Articles

Found 40 Documents
Search

Terapi untuk Bell’s Palsy Berdasarkan Tingkat Keparahan Nurkholbiah, Chintami; Halimah, Eli
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jf.v14i2.10807

Abstract

Bell’s palsy adalah kelumpuhan akut yang terjadi pada bagian saraf wajah yang tidak diketahui penyebabnya.  Tujuan dari penulisan review ini yaitu untuk mengetahui terapi pada kasus Bell’s  palsy berdasarkan Guideline dan tingkat keparahan. Metode yang digunakan yaitu dengan  mencari beberapa jurnal ilmiah dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan  topik yang akan dibahas dalam  tulisan ini. Berdasarkan beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi untuk Bell’s palsy dengan tingkat keparahan ringan, sedang, dan berati lebih efektif ketika diberi terapi kombinasi yaitu obat kortikosteroid dengan obat antiviral dibandingkan dengan terapi tunggal yaitu pemberian obat kortikosteroid atau obat antiviral. Dan untuk terapi tunggal, pemberian obat kortikosteroid lebih baik dibandingkan dengan terapi obat antiviral saja.Kata kunci: Bell’s palsy, kortikosteroid, antiviral
Pengujian Efek Antikalkuli dari Herba Seledri (Apium graveolens L.) secara In Vitro Rusdiana, Taofik; Sriwidodo, Sriwidodo; Solahudin, Jajan; Halimah, Eli; Irwan, Aep W; Amin, Suseno; Sumiwi, Sri A; Abdassah, Marline
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology Vol 2, No 2 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijpst.v2i2.7812

Abstract

Tanaman seledri (Apium graveolens L.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder antara lain flavonoid, polifenol, dan kuinon. Tanaman seledri selain untuk bumbu masakan dan sayuran, telah lama digunakan sebagai obat tradisonal untuk penurun tekanan darah tinggi (hipertensi), diuretik, dan hematuria. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap khasiat lain dari tanaman seledri sebagai antikalkuli atau peluruh batu ginjal. Pengujian efek antikalkuli (bagian dari uji preklinis) dilakukan secara in vitro yaitu dengan menguji tingkat kelarutan komponen batu ginjal (kalsium oksalat atau magnesium ammonium fosfat) sebagai solut (100 mg serbuk batu) dalam berbagai variasi konsentrasi sediaan cair seledri sebagai solven dibandingkan dengan solven air (volumen= 10 mL, suhu= 37 oC, waktu= 4 dan 24 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cairan infusa seledri pada konsentrasi 1,3; 3,3; dan 5,0% dapat melarutkan komponen kalsium dan magnesium batu ginjal dengan tingkat kelarutan yang secara signifikan lebih besar dibandingkan kelarutan dalam air sebagai kontrol negatif (konsentrasi 5%, Ca: 4,657 vs 199 ppm, Mg: 9,912 vs 9,37 ppm). Sementara fraksi air dari ekstrak metanol seledri juga menunjukkan daya larut yang signifikan terhadap baik kalsium maupun magnesium komponen batu ginjal pada konsentrasi pada 0,5% dibandingkan air (Ca: 3,7 vs 1,5 ppm dan Mg: 25,9 vs 14,5 ppm). Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa herba seledri memiliki potensi sebagai peluruh batu ginjal dengan mekanisme melarutkan kristal komponen batu ginjal. Kata kunci: Antikalkuli, Apium graveolens L., batu ginjal, seledri
Pengaruh Asupan Makanan dan Aktivitas Fisik Terhadap Osteoporosis Pada Wanita Lanjut Usia Anugrah, Suci Dewi; Halimah, Eli
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10764

