Tetty Chaidamsari, Tetty
Indonesian Biotechnology Research Institute for Estate Crops, Bogor

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

Kloning dan karakterisasi gen penyandi inhibitor proteinase dari kulit buah kakao Cloning and characterization of gene encoding proteinase inhibitor of cacao pod wall ISDA, Mayta Novaliza; KASIM, Musliar; MANSYURDIN, .; CHAIDAMSARI, Tetty; SANTOSO, Djoko
E-Journal Menara Perkebunan Vol 76, No 2: Desember 2008
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Summary Attempts to increase cocoa production in Indonesia have been hinderred by attack of CPB (Conopomorpha cramerella). There has been no effective measures to control this pest leading to development of cacao planting materials which resistant to the pod borer. One of genes functioning in plant defense system against insect pests such as catepilar is Proteinase Inhibitor (PIN). This research aimed to isolate and characterize TcPIN gene of cacao pod wall. A clone of TcPIN was isolated with RT-PCR technique using total RNA of cacao pod wall and DNA primer designed based on the sequence Trypsin Inhibitor of cocoa bean accessible online. BlastX analysis of the sequence of the cDNA clone demonstrated that the ± 600 bp gene cloned with pGEM-T was PIN gene as indicated by highly homologous to Trypsin Inhibitor of Theobroma microcarpum resulted in 248 Score bits and E value 1 e-64. Two sequence alligment with the putative 21 kDa PIN  of cacao seed indicated a moderately high homology. Contrasting these two sequences however found some non identical amino acids implying some variations. Ringkasan Usaha peningkatan produksi kakao di Indonesia terkendala antara lain oleh adanya serangan hama PBK (Conopomorpha cramerella). Untuk menanggulangi serangan PBK tersebut perlu adanya satu cara pengendalian yang efektif dan efisien, sehingga dapat mendorong usaha pengembangan bahan tanam yang tahan PBK. Salah satu gen  membawa sifat ketahanan tanaman terhadap hama ulat adalah Proteinase Inhibitor (PIN). Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi gen TcPIN dari kulit buah kakao. Klon cDNA TcPIN diisolasi dari kulit buah kakao dengan teknik RT-PCR meng-gunakan RNA total kulit buah kakao dan primer DNA yang dirancang atas dasar sekuen Inhibitor Tripsin biji kakao yang diakses lewat internet.  Hasil analisis BlastX dari sekuen klon cDNA menunjukkan  bahwa gen berukuran  ± 600 pb yang telah diklon dengan pGEM-T tersebut adalah PIN karena memiliki homologi yang tinggi terhadap 21 kDa trypsin inhibitor dari Theobroma microcarpum yang meng-hasilkan Skor 248 bits dengan Nilai E 1e-64. Penjajaran dua sekuen dengan PIN putatif 21 kDa yang berasal dari biji kakao menunjuk-kan tingkat homologi yang tinggi, dengan perbedaan nyata sehingga dapat terlihat bahwa keduanya tidak identik.
Isolation and Molecular Cloning of Cellulase Gene from Bovine Rumen Bacteria Pratama, Rahadian; Artika, I Made; Chaidamsari, Tetty; Sugiarti, Herti; Putra, Soekarno Mismana
Current Biochemistry Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cellulases are the enzymes that hydrolyze cellulosic biomass and are produced by the microorganismsthat grow over cellulosic matters. The objective of this research was to isolate and clone cellulasegene from cellulose-degrading bacteria of bovine rumen. Cellulose-degrading bacteria was isolated fromrumen fluid using a selective medium. Total RNA was isolated from selected colony having cellulose degradingactivity and was used as a template for cDNA construction using reverse transcriptase polymerasechain reaction (RT-PCR) technique. The resulted cDNA was employed as a template for PCR amplificationof cellulase gene using specific primers. The cellulase gene candidate obtained was cloned intothe pGEM-T-Easy vector followed by determination of its nucleotide sequence. The sequence was thenaligned with sequences of cellulase genes from GenBank. Results showed that a number of isolates of rumenbacteria exhibit cellulase activity and the CR-8 isolate was selected for further analysis. The successfulisolation of total RNA from CR-8 was indicated by the presence of two intense bands of ribosomal RNA(23S and 16S). The reverse transcription process was successful and the amplification of cellulase geneusing the specific primers F1 and R1 resulted in a DNA fragment of 1900 bp as a candidate of cellulasegene. The fragment was successfully cloned into the pGEM-T-Easy vector, and the resulted recombinantplasmid was successfully introduced into the E. coli cells. Nucleotide sequence analysis suggested that thecloned gene is cellulase gene and shares 99% homology with the endo-1,6-beta-glucanase of T. harzianum.
ANALISIS GENETIK POPULASI HASIL PERSILANGAN KLON RRIM 600 DENGAN GENOTIPE PLASMA NUTFAH 1981 Woelan, Sekar; Nissa, Chairun; Chaidamsari, Tetty; Irwansyah, Edy
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 33, Nomor 2, Tahun 2015
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (643.239 KB)

