Articles

Found 13 Documents
Search

KEBUTUHAN DEBIT UNTUK FLUIDISASI 01 MUARA SUNGAI- DAN ALUR PELAYARAN

INERSIA Vol 1 No 2, Sep. 2005
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTFluidization method is one of the alternatives to maintain river mouth andharbour entrance. It is expected to substitute the role of maintenance dredgingthat is high cost and often inefficient for small volume of dredging. A series ofresearch is conducted to understand the fluidization method but there has beenlittle confidence whether fluidization process can run when the system isimplemented in the field. Hence, fluidization model of large scale is expected toenhance confidence.The objective of the present study is to obtain flow rate required forfluidization. The study used two dimensional physical modelling of large scale. Itwas conducted by testing various sediment thickness (burial depth of pipe) from25 cm to 150 cm in a large concrete well. Several parameters were observed onthe experiments. Performances of one and three holes of fluidizer pipe wereobserved too.The flow rate requirement increases linearly with sediment thickness. For 1hole of fluidizer pipe, the flow rate requirement approaches Qh =0,45 db + 0,40.While 3 holes of fluidizer pipe requires flow rate as Qh =1,44 db + 0,16. Wheredb is sediment thickness. Comparison between the performances of 1 holeand 3 holes of pipe show that holes spacing significant to fluidization. Thedistance between holes should not be too long. Cooperation of holes mayreduce flow rate requirement.Keywords : fluidization, dredging, sediment

Model Pengendalian Sedimentasi Waduk Mrica Dengan Fluidisasi

Dinamika Rekayasa Vol 5, No 2 (2009): Dinamika Rekayasa - Agustus 2009
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.143 KB)

Abstract

Sediment rate of Mrica reservoir is much faster than its early design by which it causes life time service of Mrica reservoir becoming shorter than previous assumption. Sediment control has been being operated by flushing, but it seems less optimal. This research aims to develop both laboratory models of fluidization and fluidizer systems for controlling sedimentation in Mrica reservoir.This research was carried out to experiment model in a laboratory regarding effectiveness of fluidization system especially to support sediment flushing. Sample sediment tested was from Mrica reservoir bed. There were two models including a flushing model alone and a flushing model assisted by a fluidizer pipe. Experiment was conducted in various discharges, sediment depths, and pipe pressures.The research results show that sediment category in Mrica reservoir is cohesive material consisting around 80% of medium to coarse silt. Compared to the flushing mechanism alone, the combination of flushing and fluidization can increase the volume of sediment removal by 67.54 %, 67.88 %, and 71.26 % for the discharges of 0.123 litre/sec, 0.185 litre/sec, and 0.369 litre/sec respectively. The combination of flushing and fluidization is also able to improve model efficiency by around 4.38 %, 4.54 %, and 5.07 % for the same variation of discharges.

Analisis Sedimentasi di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Logending

Dinamika Rekayasa Vol 11, No 1 (2015): Dinamika Rekayasa - Februari 2015
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.514 KB)

Abstract

Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Logending merupakan pelabuhan ikan yang dibangun di muara Sungai Ijo. Karena terletak di muara sungai, PPI tersebut sangat rawan terhadap sedimentasi yang dipengaruhi debit aliran sungai dari bagian hulu dan pasang surut air laut dari bagian hilir. Analisis sedimentasi di PPI Logending didahului dengan pengambilan data primer seperti data kecepatan aliran, sampel sedimen, dan potongan melintang sungai, serta data sekunder berupa data pasang surut di perairan Cilacap yang diperoleh dari BMKG Cilacap. Dengan menggunakan data tersebut, selanjutnya dilakukan analisis sedimentasi menggunakan software HEC-RAS berdasarkan pada Persamaan Ackers – White, Meyer – Peter Müller, dan Wilcock. Hasil dari simulasi menunjukkan bahwa Persamaan Meyer – Peter Müller dan Wilcock memberikan kesesuaian yang lebih baik dengan kondisi di lapangan daripada Persamaan Ackers - White, dimana pada tampang 3 (hulu) terjadi erosi, sedangkan pada tampang 2 (tengah) dan tampang 1 (hilir) mengalami deposisi. Adanya proses deposisi yang signifikan di mulut sungai mengindikasikan perlunya pengerukan untuk pemeliharaan (maintenance dredging) secara periodik yang seharusnya mendapat perhatian dari pihak pengelola pelabuhan.

