Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : Jurnal Pattingalloang

Upacara Gaukang Tu Bajeng Kabupaten Gowa 1945-2017 Ningrum, Kusuma; Najamuddin, Najamuddin; Asmunanda, Asmunandar
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 1 Januari - April 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.6706

Abstract

This study aims to know the background behind the formation of  Gaukang in South Sulawesi society, Gaukang Tu Bajeng Ceremony in the early days of independence and now, and the public view of Gaukang Tu Bajeng ceremony of Gowa district. This study is historical descriptive by using historical research methods, through the stages of work that includes; heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Heuristics is the stage of collecting historical sources, the source is then criticized for getting the facts with other facts. As the last stage is historiography or presentation, which is reconstructing historical events into historical stories in the form of historical descriptive. The results showed that Gaukang as a symbol of the strength of ancestors believed by the public as a talisman that can save them. Gaukang become a sacred and highly respected object. The interest of Mr. Fukusima to see Gaukang objects in Bajeng / Limbung make Limbung society hold a ceremony called Ceremony Gaukang tu Bajeng. This ceremony is held every year to commemorate the heroes of the Limbung / Bajeng region in seizing and maintaining independence.
Pesantren Sultan Hasanuddin Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa Tahun 1986-2017 Inarwati, Inarwati; Najamuddin, Najamuddin; Ridha, Muh. Rasyid
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 3 Juli - September 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i3.8541

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang berdirinya Pesantren Sultan Hasanuddin, perkembangan Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin (1986-2017), serta dampak keberadaan Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin. Penelitian ini menggunakan metode sejarah, melalui tahapan: heuristik yakni tahap pengumpulan data atau sumber, kritik yakni tahap penyeleksian sumber ataupun data, interpretasi yang merupakan penafsiran dari fakta-fakta yang telah ada dan historiografi yang merupakan tahap akhir penulisan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa yang melatarbelakangi berdirinya Pondok Pesantren adalah  keprihatinan terhadap kualitas dan kuantitas pendidikan yang ada di dalam masyarakat, sehinggah Pondok Pesantren Sultan Hasanuddin didirikan pada tahun 1986 di Desa Paraikatte Kecamatan Bajeng Kabupaten Gowa. Perkembanga pondok pesantren Sultan Hasanuddin yang sangat pesat dapat dilihat dari sarana prasarana, santri, tenaga pendidik dan prestasinya. Dampak keberadaan pondok pesantren sangat positif dari berbagai bidang seperti bidang Agama, Sosial, dan Pendidikan.Kata kunci : Pondok, Pesantren, Gowa
Muallimin Muhammadiyah Limbung 1959-1979 Rasul, Muh.; Najamuddin, Najamuddin; Bosra, Mustari
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 3 Juli - September 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i3.8533

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang berdirinya, perkembangan serta kontribusi keberadaan Muallimin Muhammadiyah Limbung. Penelitian ini adalah penelitian dengan pendekatan penelitian historis (Historical Research), yang terdiri atas beberapa tahapan yakni: (1) Heuristik, dengan mengumpulkan arsip terkait data-data berdirinya Muallimin Muhammadiyah Limbung. (2) Kritik atau proses verifikasi keaslian sumber sejarah. (3) Interpretasi atau penafsiran sumber sejarah, dan (4) Historiografi, yakni tahap penulisan sejarah. Hasil penelitian diperoleh bahwa latar belakang berdirinya Muallimin Muhammadiyah Limbung adalah berawal dari terbentuknya grup Muhammadiyah Limbung dan dengan Melalui program amal usahanya, maka didirikanlah Muallimin Muhammadiyah Limbung pada tahun 1951 yang dipimpin oleh Abd. Rahman Thahir Lewa.Kata Kunci : Penelitian, Muallimin, Limbung
Masjid Agung Luwu : Pusat Sejarah dan Pengembangan Islam Di Polopo Mutmainna, Mutmainna; Ridha, Muh. Rasyid; Najamuddin, Najamuddin
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 2 April - Juni 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i2.8473