Abstract

Osteoporosis adalah suatu penyakit yang ditandai dengan berkurangnya masa tulang dan adanya perubahan mikroarsitektur jaringan tulang yang berakibat menurunnya kekuatan tulang dan meningkatnya kerapuhan tulang serta risiko terjadinya patah tulang. Metode yang dilakukan adalah penelusuran pustaka melalui jurnal-jurnal publikasi ilmiah yang terpercaya, juga menggunakan beberapa text book. Tingkat kecukupan kalsium dan aktivitas fisik lebih berpeluang terhadap terjadinya osteoporosis, karena kalsium memiliki keterkaitan yang cukup konsisten dengan kesehatan tulang. Dan kurangnya aktivitas fisik berdampak pada penurunan kepadatan tulang di masa lanjut usia. Mengkonsumsi teh hijau Jepang dapat meningkatkan kepadatan mineral tulang sehingga mencegah terjadinya osteoporosis.Kata Kunci: Osteoporosis, mikroarsitektur, kalsium, aktivitas fisik, teh hijau Jepang.
NEURAMINIDASE INHIBITOR VIRUS INFLUENZA A (H5N1): RESISTENSI DAN PENGEMBANGAN OBAT ANTIVIRUS NEURAMINIDASE Junaidi, Achmad; Halimah, Eli
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jf.v14i1.11115

Abstract

Virus influenza merupakan penyebab utama mortalitas dan morbiditas pada penyakit pernapasan. Neuraminidase merupakan protein utama pada permukaan virus yang berperan dalam menginfeksi sel target dengan memutuskan terminal asam neuraminat dari sel reseptor. Terdapat dua golongan antivirus untuk pengobatan dan pencegahan influenza yaitu inhibitor M2 dan inhibitor neuraminidase. Terdapat empat obat inhibitor neuraminidase yang telah diakui yaitu zanamivir, oseltamivir, peramivir, dan lanamivir. Dalam ulasan ini terfokus pada resistensi obat inhibitor neuraminidase. Inhibitor neuraminidase telah mengalami resistensi terhadap virus influenza. Virus influenza telah banyak mengalami mutasi di antaranya V116A, I117V, R118K, E119V, E119G, E119A/D, Q136K, D151E/G/N, R152K, D198N, I222V, R224K, H274Y, E276D, R292K, N2945, I314V, dan R371K. Adanya resistensi akibat mutasi gen tersebut diperlukan pengembangan senyawa sebagai antivirus influenza. Xanthone dari buah manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu senyawa yang memiliki aktivitas dalam menghambat neuraminidase virus H5N1.
Perbandingan Efektivitas Ampisilin dengan Ampisilin-Gentamisin pada Pasien Balita dengan Pneumonia California, Salma H.; Sinuraya, Rano K.; Halimah, Eli; Subarnas, Anas
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2018.7.1.52