Abstract

Berdasarkan hasil analisis genetik yang dilakukan terhadap populasi hasil persilangan karet klon RRIM 600 dengan genotipe Plasma Nutfah 1981 menunjukkan bahwa, beberapa karakter yang diamati seperti tinggi tanaman, lilit batang, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks, dan produksi karet kering menunjukkan adanya keragaman yang tinggi di antara progeni yang dihasilkan.  Sedangkan untuk karakter jumlah cabang primer, tinggi cabang pertama, diameter pembuluh lateks dan produksi kayu mempunyai keragaman yang rendah di antara progeni yang dihasilkan.  Dari analisis genetik yang dilakukan terlihat adanya nilai heritabilitas (h2) dan nilai kemajuan genetik (KG) yang tinggi masing-masing >0,5% dan  >10% yaitu pada karakter produksi lateks, tinggi tanaman, lilit batang, tebal kulit, dan jumlah pembuluh lateks.  Karakter- karakter tersebut dikendalikan oleh tindak gen aditif dan epistasis, karena itu dapat digunakan sebagai kriteria seleksi pada tanaman karet. Sedangkan karakter tinggi cabang pertama dan produksi kayu dikendalikan oleh tindak gen bukan aditif (overdominan negatif),  demikian halnya dengan karakter diameter pembuluh lateks dikendalikan oleh tindak gen dominan sebagian negatif. Diterima : 21 Januari 2015; Direvisi : 28 Juli 2015; Disetujui : 10 Agustus 2015 How to Cite : Woelan, S., Nissa, C., Chaidamsari, T., & Irwansyah, E. (2015). Analisis genetik populasi hasil persilangan klon RRIM 600 dengan genotipe plasma nutfah 1981. Jurnal Penelitian Karet, 33(2), 101-120. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/176
KONSTRUKSI PETA PAUTAN GENETIK DAN ANALISIS QTL TANAMAN KARET PADA POPULASI HASIL PERSILANGAN ANTARA RRIM 600 DENGAN PN 1546 Woelan, Sekar; Nissa, Chairun; Chaidamsari, Tetty; Irwansyah, Edy
Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 34, Nomor 2, Tahun 2016
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.292 KB)

Abstract

Tersedianya peta pautan genetik merupakan salah satu  syarat dalam identifikasi QTL. Konstruksi peta pautan genetik dapat dilakukan pada tanaman turunan pertama dari suatu persilangan untuk tanaman-tanaman yang menyerbuk bebas dengan menggunakan strategi pseudo-testcross. Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan posisi QTL komponen produksi karet (lilit batang, tebal kulit, jumlah pembuluh lateks, partikel karet) yang mempunyai pengaruh langsung paling besar dengan produksi karet menggunakan analisis marka tunggal. Peta pautan genetik RAPD tanaman karet (2n=36) dibuat menggunakan data marka dengan strategi pseudo-testcross. Populasi hasil persilangan antara klon RRIM 600 dan plasma nutfah PN 1546 digunakan sebagai materi genetik untuk penelitian pemetaan QTL komponen produksi karet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pada tetua betina (RRIM 600) telah diperoleh tiga kelompok pautan yang dikonstruksi pada LOD 3,0 dan lima kelompok pautan yang dikontruksi  pada LOD 2,0.  Sedangkan pada tetua jantan (PN 1546) telah diperoleh dua kelompok pautan yang dikontruksi pada LOD 2,0. Marka OPH19_650 pada kelompok pautan 2 (KP-2) dan OPB20_1650 pada kelompok pautan 3 (KP-3) diduga terkait dengan sifat produksi karet dan lilit batang. Marka OPC13_2000 pada kelompok pautan 2 (KP-2) dan OPB20_1650 pada kelompok pautan 3 (KP-3) diduga terkait dengan sifat produksi karet dan tebal kulit.  Marka OPC13_2000 dan OPH06_850 pada kelompok pautan 2 (KP-2) diduga terkait dengan sifat produksi karet dan jumlah pembuluh lateks.
Isolation and Molecular Cloning of Cellulase Gene from Bovine Rumen Bacteria Pratama, Rahadian; Artika, I Made; Chaidamsari, Tetty; Sugiarti, Herti; Putra, Soekarno Mismana
Current Biochemistry Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.172 KB)

