Djumala Machmud, Djumala
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

Modifikasi Meja Evaluasi Perbedaan Warna Pada Industri Kerajinan Dan Batik Machmud, Djumala; Suharyanto, Suharyanto
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No 18 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3269.27 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v0i18.1089

Abstract

Industri tekstil kerajinan dan batik dalam mengevaluasi ketidakseragaman kualitas, dilakukan pengujian perbedaan warna pada produk yang dihasilkan. Kekeliruan penilaian hasil pengujian dapat diminimalisasi apabila ada sarana kotak penilaian yang menjaga standar penyinaran yang meneranginya.            Penilaian perbedaan warna dilakukan pada kekuatan penerangan 50 feet candle atau lebih. Penerangan tersebut dapat disubtitusikan cahaya lampu listrik setara dengan 62.849, 7 Lumen yang terdisi dari penggabungan warna ungu (violet), biru, putih dan kuning jingga.Meja evaluasi direncanakan berupa berbagai warna sinar lampu listrik pada suatu ruangan yang kemudian dilewatkan pada kaca pembesar sinar. Hasil sinar pada jarak tertentu dipakai untuk menyinari hasil pengujian perbedaan warna yang akan dinilai.            Pembuatan meja diawali dari bagian boks pengumpulan sinar yang berada di atas meja evaluasi dan bertumpu pada empat tiang penyangga. Pengerjaan pembuatannya sesuai aturan teknik pengerjaan yang berlaku.Hasil unjuk kerja peralatan terlihat bahwa sinar yang dihasilkan dapat menyinari contoh uji pada setiap sudut meja tanpa menimbulkan bayangan. Kekuatan penyinaran yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat dikatakan bahwa meja dapat berfungsi sebagaimana mestinya.Industri tekstil kerajinan dan batik dalam mengevaluasi ketidakseragaman kualitas, dilakukan pengujian perbedaan warna pada produk yang dihasilkan. Kekeliruan penilaian hasil pengujian dapat diminimalisasi apabila ada sarana kotak penilaian yang menjaga standar penyinaran yang meneranginya.            Penilaian perbedaan warna dilakukan pada kekuatan penerangan 50 feet candle atau lebih. Penerangan tersebut dapat disubtitusikan cahaya lampu listrik setara dengan 62.849, 7 Lumen yang terdisi dari penggabungan warna ungu (violet), biru, putih dan kuning jingga.Meja evaluasi direncanakan berupa berbagai warna sinar lampu listrik pada suatu ruangan yang kemudian dilewatkan pada kaca pembesar sinar. Hasil sinar pada jarak tertentu dipakai untuk menyinari hasil pengujian perbedaan warna yang akan dinilai.            Pembuatan meja diawali dari bagian boks pengumpulan sinar yang berada di atas meja evaluasi dan bertumpu pada empat tiang penyangga. Pengerjaan pembuatannya sesuai aturan teknik pengerjaan yang berlaku.Hasil unjuk kerja peralatan terlihat bahwa sinar yang dihasilkan dapat menyinari contoh uji pada setiap sudut meja tanpa menimbulkan bayangan. Kekuatan penyinaran yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan sehingga dapat dikatakan bahwa meja dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
Pengaruh Anyaman Kain Bahan Polis Terhadap Efektivitas Proses Pengkilapan Perak Machmud, Djumala
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2254.335 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v0i19.1095

