Erlita Tantri, Erlita
Indonesian Institute of Science

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Hajj Transportation of Netherlands East Indies, 1910-1940

Heritage of Nusantara: International Journal of Religious Literature and Heritage Vol 2, No 1 (2013)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4620.938 KB)

Abstract

This article is about Hajj transportation of Netherland Indies in during the years of 1910-1940. The focus of this article is the mechanism of the Hajj transportation and its significance since eighteenth century. It is based on that historical phmomenon, that this paper will examine the hajj transportation in the past related to regulation and problem and why it was important to control hajj ship transportation by using archives and authorities report as main sources and other secondary sources. Historically, since eighteenth century, even until today, going to hajj or pilgrimage was very interesting and attractive for native Muslim in Netherlands East Indies (Indonesia), especially for gaining religious requirement, social pride and Islamic ideas. The phenomenon can be seen from the increase and the stable number of the pilgrims from Indonesia which had attracted much interest from many parts of stake holders such as from Hijaz (Arabian government). In relation to that, it is worth noting that ship was an important transport to convey pilgrim from and to Indonesia and thus, business of hajj transportation become a field of contention between state authority and private ship businesses. It is based on that historical phenomenon, that this paper will examine the hajj transportation in the past related to regulation and problems and why it was important to control hajj ship transportation by using archives and authorities report as main sources and other secondary sources. Hajj transportation was a profitable business (even until today) that increased competition among British, Malay, Arabic, and Dutch shipping companies. Completion and regulation from ships and authority did not give better services for native pilgrims besides poor condition, discomfort and suffering of pilgrimage. However, hajj transportation had to be controlled, especially to restrain problems of moekimans and movement ideas from Hijaz.

GLOBALISASI DAN MASYARAKAT MENUA TIONGKOK: PARIWISATA DAN POTENSI LANSIA

Jurnal Kajian Wilayah Vol 9, No 1 (2018): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.859 KB)

Abstract

China is one of the countries that has a large number of elderly in the world. In 2016, China has 230.8 million elderly people and it is predicted that 40 percent of Chinas population in 2050 is elderly. Although the elderly are often regarded as a burden for the State and the family, but fortunately the elderly also have substantial potency, especially in the economic realm. One of the Chinese elderly potency is in tourism. In tourism, elderly travel activities are followed by the development of technology and services that related to tourism. This paper tries to observe the potency of Chinese elderly in their leisure time with travel. Filling leisure time with a tour not only can improve the health conditions of the elderly that affect to longer life expectancy, but also stimulate the development of silver hair industry in tourism for China and other countries.Keywords : elderly, leisure time, ChinaAbstrakTiongkok adalah salah satu Negara yang memiliki jumlah lansia yang cukup besar di dunia. Tahun 2016 saja Tiongkok telah memiliki 230,8 juta jiwa lansia dan tahun 2050, diprediksikan 40 persen penduduk Tiongkok adalah lansia. Meskipun lansia kerap dianggap sebagai beban bagi Negara dan keluarga, namun lansia juga memiliki potensi yang cukup besar terutama dalam aspek ekonomi. Salah satu potensi lansia Tiongkok adalah pada sektor pariwisata. Dalam pariwisata, kegiatan berwisata lansia diikuti dengan berkembangnya teknologi dan jasa yang berkaitan dengan turisme. Tulisan ini berupaya melihat potensi lansia Tiongkok dalam mengisi waktu luang dengan berwisata. Mengisi waktu luang dengan berwisata bukan hanya dapat memperbaiki kondisi kesehatan lansia yang berdampak pada harapan hidup yang semakin panjang, namun juga merangsang berkembangnya industri lansia terkait pariwisata di Tiongkok dan Negara lain.Kata kunci : Lansia, waktu luang, pariwisata, Tiongkok

The Dutch Science (Rangaku) and its Influence on Japan

Jurnal Kajian Wilayah Vol 3, No 2 (2012): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (483.105 KB)

Abstract

Pada tahun 1609, Belanda memperoleh izin memasuki Jepang bersama armada dagangnya VOC (Verenigde Oost-Indische Compagnie-Dutch East India Company) dan menempati wilayah di pelabuhan perdagangan Hirado hingga tahun 1940. Pada tahun 1639 Jepang menutup negaranya untuk berhubungan dengan dunia luar (era sakoku). Namun, Jepang masih mengijinkan Belanda untuk tinggal dan memindahkan perusahaannya (untuk mudah mengontrolnya) ke Pulau Deshima pada tahun 1941. Meskipun Jepang sangat melarang masyarakatnya berhubungan dengan Belanda atau sebaliknya, kecuali orang yang ditentukan dan pada kondisi dan waktu tertentu, namun rasa keingintahuan negeri ini terhadap perkembangan ilmu dan teknik Barat telah membawa keterbukaan Jepang untuk menggalinya melalui Belanda. Dimulai dengan mempelajari ilmu kedokteran, Jepang terus menggali dan mengembangkan pengetahuaan Barat, yang proses ini dikenal dengan era Rangaku. Melalui proses Rangaku, Belanda secara tidak langsung telah menjadi pintu pengetahuan bagi Jepang dan Jepang secara perlahan berhasil mengembangkan berbagai ilmu untuk kemajuan sosial, ekonomi, politik, budaya, dan militer hingga Jepang siap berkembang ketika kembali membuka diri pada tahun 1853.Kata kunci: Sakoku, sistem Rangaku, studi Barat, Jepang, Belanda, VOC.

