p-Index From 2015 - 2020
0.835
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Kedokteran
Yunita Sabrina, Yunita
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Improvements of PCR Amplification of Guanine plus Cytosine-Rich Constructs of Mycobacterium tuberculosis Gene using DMSO Sabrina, Yunita; Lestarini, Ima Arum; Ekawanti, Ardiana; Sriasih, Made; Depamede, Sulaiman N.; Ali, Muhamad
Jurnal Kedokteran Vol 1 No 1 (2012)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vaccine research entered a new era when several useful molecular research tools were established. Instead of attenuated virulent microorganisms or killed virulent microorganisms, effective subunit vaccines were developed using recombinant DNA technology. By using the technology, selected genes of the virulent microorganisms can be amplified, cloned, expressed, and evaluated as vaccine components in challenge studies. However, a major bottleneck with the amplification of functional genes from Mycobacterium tubeculosis containing guanine plus cytosin-rich templates is often hampered by the formation of secondary structures like hairpins and higher melting temperatures. To solve this problem in this research, the amplification reaction was modified by addition of dimethyl sulfoxide (DMSO) into amplification reaction mixtures. It was found that 10% (v/v) of DMSO in the reaction mixture improved the amplification of GC-rich template of M. tuberculosis gene. This result indicating that amplification of unbalanced content of G and C deoxyribonucleotides genome could be improved using low-cost organic molecule, DMSO. Therefore, the DMSO should be widely useful as an enhancer to improve the amplification of GC rich construct from other genome. Keywords: Mycobacterium tubeculosis,vaccine, dimethyl sulfoxide, Guanine-Cytosine
STUDI RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIKAPASIEN RAWAT INAP DI RSUP NTB Wardoyo, Eustachius Hagni; Suryani, Dewi; Sabrina, Yunita
Jurnal Kedokteran Vol 3 No 4 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kualitas penggunaan antibiotika yang baik merupakan bagian dari kampanye pengendalian resistensi antibiotika. Penggunaan antibiotika yang baik memiliki ciri-ciri penggunaan antibiotika spectrum sempit sesuai dengan indikasi, dosis adekuat dan lama penggunaan sesuai kebutuhan. Resistensi antibiotika merupakan isu dunia yang berkembang sejak beberapa dekade terakhir. Pada negara-negara berkembang, sekitar 44% sampai 97% pasien di RS diresepkan antibiotika, seringkali tidak perlu atau tidak tepat indikasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas penggunaan antibiotika pasien rawat inap RSUP NTB. Metodologi: Penelitian ini dilakukan menggunakan metode potong lintang menggunakan data rekam medis dalam kurun 2004-2014. Kualitas penggunaan antibiotika yang dipergunakan adalah berdasarkan kriteria Gyssens. Hasil: Sebanyak 120 kasus memenuhi kriteria inklusi memiliki diagnosis/ diagnosis kerja yang beragam. Dari 120 kasus tersebut diberikan peresepan 360 antibiotika dengan rerata 3 kombinasi antibiotika. Didapatkan tingkat ingkat konsumsi antibiotika per 100 hari rawat (bed days) adalah ceftriaxone (28.9%); metronidazole (24.2%), levofloxacin (17.3%), ciprofloxacin (15.7%), cefotaxim (8.8%), meropenem (2.1%), amoxicillin dan gentamicin (0.7%), fosfomycin (0.3%) dan chloramphenicol (0.1%).Hasil yang diperoleh berdasarkan analisa kualitatif penggunaan antibiotik adalah sebagai berikut: pemberian empiris (58.6%), disusul tidak diketahui (22.5%), definitif (13.9%) dan profilaksis (5%). Untuk tipe terapi profilaksis 100% menggunakan ceftriaxon. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian ini terdapat penggunaan ceftriaxone yang berlebihan dan tidak rasional. Kualitas peresepan tertinggi adalah meropenem disusul ampisilin, levofloxacin, fosfomycin, amoxicillin, metronidazole, cefotaxim dan ceftriaxone. Adapun kriterianGyssens yang mendominasi pada studi ini adalah tidak adanya indikasi penggunaan antibiotika. Dengan demikian maka perlu (1) dibuat panduan penggunaan antibiotika RSUP dan (2) Pembatasan penggunaan ceftriaxone dan cephalosporin generasi ketiga. Kata Kunci: rasionalisasi, antibiotika, rawat inap.