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian anak usia di bawah lima tahun (balita) di dunia. Terapi antibiotik untuk pneumonia biasanya dipilih secara empirik karena mikroorganisme penyebab pneumonia belum dapat diketahui saat diagnosis. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas terapi antibiotik empirik pneumonia dengan menggunakan ampisilin tunggal maupun dikombinasikan dengan gentamisin pada balita yang dirawat dengan pneumonia di salah satu rumah sakit di kota Bandung pada tahun 2013–2015. Metode penelitian yang digunakan adalah potong lintang dengan pengambilan data sekunder secara retrospektif. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Chi Square, uji Fisher, dan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan efektivitas antara pasien yang diterapi menggunakan ampisilin maupun ampisilin-gentamisin dari parameter perbaikan batuk (p=0,381), sesak (p=0,294), demam (p=0,405), maupun laju pernapasan (p=0,306), namun terdapat perbedaan pada lama hari rawat (p<0,001). Tidak adanya perbedaan efektivitas pada parameter perbaikan gejala (sesak dan batuk) dan tanda (suhu tubuh dan laju pernapasan) tersebut dapat menjadi dasar untuk rekomendasi penggunaan ampisilin tunggal sebagai pilihan terapi utama pada pasien pneumonia balita. Selain pertimbangan efektivitas terapi, pemberian terapi antibiotik harus memperhatikan aspek lain seperti pola kepekaan bakteri, risiko efek samping pada pasien, serta efektivitas biaya.Kata kunci: Anak, antibiotik, efektivitas, pneumonia, terapi empirik Effectiveness of Ampicillin and Ampicillin-Gentamicin for Children under Five Years Old with PneumoniaPneumonia was one of the main causes of mortality in children aged under five years old. Empirical antibiotic therapy was usually selected in pneumonia because the microorganisms have not been known at diagnosis. The purpose of this study was to compare the effectiveness of empirical antibiotic therapy using ampicillin or ampicillin-gentamicin for children aged under five years old with pneumonia at one hospital in Bandung in period of 2013–2015. The method used in this study was cross-sectional method with retrospective data collection. Collected data were analyzed using Chi-Square, Fisher, and Mann-Whitney methods. The results showed that there was no difference in effectiveness between patients treated with ampicillin and ampicillin-gentamicin from improvement of cough (p=0.381), shortness of breath (p=0.294), fever (p=0.405), and respiratory rate (p=0.306) parameters but there was a difference in length of stay (p<0.001). Therefore, it might be the basis for the use of a single ampicillin as a primary treatment option in pneumonia for children aged under five years old. In addition, antibiotic therapy should consider other aspects such as bacterial susceptibility patterns, the risk of side effects in patients, as well as cost effectiveness.Keywords: Antibiotic, children, effectiveness, empirical therapy, pneumonia
N-MID Osteocalcin (N-MID Oc) dan β-Crosslaps (β-CTx) sebagai Penanda Biokimia Bone Turn Over pada Wanita Menopause Halimah, Eli; Rositawati, Wiwik; Pratiwi, Irma
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.1.67

Abstract

  Osteocalcin merupakan senyawa penanda untuk pembentukan tulang sedangkan β-CrossLaps (β-CTx) merupakan fragmen hasil pemecahan kolagen tipe 1. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menentukan N-MID osteocalcin (N-MID Oc) dan β-CTx sebagai penanda biokimia Bone Turn Over untuk deteksi dini osteoporosis pada wanita menopause. Nilai N-MID Oc dalam serum ditentukan dengan pereaksi Elecsys N-MID Osteocalcin kit dan nilai β-CTx dalam serum ditentukan dengan pereaksi Elecsys β-CROSSLAPS kit yang bekerja berdasarkan prinsip Electrochemiluminescence Immunoassay (ECLIA). Data yang diperoleh diuji dengan menggunakan Uji-T. Sampel yang dikumpulkan berasal dari wanita normal, osteopenia, dan penderita osteoporosis pada wanita menopause. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan nilai N-MID Oc pada wanita menopause normal dengan wanita menopause osteopenia, wanita menopause normal dengan wanita menopause penderita osteoporosis dan wanita menopause osteopenia dengan wanita menopause penderita osteoporosis (α=0,05), sedangkan pada nilai β-CTx terdapat perbedaan antara wanita menopause normal dengan wanita menopause osteopenia, wanita menopause osteopenia dengan wanita menopause osteoporosis, tetapi antara wanita menopause osteopenia dengan wanita menopause osteoporosis tidak menunjukkan perbedaan (α=0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa N-MID Oc dan β-CTx dapat dijadikan parameter untuk deteksi dini osteoporosis.Kata kunci: N-MID Osteocalcin (N-MID Oc), Osteoporosis, β-CrossLaps (β-CTx) N-MID Osteocalcin (N-MID Oc) and β-Crosslaps (β-CTx) as Biochemical Markers of Bone Turnover in Menopausal Women Osteocalcin is a marker compound for bone formation while the β-crosslaps a fragment split from collagen type 1. The aims of this study were to determined of the value of N-MID osteocalcin (N-MID Oc) and β-CTx as a biochemical marker of Bone Turn Over as early detection of osteoporosis in postmenopausal women. The value of N-MID Oc in serum was determined by reagent Elecsys N-MID Osteocalcin kit and the value of β-CTx in serum was determined by reagent Elecsys β-Crosslaps kit which works with the principle of Electrochemiluminescence Immunoassay (ECLIA). The data obtained were examined using T-test. The sample collected from normal, osteopenia, and osteoporotic in menopausal women. There were a significant difference N-MID Oc between normal, osteopenia, and osteoporotic in menopausal women (α=0,05). There were significant differences of β-CTx between normal and osteopenia, normal and osteoporosis but between osteopenia and osteoporotic menopausal women not showed any difference (α=0,05). N-MID Osteocalcin (N-MID Oc) and β-CTx can be used as parameter for early detection of osteoporosis.Key words: N-MID Osteocalcin (N-MID Oc), Osteoporosis, β-CrossLaps (β -CTx)
Heart-type Fatty Acid-Binding Protein (H-FABP) sebagai Penanda Biokimiawi untuk Membedakan Stroke Iskemik dan Hemoragik Halimah, Eli; Liswati, Evy; Sasmita, Erwin
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2017.6.1.55