Abstract

Cellulases are the enzymes that hydrolyze cellulosic biomass and are produced by the microorganisms that grow over cellulosic matters. The objective of this research was to isolate and clone cellulase gene from cellulose-degrading bacteria of bovine rumen. Cellulose-degrading bacteria was isolated from rumen fluid using a selective medium. Total RNA was isolated from selected colony having cellulose degrading activity and was used as a template for cDNA construction using reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) technique. The resulted cDNA was employed as a template for PCR amplification of cellulase gene using specific primers. The cellulase gene candidate obtained was cloned into the pGEM-T-Easy vector followed by determination of its nucleotide sequence. The sequence was then aligned with sequences of cellulase genes from GenBank. Results showed that a number of isolates of rumen bacteria exhibit cellulase activity and the CR-8 isolate was selected for further analysis. The successful isolation of total RNA from CR-8 was indicated by the presence of two intense bands of ribosomal RNA (23S and 16S). The reverse transcription process was successful and the amplification of cellulase gene using the specific primers F1 and R1 resulted in a DNA fragment of 1900 bp as a candidate of cellulase gene. The fragment was successfully cloned into the pGEM-T-Easy vector, and the resulted recombinant plasmid was successfully introduced into the E. coli cells. Nucleotide sequence analysis suggested that the cloned gene is cellulase gene and shares 99% homology with the endo-1,6-beta-glucanase of T. harzianum.
Ekspresi fenotipe gen APETALA1 kakao (TcAP1) pada eksplan tembakau Phenotypic expression of cacao APETALA1 (TcAP1) in tobacco explant CHAIDAMSARI, Tetty; SAMANHUDI, .; BUDIANI, Asmini; POERWANTO, Roedhy; SANTOSO, Djoko
E-Journal Menara Perkebunan Vol 74, No 1: Juni 2006
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Summary APETALA1 (AP1) is one of flowering identity genes that determines the formation of sepal and petal tissues. An AP1 homologue was cloned from cacao flowers by bio-techniques coupled with bio-informatics. Examination of phenotypic expression was conducted with transgenesis of the 35S-TcAP1 construct using leaf disk technique of tobacco leaf explants mediated by Agrobacterium tumefaciens. PCR specific to TcAP1 demonstrated that the technique is effective in introducing the 35S-TcAP1 construct into tobacco plant cells. RT-PCR with total RNA from the leaves of transgenic tobacco plantlets showed that expression levels of the TcAP1 events varied. The variation of the transcript levels was comparable to the morphological phenotype of the tobacco plantlets grown in vitro. The cultures expressing TcAP1 at moderate levels, have developed into intact plantlets and set up flowers in vitro.Ringkasan APETALA1 (AP1) diketahui merupakan salah satu gen identitas pembungaan yang mengendalikan terbentuknya jaringan sepal dan petal. Homolog AP1 telah diklon dari organ bunga kakao (TcAP1) dengan kombinasi bio-techniques dan bio-informatics. Pengujian ekspresi fenotipe TcAP1 dilakukan dengan transgenesis konstruk konstitutif 35S-TcAP1 menggunakan teknik leaf disk eksplan daun tembakau dan mediasi Agrobacterium tumefaciens. Pengujian PCR spesifik TcAP1 menunjukkan bahwa teknik tersebut cukup efektif dalam mengintroduksikan konstruk 35S-TcAP1 ke dalam sel tanaman tembakau. RT-PCR dari daun planlet tembakau trangenik membuktikan bahwa tingkat ekspresi TcAP1 tersebut bervariasi. Perbedaan level ekspresi TcAP1 ini memberikan pengaruh yang nampak sebanding terhadap perkembangan morfologis planlet tembakau in vitro.  Kultur yang mengekspresikan TcAP1 pada level sedang mampu beregenerasi menjadi planlet sempurna dan membentuk bunga in vitro.
Kloning gen LEAFY kakao dari jaringan bantalan bunga aktif Cloning of cacao LEAFY gene from the active flower cushions CHAIDAMSARI, Tetty; HAYATI, Rita; SYARIEF, Auzar; ANWAR, Aswaldi; SANTOSO, Djoko
E-Journal Menara Perkebunan Vol 77, No 2: Desember 2009
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

