Ishak Hariyanto, Ishak
Institut Agama Islam Negeri Mataram

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

ISLAM DAN WILAYAH PUBLIK (Tinjauan Terhadap Pemikiran Talal Asad) Najamuddin, Najamuddin; Hariyanto, Ishak
KOMUNITAS Vol 7, No 1 (2015): Juni
Publisher : KOMUNITAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tulisan ini mencoba membahas Islam dan wilayah publik dalam pemikiran Talal Asad. Dimana Islam memiliki model serta respon tersendiri ketika agama memasuki wilayah publik. Lalu yang menarik dalam konteks ini adalah ketika Talal Asad seorang ilmuan Arab Saudi kebangsaan Amerika membawa nalar agama memasuki wilayah publik, dan kemudian menyebar ke negara-negara Islam. Penelitiannya dilakukan di negara-negara Islam ketika agama memasuki wilayah publik yang memiliki respon serta model yang ekstrim. Ketika Islam memasuki wilayah publik belumlah terbuka dan bahkan cenderung bersikap menolak. Penolakan ini tentu dikarenakan negara-negara Islam cenderung meletakkan prinsip-prinsip serta memakai ideologi agama sebagai alat kekuasaan. Pemakaian ideologi agama sebagai alat kekuasaan ini sesungguhnya adalah cara yang dipakai oleh para ulama untuk mempertahankan eksistensi intelektual mereka, sehingga para ulama’ menolak perubahan ketika dimensi-dimensi Islam memasuki wilayah publik.
Relevansi Aliran Utilitarianisme, Liberalisme, Libertalianisme, dan Komunitarianisme dalam Islam Hariyanto, Ishak
KOMUNIKE Vol 7, No 1 (2015)
Publisher : KOMUNIKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Etika merupakan aturan bagi umat manusia, karena etika berbicara bagaimana seharusnya manusia itu hidup. Akan tetapi dalam etika juga terdapat beberapa aliran, diantara aliran-aliran tersebut adalah utilitarianisme, liberalisme, libertalianisme dan komunitarianisme. Aliran utilitarianisme berpandangan kebaikan merupakan kebahagiaan tertinggi dan rasa sakit jahat, dan juga harus mengedepankan prinsip manfaat yang paling besar bagi sebanyak mungkin anggota masyarakat. Liberalisme mengatakan kebebasan itu tidak dapat dikorbankan untuk nilai yang lain, seperti-nilai ekonomi, sosial dan politik, maka cara pemaksimalan itu harus adanya hukum yang mengatur, karena adanya hukum itu bukan untuk membebaskan ataupun untuk membatasi individu, melainkan hukum itu ada untuk memperluas dan memelihara kebebasan. Libertalisme memandang bahwa kebebasan itu menjadi hak individu dan kebebasan merupakan satu bentuk properti privat, tidak seorang pun yang dapat merampas dan mencabutnya. Komunitarianisme berpandangan individuindividu itu memiliki ketergantungan dan keterikatan pada komunitasnya, dengan kata lain komunitarianisme mengutamakan nilai-nilai yang ada di dalam komunitas dan menolak permasalahan individualisme, hedonisme dan liberalisme.
Padangan Al-Quran Tentang Manusia Hariyanto, Ishak
KOMUNIKE Vol 7, No 2 (2015)
Publisher : KOMUNIKE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Al-Quran merupakan pedoman hidup bagi manusia dan juga sumber dari segala ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini. Oleh karenanya, membaca al-Quran merupakan suatu ibadah. Dalam al-Quran, pengertian manusia sering terdapat dalam term al-basyar, an-nas, al-ins, dan al-insan. Dan memang pembicaraan tentang manusia dalam al-Quran sangat banyak, karena manusia merupakan makhluk yang paling istimewa dibandingkan dengan makhluk yang lain. Manusia mempunyai kelebihan yang luar biasa, kelebihan itu adalah dikaruniainya akal dan kesadaran internal dan eksternal. Dengan dikaruniai akal, manusia dapat mengembangkan bakat dan potensi yang dimilikinya serta mampu mengatur dan mengelola alam semesta sebagai amanah. Meskipun term-term tentang manusia di atas sering kita temukan dalam al-Quran, akan tetapi masingmasing term tersebut berbeda apabila ditinjau dari segi bahasa. Kata al-basyar senantiasa mengacu pada manusia dari aspek lahiriahnya, mempunyai bentuk tubuh yang sama, makan dan minum, bertambahnya usia, kondisi fisiknya akan menurun, menjadi tua, dan akhirnya ajal-pun menjemputnya. Kata alInsan digunakan untuk menunjukkan kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga, ada perbedaan antara seseorang dengan yang lain akibat perbedaan fisik, mental, dan kecerdasan. Kata al-nas pada umumnya dihubungkan dengan fungsi manusia sebagai makhluk sosial.
