Articles

Found 11 Documents
Search

PENGARUH PENAMBAHAN VARIASI BERAT JAMUR TEMPE (RhizopusOligosporus) TERHADAP KUALITAS TEMPE BIJI NANGKA (ArtocarpusheterophyllusLam.)

Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Vol 13, No 1 (2015)
Publisher : STIKes BTH Tasikmalaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tempe is a fermented food specialties and one of Indonesias population.In general, raw material for making tempeh is soybeans. Soybean prices in the market fluctuate, because Indonesia still imports soybeans from the United States. Soybean prices are rising on world markets caused soybean prices in the country also increased, including processed products. In Indonesia, tempe-making has become a cottage industry. Tempe contains many nutrients needed by the body such as proteins, fats, carbohydrates, and mineral. Some research indicates that nutrients tempe easier digested, absorbed and utilized in the body. This is because the fungi that grow on soybeans hydrolyze complex compounds into simpler compounds that are easily digested by humans. In general, raw material for making tempeh is soybeans. In this study, making tempeh uses raw materials that seeds of jackfruit (Artocarpus Integra Merr). In general, consumption of jackfruit seeds just by boiling it. Tempe is aided by the addition of tempeh or tempeh fungus (Rhizopus oligosporus), at a temperature of 25 ° -37 ° C with an incubation time ± 60 hours or 3 days. The formation mechanism of germination tempeh, some carbohydrate compounds are needed in order to start the spore swelling can occur. The swelling was followed by protrusion of the tube exit kecambahnya, when available sources of carbon and nitrogen from the outside and annosa sugars glucose and xylose.Keywords: Tempe, Jackfruit Seed, levels of carbohydrates, protein content, fat content.

UJI MPN BAKTERI ESCHERICHIA COLI PADA AIR SUMUR BERDASARKAN PERBEDAAN KONSTRUKSI SUMUR DI WILAYAH NAGRAK KABUPATEN CIAMIS

Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Vol 16, No 1 (2016): Agustus 2016
Publisher : STIKes BTH Tasikmalaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konstruksi sumur terhadap kandungan bakteri E.coli pada air sumur gali di Wilayah Nagrak Kabupaten Ciamis. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan desain deskriptif yaitu peneliti melakukan observasi terhadap konstruksi sumur beton dan non beton. Setelah dilakukan observasi maka akan dilakukan analisis laboratorium dari 5 sampel air sumur yang diambil. Kandungan E.coli dalam air sumur dihitung dengan menggunakan metode Most Probable Number. Perhitungan total bakteri ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui jumlah total bakteri E.coli yang terkandung pada sampel dengan media yang spesifik yaitu media Eosin Methylen Blue (EMB). Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan bakteri E.coli pada sumur beton memenuhi syarat sedangkan kandungan bakteri E.coli pada air sumur non beton tidak memenuhi syarat karena jumlahnya melebihi batas yang ditentukan oleh Permenkes keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 416/MENKES/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan air menyatakan bahwa kualitas bakteriologis air bersih adalah 50sel/100ml. Nilai rerata MPN air sumur dengan konstruksi beton sampel 1,2,3 adalah 23/100mL, 39/100mL, 23/100mL dan nilai rerata MPN air sumur dengan konstruksi non beton sampel 1 dan 2 adalah 210/100mL dan 1100/100mL. Hal ini terjadi karena pada konstruksi sumur non beton mempunyai konstruksi sumur seadanya tidak menggunakan batu bata dan tidak diplester sehingga air dengan mudah dapat membawa kotoran masuk ke dalam sumur.

ANALISIS DAN UJI KESTABILAN ZAT WARNA KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETERUV-VISIBLE DAN INFRAMERAH

Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Vol 15, No 1 (2016): Pebruari 2016
Publisher : STIKes BTH Tasikmalaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kayu Secang (Caesalpinia sappan L.) dari famili caesalpiniaceae merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki potensi sebagai zat warna alami.Zat warna dihasilkan dari ekstrak hasil ekstraksi menggunakan pelarut air.Tahapan pengujian stabilitas dilakukan optimasi pH dan optimasi suhu pemanasan. Optimasi pH dilakukan dengan penambahan buffer sitrat pada pH 4,0; pH 4,5; pH 5,0; pH 5,5; pH 6,0 dan uji stabilitas terhadap suhu pemanasan dilakukan pada suhu 25oC, 30oC, 40oC, 50oC, 60oC, 70oC, 80oC, 90oC, 100oC selama 21 menit yang dilihat berdasarkan nilai absorbansi tertinggi pada panjang gelombang yang sama. Hasil dari penelitian diketahui bahwa kondisi optimum untuk ekstraksi zat warna dari kayu secang pada pH 6 dan suhu 90oC. Spektrum inframerah ekstrak kayu secang suhu 25oC dan suhu 90oC tidak menampakkan spektrum yang berbeda akan tetapi pada suhu 100oC terjadi perubahan pola spektrum.