SummaryAttempts to improve productivity of cacaoplantations lead us to study the molecularmechanism of flowering. In the model speciesArabidopsis thaliana as well as some otherspecies, LEAFY is a central regulatory gene forthe transition of shoot apical meristems toflowering meristems. Different from that ofArabidopsis, cacao inflorescence is acauliflorous type, by which flowers can developrepeatedly from the same flower cushion on thetrunk. In this research, a LEAFY homolog wasisolated from active flower cushion with RT-PCRusing a pair of DNA primer specifically designedto isolate its complete cds. Gel electrophoresisexamination indicated the presence of a 1.2 kbamplicon. Purified from the gel, this DNAfragment was cloned into competent cells ofE. coli XL1 Blue using pGEM-T Easy cloningvector at an orientation according to the T7promoter of the plasmid. Sequence analysis usingBLASTX, showed that the amplicon was LEAFY(LFY) homolog. Alignment analysis using ClustalW indicated that the cTcLFY highly homologousto those from other perennial crops such ascitrus, grape, apple and poplar. The highesthomology (conserved region) was found in the Cterminal of the encoded proteins.RingkasanUsaha untuk meningkatkan produktivitasperkebunan kakao telah mendorong penelitianmolekuler tentang mekanisme pembungaankakao. Pada tanaman model Arabidopsis thalianadan lainnya, LEAFY merupakan gen kunci dalamtransisi meristem tunas jadi meristem bunga.Berbeda dengan sistem pada Arabidopsis,pembungaan kakao termasuk tipe cauliflorous,bunga dapat muncul dari bantalan bunga yangsama sepanjang tahun. Dalam penelitian inihomolog LFY diisolasi dari bantalan bunga aktifmenggunakan RT-PCR dengan sepasang primerspesifik yang dirancang berdasarkan sekuenDNA di kedua ujung gen tersebut. Pemeriksaangel elektroforesis menunjukkan adanya amplikontunggal berukuran 1,2 kb. Setelah dimurnikandari gel, amplikon dapat diklon ke dalam selkompeten E. coli galur XL1 Blue menggunakanvektor pGEM-T Easy dengan orientasi yangsesuai dengan promoter T7 dari vektor. AnalisisBLASTX sekuen DNA membuktikan bahwaamplikon tersebut adalah homolog dari genLEAFY. Analisis penjajaran dengan mengguna-kan ClustalW menunjukkan bahwa gen cTcLFYtersebut memiliki homologi yang tinggi dengangen sejenis dari tanaman keras lainnya sepertitanaman jeruk, anggur, apel dan poplar.Homologi tertinggi (daerah terkonservasi)terdapat pada ujung (terminal) C dari proteinyang disandinya.
The effects of seaweed fertilizer on the growth and productivity of upland rice, maize and oil palm grown in green house Pengaruh pupuk rumput laut terhadap pertumbuhan dan produktivitas padi gogo, jagung dan kelapa sawit di rumah kaca SANTOSO, Djoko; CHAIDAMSARI, Tetty; SYAFARUDDIN, .; EFFENDI, Dedi Soleh
E-Journal Menara Perkebunan Vol 79, No 2: Desember 2011
