Dietriech G Bengen, Dietriech
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Struktur dan Distribusi Spasial Teripang(Holothuroidea) Serta Interaksinya dengan Karakteristik Habitat di Rataan Terumbu Pantai Blebu, Lampung Selatan

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 2, No 2 (1994): Desember 1994
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini Bertujuan untuk Mengkaji struktur komunitas dan distribusi spasial teripang (Holothuroidea) serta interaksinya dengan karakteristik habitat Perairan di rataan terumbu pantai Blebu, Lampung Selatan. Pengambilan contoh teripang di lakukan dengan menggunakan teknik pengambilan contoh sistematis pada titik plot yang telah di tentukan. kestabilan struktur komunitas teripang dikaji dengan menggunakan indeks keanekaragaman hill. Variasi Karakteristik habitat perairan dikaji dengan menggunakan analisis komponen utama, sedangkan evaluasi kuantitatif terhadap distribusi spasial teripang dan interaksinya dengan karakteristik habitat perairan di lakukan dengan menggunakan analisis faktorial koresponden. dari hasil pengamatan di peroleh 7 spesies teripang, yang termasuk ke dalem 2 ordo (Aspidochirotida dan Apoda) dan 3 famili (Holothuridae , Stichopididae dan synaptiade)  . analisis terhadap kestabilan struktur komunitas teripang memperlihatkan ketidakstabilan pada stasiun 2 , sedangkan stasiun 4 memiliki struktur komunitas yang paling stabil. analisis komponen utama terhadap karakteristik habitat perairan memperlihatkan adanya variasi spasial yang nyata dari arus, kekeruhan suhu, sedangkan salinitas tidak memperlihatkan adanya variasi. adanya variasi karakteristik habitat perairan berkontribusi terhdap distribusi spesies teripang. hasil analisis faktorial koresponden memperlihatkan pengelompokan  stasiun berdasarkan struktur komunitas teripang , analisis ini juga memperlihatkan pengelompokan beberapa spesies teripang yang memiliki preferensi yang sama terhadap karakteristik habitat perairan.kata-kata kunci:teripang, struktur komunitas ,karakteristik habitat perairan,analisis komponen utama, analisis faktorial koresponden

PENELUSURAN V ARIETAS IKAN GURAME, Osphrollemus goramy, Lacepede, BERDASARKAN PENAMPILAN KARAKTER LUAR (FENOTIP)

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 3, No 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk dapat mengidentifikasi keberadaan varietas-varietas ikan gurame yang ada berdasarkan karakter luar (fenotip). Pada penelitian ini, 250 contoh ikan gurame yang berasal dari Parung (Bogor), telah digunakan sebagai hewan uji. Hasilpenelitian telab berhasil diidentifikasi keberadaan lima varietas ikan gurame (bule,blusafir, paris, bastar dan batu) berdasarkan karakter fenotip berupa warna, bentuk kepala, bentuk tubuh dan pola sisik.Kata-kata kunci: identifikasi, varietas, ikan gurame

Struktur Komunitas dan Distribusi Ikan Karang di Perairan Pulau Sekepal dan Pantai Belebuh , Lampung Selatan , dan Hubungannya dengan Karakteristik Habitat

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 1, No 2 (1993): Desember 1993
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5378.385 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas dan distribusi ikan karang serta hubungannya dengan karakteristik habitat. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai infonllasi yang berguna bagi pengelolaansumberdaya ikan karang. Pengamatan komunitas ikan karang dilakukan dengan menggunakan metoda pencacahan langsung. Struktur komunitas ikan karang dilihat berdasarkan indekskeragaman, keseragaman dan dominansi, sedangkan untuk melihat distribusi spasial ikim karang dan hubungannya dengan karakteristik habitat, digunakan metoda analisis faktorial koresponden.Struktur komunitas ikan karang di perairan Pulau Sekepal dan Pantai Belebuh umurnnya berada pada kondisi masih stabil, kecuali pada stasiun 14. Pada stasiun 14 sering terjadi kekeruhan yang disebabkan oleh adanya sirkulasi air yang tidak stabil. Hal ini merupakan faktor yang tidak menunjang bagi kehidupan komunitas karang dan ikannya. Dari studi ini juga dapat diketahui bahwa distribusi beberapa jenis ikan karang secara nyata dapat dicirikan oleh karakteristik habitattertentu, disamping adanya beberapa jenis ikan yang kosmopolit.Kata-kata kunci: struktur komunitas, ikan karang, karakteristik habitat, analisisfaktorial koresponden

Penelusuran Varietas Ikan Gurame, Osphronemus Goramy, Lacepede,Dengan Menggunakan Analisis Komponen utama