Hitungan Diameter Pipa pada Sistem Penyediaan Air Minum sederhana

Dinamika Rekayasa Vol 6, No 1 (2010): Dinamika Rekayasa - Februari 2010
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.951 KB)

Abstract

Drinking water sector is one of the public services which is connected tightly to poverty decrease. A small community water supply is more suitable if it uses a simple system which does not need sophisticated planning and construction. Nevertheless, hydraulics calculation should be always conducted accurately because it will influence water supply performance. In this case, pipe hydraulics needs more overview because system reliability depends on pipe capacity.This study discusses two methods of pipe diameter calculation at a simple drinking water supply system. For planning assistance, Directorate General Cipta Karya-Public Work Ministry issued Technical Guideline Book for Simple Drinking Water Construction in 2007. One of its chapters discusses about a method to find pipe diameter based on several tables available, but it is not given an explanation about basic theory of the tables so there is a doubt for planners. For the reason, comparison between the use of the tables (Juknis Method) and Darcy-Weisbach Formula to calculate pipe diameter will be discussed. Data from 5 villages in Kebumen Regency will be utilized to support analysis.The result of procedure for making comparison shows that there is no significant difference (less than 4%) between the result of calculation by Darcy-Weisbach Formula and Juknis Method with accurate interpolation. Both of the methods can be applied with its advantages and disadvantages. It is suggested that Darcy-Weisbach Formula is always implemented to re-check toward pipe diameter which is available in the market and will be used in the system.

PENGARUH POLA AGIHAN HUJAN TERHADAP PROFIL MUKA AIR DI SUNGAI OPAK

SIPIL Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : SIPIL

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Debit banjir merupakan dasar bagi perancangan sebuah bangunan air. Pada kondisi tertentu,perlu dilakukan analisis hidrograf satuan sintetik (HSS) menggunakan pola agihan hujan untukmendapatkan debit banjir rancangan. Walaupun demikian belum banyak yang mengkaji pengaruhdebit banjir rancangan sebuah metode HSS menggunakan pola agihan hujan tertentu terhadapprofil muka air pada sebuah sungai. Pada penelitian ini dilakukan analisis debit rancanganmenggunakan metode HSS Nakayasu berdasarkan pola agihan hujan Alternating Block Method(ABM) dan Tadashi Tanimoto. Hasil analisis debit banjir rancangan diverifikasi dengan rekamandata AWLR (Automatic Water Level Recorder) Karang Semut di Sungai Opak, kemudian dilakukananalisis hidraulika menggunakan software HEC-RAS versi 4.1, sehingga didapatkan profil mukaair banjirnya. Hasil analisis hidrologi menunjukkan bahwa besar debit puncak banjir rancanganuntuk kala ulang 25 tahun menggunakan metode HSS Nakayasu dengan pola agihan ABM adalahsebesar 1046 m3/det, sedangkan untuk pola agihan Tadashi Tanimoto adalah sebesar 558,76m3/det. Berdasarkan analisis frekuensi, debit puncak dari rekaman AWLR Karang Semut untukkala ulang 25 tahun adalah sebesar 242,04 m3/det. Hasil analisis hidraulika menunjukkan hasilsimulasi elevasi muka air banjir berdasarkan pola agihan ABM lebih tinggi 2,4 m dibandingkanhasil simulasi elevasi muka air banjir berdasarkan rekaman data AWLR Karang Semut, sedangkanhasil simulasi elevasi muka air banjir berdasarkan pola agihan Tadashi Tanimoto lebih tinggi 1,18m dibandingkan hasil simulasi elevasi muka air banjir berdasarkan rekaman data AWLR KarangSemut.Kata kunci: HSS Nakayasu, ABM, Tadashi Tanimoto, profil muka air.

ASESMEN TERHADAP BERAT BATU LAPIS PELINDUNG PEMECAH GELOMBANG DI PELABUHAN LOGENDING, PLTU ADIPALA DAN CIKIDANG

Jurnal Teknik Sipil Vol 12, No 4 (2014)
Publisher : Jurnal Teknik Sipil

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berat batu pada lapis pelindung merupakan faktor utama stabilitas  suatu pemecah gelombang. Untuk jenis yang sama dari suatu batu pelindung, semakin berat sebuah batu semakin tinggi gelombang yang dapat ditahan. Pada suatu wilayah berdekatan yang memiliki karakteristik gelombang yang serupa maka logis jika berat batu pelindung relatif sama. Namun pada kenyataannya berat batu dapat sangat berbeda seperti dapat dilihat pada kasus tiga pelabuhan di Pantai Selatan Jawa yaitu Pelabuhan Logending Kebumen, Pelabuhan PLTU Adipala Cilacap dan Pelabuhan Cikidang Pangandaran. Berat batu lapis pelindung bagian ujung/kepala pemecah gelombang pada ketiga pelabuhan tersebut berturut-turut adalah 2,1 ton, 25 ton dan 1,3 ton. Oleh karena itu penting jika dilakukan asesmen terhadap berat batu untuk mengetahui tinggi gelombang rencana yang dipilih oleh perencana yang selanjutnya berguna untuk keperluan kegiatan setelah pembangunan yaitu pemeliharaan. Analisis untuk memberikan asesmen dilakukan terhadap ketiga pemecah gelombang tersebut di atas. Dengan menerapkan Rumus Hudson dapat diperoleh hasil analisis yang menunjukkan bahwa tinggi gelombang rencana yang dipakai pada pelabuhan Logending, Pelabuhan PLTU Adipala, dan Pelabuhan Cikidang berturut-turut adalah 2,8 meter, 6,4 meter dan 2,6 meter. Pemecah gelombang Pelabuhan PLTU Adipala nampaknya menggunakan gelombang rencana yang lebih tinggi daripada gelombang signifikan (Hs) yang biasa dipakai dalam Rumus Hudson.