Abstract

Proses pengkilapan perak banyak menggunakan cakram/polis dari kain blacu dan kain jeans/denim sehingga diperlukan pengkajian efektifitasnya.Kain blacu dan kain jeans/denim mempunyai anyaman berbeda sehingga karakter kedua kain tersebut tidak sama, kain blacu lebih kaku dari pada kain jeans. Perbedaan kedua sifat kain dalam perlakuan proes pengkilapan yang sama akan diperoleh tingkat kilau perak yang berbeda. Cakram/polis dibuat dari kain blacu dan kain jeans dengan ukuran ∅ 20 cm dan tebal 2,5 cm. Masing-masing mempunyai 2 buah jahitan melingkar dengan jarak jahitan (stitch) 0,5 cm. Kedua bahan polis dipakai untuk mengkilapkan perak berbentuk plat yang kemudian diuji kilaunyaKilau perak yang terjadi oleh polis dari kain blacu menghasilkan kilau pada skala 17.65 dan polis dari kain jeans menghasilkan kilau pada skala 19,35.Proses pengkilapan perak banyak menggunakan cakram/polis dari kain blacu dan kain jeans/denim sehingga diperlukan pengkajian efektifitasnya.Kain blacu dan kain jeans/denim mempunyai anyaman berbeda sehingga karakter kedua kain tersebut tidak sama, kain blacu lebih kaku dari pada kain jeans. Perbedaan kedua sifat kain dalam perlakuan proes pengkilapan yang sama akan diperoleh tingkat kilau perak yang berbeda. Cakram/polis dibuat dari kain blacu dan kain jeans dengan ukuran ∅ 20 cm dan tebal 2,5 cm. Masing-masing mempunyai 2 buah jahitan melingkar dengan jarak jahitan (stitch) 0,5 cm. Kedua bahan polis dipakai untuk mengkilapkan perak berbentuk plat yang kemudian diuji kilaunyaKilau perak yang terjadi oleh polis dari kain blacu menghasilkan kilau pada skala 17.65 dan polis dari kain jeans menghasilkan kilau pada skala 19,35.
Rekayasa Alat Tumbling Untuk Industri Kerajinan Machmud, Djumala; Supardi, Supardi; Tukidjan, Tukidjan
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5171.192 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v15i1.1049

Abstract

Industri kerajinan aksesori yang terus berkembang perlu ditunjang dengan peralatan agar produktivitasnya meningkat sehingga lebih mampu bersaing di pasaran. Salah satu peralatan yang perlu diciptakan untuk penyempurnaan produk tersebut adalah alat penyempurnaan dengan sistem tumbling.Teknik tumbling, momen gaya, gaya pada putaran vertikal, elemen alat dan bahan alat dipakai sebagai dasar dalam perencanaan rekayasa peralatan tumbling.Pembuatan tabung tumbling dengan bentuk segi enam beraturan dan peralatan pengatuh kecepatan putaran merupakan kegiatan yang dilakukan dalam pembuatan peralatan sesuai prosedur pengerjaan yang berlaku, hasil uji coba peralatan dibandingkan dengan bajan kerja sebelum proses dipakai untuk mengetahui tingkat unjuk kerja peralatan.Peralatan dapat berfungsi sebagaimana diharapkan, dengan hasil penampakan permukaan benda kerja yang berbeda dengan kenampakan permukaan benda kerja sebelum proses.Industri kerajinan aksesori yang terus berkembang perlu ditunjang dengan peralatan agar produktivitasnya meningkat sehingga lebih mampu bersaing di pasaran. Salah satu peralatan yang perlu diciptakan untuk penyempurnaan produk tersebut adalah alat penyempurnaan dengan sistem tumbling.Teknik tumbling, momen gaya, gaya pada putaran vertikal, elemen alat dan bahan alat dipakai sebagai dasar dalam perencanaan rekayasa peralatan tumbling.Pembuatan tabung tumbling dengan bentuk segi enam beraturan dan peralatan pengatuh kecepatan putaran merupakan kegiatan yang dilakukan dalam pembuatan peralatan sesuai prosedur pengerjaan yang berlaku, hasil uji coba peralatan dibandingkan dengan bajan kerja sebelum proses dipakai untuk mengetahui tingkat unjuk kerja peralatan.Peralatan dapat berfungsi sebagaimana diharapkan, dengan hasil penampakan permukaan benda kerja yang berbeda dengan kenampakan permukaan benda kerja sebelum proses.
Pengaruh Kecepatan Putaran dan Tekanan Pada Proses Polis terhadap Kilau Perak Machmud, Djumala; Supardi, Supardi; Marjono, Marjono
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2937.553 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v0i16.1075

