color and texture of each circle. The growth rate of mycelium ranged between 10.70 - 10.85 cm²/day for morphotype 1 and 2; 1.95 cm²/day for morphotype 3.
PENGUJIAN PENANDA JENIS SPESIFIK PADA JAMUR YANG BERPOTENSI SEBAGAI AGENS PENGENDALI HAYATI PENYAKIT BUSUK AKAR PADA AKASIA Prihatini, Istiana; Rimbawanto, Anto; Puspitasari, Desy; Fauzi, Dayin
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 12, No 1 (2018): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.059 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2018.12.1.1-12

Abstract

Root rot caused by Ganoderma philippii (Bres. & Henn. ex Sacc.) Bres., is an important disease in Acacia plantation. A strategy to control this disease is currently being developed, particularly on the application of biological control agent (BCA). Species specific primers for rapid identification of potential fungi as BCA were developed. This study aimed to obtain the best DNA condition and the best primers for species specific identification. DNA with 20x dilution is the best condition for amplification of the ITS fragment thus used for rapid species identification. The best primer set to detect Cerrena sp. is CrF1/CrR1, PbF2/PbR2 is the best primer set for Phlebiopsis sp. 1. There was no specific primer suitable to detect Phlebia sp. 1 and Phlebia sp. 2 only but Pl-2F1/Pl-2R4 is the best primer set for Phlebia spp.
IDENTIFIKASI JAMUR ENDOFIT DAUN JARUM Pinus radiata MENGGUNAKAN METODE EKTRAKSI DNA SECARA LANGSUNG Prihatini, Istiana
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 8, No 1 (2014): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (966.656 KB) | DOI: 10.20886/jpth.2014.8.1.31-42

Abstract

Pinus radiata is the major softwood species planted in New Zealand and Australia. Endophyte fungi that have been extensively studied in conifers needles mainly based on fungal isolation and also rarely conducted in Pinus radiata. This study aimed to observe the optimum condition of P. radiata needles sample for direct extraction of fungal DNA and to identify the fungi associated with P. radiata needles in Plenty plantations by a direct PCR approach. Room temperature dried needles produced clear and consistent DNA amplification compare to fresh needles, and needles dried on drying room or drying machine. Capnodiales was the most diverse group and no fungal pathogen detected in this study. DNA sequence data from direct DNA extraction of P. radiata needles provided sufficient discrimination and identification of fungal species.
TEKNIK PCR ITS-RFLP UNTUK SELEKSI ISOLAT JAMUR PADA PENGUJIAN AGEN PENGENDALI HAYATI Prihatini, Istiana
Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan Vol 13, No 1 (2019): Jurnal Pemuliaan Tanaman Hutan
Publisher : Center for Forest Biotechnology and Tree Improvement (CFBTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jpth.2019.13.1.%p

Abstract

Penelitian mengenai keragaman jenis jamur pada suatu habitat serta identifikasi jenis jamur banyak dilakukan untuk berbagai keperluan, misalnya untuk mencari sumber obat baru serta  mencari dan mengembangkan jenis-jenis jamur yang berpotensi sebagai agen pengendali hayati (APH). Pengembangan jenis-jenis APH banyak juga dilakukan untuk mengatasi penyakit pada tanaman hutan. Pada pengembangan APH ini diperlukan pengujian aktivitas pengendalian secara in vivo dari setiap kandidat APH untuk mengetahui efektifitasnya. Pengujian ini memerlukan identifikasi jenis jamur yang ditemukan pada organ tanaman uji. Salah satu metode yang dipakai untuk identifikasi jenis jamur pada uji aktifitas pengendalian APH yaitu dengan melakukan pembuatan kultur  pada media buatan serta melakukan identifikasi jenis setiap kultur jamur. Identifikasi jenis jamur dapat dilakukan berdasarkan karakter morfologi ataupun karakter genetik dari kultur jamur. Banyaknya isolat jamur yang dihasilkan dari uji aktifitas pengendalian APH memerlukan biaya dan waktu yang tinggi dalam proses identifikasinya. Untuk itu diperlukan suatu cara yang efisien untuk menyeleksi isolat jamur sehingga jenis-jenis jamur tersebut dapat diidentifikasi dengan cepat dan ekonomis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui potensi marka molekuler PCR ITS-RFLP dalam proses seleksi awal isolat jamur sebelum dilakukan identifikasi berdasarkan sekuens DNA dan untuk memilih enzim restriksi yang memproduksi pola PCR ITS RFLP yang polimorfik. Tiga enzim restriksi (DraI, EcoRI dan HinfI)  dapat memisahkan 8 isolat jamur yang digunakan dalam penelitian ini menjadi tiga kelompok sesuai dengan profil PCR ITS DNA, sedangkan 5 enzim yang lain (BamHI, BclI, HaeII, HpaI, dan HindIII) tidak dapat memotong fragmen DNA ITS, kecuali pada satu isolat jamur saja.