Abstract

Kajian ini membahas mengenai latar belakang pembangunan Masjid Agung Luwu, perkembangan serta dampak yang ditimbulkan Masjid Agung Luwu yang lokasinya berada di Kota Palopo. Pembangunan masjid ini dilakukan pada tahun 1974 dengan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Bupati Kepala Daerah Luwu A. Samad Suhaeb bersama dengan pimpinan DPRD dan sejumlah Umat Islam. pada saat mereka telah melakukan Sholat Idul Adha 10 Dzulhijjah 1393 pada tanggal 4 Januari 1974. Keberdaaan masjid ini sebagai wadah untuk memperdalam ilmu agama serta menjadi simbol persatuan masyarakat muslim yang ada di Kota Palopo. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahapan, yaitu heuristik (mencari dan mengumpulkan sumber), kritik sumber (kritik intern dan ektern), interpretasi (penafsiran sumber) dan historiografi (penulisan sejarah). Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan penelitian lapangan terdiri dari wawancara dan mengumpulkan sumber arsip. Kata kunci : Masjid Agung, Islam, Palopo AbstractThis study discusses the background of the construction of the Great Mosque of Luwu, the development and the impact of the Great Mosque of Luwu which is located in Palopo City. The construction of this mosque was carried out in 1974 with the laying of the first stone carried out by the Regent of the Regional Head of Luwu A. Samad Suhaeb together with the leaders of the DPRD and a number of Muslims. when they had performed Eid Al-Adha Prayers 10 Dzulhijjah 1393 on January 4, 1974. The existence of this mosque as a place to deepen the knowledge of religion and become a symbol of the unity of the Muslim community in Palopo City. This research uses historical research method which consists of four stages, namely heuristics (searching and collecting resources), source criticism (internal and external criticism), interpretation (interpretation of sources) and historiography (historical writing). Data collection methods are carried out by conducting field research consisting of interviews and collecting archival sources. Keywords: Great Mosque, Islam, Palopo
AKSI PROTES PEJUANG KEMERDEKAAN LASKAR LIPAN BAJENG DI POLONGBANGKENG (1950-1952) Nurmaningsih, Nurmaningsih; Bosra, Mustari; Najamuddin, Najamuddin
Jurnal Pattingalloang Vol. 2 No. 3 Juli - September 2015
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v2i3.8461

Abstract

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa latar belakang terjadinya aksi protes pejuang kemerdekaan Laskar Lipan Bajeng di Polongbangkeng dikarenakan faktor ekonomi, politik, dan budaya (siri’ na pacce). Adanya rasa kecewa terhadap sikap pemerintah dari para gerilyawan akan nasib mereka yang selama ini berjuang. Adapun bentuk dari aksi protes yang dilakukan yaitu pertama, mengadakan pengrusakan, kekacauan seperti pembakaran rumah maupun pasar, dan penculikan, serta pengancaman. Kedua, adanya aksi perampokan dan pencurian berupa binatang ternak dan barang berharga lainnya. Ketiga, penyerangan terhadap aparat pemerintah, seperti penyerangan terhadap Kepala Distrik Sanrobone dan seorang polisi kampong. Disimpulkan bahwa hasil aksi protes pejuang kemerdekaan Laskar Lipan Bajeng adalah terbentuknya batalyon Infanteri 721 Lipan Bajeng dan pengangkatan para pejuang menjadi Tentara Nasional Indonesia. Aksi protes ini turut memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat yaitu menimbulkan rasa tidak aman dan merosotnya perekonomian masyarakat.Kata Kunci: Aksi Protes, Pejuang Kemerdekaan, Laskar Lipan Bajeng di Polongbangkeng
Menjaga Tanah Leluhur: Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Sulawesi Selatan 2003-2016 Kamaruddin, Kamaruddin; Najamuddin, Najamuddin; Patahuddin, Patahuddin
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 1 Januari - April 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.6726

Abstract

This study reveals that the background of the awakening of indigenous peoples in South Sulawesi, due to the marginalization of the state policy with agrarian resources pengulaaan that began in 1811 in the colonial period and the 1999 era of reform that led to agrarian conflicts. Indigenous peoples in South Sulawesi formed a strength by organizing their groups into AMAN formed in 2003. The organizational development has experienced three successive organizational leaders namely MahirTakaka at the beginning of the formation of 2003-2008 which was appointed Sirajuddin at the first muswil 2008-2013 and then SardiRasak on the second muskil 2013-2016. In making AMAN a struggle organization, the strategy of struggle by taking three paths of organizational education, political struggle and lane of litigation. This research is a historical research with historical methodology that has stages, heuristics (data collection), criticism (verification), interpertasi (interpretation) and historiography (historical writing). This research is a historical research with historical methodology that has stages, heuristics (data collection), criticism (verification), interpertasi (interpretation) and historiography (historical writing).
SEJARAH SOSIAL DESA SALAJO KAB. GOWA (1993-2013) Rizal, Muh; Bosra, Mustari; Najamuddin, Najamuddin
Jurnal Pattingalloang Vol. 2 No. 2 April - Juni 2015
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v2i2.8430