Abstract

Proses penyempurnaan produk kerajinan perak dengan permukaan datar dengan sistim polis dapat mempercepat produksi. Hal ini mendorong perajin utuk menambah kecepatan putaran peralatan polis tanpa memperhitungkan efektifitas kerja peralatan. Peningkatan kecepatan akan memperbesar gaya lempar yang terjadi sehingga mengurangi efektifitas proses polis, sedangkan tekanan yang semakin besar akan meningkatkan gaya gesek yang terjadi. Percobaan dilakukan pada 3 tingkat kecepatan yaitu RPM 1440, 1550 dan 1950. Tekanan yang diberikan pada masing-masing kecepatan adalah 3; 3,5 dan 4 kg. Kilau perak yang terjadi kemudian dianalisa. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kilau perak yang paling bagus diperoleh pada RPM 1440 dengan tekanan 4 kg.Proses penyempurnaan produk kerajinan perak dengan permukaan datar dengan sistim polis dapat mempercepat produksi. Hal ini mendorong perajin utuk menambah kecepatan putaran peralatan polis tanpa memperhitungkan efektifitas kerja peralatan. Peningkatan kecepatan akan memperbesar gaya lempar yang terjadi sehingga mengurangi efektifitas proses polis, sedangkan tekanan yang semakin besar akan meningkatkan gaya gesek yang terjadi. Percobaan dilakukan pada 3 tingkat kecepatan yaitu RPM 1440, 1550 dan 1950. Tekanan yang diberikan pada masing-masing kecepatan adalah 3; 3,5 dan 4 kg. Kilau perak yang terjadi kemudian dianalisa. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kilau perak yang paling bagus diperoleh pada RPM 1440 dengan tekanan 4 kg.
Perbedaan Kain Sarong Plekat Dengan Kain Sarong Poleng; Serta Teknik Pembuatannya Machmud, Djumala
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3646.126 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v0i19.1097

Abstract

Indonesia mempunyai populasi penduduk yang cukup besar dimana mayoritas beragama Islam. Salah satu sarana peribadatan dalam agama Islam secara tradisi adalah menggunakan kain sarong. Berbagai jenis kain sarong yang diproduksi, terdapat dua macam kain tersebut sekilas tidak terdapatnya perbedaan yang menyolok. Akan tetapi keduanya mempunyai ketidaksamaan apabila dikaji lebih mendalam.Kain sarong merupakan kain yang mempunyal bentuk konstruksi tertentu seperti: tepi, pinggir, corak dasar, corak kembang serta tumpal/kepala, yang dihasilkan dari proses pertenunan benang berwarna maupun basil proses pengecapan. Kain sarong plekat dan poleng merupakan kain sarong hasil proses pertenunan benang berwarna polos, yang mana masing-masing mempunyai disain kotak-kotak dengan konstruksi yang tidak berbeda.Penelitian dilakukan dengan mengevaluasi hasil produksi kain sarong plekat dan sarong poleng dari berbagai perusahaan kain sarong di Indonesia. Evaluasi yamg dilakukan meliputi ukuran, konstruksi dan disain corak kain sarong. Kemudian dilakukan analisa guna mendapatkan kejelasan perbedaannya. Hasil evaluasi menunjukan bahwa ukuran dan konstruksi kain sarong tersebut tidak adanya perbedaan, akan tetapi terdapat perbedaan yang menyolok pada disain coraknya. Perbedaan tersebut terdapat pada susunan corak badan dan susunan corak tumpal/kepala.Indonesia mempunyai populasi penduduk yang cukup besar dimana mayoritas beragama Islam. Salah satu sarana peribadatan dalam agama Islam secara tradisi adalah menggunakan kain sarong. Berbagai jenis kain sarong yang diproduksi, terdapat dua macam kain tersebut sekilas tidak terdapatnya perbedaan yang menyolok. Akan tetapi keduanya mempunyai ketidaksamaan apabila dikaji lebih mendalam.Kain sarong merupakan kain yang mempunyal bentuk konstruksi tertentu seperti: tepi, pinggir, corak dasar, corak kembang serta tumpal/kepala, yang dihasilkan dari proses pertenunan benang berwarna maupun basil proses pengecapan. Kain sarong plekat dan poleng merupakan kain sarong hasil proses pertenunan benang berwarna polos, yang mana masing-masing mempunyai disain kotak-kotak dengan konstruksi yang tidak berbeda.Penelitian dilakukan dengan mengevaluasi hasil produksi kain sarong plekat dan sarong poleng dari berbagai perusahaan kain sarong di Indonesia. Evaluasi yamg dilakukan meliputi ukuran, konstruksi dan disain corak kain sarong. Kemudian dilakukan analisa guna mendapatkan kejelasan perbedaannya. Hasil evaluasi menunjukan bahwa ukuran dan konstruksi kain sarong tersebut tidak adanya perbedaan, akan tetapi terdapat perbedaan yang menyolok pada disain coraknya. Perbedaan tersebut terdapat pada susunan corak badan dan susunan corak tumpal/kepala.
Modifikasi Alat Uji Ketahanan Luntur Warna Terhadap Cahaya Matahari Djumala Machmud Machmud, Djumala
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No 19 (2001): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3733.18 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v0i19.1104