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 3, No 1 (1995): Juni 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kemungkinan adanya perbedaan populasi ikan gurame berdasarkan karakter morfometrik. Dad S50 contoh ikan yang digunakan, 100 contoh berasal dad Purwokerto, Banyumas (2 kelompok), dan 250 contoh berasal dad Parung, Bogor (5 kelompok). Pengukuran karakter morfometrik dilakukan dengan menggunakan metode morfometrik baku dengan 12 karakter dan metode truss motphometrics (truss morfometrik) dengan 23 karakter. Data yang terdid at as data morfometrik, data nisbah morfometrik dan data truss morfometrik dianalisis dengan menggunakan Analisis Komponen Utama. Hasil Analisis Komponen Utama memperlihatkan adanya kecenderungan bahwa individu asal Banyumas merupakan satu populasi, dan berbeda dengan populasi yang berasal dad Parung. Di antara grup populasi gurame asal Parung, terdapat dua varietas yaitu gurame bastar dan gurame paris yang memiliki karakter morfometrik berbeda,dibandingkan dengan gurame grup populasi yang lain, yaitu bule, blusafir dan batu.Kata-kata kunci : ikan gurame, vadetas, analisis komponen utama

Struktur Ikan Karang dan Interaksinya dengan Komponen Lifeform Karang Penyusun Terumbu Karang Pulau Hoga dan Karang Karedupa di Kepulauan Tukang Besi , Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 3, No 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas ikan karang dan interaksinya dengan lifeform karang pada terumbu karang Pulau Hoga dan Karang Kaledupa di Kepulauan Tukang Besi, Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara.Metode transek garis sejajar dengan kontur kedalaman digunakan untuk mengamati persentase penutupan lifeform karang dan ikan-ikan karang asosiatif pada kedalaman 10m. Pencacahan ikan-ikan karang dilakukan secara visual pada batas pandang 3 meter ke kiri dan kanan transek. Untuk mengetahui interaksi antara ikan karang dengan lifeformkarang digunakan analisis faktorial koresponden. Dari hasil pengamatan ditemukan 142 spesies ikan karang yang tergolong ke dalam 30 famili. Selanjutnya komponen lifeform karang yang paling berperan terhadap distribusi spasial ikan-ikan karang secara berturul-turut adalah komponen karang balu, komponen karang lunak dan komponen abiotikKata-kata kunci: ikan karang, lifeform karang, struktur komunitas ikan karang, distribusi spasial, anal isis faktorial koresponden

Struktur Ikan Karang dan Interaksinya dengan Komponen Lifeform Karang Penyusun Terumbu Karang Pulau Hoga dan Karang Karedupa di Kepulauan Tukang Besi , Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara

Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol 3, No 2 (1995): Desember 1995
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas ikan karang dan interaksinya dengan lifeform karang pada terumbu karang Pulau Hoga dan Karang Kaledupa di Kepulauan Tukang Besi, Kabupaten Buton Propinsi Sulawesi Tenggara.Metode transek garis sejajar dengan kontur kedalaman digunakan untuk mengamati persentase penutupan lifeform karang dan ikan-ikan karang asosiatif pada kedalaman 10m. Pencacahan ikan-ikan karang dilakukan secara visual pada batas pandang 3 meter ke kiri dan kanan transek. Untuk mengetahui interaksi antara ikan karang dengan lifeformkarang digunakan analisis faktorial koresponden. Dari hasil pengamatan ditemukan 142 spesies ikan karang yang tergolong ke dalam 30 famili. Selanjutnya komponen lifeform karang yang paling berperan terhadap distribusi spasial ikan-ikan karang secara berturul-turut adalah komponen karang balu, komponen karang lunak dan komponen abiotikKata-kata kunci: ikan karang, lifeform karang, struktur komunitas ikan karang, distribusi spasial, anal isis faktorial koresponden

STUDI AWAL RAJA AMPAT SEBAGAI MARINE ECO ARCHEO PARK: ANALISIS KUALITAS PERAIRAN DI KAWASAN SELAT DAMPIR

Jurnal Segara Vol 14, No 1 (2018): April
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selat Dampir yang berada di daerah Raja Ampat merupakan salah satu gugusan pulau-pulau kecil yang berada di ujung kepala burung pulau Papua bagian dari kawasan Coral Triangle Initiative (CTI) yang memiliki biodiversitas tinggi. Selain itu di lokasi ini terdapat situs arkeologi maritim, sehingga kawasan ini merupakan kawasan yang cocok sebagai kawasan marine eco archeo park. Perlu dilakukan penelitian awal keberadaan lokasi ini seperti kualitas perairan yang dilakukan pada tanggal 7 – 13  Mei 2014. Pengambilan data kualitas perairan dilakukan secara purposive sampling dengan menggunakan alat multiparameter secara in situ dan analisis sampel air di laboratorium. Parameter yang diukur yaitu salinitas, pH, turbiditas, padatan tersuspensi (TSS), Biological Oxygen Demand (BOD5), nitrat, tembaga dan nikel. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan menggunakan analisis PCA (Principal Component Analysis). Hasil yang didapat untuk semua parameter masih sesuai dengan KMNLH no 51 tahun 2004, hanya nilai tembaga pada saat pengukuran tidak sesuai, walaupun secara keseluruhan perairan Selat  Dampir pada saat pengukuran masih dalam kondisi baik sebagai daerah taman nasional dan wisata bahari. Berdasarkan analisis PCA didapatkan parameter yang berperan kuat di lokasi adalah BOD5, pH, TSS dan kecerahan. Diperlukan penelitian lebih lanjut terkait lokasi penelitian sebagi situs maritim dan daerah wisata bahari di daerah konservasi dalam mewujudkan marine eco archeo park berbasis ekosistem lestari.