Articles

Found 6 Documents
Search

Pengaruh Suhu Dan Lama Pengeringan Terhadap Sifat Kimia Dan Organoleptik Sale Pisang Kapas (Musa Comiculata) Marwati, Marwati; Yuliani, Yuliani; Andriyani, Yulian; Mentari, Mentari
JURNAL KIMIA MULAWARMAN Vol 15 No 1 (2017)
Publisher : Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banana ?kapas? is an original banana cultivar from Samarinda, with the characteristics at the time of mature is yellow fruit skin color, flesh color yellowish white and has a sweet taste. During this time the banana kapas has not been utilized properly. Based on the characteristics possessed by banana kapas can be processed into the processed products sale banana. This study aims to determine the effect of temperature and drying time on the chemical properties of sale of banana kapas produced, the level of panelist reception at organoleptic test and to get the time and temperature of the dryer that produces a quality banana sale based on chemical properties and organoleptic. The results showed that the temperature and duration of the dryer and its interactions had the significant effect on water content, ash content, vitamin C and reducing sugar content. Treatment with temperature 75oC and 21 hours drying time gave the best result with water content, ash content, vitamin C and reducing sugar are 32.80%, 1.13%, 60.65 mg/g and 16.08% respectively. For hedonic test, hedonic values of color, flavor, aroma and texture is like the hedonic quality of brown, sweet taste, rather banana flavored and hard texture.    
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI ACTIVE LEARNING TIPE CARD SORT Mentari, Mentari; Khair, Asmaul; Khair, Asmaul; Sofiani, Siti Rachmah; Sofiani, Siti Rachmah
Jurnal Pedagogik Vol 4, No 4 (2016): Jurnal Pedagogik
Publisher : Jurnal Pedagogik

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (13.406 KB)

Abstract

The purpose of this research was to increase the activity and student’s achievement of mathematics in IV grade of SD Negeri 1 Jurang Ubung by implementing active learning model card sort type. Type of this research was Classroom Action Research (CAR) conducted in 2 cycles. Each cycles were planning, acting, observing, and reflecting. Data were obtained through non-test and test techniques by using the observation sheet and questions test. Data were analyzed by using qualitative analysis and quantitative analysis. The result of this research showed that the implementation of active learning model card sort  type in mathematics learning will increase student’s activities and student’s learning result. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas IV SD Negeri 1 Jurang Ubung melalui model active learning tipe card sort. Jenis penelitian adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan 2 siklus. Tiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Data diperoleh melalui teknik non tes dan tes dengan menggunakan lembar observasi dan soal tes. Teknik analisis data menggunakan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model active learning tipe card sort pada pembelajaran matematika dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.  Kata kunci: aktivitas, hasil belajar, matematika, active learning, card sort.  
Analisis Pengukuran Daya Hantar Listrik Dan Komponen-Komponen Air Sumur Gali Dengan Konduktivitimeter Di Desa Sialang Buah Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai Situmorang, Rappel; Mentari, Mentari
EINSTEIN Vol 4, No 3 (2016): EINSTEIN
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.861 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat Daya Hantar Listrik (DHL) air sumur gali di Desa Sialang Buah.Dan tingkat intrusi pada air sumur gali suatu kualitas air yang selama ini dikonsumsi oleh warga. Dalam penelitian ini digunakan 5 sampel air laut dan 20 sampel air sumur gali di Desa Sialang Buah.Untuk mengetahui besarnya Daya Hantar Listrik (DHL) dari tiap sampel tersebut digunakan konduktivitimeter. Hasil yang diperoleh, air sumur gali di Desa Sialang Buah memiliki kualitas air dengan kategori terintrusi sedang, terintrusi agak tinggi dan terintrusi tinggi. Dengan DHL sumur gali ke-19 246,28µmho/cm (terintrusi sedang) dan DHL sumur gali ke-15 1038,32µmho/cm (terintrusi tinggi). Memiliki keasaman berkisar 6,1 – 7,5. Dan sumur gali ke-17 memiliki pH diatas standar kelayakan air untuk dikonsumsi yaitu 8,1. Namun melihat kualitas air sumur gali dari 20 sampel yang diteliti bahwa air sumur gali tersebut telah terintrrusi maka dapat dinyatakan tidak layak/tidak dapat dikonsumsi. Air sumur gali di Desa Sialang Buah Kecamatan Teluk Mengkudu Kabupaten Serdang Bedagai memiliki kualitas air dengan kategori terintrusi sedang, terintrusi agak tinggi dan terintrusi tinggi. Kata Kunci : Intrusi Air Laut, Daya Hantar Listrik dan Konduktivitimeter
ANALYSE DE LA SÉQUENCE NARRATIVE DANS LE ROMAN VINGT MILLE LIEUES SOUS LES MERS PAR JULES VERNE Mentari, Mentari; Marice, Marice; Fibriasari, Hesti
HEXAGONE Jurnal Pendidikan, Linguistik, Budaya dan Sastra Perancis Vol 5, No 1 (2016): HEXAGONE
Publisher : HEXAGONE Jurnal Pendidikan, Linguistik, Budaya dan Sastra Perancis

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.858 KB)