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSebagai negara kepulauan di daerah tropis, Indonesiakaya akan sumberdaya alam untuk swasembada pangan.Berjuta-juta hektar lahan di Indonesia ditanami tanamanperkebunan, tanaman tahunan yang memiliki masa juvenilyang relatif lama, terutama tanaman kelapa sawit dan karet.Sementara itu, upaya untuk meningkatkan produksi panganterkendala oleh terbatasnya lahan subur. Penelitian yangmengeksplorasi bioregulator alami mampu meningkatkanproduktivitas tanaman, menemukan bahwa Sargasum sp.,rumput laut tipe liar yang di sepanjang pantai beberapawilayah Indonesia, menunjukkan kemampuannya meningkat-kan pertumbuhan dan produktivitas tanaman seperti padi,jagung, tomat dan pertumbuhan kelapa sawit tanpapenambahan pupuk kimia. Percobaan pada padi gogovarietas Batutegi yang ditanam di rumah kaca, menunjuk-kan bahwa bioregulator alami tersebut meningkatkanproduktivitasnya 50% lebih tinggi daripada kontrolnya.Percobaan menggunakan jagung var. Arjuna, tanaman yangtelah diperlakukan dengan bioregulator tersebut mem-produksi dua hingga tiga tongkol, sementara pada tanamankontrol hanya satu tongkol. Percobaan pada tanamankelapa sawit di rumahkaca memperlihatkan bahwa bio-regulator tersebut menginduksi pertumbuhan vegetatifnyasecara signifikan, lebih baik daripada kontrol dengan atautanpa pupuk kimia. Intercropping tanaman kelapa sawitTBM dengan tanaman pangan seperti padi gogo ataujagung, diharapkan lebih menguntungkan bagi usahaperkebunan.AbstractBeing a tropical archipelago, Indonesia is rich withnatural resources enabling more production for food.Millions hectares of Indonesian lands is now planted withestate crops, perennial crops with relatively lengthenjuvenile phase mainly oil palm and rubber. Meanwhile,attempts to increase national food production have beenlimited by availability of fertile lands. Our researchexploring natural bioregulator capable of improving cropproductivity, found that Sargasum sp., a wild sea weedgrown mostly along the coast line in Indonesia, indicated itsability to improve the growth and productivity of crops likerice, maize, tomato and oil palm even though with nochemical fertilizers added. The experiment on upland rice oflocal variety Batutegi planted in greenhouse, demonstratedthe natural bioregulator has increased the rice productivityby at least 50% over the control. The experiment usingmaize var. Arjuna, the bioregulator treated plants has madetwo to three corncobs instead of only one corncob on thecontrol plants. The experiment on the oil palm grown in thenursery showed that the bioregulator has significantlyinduced vegetative growth better than the control with orwithout chemical fertilizers. Intercropping the food crops,rice or maize in the juvenile phase of the oil palmplantations, should be beneficial to the productivity of theplantation.
Ekspresi fenotipe gen APETALA1 kakao (TcAP1) pada eksplan tembakau Phenotypic expression of cacao APETALA1 (TcAP1) in tobacco explant CHAIDAMSARI, Tetty; SAMANHUDI, .; BUDIANI, Asmini; POERWANTO, Roedhy; SANTOSO, Djoko
E-Journal Menara Perkebunan Vol 74, No 1: Juni 2006
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1665.837 KB)