Studi Status Gizi, Pola Makan serta Aktivitas pada Anak Sekolah Dasar di Kota Mataram Suryani, Dewi; Sabrina, Yunita; Cholidah, Rifana; Ekawanti, Ardiana; Andari, Marie Yuni
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Dewasa ini negara berkembang termasuk Indonesia dihadapkan pada dua permasalahan status gizi anak, yaitu gizi kurang dan gizi lebih. Kecenderungan peningkatan prevalensi gizi lebih di Indonesia ditunjukkan oleh studi di Yogyakarta dan Denpasar. Sebuah studi di Yogyakarta tahun 1999 menunjukkan bahwa proporsi gizi lebih pada anak sekolah dasar di Yogyakarta sebanyak 15,8%, sedangkan di Denpasar tahun 2002 sebanyak 27,5%. Belum ada penelitian serupa di Kota Mataram. Penelitian status gizi perlu dilakukan secara periodik untuk mengetahui kecenderungan status gizi pada anak. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status gizi, pola makan dan pola aktivitas pada anak SD di Kota Mataram. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain belah lintang. Pengukuran status gizi anak diukur berdasarkan nilai Z-score kemudian kategori status gizi akan ditentukan berdasarkan standar age per weight. Penentuan faktor risiko diperoleh dari hasil pengisian kuesioner oleh anak dan orang tua. Aspek yang tertuang dalam kuesioner meliputi) pola makan, pola aktivitas dan latar belakang sosial ekonomi keluarga. Hasil: Sebanyak 105 anak terlibat dalam penelitian ini. Proporsi anak yang mengalami gizi lebih adalah 9%. Dari hasil penelitian didapatkan anak yang pola hidupnya dapat mengarah pada gizi lebih, yaitu 16,2% anak menonton TV dan bermain video game melebihi waktu yang direkomendasikan, 38% anak melakukan aktivitas fisik kurang dari 1 kali dalam seminggu, 81% anak tidak menggunakan active commute (naik sepeda atau berjalan kaki ke sekolah), 29,5% anak mempunyai waktu tidur kurang dari jam tidur yang direkomendasikan, 74% anak tidak rutin membawa bekal ke sekolah; dan 5% anak mengkonsumsi makanan cepat saji minimal 1 kali dalam seminggu. Kesimpulan: Kasus gizi lebih sudah menjadi permasalahan di kota Mataram. Diperlukan upaya intervensi terkait faktor-faktor yang telah diketahui terkait dengan gizi lebih. Intervensi ini diperlukan pada anak yang gizi lebih maupun pada anak gizi cukup untuk mencegah terjadinya overweight maupun obesitas. Katakunci status gizi, pola makan, pola aktivitas, anak sekolah dasar
Leukopenia Sebagai Prediktor Perburukan Trombositopenia pada Penderita Demam Dengue di Rumah Sakit Umum Daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Periode Januari-Desember 2016 Handayani, Aulannisa; Anggoro, Joko; Sabrina, Yunita
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 4 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Demam Dengue merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh virus Dengue. Tingkat keparahan penyakit Dengue biasanya terlihat pada awal fase kritis. Pada fase ini sering terjadi terjadi kebocoran plasma yang didahului oleh leukopenia secara progresif dan diikuti dengan trombositopenia secara cepat. Tujuan: Untuk mengetahui apakah leukopenia dapat dijadikan prediktor perburukan trombositopenia pada penderita demam Dengue di Rumah Sakit Umum daerah Provinsi Nusa Tenggara Barat Periode Januari-Desember 2016. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan menggunakan data rekam medis pasien. Terdapat 380 pasien yang menderita demam Dengue di RSUD Provinsi NTB pada bulan Januari?Desember 2016. Sampel penelitian sebanyak 57 orang didapatkan dengan consecutive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan. Hasil: Berdasarkan uji Chi-square diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara leukopenia dengan perburukan trombositopenia (p=0,001), sehingga leukopenia dapat dijadikan sebagai prediktor perburukan trombositopenia pada pasien demam Dengue. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa leukopenia dapat dijadikan sebagai prediktor perburukan trombositopenia pada demam Dengue.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Alkaloid Spons Laut (Clathria sp.) terhadap Kadar Sgot/Sgpt Mencit Balb/C yang Diinfeksi Plasmodium Berghei Ardiansyah, Ardiansyah; Wardoyo, E Hagni; Sabrina, Yunita