AKTIVITAS KANGKUNG AIR (Ipomoea aquatica) TERHADAP JAMUR Pityrosporum ovale HASIL ISOLASI SECARA IN VITRO

Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : STIKes BTH Tasikmalaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telah dilakukan penelitian Aktivitas kangkung Air (Ipomoea aquatica) dengan menggunakan jamur Pityrosporum ovale yang diperoleh dari hasil isolasi Ketombe. Ketokonazol sebagai pembanding. Metode yang digunakan adalah difusi agar  dengan  perforasi. Bahan pemeriksaan berupa kerokan skuama kulit kepala penderita ketombe. Dilanjutkan dengan pembiakan pada Sabouraud Dekstrose Agar (SDA) olive oil pada suhu 37,0o C selama 3 hari. Hasil biakan (+) diencerkan dalam larutan NaCl Fisiologis steril dan dibuat sama kekeruhannya dengan larutan Mc Farland 0,5 kemudian diambil 0,2 cc dan ditanamkan pada media SDA olive oil dan dibuat lubang dengan diameter 6mm yang masing-masing lubang mengandung air rendaman kangkung dan ketokonazol 2%. Selanjutnya di inkubasi pada suhu 37,0o C selama 3 hari. Hasil menunjukan adanya aktivitas antijamur dengan konsentrasi hambat minimum (KHM) 40% v/v terhadap Pityrosporum ovale. Konsentrasi 40% v/v infusum setara dengan konsentrasi 0,013%v/v Ketokonazol.

ANALISIS MIKROBIOLOGI MINUMAN TEH KEMASAN BERDASARKAN NILAI APM KOLIFORM

Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Vol 15, No 1 (2016): Pebruari 2016
Publisher : STIKes BTH Tasikmalaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Nilai APM koliform dan koliform fekal serta Kualitas mikrobiologi dari minuman teh kemasan. Data penelitian hasil perhitungan nilai APM koliform dan koliform fekal, ditunjukkan pada nilai standar APM koliform maksimum BPOM RI Nomor HK.00.06.1.52.4011 tahun 2009. Hasil penelitian menunjukkan Nilai APM koliform dan koliform fekal pada sampel minuman teh kemasan memiliki nilai APM koliform melebihi standar yang disyaratkan yaitu kurang dari 2 sel/100 mL untuk APM koliform negatif/100 mL untuk APM koliform fekal. Ditemukan hasil positif Escherichia coli pada sampel KBK 1 dan KBK 2. Ditinjau dari nilai APM koliform dan nilai koliform fekal dapat disimpulkan bahwa kualitas mikrobiologi minuman teh kemasan pada semua sampel yang diuji pada penelitian ini tidak memenuhi syarat kualitas mikrobiologi air minum.

UJI SENSITIVITAS ANTIBIOTIK LEVOFLOXACIN YANG ADA DI PASARAN TERHADAP BAKTERI Salmonella thyphosa ATCC 2401

Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Vol 14, No 1 (2015)
Publisher : STIKes BTH Tasikmalaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini adalah untuk mengetahui sensitivitas Salmonella typhosa terhadap berbagai jenis antibiotik. Penelitian bersifat invitro dilakukan dengan media lingkungan buatan dan terkontrol bukan pada organisme hidup. Pada pengujian ini menggunakan strain murni Salmonella typhosa ATCC 2401 yang dilakukan uji sensitivitas terhadap 3 jenis antibiotik yaitu, levofloxacin, cefixim, dan cefditoren. Penelitian ini dilakukan dengan metode sumuran Kirby-Bauer. Interprestasi hasil dilihat dari zona bening yang terbentuk disekitar sumuran dan dibandingkan dengan standar sensitivitas menurut standar Ferraro. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Salmonella typhosa masih sensitif terhadap lefovloxacin pada konsentrasi terendah 20mg/mL; cefixim 50mg/mL; dan cefditoren 10mg/mL; resisten terhadap levofloxacin pada konsentrasi 10mg/mL; cefixim 10mg/mL; dan cefditoren 5mg/mL; intermediet terhadap cefixim terjadi pada konsentrasi 25mg/mL dan 20mg/mL. Sehingga dapat ditarik kesimpulan semua antibiotik tersebut resisten terhadap bakteri Salmonella typhosa.Kata kunci : levofloxacin, cefixim, cefditoren, Salmonell typhosa ATCC 2401.

UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR FORMULASI EMULSI MINYAK CENGKEH (Syzygium aromaticum L. Merr)

Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada Vol 12, No 1 (2014)
Publisher : STIKes BTH Tasikmalaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cengkeh merupakan tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri. Minyak atsiri bunga cengkeh memiliki khasiat diantaranya sebagai antiseptik dan antimikrobial. Cengkeh juga memiliki efektivitas untuk membasmi serangga, cendawan atau jamur. Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui formula yang paling baik dalam pembuatan sediaan emulsi minyak atsiri bunga cengkeh (Syzygium aromaticum) dan mengetahui aktivitas antijamur pada kayu. Metode yang digunakan dalam pembuatan sediaan emulsi minyak atsiri bunga cengkeh yaitu dengan cara memvariasikan jenis dan konsentrasi emulgator yang berbeda diantaranya yaitu PGA (Pulvis Gummi Arabicum), CMC (Carboxymethylselulosa) dan Tragakan. Setelah dilakukan pengujian organoleptik, pH, viskositas, uji homogenitas, tipe emulsi dan uji aktivitas sediaan. Didapatlah sediaan yang paling baik yaitu pada formula 4 dengan konsentrasi CMC (Carboxymethylselulosa) sebesar 0,5%. Dan pada pengujian aktivitas sediaan menunjukan diameter hambat yang didapat sebesar 29mm.

Uji Aktivitas Sediaan Gel Shampo Minyak Atsiri Buah Lemon (Citrus limon Burm.)

Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.405 KB)

Abstract

Ketombe merupakan gangguan yang terjadi di kulit kepala di mana salah satu penyebabnya adalah jamur. Salah satu bahan alam yang diketahui dapat digunakan sebagai antiketombe adalah buah lemon. Kandungan yang terdapat di dalam minyak atsiri buah lemon seperti flavanoid, monoterpen, dan seskuiterpen diketahui memiliki aktivitas sebagai antijamur. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas minyak atsiri buah lemon dalam bentuk sediaan gel sampo terhadap jamur Malassezia sp. Penelitian ini diawali dengan penetapan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dari minyak astsiri buah lemon secara mikrobiologi untuk mendapatkan konsentrasi bahan aktif dalam formulasi sediaan sampo gel. Orientasi formula meliputi variasi konsentrasi karbomer dan Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC) sebagai basis gel. Evaluasi stabilitas sediaan gel meliputi pengamatan organoleptis, homogenitas, pH, dan viskositas. Dilakukan uji aktivitas antiketombe dari formula terbaik terhadap jamur Malassezia sp. Hasil menunjukkan bahwa Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) minyak atsiri terhadap jamur Malassezia sp. adalah 0,5%. Formula yang menunjukkan hasil terbaik setelah evaluasi sediaan adalah formula yang mengandung basis HPMC sebanyak 6%. Sediaan sampo gel terbaik memiliki aktivitas sebagai antiketombe dengan memberika diameter hambat sebesar 29,4 mm terhadap jamur Malassezia sp. Kata kunci: Minyak atsiri, buah lemon, antiketombe, gel sampo, Malassezia sp.

Uji Aktivitas Sediaan Gel Shampo Minyak Atsiri Buah Lemon (Citrus limon Burm.)

Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.405 KB)

Abstract

Ketombe merupakan gangguan yang terjadi di kulit kepala di mana salah satu penyebabnya adalah jamur. Salah satu bahan alam yang diketahui dapat digunakan sebagai antiketombe adalah buah lemon. Kandungan yang terdapat di dalam minyak atsiri buah lemon seperti flavanoid, monoterpen, dan seskuiterpen diketahui memiliki aktivitas sebagai antijamur. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas minyak atsiri buah lemon dalam bentuk sediaan gel sampo terhadap jamur Malassezia sp. Penelitian ini diawali dengan penetapan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dari minyak astsiri buah lemon secara mikrobiologi untuk mendapatkan konsentrasi bahan aktif dalam formulasi sediaan sampo gel. Orientasi formula meliputi variasi konsentrasi karbomer dan Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC) sebagai basis gel. Evaluasi stabilitas sediaan gel meliputi pengamatan organoleptis, homogenitas, pH, dan viskositas. Dilakukan uji aktivitas antiketombe dari formula terbaik terhadap jamur Malassezia sp. Hasil menunjukkan bahwa Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) minyak atsiri terhadap jamur Malassezia sp. adalah 0,5%. Formula yang menunjukkan hasil terbaik setelah evaluasi sediaan adalah formula yang mengandung basis HPMC sebanyak 6%. Sediaan sampo gel terbaik memiliki aktivitas sebagai antiketombe dengan memberika diameter hambat sebesar 29,4 mm terhadap jamur Malassezia sp. Kata kunci: Minyak atsiri, buah lemon, antiketombe, gel sampo, Malassezia sp.