Abstract

Summary APETALA1 (AP1) is one of flowering identity genes that determines the formation of sepal and petal tissues. An AP1 homologue was cloned from cacao flowers by bio-techniques coupled with bio-informatics. Examination of phenotypic expression was conducted with transgenesis of the 35S-TcAP1 construct using leaf disk technique of tobacco leaf explants mediated by Agrobacterium tumefaciens. PCR specific to TcAP1 demonstrated that the technique is effective in introducing the 35S-TcAP1 construct into tobacco plant cells. RT-PCR with total RNA from the leaves of transgenic tobacco plantlets showed that expression levels of the TcAP1 events varied. The variation of the transcript levels was comparable to the morphological phenotype of the tobacco plantlets grown in vitro. The cultures expressing TcAP1 at moderate levels, have developed into intact plantlets and set up flowers in vitro.Ringkasan APETALA1 (AP1) diketahui merupakan salah satu gen identitas pembungaan yang mengendalikan terbentuknya jaringan sepal dan petal. Homolog AP1 telah diklon dari organ bunga kakao (TcAP1) dengan kombinasi bio-techniques dan bio-informatics. Pengujian ekspresi fenotipe TcAP1 dilakukan dengan transgenesis konstruk konstitutif 35S-TcAP1 menggunakan teknik leaf disk eksplan daun tembakau dan mediasi Agrobacterium tumefaciens. Pengujian PCR spesifik TcAP1 menunjukkan bahwa teknik tersebut cukup efektif dalam mengintroduksikan konstruk 35S-TcAP1 ke dalam sel tanaman tembakau. RT-PCR dari daun planlet tembakau trangenik membuktikan bahwa tingkat ekspresi TcAP1 tersebut bervariasi. Perbedaan level ekspresi TcAP1 ini memberikan pengaruh yang nampak sebanding terhadap perkembangan morfologis planlet tembakau in vitro.  Kultur yang mengekspresikan TcAP1 pada level sedang mampu beregenerasi menjadi planlet sempurna dan membentuk bunga in vitro.
Kloning dan karakterisasi gen penyandi inhibitor proteinase dari kulit buah kakao Cloning and characterization of gene encoding proteinase inhibitor of cacao pod wall ISDA, Mayta Novaliza; KASIM, Musliar; MANSYURDIN, .; CHAIDAMSARI, Tetty; SANTOSO, Djoko
E-Journal Menara Perkebunan Vol 76, No 2: Desember 2008
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.457 KB)

Abstract

Summary Attempts to increase cocoa production in Indonesia have been hinderred by attack of CPB (Conopomorpha cramerella). There has been no effective measures to control this pest leading to development of cacao planting materials which resistant to the pod borer. One of genes functioning in plant defense system against insect pests such as catepilar is Proteinase Inhibitor (PIN). This research aimed to isolate and characterize TcPIN gene of cacao pod wall. A clone of TcPIN was isolated with RT-PCR technique using total RNA of cacao pod wall and DNA primer designed based on the sequence Trypsin Inhibitor of cocoa bean accessible online. BlastX analysis of the sequence of the cDNA clone demonstrated that the ± 600 bp gene cloned with pGEM-T was PIN gene as indicated by highly homologous to Trypsin Inhibitor of Theobroma microcarpum resulted in 248 Score bits and E value 1 e-64. Two sequence alligment with the putative 21 kDa PIN  of cacao seed indicated a moderately high homology. Contrasting these two sequences however found some non identical amino acids implying some variations. Ringkasan Usaha peningkatan produksi kakao di Indonesia terkendala antara lain oleh adanya serangan hama PBK (Conopomorpha cramerella). Untuk menanggulangi serangan PBK tersebut perlu adanya satu cara pengendalian yang efektif dan efisien, sehingga dapat mendorong usaha pengembangan bahan tanam yang tahan PBK. Salah satu gen  membawa sifat ketahanan tanaman terhadap hama ulat adalah Proteinase Inhibitor (PIN). Penelitian ini bertujuan untuk mengisolasi dan mengkarakterisasi gen TcPIN dari kulit buah kakao. Klon cDNA TcPIN diisolasi dari kulit buah kakao dengan teknik RT-PCR meng-gunakan RNA total kulit buah kakao dan primer DNA yang dirancang atas dasar sekuen Inhibitor Tripsin biji kakao yang diakses lewat internet.  Hasil analisis BlastX dari sekuen klon cDNA menunjukkan  bahwa gen berukuran  ± 600 pb yang telah diklon dengan pGEM-T tersebut adalah PIN karena memiliki homologi yang tinggi terhadap 21 kDa trypsin inhibitor dari Theobroma microcarpum yang meng-hasilkan Skor 248 bits dengan Nilai E 1e-64. Penjajaran dua sekuen dengan PIN putatif 21 kDa yang berasal dari biji kakao menunjuk-kan tingkat homologi yang tinggi, dengan perbedaan nyata sehingga dapat terlihat bahwa keduanya tidak identik.