MUSLIM TURKI DAN ISLAM TURKI: Dalam Perspektif Gerakan Fethullah Gulen Untuk Menemukan Identitas Islam Di Eropa Najamuddin, Najamuddin; Hariyanto, Ishak
KOMUNITAS Vol 7, No 1 (2015): Juni
Publisher : KOMUNITAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper talk about Turkish Muslims and Islamic Turkey: perspectives for a new European Islamic identity. There are significant refrences for the development of society when humans first found fire, then the wheel and most recently the silicon or microchip with wich humanity has revolutionized its thought and behaviour, progress and creativity. However the societies has a negative historical data bring back the horros of just the last century. Fethullah Gulen’s concept to redeem all the problems Turkish muslim and Islam Turkey, he was mentioned social formation of community and society based on dialogue and tolerance, self-scrifice and altruism, avoidance of political and ideological conflict, taking action in a positive and harmonious way and taking responsibility had a formidable influence on individuals and groups. Gulen also has evoked a thought changing movement both within Turkey and several other part of the world and has potential to redefine what it means rationally to be Islamic and European at the same time.
FILSAFAT ETIKA IMMANUEL KANT DALAM KONTEKS NEGARA DEMOKRASI Hariyanto, Ishak
KOMUNITAS Vol 7, No 1 (2015): Juni
Publisher : KOMUNITAS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Etika adalah aturan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bayangkan saja dunia tanpa adanya etika atau moralitas maka konsekuensinya akan menjadi dunia dimana tidak ada seorangpun yang memiliki hati nurani, di mana tak seorang pun yang akan pernah merasa bersalah atau menyesal atas apa yang mereka lakukan atau tidak mereka lakukan. Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih jauh etika filsafat Immanuel Kant untuk memberikan suntikan etika serta moralitas kebaikan dalam fenomena demokrasi saat ini. Demokrasi dalam konteks ini adalah kedaulatan milik rakyat, rakyat bebas memilih dan dipilih, rakyat di atas segala-galanya. Akan tetapi, demokrasi tersebut salah dimaknai serta salah diaplikasikan oleh kebanyakan orang, sehingga demokrasi hanya dimaknai sebagai jalan untuk mencapai kepentingan pribadi semata. Bagi Kant hal ini menandakan betapa keringnya moralitas yang ada pada diri kita. Maka dari itu, Kant mengajarkan etika kewajiban untuk melakukan kebaikan tanpa ada suatu tujuan tertentu dan tidak menggunakan orang lain jadi sarana demi kepentingan pribadi, etika ini disebut oleh Kant sebagai konsep deontologi yakni nilai-nilai etika kebaikan yang berdasarkan konsep kewajiban agar hidup lebih berkualitas.
ETIKA PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD SEBAGAI LANDASAN KESALEHAN SOSIAL Hariyanto, Ishak
AL-TAZKIAH : Journal of Islamic Guidance and Counseling Vol 5, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi IAIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ethics is the important role in human life, just imagine a world without ethics and morals, then the consequences will be a world where no one has a conscience and no one will ever feel guilty or sorry for what they did or did not do.  According to Freud, he said that human is deterministic because is determined by unconscious irrational power, the unconscious motivation, biological encouragement, and instinctive encouragement. Human has always been the pursuit of perfection to get happiness and to avoid unhappiness. The purpose of this research was to describe about the psychoanalysis ethics of Sigmund Freud and to apply it in social life in order to create the social piety.  During Freud psychoanalysis as if its just in medicine, counseling and religion.  But what about the psychoanalysis ethics of Sigmund Freud are manifesting  in the structure of human personality like Id (Das Es), Ego (Das Ich), Super ego (Das Ueber Ich) were compared in the context of social piety, so it would create the dialogue between individual piety and social piety, to establish the whole system of unity and run circularly.