Abstract

Stroke merupakan sindrom neurologis yang bersifat akut yang terjadi karena adanya penurunan alirandarah yang disebabkan oleh terhambat atau pecahnya pembuluh darah otak (cerebrovaskular) yangmenyebabkan kerusakan jaringan otak. Berdasarkan patogenesisnya, terdapat dua jenis stroke, yaitustroke iskemik dan hemoragik, di mana penanganan pengobatan pada kedua jenis stroke tersebut sangatberbeda sehingga diperlukan diagnosis diferensial untuk membedakan kedua jenis stroke tersebut. Tujuanpenelitian ini yaitu untuk menentukan apakah Heart-type Fatty Acid-Binding Protein (H-FABP) dapatdijadikan sebagai parameter penanda biokimiawi untuk membedakan stroke iskemik dan hemoragik.Penetapan kadar H-FABP dilakukan dengan menggunakan serum darah dan dianalisis dengan metodeEnzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) sandwich masing-masing menggunakan H-FABP testkit. Serum darah diambil dari 20 orang pasien stroke iskemik dan 18 orang pasien stroke hemoragikdari Instalasi Gawat Darurat (IGD), Unit Stroke dan Instalasi Rawat Inap di salah satu Rumah SakitUmum di Jakarta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar rata-rata H-FABP pada pasien strokeiskemik sebesar 9,07 ng/mL sedangkan pasien stroke hemoragik sebesar 18,54 ng/mL; secara statistikterdapat perbedaan kadar H-FABP yang signifikan antara pasien stroke iskemik dan hemoragik (α=0,05).Dengan demikian, Heart-type Fatty Acid-Binding Protein (H-FABP) dapat dijadikan sebagai salah satuparameter penanda biokimiawi untuk membedakan stroke iskemik dan hemoragik.
Hubungan Pola Sensitivitas Bakteri pada Penggunaan Antibiotik Empirik terhadap Pencapaian Clinical Outcome Pasien Pneumonia Anak Gatera, Vesara A.; Muhtadi, Ahmad; Halimah, Eli; Prasetyo, Dwi
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 3, No 4 (2014)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2014.3.4.127