Studi In Silico Metabolit Sekunder Kapang Monascus sp. Sebagai Kandidat Obat Antikolesterol dan Antikanker

ALCHEMY Jurnal Penelitian Kimia Vol 15, No 1 (2019): INPRESS Vol 15, No 1 (2019) Alchemy Jurnal Penelitian Kimia
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (83.745 KB)

Abstract

Kapang Monascus sp. secara tradisional telah digunakan dalam fermentasi beras merah (angkak) yang bermanfaat sebagai pewarna makanan, pengawet makanan maupun obat-obatan. Saat ini, beras angkak telah menjadi suplemen makanan yang terkenal karena banyaknya senyawa bioaktif yang terkandung seperti monakolin, pigmen, asam dimerumat dan lain-lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan metabolit sekunder kapang Monascus sp. yang meliputi senyawa monakolin dengan efek antikolesterol, pigmen dengan efek antikanker pada kanker payudara serta memprediksi toksisitas senyawa melalui studi in silico. Senyawa uji terdiri dari 14 senyawa monakolin dan 33 pigmen Monascus sp. Protein HMG KoA (3-hidroksi-3-metilglutaril koenzim A) reduktase digunakan sebagai reseptor antikolesterol sementara estrogen alfa, estrogen beta, dan aromatase digunakan sebagai reseptor antikanker. Perangkat lunak AutoDock digunakan untuk menganalisis kompleks struktural reseptor dengan senyawa uji. Prediksi toksisitas dilakukan menggunakan perangkat lunak ADMET predictor dan QSAR Toolbox. Prediksi toksisitas dan hasil docking menunjukkan bahwa asam monakolin L menunjukkan aktivitas antikolesterol yang baik terhadap HMG KoA reduktase; pigmen monaskin menunjukkan aktivitas antikanker yang selektif terhadap reseptor estrogen beta; dan keduanya diprediksi aman. Prediksi toksisitas senyawa monakolin dan pigmen Monascus sp. menunjukkan terdapat 7 senyawa monakolin yaitu 3-hidroksi-3,5-dihidromonakolin L, asam dihidromonakolin L, monakolin L, asam monakolin J, monakolin J, asam monakolin L , monakolin M, dan 5 pigmen Monascus sp. yaitu ankaflavin, monaskin, monaskopiridin A, monaskopiridin B dan monascuspiloin yang dinyatakan tidak toksik. Tujuh pigmen Monascus sp. yang terdiri dari monankarin A, monankarin B, monankarin C, monankarin D, monankarin E, monankarin F, dan monasfluol A bersifat positif mutagen, karsinogen dan toksik terhadap reproduksi. Hasil penelitian ini berpotensi dapat diaplikasikan untuk desain dan pengembangan obat antikolesterol dan antikanker.In Silico Study of Secondary Metabolites of Monascus sp. as a candidate for anticholesterol and anticancer drugs. The fungus Monascus sp. has traditionally been used to prepare red fermented rice (angkak) as a natural food colorant, food preservative or medicinal agent. Recently, it has become a popular dietary supplement due to many of its bioactive constituents such as monacolin compounds, pigments, and dimerumic acid, etc. These functional constituents also had been deemed to be provided with various health benefits. This research aims to find secondary metabolites of monacolin compounds with antihypercholesterolemic effect, Monascus sp. pigment with anticancer effect on breast cancer, and predict their toxicity through in silico study. The studied compounds consist of 14 monacolin compounds and 33 Monascus sp. pigments. HMG CoA (3-hydroxy-3-methylglutaryl Coenzyme A) reductase protein was used as antihypercholesterolemic receptor in which estrogen alfa, estrogen beta, and aromatase were used as anticancer receptors. AutoDock docking software was used to analyze structural complexes of the receptors with studied compounds. Toxicity prediction was done using ADMET predictor and QSAR Toolbox softwares. Toxicity prediction and docking results revealed that monacolin L acid exhibits good anticholesterol activity towards HMG CoA reductase; monascin pigment exhibits selective anticancer activity towards estrogen beta receptor; and both of them were predicted to be safe. Toxicity prediction of studied compounds showed that 7 monacolin compounds which are 3-hydroxy-3,5-dihydromonakolin L, dihydromonacolin L acid, monacolin L, monacolin J acid, monacolin J, monacolin L acid, monacolin M and 5 Monascus sp. pigments which are ankaflavin, monascin, monascopyridine A, monascopyridine B dan monascuspiloin are not toxic. Seven Monascus sp. pigments which are monankarin A, monankarin B, monankarin C, monankarin D, monankarin E, monankarin F and monasfluol A are mutagenic, carcinogenic and also reprotoxic. The research results could be useful for the design and development of the anticholesterol and anticancer drugs.