Abstract

Industri kecil batik maupun tekstil kerajinan merupukan industri padat karya yang harus dilestarikan keberadaannya karena sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Industri tersebut dalam menjaga kontinuitas kwalitas hasil produksinya membutuhkan sarana peralatan sederhana untuk pengujian ketahanan luntur warna terhadap sinar matahari. Posisi keberadaan matahari di Indonesia yang selalu berubah membutuhkan sarana peralatan yang dengan leluasa dapat dipindah-pindah dan diatur sudut kemiringannya agar dapat menerima sinar. Peralatan terbuat dari bahan sederhana berupa tempat penyimpanan contoh uji yang dapat matahari secara langsung dengan sudut yang tepat kemiringannya dan secara keseluruhan dapat dipindahkan lokasinya. Kemiringan diatur dengan teknik tuas sliding pada kedua samping tempat contoh uji yang dapat berayun pada engsel/as dan bertumpu pada kerangka. Kerangka peralatan berdiri diatas empat buah roda agar dengan mudah dapat dipindah-pindahkan dari satu lokasi kelokasi yang lain. Teknik pengerjaan pembuatan peralatan dilakukan sesuai standar teknik pengujian yang berlaku.Unjuk kerja peralatan memperlihatkan bahwa peralatan dapat dipergunakan sebagai mana fungsinya dengan biaya pembuatan masih terjangkau oleh pengrajin.Industri kecil batik maupun tekstil kerajinan merupukan industri padat karya yang harus dilestarikan keberadaannya karena sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia. Industri tersebut dalam menjaga kontinuitas kwalitas hasil produksinya membutuhkan sarana peralatan sederhana untuk pengujian ketahanan luntur warna terhadap sinar matahari. Posisi keberadaan matahari di Indonesia yang selalu berubah membutuhkan sarana peralatan yang dengan leluasa dapat dipindah-pindah dan diatur sudut kemiringannya agar dapat menerima sinar. Peralatan terbuat dari bahan sederhana berupa tempat penyimpanan contoh uji yang dapat matahari secara langsung dengan sudut yang tepat kemiringannya dan secara keseluruhan dapat dipindahkan lokasinya. Kemiringan diatur dengan teknik tuas sliding pada kedua samping tempat contoh uji yang dapat berayun pada engsel/as dan bertumpu pada kerangka. Kerangka peralatan berdiri diatas empat buah roda agar dengan mudah dapat dipindah-pindahkan dari satu lokasi kelokasi yang lain. Teknik pengerjaan pembuatan peralatan dilakukan sesuai standar teknik pengujian yang berlaku.Unjuk kerja peralatan memperlihatkan bahwa peralatan dapat dipergunakan sebagai mana fungsinya dengan biaya pembuatan masih terjangkau oleh pengrajin.
Rekayasa Alat-Lilit Pada Industri Kerajinan Kain Jumputan Machmud, Djumala; Hasanudin, Muhammad; Muhadi, Muhadi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol 15 (1996): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (7146.032 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v15i1.1051