Abstract

Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi yang memerlukan upaya komprehensif dan efektif dalam penanganannya terutama dalam penggunaan antibiotik empiris. Penggunaan antibiotik empiris harus berdasarkan pola sensitivitas terhadap bakteri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan antibiotik berdasarkan pola sensitivitas dengan memperhatikan faktor clinical outcome pasien sebagai tujuan pengobatan. Penelitian ini dilaksanakan di RS Dr. Hasan Sadikin pada bulan Oktober–Desember 2013 dengan menerapkan desain potong lintang secara retrospektif. Data sekunder diperoleh dari rekam medis dalam kurun waktu Januari 2011–Desember 2012. Objek penelitian terdiri dari rekam medis 24 pasien berusia 1–5 tahun dengan hasil kultur positif dan menerima resep antibiotik. Hasil penelitian ini menunjukkan penggunaan sefotaksim-ampisilin sebesar 37,5%, sefotaksim 33,3%, ampisilin 20,8%, dan seftriakson 8,4%. Antibiotik yang paling memengaruhi pencapaian clinical outcome dengan taraf kepercayaan 95% adalah kombinasi sefotaksim-ampisilin (p=0,044) dengan tingkat sensitivitas 77,7%. Pola sensitivitas penggunaan antibiotik memengaruhi clinical outcome padapasien pneumonia anak.Kata kunci: Clinical outcome, pneumonia, sensitivitas antibiotikAssociation of Pattern of Bacteria Sensitivity During the Empirical Antibiotics Use to the Achievement of Clinical Outcome in Pediatric Patients with PneumoniaPneumonia is one of infectious diseases that require a comprehensive and effective effort in its treatment,including in the use of empirical antibiotics. The use of empirical antibiotics should be based on patterns of sensitivity toward bacteria. The aim of this study was to evaluate the use of antibiotics based on the sensitivity patterns by clinical outcomes as the goal of treatment. This study was conducted in Hasan Sadikin Hospital Bandung in October–December 2013 using a retrospective cross-sectional study design. Secondary data were obtained from medical records during January 2011–December 2012. This study consisted of 24 patients with positive culture test and received antibiotic prescription. The results showed the percentage of the use of cefotaxime-ampicillin (37.5%), cefotaxime (33.3%), ceftriaxone (20.8%), and ampicillin (8.4%). The most influential antibiotics for achieving clinical outcome using 95% confidence level is combination of cefotaxime-ampiciline (p=0.044) with 77.7% sensitivity level. This study suggested that the pattern of antibiotic sensitivity affected the clinical outcomes of pediatric patients with pneumonia.Key words: Clinical outcome, pneumonia, sensitivity of antibiotic
Pola Peresepan Rawat Jalan: Studi Observasional Menggunakan Kriteria Prescribing Indicator WHO di Salah Satu Fasilitas Kesehatan Bandung Destiani, Dika P.; Naja, Syahrul; Nurhadiyah, Aminah; Halimah, Eli; Febrina, Ellin
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 5, No 3 (2016)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2016.5.3.225

Abstract

Penelitian ini dilakukan sebagai tahap awal evaluasi peresepan obat di salah satu fasilitas kesehatan yang akan dilakukan berkala untuk meningkatkan kualitas pengobatan pasien dengan menggunakan lima indikator peresepan berdasarkan guideline World Health Organization (WHO) yaitu jumlah obat per lembar resep, penggunaan obat generik, antibiotik, obat injeksi, dan obat esensial. Pengumpulan data resep rawat jalan diambil secara retrospektif pada periode April 2015–Maret 2016 di salah satu fasilitas kesehatan di Bandung. Sebanyak 1.814 lembar resep dengan 3.886 obat yang termasuk kriteria inklusi, diperoleh rata-rata jumlah obat per lembar yaitu 2,13 obat. Penggunaan obat generik sebesar 57,47% dari 3.886 obat. Persentase penggunaan antibiotik sebesar 15,52% dan sediaan injeksi 0,41% dari 1.814 lembar resep, sedangkan penggunaan obat esensial sebesar 39,49% dari 3.886 obat yang diresepkan. Berdasarkan hasil tersebut penggunaan obat generik dan esensial masih sangat jauh dari standar WHO (100%) sedangkan penggunaan antibiotik dan obat injeksi memiliki nilai rendah dibandingkan dengan nilai rujukan World Health Organization. Kata kunci: Indikator peresepan, obat, WHO Prescribing of Outpatient: Observational Study Using WHO Prescribing Indicator in One of Health Care Facilities in Bandung This study was held to evaluate drug pattern in one of the health facilities in Bandung using five World Health Organization guideline for prescribing indicators, which include average number of drugs per encounter, percentage of drugs prescribed by generic name, percentage of encounters with an antibiotic, injection prescribed, and drugs prescribed from essential drugs list or formulary. Outpatient prescriptions were collected retrospectively from April 2015–March 2016. Average number of drugs per encounter 2.13 was gained by dividing 3,886 drugs with 1,814 prescriptions. Percentage of using generic drugs were 57.47%, antibiotics were 15.52 % and 0.41% for injections per encounters, whereas percentage of drugs prescribed from essential drugs list was 39.49%. The result showed that usage of generic and essential drugs were still far from WHO standard (100%) while the usage of antibiotics and injections were lower than World Health Organization recommendation.Keywords: Drug, prescribing indicators, WHO
Monitoring Penggunaan Antibiotik dengan Metode ATC/DDD dan DU 90%: Studi Observasional di Seluruh Puskesmas Kabupaten Gorontalo Utara Pani, Sarini; Barliana, Melisa I.; Halimah, Eli; Pradipta, Ivan S.; Annisa, Nurul
Indonesian Journal of Clinical Pharmacy Vol 4, No 4 (2015)
Publisher : Indonesian Journal of Clinical Pharmacy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/ijcp.2015.4.4.280