EFEKTIVITAS BENTUK ABUTMEN TERHADAP GERUSAN DI SEKITAR ABUTMEN JEMBATAN

Jurnal Teknik Sipil Vol 13, No 4 (2016)
Publisher : Jurnal Teknik Sipil

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abutmen jembatan merupakan bagian struktur jembatan yang cukup rawan terhadapproses gerusan lokal. Proses gerusan lokal pada abutmen jembatan dapat menyebabkan kegagalanstruktur pada jembatan, dan mengakibatkan jembatan tidak dapat berfungsi kembali. Untukmengetahui efektivitas bentuk abutmen jembatan terhadap gerusan lokal, dilakukan simulasiterhadap 2 buah model abutmen jembatan, vertical wall abutment dan semi – end – circularabutment, yang diletakkan di hamparan sedimen untuk 3 variasi debit sebesar 0,45 lt/det, 0,51lt/det, dan 0,79 lt/det diflume, kemudian diukur perubahan elevasi di sekitar jembatanmenggunakan alat ukur digital. Hasil simulasi menunjukkan bahwa model vertical wall abutmentmemberikan kedalaman gerusan yang lebih dalam pada debit simulasi terbesar jika dibandingkandengan model semi – end – circular abutment, dengan kedalaman gerusan berturut-turut sebesar -2,35 cm dan -2,12 cm. Untuk pola gerusan lokal, gerusan yang terjadi pada model vertical wallabutment hanya terjadi pada arah C, sedangkan pada model semi – end – circular abutment terjadipada arah A dan C. Untuk itu, model semi – end – circular lebih efektif mengurangi kedalamangerusan, namun menghasilkan pola gerusan yang lebih banyak.

ANALISIS PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PROGRAM PLC PEMBACAAN ENCODER PADA SISTEM ROBOT RECORD AND REPLAY

Journal of Mechanical Engineering Learning Vol 1 No 1 (2012): Journal of Mechanical Engineering Learning
Publisher : Journal of Mechanical Engineering Learning

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PROFIL MUKA AIR DI HULU GROUNDSILL TIPE AMBANG LEBAR DAN OGEE

Dinamika Rekayasa Vol 3, No 2 (2007): Dinamika Rekayasa - Agustus 2007
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (124.089 KB)

Abstract

A Groundsill is built with main purpose to control river bed. When groundsill is placed in a river there will cause water surface raises and creates backwater in upstream of the groundsill. It influences elevation of flood and inundation. The backwater will inundate riverbank or structures along backwater distance, and drainage become difficultier as well as cause dangerous spill. Different type of groundsill will give different inundation impact. Therefore it needs to analyse water surface raises caused by different type of groundsill. This study is aimed to analyse water surface profile in upstream of groundsill with two different type, i.e. broadcrested and ogee. Serang River data is used to analyse. HEC-RAS Version 4 Beta assist the calculation and analysis. The calculation result shows that at the same height of sill, Ogee type give higher backwater level than broadcrested type. Nevertheless, the backwater distance is not different significantly.

Analisis Probabilitas Kecepatan Angin untuk Pesisir Cilacap dengan Menerapkan Distribusi Weibull dan Rayleigh

Dinamika Rekayasa Vol 9, No 1 (2013): Dinamika Rekayasa - Februari 2013
Publisher : Jenderal Soedirman University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (782.54 KB)

Abstract

Wind characteristics especially the event probability have been more studied in the relation to wind energy availability in an area. Nevertheless, in the relation to coastal structure, it is still rare to be unveiled in a paper particulary in Indonesia. In this article, therefore, it is studied probability distribution commonly used to wind energy analysis i.e. Weibull and Rayleigh distribution. The distribution is applied to analyze wind data in Cilacap Coast. Wind data analyzed is from Board of Meteorology, Climatology and Geophysics, Cilacap branch, along two years (2009 – 2011). Mean, varians and standard deviation are founded to calculate shape factor (k) and scale factor (c) which must be available to arrange distribution function of Weibull and Rayleigh. In the region, it gains a result that wind speed probabilities follow Weibull and Rayleigh function fairly. Shape parameter value has been gotten k = 3,26, while scale parameter has been gotten respectively c = 3,64 for Weibull and Cr = 2,44 for Rayleigh. Value of k ≥ 3 indicates the region has regular and steady wind. Besides, mean speed of wind is 3,3 m/s.