Abstract

Kain jumputan merupakan salah satu hasil kerajinan dari kain yang dibuat dengan ketrampilan manusia, yang perlu ditunjang dengan suatu peralatan agar diperoleh keseragaman kualitas hasilnya.Teknologi penggulungan, elemen mesin, bahan mesin dan teknik penyambungan benang dipakai dasar untuk merencanakan rekayasa peralatan lilit-ikat.Pembuatan unit penggulung, sumber gerakan dan kerangka peralatan merupakan kergiatan yang dilakukan da;lam pembuatan peralatan sesuai prosedur pengerjaan yang berlaku. Hasil uji penggunaan peralatan dibandingkan dengan hasil secara tradisional dipakai untuk mengetahui tingkat kegunaan unjuk kerja peralatan.Peralatan yang dibuat dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan dengan hasil lilitan motif yang sama dengan hasil proses secara tradisional, dengan waktu relatif lebih cepat.Kain jumputan merupakan salah satu hasil kerajinan dari kain yang dibuat dengan ketrampilan manusia, yang perlu ditunjang dengan suatu peralatan agar diperoleh keseragaman kualitas hasilnya.Teknologi penggulungan, elemen mesin, bahan mesin dan teknik penyambungan benang dipakai dasar untuk merencanakan rekayasa peralatan lilit-ikat.Pembuatan unit penggulung, sumber gerakan dan kerangka peralatan merupakan kergiatan yang dilakukan da;lam pembuatan peralatan sesuai prosedur pengerjaan yang berlaku. Hasil uji penggunaan peralatan dibandingkan dengan hasil secara tradisional dipakai untuk mengetahui tingkat kegunaan unjuk kerja peralatan.Peralatan yang dibuat dapat berfungsi sebagaimana yang diharapkan dengan hasil lilitan motif yang sama dengan hasil proses secara tradisional, dengan waktu relatif lebih cepat.
Penelitian Rekayasa Pembuatan Alat Celup Benang Tenun Bentuk Hank Hasanudin, Hasanudin; Machmud, Djumala
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah No 16 (1997): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3040.009 KB) | DOI: 10.22322/dkb.v0i16.1073

Abstract

Proses pengerjaan benang tenun bentuk hank dengan alat celup tradisional (bak) dapat ditingkatkan efisiensi dan kualitas hasilnya apabila ditambah peralatan yang lebih efektif dan mempunyai kestabilan yang mantap. Teknologi penggulungan benang, pencelupan dan pengerjaan bahan logam dan pengetahuan tentang elemen mesin merupakan landasan yang dipergunakan dalam perencanaan rekayasa peralatan. Kegiatan penelitian meliputi pembuatan desain, bagian peralatan, suku cadang, perakitan dan uji coba. Kemudian dilakukan pengujian ketidakrataan warna serta pengamatan jalannya proses.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa peralatan dapat berfungsi dengan baik dan selama uji coba terjadi kekusutan benang sebanyak satu kali untuk warna biru dan dua kali pada warna merah dengan hasil kerataan kedua warna mempunyai koefisien variasi dibawah satu persen.Proses pengerjaan benang tenun bentuk hank dengan alat celup tradisional (bak) dapat ditingkatkan efisiensi dan kualitas hasilnya apabila ditambah peralatan yang lebih efektif dan mempunyai kestabilan yang mantap. Teknologi penggulungan benang, pencelupan dan pengerjaan bahan logam dan pengetahuan tentang elemen mesin merupakan landasan yang dipergunakan dalam perencanaan rekayasa peralatan. Kegiatan penelitian meliputi pembuatan desain, bagian peralatan, suku cadang, perakitan dan uji coba. Kemudian dilakukan pengujian ketidakrataan warna serta pengamatan jalannya proses.Hasil pengamatan menunjukkan bahwa peralatan dapat berfungsi dengan baik dan selama uji coba terjadi kekusutan benang sebanyak satu kali untuk warna biru dan dua kali pada warna merah dengan hasil kerataan kedua warna mempunyai koefisien variasi dibawah satu persen.