Abstract

RÉSUMÉ Le but de cette recherche est de savoir les types de la séquence narrative : la situation initiale, l’événement perturbateur, l’aggravation, la lutte, la situation finale et la variées de séquence narrative qui se trouve dans le roman Vingt Mille Lieues sous les Mers par Jules Verne. La méthode de cette recherche est la méthode descriptive qualitative. Les donnés de cette recherche utilisent le roman Vingt Mille Lieues sous les Mers par Jules Verne au mois de janvier – mars 2016. Le résultat de cette recherche montre que les formes de séquence narrative dans le roman Vingt Mille Lieues sous les Mers par Jules Verne sont la situation finale, la lutte,  l’aggravation, l’événement perturbateur, et la situation initiale. Mais, la situation initiale parfois n’existe pas à chaque chapitre, car le roman Vingt Mille Lieues sous Les Mers par Jules Verne est un roman d’aventure qui a des liens l’histoire entre les chapitres et les autres chapitres. Alors, l’histoire du roman Vingt Mille Lieues sous les Mers par Jules Verne commence par l’aggravation, car l’aggravation exprime en analysant en détail le rôle de tous les éléments du récit; l’acte qui provoque un conflit; comment les différends plus de chiffres séparés, avec un pic progressivement à travers les questions de conflit complexes et il y a 3 variées séquence narrative qui peut être trouvé dans le roman Vingt Mille Lieues sous les Mers par Jules Verne, entre autre : v, w, x, y, z, trouvées dans le roman au chapitre I et IV. Ensuite, w, x, y, z, trouvées dans le roman au chapitre II, VI, VIII et IX. Enfin, x, y, z, trouvée dans le roman au chapitre III, V et VII. Mots-clés : Séquence Narrative, Roman
PENGARUH AKTIVITAS PENAMBANGAN TIMAH TERHADAP KUALITAS AIR DI SUNGAI BATURUSA KABUPATEN BANGKA Mentari, Mentari; Umroh, Umroh; Kurniawan, Kurniawan
Akuatik: Jurnal Sumberdaya Perairan Vol 11 No 2 (2017): AKUATIK : Jurnal Sumberdaya Perairan
Publisher : Department of Aquatic Resources Management, Faculty of Agriculture, Fisheries, and Biology, University of Bangka Belitung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.045 KB)

Abstract

Sungai Baturusa merupakan salah satu sungai di Kabupaten Bangka yang memiliki panjang 31,25 km. Sungai ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai sumber mata pencaharian. Kualitas air Sungai Baturusa saat ini tidak lagi optimal disebabkan pengaruh aktivitas penambangan timah. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji kandungan logam berat Cu (Tembaga) dan Zn (Seng) tahun 2015, 2016 dan 2017 di Sungai Baturusa dan menganalisis tingkat pencemaran Sungai Baturusa akibat aktivitas penambangan timah. Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari 2017 di Sungai Baturusa Kabupaten Bangka terdiri dari 3 titik ulangan. Ulangan ke-1 daerah yang berdekatan dengan pemukiman, ulangan ke-2 daerah penambangan timah, sedangkan ulangan ke-3 daerah yang berdekatan dengan tambak udang. Metode analisis data yang digunakan yaitu Metode Indeks Pencemaran. Hasil yang didapat pada analisis sampel kemudian dibandingkan dengan baku mutu kualitas air kelas II berdasarkan Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2001. Tahun 2015 dan 2016 menunjukkan status air dalam kondisi cemar ringan dengan nilai masing-masing 1,59 dan 1,87, sedangkan tahun 2017 ulangan 1, 2 dan 3 menunjukan status air dalam kondisi cemar sedang dengan nilai masing-masing 5,61 ; 5,68 dan 5,13.
ANALYSE DE LA SÉQUENCE NARRATIVE DANS LE ROMAN VINGT MILLE LIEUES SOUS LES MERS PAR JULES VERNE Mentari, Mentari; Marice, Marice; Fibriasari, Hesti
HEXAGONE Jurnal Pendidikan, Linguistik, Budaya dan Sastra Perancis Vol 5, No 1 (2016): HEXAGONE
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.858 KB)

Abstract

RÉSUMÉ Le but de cette recherche est de savoir les types de la séquence narrative : la situation initiale, l’événement perturbateur, l’aggravation, la lutte, la situation finale et la variées de séquence narrative qui se trouve dans le roman Vingt Mille Lieues sous les Mers par Jules Verne. La méthode de cette recherche est la méthode descriptive qualitative. Les donnés de cette recherche utilisent le roman Vingt Mille Lieues sous les Mers par Jules Verne au mois de janvier – mars 2016. Le résultat de cette recherche montre que les formes de séquence narrative dans le roman Vingt Mille Lieues sous les Mers par Jules Verne sont la situation finale, la lutte,  l’aggravation, l’événement perturbateur, et la situation initiale. Mais, la situation initiale parfois n’existe pas à chaque chapitre, car le roman Vingt Mille Lieues sous Les Mers par Jules Verne est un roman d’aventure qui a des liens l’histoire entre les chapitres et les autres chapitres. Alors, l’histoire du roman Vingt Mille Lieues sous les Mers par Jules Verne commence par l’aggravation, car l’aggravation exprime en analysant en détail le rôle de tous les éléments du récit; l’acte qui provoque un conflit; comment les différends plus de chiffres séparés, avec un pic progressivement à travers les questions de conflit complexes et il y a 3 variées séquence narrative qui peut être trouvé dans le roman Vingt Mille Lieues sous les Mers par Jules Verne, entre autre : v, w, x, y, z, trouvées dans le roman au chapitre I et IV. Ensuite, w, x, y, z, trouvées dans le roman au chapitre II, VI, VIII et IX. Enfin, x, y, z, trouvée dans le roman au chapitre III, V et VII. Mots-clés : Séquence Narrative, Roman