Abstract

Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dapat menyebabkan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Monitoring penggunaan antibiotik diperlukan dalam mendukung program pemerintah khususnya Dinas Kesehatan yang menyatakan penggunaan antibiotik untuk penyakit ISPA non-pneumonia adalah kurang dari 20%. Evaluasi penggunaan antibiotik ini menggunakan metode ATC/DDD dan DU 90%. Antibiotik yang digunakan untuk ISPA non-pneumonia adalah sebanyak 9 jenis dan antibiotik yang masuk dalam DU90% sebanyak 3 jenis yaitu amoksisilin 500 mg (2,723 DDD/1000 pasien-hari), siprofloksasin (0,378 DDD/1000 pasien-hari) dan sefadroksil (0,202 DDD/1000 pasien-hari). Analisis data secara kuantitatif menggunakan ATC/DDD menunjukkan bahwa antibiotik yang banyak digunakan adalah amoksisilin (500 mg) 2723 DDD/1000 pasien-hari dan yang paling sedikit yaitu amoksisilin (125 mg/5 ml) 1,5 DDD/1000 pasien-hari. Efek peresepan penggunaan antibiotik jangka pendek pada pelayanan pengobatan dasar dapat meningkatkan kejadian resistensi. Diperlukan studi kualitatif untuk mengetahui pola ketidakrasionalan penggunaan antibiotik di pusat pelayanan kesehatan masyarakat tersebut dan mengembangkan model intervensinya.Kata kunci: ATC/DDD, DU 90%, ISPA non-pneumonia antibiotikMonitoring the Use of Antibiotics by the ATC/DDD Method and DU 90%: Observational Studies in Community Health Service Centers in North Gorontalo DistrictIrrational use of antibiotics may lead to increase morbidity and mortality. Monitoring of antibiotics was required to support government programs, especially The Department of Health stating the use of antibiotics for non-respiratory diseases pneumonia was less than 20%. The evaluation of antibiotics use in this research applied ATC / DDD methods and DU 90%. The antibiotic used for non-pneumonia ARI were 9 types and the antibiotics contained DU 90% were three types namely amoxicillin 500 mg (2,723 DDD/1000 patients-year), ciprofloxacin (0,378 DDD/1000 patients-day) and cefadroxil (0,202 DDD/1000 patients-day). Quantitative data analysis using the ATC / DDD indicated that the most used antibiotic was amoxicillin (500 mg) 2723 DDD / 1000 patients-day and the least was amoxicillin (125 mg / 5 ml) 1.5 DDD / 1000 patients-day. The effects of short-term use of antibiotic prescribing in primary medical care could increase the resistance. Qualitative studies were needed to determine the pattern of irrational antibiotic use in community health service center and to develop the intervention model.Keywords: ARI non-pneumonia antibiotics, ATC/DDD, DU 90%