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Tingginya prevalensi malaria disebabkan karena beberapa faktor. Salah satunya adalah peningkatan resistensi obat antimalaria konvensional, seperti klorokuin dan sulfadoksin/pirimetamin sehingga mendorong peneliti untuk mencari bahan antiplasmodium baru, khususnya menggunakan biota laut yang memiliki potensi tinggi untuk diteliti secara berkelanjutan. Spons Clathria sp adalah salah satu biota laut yang mengandung senyawa alkaloid yang memiliki aktivitas antiplasmodium. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian ekstrak alkaloid Clathria sp terhadap kadar SGOT/SGPTpada mencit Balb/C yang terinfeksi Plasmodium berghei. Metode: Penelitian eksperimental dengan Post Test Only Control Group Design Sejumlah 30 ekor mencit jantan galur Balb/C diinfeksi dengan plasmodium berghei secara intraperitoneal. Sampel kemudian diagi menjadi 6 kelompok; 4 kelompok diberi ekstrak alkaloid Clathria sp dengan dosis masing-masing 50, 100, 150, 200mg/kgBB, 2 kelompok lainnya diberikan akuades 5ml (K-) dan klorokuin 5mg/kgBB selama 7 hari. Kemudian pada hari terakhir dilakukan pengambilan darah secara intrakardial untuk pemeriksaan SGOT/SGPT. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Oneway-Anova dilanjutkan dengan uji Post-Hoc LSD Hasil: Hasil analisa statistik SGOT dan SGPT menunjukan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan nilai signifikansi sebesar p=0,000 (p<0,05) dan p=0,035 (p<0,05) pada SGPT Kesimpulan: Terdapat pengaruh pemberian ekstrak alkaloid Spons laut Clathria sp terhadap kadar SGOT/SGPT mencit yang Balb/C yang diinfeksi Plasmodium berghei
Pengaruh Pemberian Spons Laut (Clathria sp.) terhadap Hitung Jenis Limfosit Mencit Balb/C yang Diinfeksi Plasmodium Berghei Ibadurrahman, Muhammad Zaky; Wardoyo, E Hagni; Sabrina, Yunita
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Tingginya prevalensi malaria disebabkan karena kurangnya pengendalian vektor, kebiasaan masyarakat, bertambahnya daerah endemis dan peningkatan resistensi obat antimalaria. Resistensi obat malaria konvensional, seperti klorokuin, sulfadoksin/pirimetamin saat ini telah banyak dilaporkan sehingga mendorong usaha untuk mencari bahan antiplasmodium baru, khususnya menggunakan biota laut yang memiliki potensi tinggi untuk diteliti lebih lanjut. Spons Clathria sp adalah salah satu biota laut yang mengandung senyawa alkaloid yang memiliki aktivitas antiplasmodium. Metode: Penelitian eksperimental dengan pre-post test control group design Sejumlah 30 ekor mencit jantan galur Balb/C diinfeksi dengan Plasmodium berghei secara intraperitoneal. Sampel kemudian diagi menjadi 6 kelompok; 4 kelompok diberi ekstrak alkaloid Clathria sp dengan dosis masing-masing 50, 100, 150, 200mg/kgBB, 2 kelompok lainnya diberikan akuades 5ml (K-) dan klorokuin 5mg/kgBB selama 7 hari. Pada hari pertama dan terakhir dilakukan pengambilan darah tepi untuk pemeriksaan hitung jenis leukosit. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Oneway-Anova atau uji yang setara, kemudian dilanjutkan dengan uji Post-Hoc LSD bila diperlukan. Hasil: Hasil analisis statistik hitung jenis leukosit  menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol negatif dengan nilai signifikansi p=0,003 (P1), p=0,017 (P2), p=0,030 (P3), dan p=0,001 (P4) (p<0,05) didapatkan pada hitung jenis limfosit. Kesimpulan: Pemberian ekstrak Spons laut Clathria sp berpengaruh terhadap hitung jenis limfosit mencit yang Balb/C yang diinfeksi Plasmodium berghei.
Pengaruh Pemberian Ekstrak Spons Laut (Clathria sp.) sebagai Anti-Malaria terhadap Diameter Pulpa Putih Lien Mencit yang diinduksi Plasmodium Berghei Salim, Zulkifli; Wardoyo, E Hagni; Sabrina, Yunita
Jurnal Kedokteran Vol 6 No 2.1 (2017)
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Malaria merupakan masalah kesehatan di Indonesia dan masih memiliki prevalensi tinggi. Salah satu faktor penyebabnya adalah semakin meningkatnya resistensi obat antimalaria konvensional seperti klorokuin. Spons Clathria sp. adalah salah satu biota laut yang mengandung senyawa alkaloid yang memiliki aktivitas anti-malaria tersebut. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pemberian ekstrak alkaloid Clathria sp. terhadap diameter pulpa putih lien pada mencit Balb/C yang terinfeksi Plasmodium berghei. Metode: Penelitian eksperimental dengan Post test only controlled group design. Sejumlah 30 ekor mencit jantan galur Balb/C diinfeksi dengan plasmodium berghei secara intraperitoneal. Sampel kemudian diagi menjadi 6 kelompok; 4 kelompok diberi ekstrak alkaloid Clathria sp. dengan dosis masing-masing 50, 100, 150, 200mg/kgBB, 2 kelompok lainnya diberikan akuades 5ml (K-) dan klorokuin 5mg/kgBB selama 7 hari. Pada hari ketujuh mencit diterminasi, dilanjutkan dengan pembuatan preparat histopatologi dan dilakukan pengamatan terhadap diameter pulpa putih organ lien. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji Kruskal-Wallis atau uji yang setara, kemudian dilanjutkan dengan uji Post-Hoc mann-Whitney U. Hasil: Hasil analisa statistik gambaran histopatologi organ lien menunjukan adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol negatif dengan nilai signifikansi sebesar p=0,04 (P1), p=0,04 (P2), p=0,025 (P3), p=0,025 (P4) (p<0,05) pada diameter pulpa putih, serta tidak ada perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol positif dengan nilai p =1,0 (P1), p=1,0 (P2), p=1,0 (P3), p=1,0 (P4) (p<0,05). Kesimpulan: Pemberian ekstrak Spons laut Clathria sp. berpengaruh terhadap diameter pulpa putih lien mencit Balb/C yang diinfeksi Plasmodium berghei