MANAJEMEN DAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA DI TIONGKOK: GEMPA SICHUAN 2008

Jurnal Kajian Wilayah Vol 7, No 1 (2016): Jurnal Kajian Wilayah
Publisher : Research Center for Regional Resources-Indonesian Institute of Sciences (P2SDR-LIPI)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (926.306 KB)

Abstract

China is a country that frequently experienced natural disasters such as earthquake. The earthquake at Sichuan Province in 2008 is one of big natural disasters, which caused a big death toll and damage. However, the disaster also brought the better change in disaster management system in China. This paper analyzes how the disaster management in China after Sichuan earthquake 2008 is. Hopefully, good disaster management will lessen the death toll and damage in disaster region. Besides the role of government in the disaster risk reduction, China also introduces the risk reduction to community (Community-based Disaster Risk and Reduction Management).Keywords: disaster management, risk reduction, China, earthquake, Sichuan AbstrakTiongkok merupakan salah satu Negara yang kerap mengalami bencana alam, misalnya gempa bumi. Salah satu peristiwa gempa bumi yang cukup besar di Tiongkok terjadi pada tahun 2008 di Provinsi Sichuan. Gempa ini telah menyebabkan banyak kerusakan dan korban jiwa. Namun demikian, bencana gempa ini juga membawa perubahan pada sistem manajemen bencana yang lebih baik di Tiongkok. Dalam kaitannya dengan pengurangan risiko bencana, tulisan ini melihat bagaimana manajemen bencana di Tiongkok pasca Gempa Sichuan 2008. Manajemen pengurangan risiko bencana yang baik diharapkan dapat mengurangi jumlah korban jiwa serta kerusakan yang dialami oleh masyarakat. Selain peran Pemerintah dalam pengurangan risiko bencana, Tiongkok juga berusaha menerapkan manajemen bencana yang juga melibatkan peran masyarakat.Kata kunci: manajemen bencana, pengurangan risiko, Tiongkok, gempa, Sichuan

LETUSAN KRAKATAU 1883: PENGARUHNYA TERHADAP GERAKAN SOSIAL BANTEN 1888

Jurnal Masyarakat dan Budaya Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : P2KK LIPI

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (357.863 KB)

Abstract

This paper aims to explain the Krakatau explosion in 1883 and its impact, mainly on the 1888 social movement in Banten. Krakatau explosion in 26-27 August 1883 was one of the tremendous volcano explosions in the 19th century, after the Tambora explosion in 1815. The impacts of explosion, such as high tsunami wave, ash, gas covered the atmosfer, had given other impacts on social, political, and economic aspects, as well as scientific sphere. Climate change affecting the ecology, such as the increase of death because of starvation and diseases, increase religion fanatism. This religious fanatism generated the social movement in Banten peaking in 1888. Keywords: volcanoes, Krakatau, Banten, religious fanaticism, social movement.

(Politic) Dutch Flood Control in Surabaya 1906-1942

Patrawidya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya Vol 18, No 2 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian nilai budaya Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6433.974 KB)

Abstract

Surabaya was one of the important cities in the Netherlands Indies since the nineteenth century. However as a coastal city, which had many potential plantations, busiest business districts & port, naval based, and defense area, Surabaya also faced annual flood problem in rainy season. So, what were the cause and the impact of the flood problem in Surabaya? What was the Dutch colonial government done to overcome flood and its impact? What was the Dutch’s motive on its efforts? This paper would like to know the Dutch colonial’s flood control in Surabaya city from 1906 to 1942 and its motivation. As a historical study, this paper uses literature study that is started from the colonial period. Finally, flood control was necessary for Surabaya where many ethnics and important economic activities based which needed good infrastructures and healthy environment. Therefore, flood as the source of diseases and inconvenience had to be eradicated from the influential city.Surabaya merupakan salah satu kota yang penting di Indonesia pada abad ke-19. Sebagai kota pesisir atau dekat dengan laut, Surabaya memiliki banyak perkebunan-perkebunan yang potensial, wilayah dan pelabuhan yang sibuk, serta sebagai basis angkatan dan wilayah pertahanan laut Belanda. Namun demikian, Surabaya juga menghadapi persoalan banjir yang sering terjadi pada musim penghujan. Kemudian, apa yang menjadi penyebab dan dampak dari banjir di Surabaya saat itu?Apa yang dilakukan oleh pemerintah Belanda untuk mengatasi banjir dan dampaknya? Apa yang menjadi maksud atau tujuan dari  pemerintah Belanda dalam mengatasi banjir? Tulisan ini mencoba untuk mengetahui upaya pemerintah Belanda dalam mengatasi persoalan banjir yang terjadi di Kota Surabaya pada tahun 1906 hingga tahun 1942 serta motif di balik usaha tersebut. Sebagai kajian sejarah, tulisan ini menggunakan studi literatur yang dimulai sejak masa kolonial Belanda. Pada akhirnya, penanganan banjir merupakan sebuah kebutuhan mendesak bagi kota Surabaya yang merupakan kota dengan beragam etnis dan kegiatan ekonomi yang sangat penting bagi kolonial Belanda di mana semuanya membutuhkan infrastruktur baik dan lingkungan sehat. Oleh sebab itu banjir sebagai sumber dari ketidaknyamanan dan penyakit haruslah dijauhkan dari kota Surabaya.