Abstract

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa paada tahun 1993 Salajo resmi menjadi desa definitif. Kehidupan ekonomi masyarakat Salajo banyak mengalami perubahan terutama dibidang pertanian yang sebelumnya hanya menggunakan alat tradisional dan mengandalkan sawah tadah hujan, kini telah menggunakan peralatan modern seperti traktor dan mesin pompa air yang digunakan ketika musim kemarau. Begitupun bidang agama, pengaruh Muhammadiyah dan dengan berdirinya Madrasah Ibtidaiyah di Desa Patani membawa pengaruh besar pada masyarakat Salajo dan telah meninggalkan kepercayaan nenek moyang. Begitupun dengan pertumbuhan penduduk di Desa Salajo yang dalam lima tahun terakhir terus berkembang, walaupun tidak sedikit warga yang urbanisasi ke daerah lain, namun ini dapat diimbangi dengan tingginya angka kelahiran dan menurunnya angka kematian serta banyaknya pernikahan warga Salajo dengan warga dari desa lain yang menetap di Salajo.Kata Kunci: Definitf, Madrasah, Urbanisasi, Animisme
Transportasi Kereta Api Rute Makassar- Takalar (1922- 1930) Nasrul, Fadli; Najamuddin, Najamuddin; Asmunandar, Asmunandar
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 3 Juli - September 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i3.8514

Abstract

 Tulisan ini mengkaji tentang Transportasi Kereta Api Rute Makassar – Takalar 1922 – 1930. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa transportasi kereta api sangat penting bagi kalangan masyarakat pribumi dan Hindia – Belanda. Kereta api di Hindia – Belanda resmi dibuka untuk umum pada tahun 1867 di Semarang, Pembangunan jalur kereta api pertama di Jawa sepanjang 25 kilometer yang dilakukan oleh perusahaan Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij ini nantinya juga berhasil menghubungkan beberapa kota di Jawa. Keberhasilan NISM membangun jaringan kereta api dalam perjalanannya juga berhasil menarik minat perusahaan lain dan juga pemerintah Hindia Belanda sendiri untuk ikut membangun jaringan kereta api. Selain Jawa, jaringan kereta api juga dibangun di Sumatera dan Sulawesi. Adapun di Sulawesi Selatan jalur perkerata apian resmi dibuka pada tahun 1922 yang menghubungkan Makassar – Takalar sepanjang 47 Km. Tercatat 20 tempat pemberhentian resmi. Pemberhentian tersebut terdiri dari 8 halte (stasiun) dan 12 stopplats (halte). Pembuatan jalur kereta api ini selain untuk kepentingan perekonomian dengan mengangkut berbagai komoditi yang laku di pasaran, juga untuk kepentingan politik, dan militer.   Hal itu dapat dilihat dari keberadaan jalur dan transportasi kereta api yang mengangkut serdadu Belanda guna meredam gerakan I Tolok Dg. Magassing. Penelitian ini digolongkan dalam sejarah transportasi karena ruang lingkup pembahasan berkaitan dengan perkembangan moda transportasi dan juga hubungan moda transportasi tersebut dengan aspek ekonomi, politik, dan militer. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode sejarah yang terbagi atas tahapan: heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara studi arsip dan studi pustaka.Kata Kunci : Transportasi, Kereta Api, Makassar - Takalar This paper examines Railway Transportation Route Makassar - Takalar 1922 - 1930. The results of this study indicate that railroad transportation is very important for the indigenous and Indies - Dutch circles. The train in the Indies - the Netherlands was officially opened to the public in 1867 in Semarang. The construction of the first 25 kilometer railway line in Java carried out by the Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij company later succeeded in connecting several cities in Java. The success of NISM in building the railroad network on its journey also succeeded in attracting the interest of other companies and also the Dutch East Indies government itself to join in building the railroad network. In addition to Java, railway networks are also being built in Sumatra and Sulawesi. Whereas in South Sulawesi the railway lane officially opened in 1922 which connected Makassar - Takalar along 47 km. Recorded 20 official stops. The stop consists of 8 stops (stations) and 12 stopplats (stops). The making of this railroad is not only for the sake of the economy by transporting various commodities that sell well in the market, but also for political and military interests. This can be seen from the existence of railroad lines and transportation that transported Dutch soldiers to reduce the movement. I Tolok Dg. Magassing. This research is classified in the history of transportation because the scope of the discussion relates to the development of modes of transportation and also the relationship of modes of transportation with economic, political and military aspects. The method used in this study is a historical method which is divided into stages: heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The method of data collection is done by means of archival studies and literature studies.Keywords: Transportation, Railways, Makassar - Takalar
Politik Luar Negeri Indonesia Masa Transisi Pemerintahan Orde Lama Pemerintahan Orde Baru Tahun 1965-1973 Arifin, M Zulham; Jumadi, Jumadi; Najamuddin, Najamuddin
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 3 Juli - September 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i3.8540

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui faktor lahirnya politik luar negeri bebas aktif Indonesia, kondisi politik luar negeri pada masa akhir Orde Lama dan Awal Orde Baru, dan pelaksanaan politik luar negeri Indonesia masa awal Orde Baru. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari, heuristik (mencari dan mengumpulkan sumber), kritik sumber (kritik intern dan ektern), interpretasi (penafsiran sumber) dan historiografi (penulisan sejarah). Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan penelitian pustaka terdiri dari  mengumpulkan sumber buku, arsip serta literatur-literatur  yang berhubungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lahirnya politik luar negeri bebas aktif Indonesia karena terjadi pertentangan ideologi antara kedua blok besar sehingga Indoneisa mencari jalan tengah untuk tidak memihak, kondisi dalam negeri juga sangat mempengaruhi karena terjadinya inflasi yang tidak terkontrol dan perlunya bantuan dari luar negeri, kemudian kondisi politik luar negeri pada pada masa Orde Lama menemui beberapa masalah karena melakukan konfrontasi dan keluarnya Indonesia dari PBB, sedangkan kondisi politiik luar negeri pada masa Orde Baru merupakan antitesa dari politik luar negeri Orde lama. Pelaksanaan  politik luar negeri awal Orde Baru arah kebijakan politiknya menjalin hubungan baik dengan barat dengan adanya IGGI dan Indonesia menjalin hubungan bertetangga yang baik dengan negara kawasan Asia Tenggara dengan adanya ASEAN dan menghentikan konfrontasi dan dalam politik luar negeri awal Orde Baru militer berperaan aktif dalam politik luar negeriKata Kunci : Orde Baru, Politik dan Indonesia
Eksistensi Pabbagang Ponrang Kabupaten Luwu 1970-2016 Wulandari, Tantri; Ridha, Muh. Rasyid; Najamuddin, Najamuddin
Jurnal Pattingalloang Vol. 5 No. 1 Januari - April 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v5i1.6708

Abstract

This paper examines the existence Pabbagang In the village of the District Ponrang Ponrang Luwu Regency (1970-2016). The results of this study on Ponrang Pabbagang in the village at the time and the traditional era, the modern age and socio-economic life and system for the results. This research shows the beginning where pabbagang Village Ponrang, the origin of the naming Pabbagang and discuss the performance of pabbagang traditional performance pabbagang modern as well as how the system of revenue sharing between the owners of capital or owner bagang in every era with pabbagang itself where the system for the results in applied is tesan system, and how the competition between traditional pabbagang with modern pabbagang, and work system in laukan by pabbagang when in the butterflyfish (marine). The main fishing gear being the principal fishing gear used by the fishing village of Ponrang namely Bagang, where in the era of traditional fishermen using bagang step while in the modern era using motion bagang Ponrang village in which the people call Bagang Rambo. and the village social system Pabbagang Ponrang influenced by everyday life of fishermen at the time of the search process fish, In the 1980s Ponrang Pabbagang society has entered the modern era where fishermen are already using modern fishing gear as well. since the social and economic life has improved, and the result of it is also the case that fundamental changes in lifestyle Ponrang village society especially those who cultivate the profession as a fisherman pabbagang or in terms of economic level of society. and the village social system Pabbagang Ponrang influenced by everyday life of fishermen at the time of the search process fish, In the 1980s Ponrang Pabbagang society has entered the modern era where fishermen are already using modern fishing gear as well. since the social and economic life has improved, and the result of it is also the case that fundamental changes in lifestyle Ponrang village society especially those who cultivate the profession as a fisherman pabbagang or in terms of economic level of society. and the village social system Pabbagang Ponrang influenced by everyday life of fishermen at the time of the search process fish, In the 1980s Ponrang Pabbagang society has entered the modern era where fishermen are already using modern fishing gear as well. since the social and economic life has improved, and the result of it is also the case that fundamental changes in lifestyle Ponrang village society especially those who cultivate the profession as a fisherman pabbagang or in terms of economic level of society.  This research is descriptive analysis using historical methods, through the stages of the stages of work which includes; Heusristik, interpretation and Histriografi criticism. As the concept of Social Sciences sociology used to analyze the relevant issues, particularly in assessing the socio-economic life associated with changes in social life in fishing communities