Zaida Fairuzah, Zaida
Balai Penelitian Sungei Putih - Pusat Penelitian Karet Sungei Putih, Galang, Deli Serdang, Sumatra Utara

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

THE EFFECTIVENESS OF CHITOSAN TOXICITY TO CONTROL THERMITES (Coptotermes curvignathus HOLMGREN) AT RUBBER PLANT

Widyariset Vol 14, No 2 (2011): Widyariset
Publisher : LIPI-Press

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.074 KB)

Abstract

Thermite (Coptotermes curvignathus) is the destructive pest at rubber plantation especially rubber planta-tion which is ex of old plantation or forest with inaccurate land clearing. Chitosan known can control thermites by disturbing protozoa’s rules in digestion systems of thermites that causing thermites can not get the food yielded by protozoa. Effectiveness of Chitosan was known by directly testing chitosan to thermites with the pre eliminary test to get the range of effective concentration and way of effective application with 8 treatments in 4 concentration levels ( 0.1, 1, 10, and 100%) which is each concentration combined with two way of application (spraying and baiting) with 4 replications. Based to the result of pre eliminary test, 1% chitosan concentration determined as concentration standard of main test which consists of concentration test (0.1, 0.5, 1, and 2%) with the spraying application with 4 replications with control and termicide as comparitors. The same concentrations and compari-tors were also tested with the baiting application with 4 replications. Then, the test also done by combinating spraying and baiting application with same concentrations (0.1, 0.5, 1, and 2%) and compared with control and termiticides that replicated 3 times. The percentage of thermites mortality was observed every two days until the 4th day after application. The result showed that the combination treatment between concentration and way of application of chitosan showed that the most effective concentration to kill the thermites is 2% baiting application with the mortality percentage of thermites reaches 54.78% at the 4th day after application

KEEFEKTIFAN BEBERAPA FUNGI ANTAGONIS (Trichoderma sp) DALAM BIOFUNGISIDA ENDOHEVEA TERHADAP PENYAKIT JAMUR AKAR PUTIH (Rigidoporus microporus) DI LAPANGAN

Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 32, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.988 KB)

Abstract

Penyakit jamur akar putih (JAP) yang disebabkan oleh Rigidoporus microporus menimbulkan kerugian ekonomi yang tinggi di perkebunan karet hingga Rp. 1,8 triliun/tahun. Penyakit ini menyerang semua stadia tanaman karet baik di pembibitan, kebun entres, TBM maupun TM. Saat ini pengendalian jamur akar putih masih menggunakan fungisida kimia berbahan aktif seperti heksakonazol, tridemorf, dan triadimefon. Pengendalian dengan fungisida kimia lebih mahal bila dibandingkan dengan biofungisida, selain itu tidak bersifat ramah lingkungan. Suatu kemajuan ditunjukkan oleh beberapa perkebunan yang telah mengadopsi penggunaan biofungisida. Endohevea merupakan salah satu biofungisida yang dapat mengendalikan JAP. Biofungisida ini terdiri atas beberapa fungi yang tergolong ke dalam genus Trichoderma yang bersifat antagonis terhadap JAP. Keefektifan biofungisida Endohevea diketahui dengan penyiraman biofungisida secara langsung ke pangkal batang tanaman yang terserang dengan skala serangan beragam (skala 1, 2, atau 3) dengan perlakuan banyaknya aplikasi (1 kali aplikasi dan 2 kali aplikasi) dan perlakuan dosis (1 tablet/liter air/tanaman dan 1 tablet/5 liter air/5 tanaman) dan kontrol (tanpa aplikasi). Parameter pengamatan yang diuji adalah persentase kesembuhan. Keefektifan dilakukan setiap bulan setelah aplikasi pertama dengan parameter persentase kesembuhan. Hasil menunjukkan bahwa biofungisida Endohevea pada dosis 1 tablet/5 tanaman efektif dalam mengendalikan JAP pada skala lapangan dengan persentase kesembuhan mencapai 79,0% yang signifikan berbeda dibandingkan kontrol. Diterima : 10 Januari 2014; Direvisi : 28 Februari 2014; Disetujui : 20 April 2014  How to Cite : Fairuzah, Z., Dalimunthe, C. I., Karyudi., Suryaman, S., & Widhayati, W. (2014). Keefektifan beberapa fungi antagonis (Trichoderma sp) dalam biofungisida endohevea terhadap penyakit jamur akar putih (Rigidoporus microporus) di lapangan. Jurnal Penelitian Karet, 32(2), 122-128. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/158

UJI RESISTENSI GENOTIPE TERPILIH DARI PLASMA NUTFAH IRRDB TERHADAP PENYAKIT GUGUR DAUN CORYNESPORA DENGAN METODE CAKRAM DAUN

Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 29, Nomor 1, Tahun 2011
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (384.438 KB)

Abstract

Corynespora cassiicola (Berk & Curt) Wei adalah jamur penyebab penyakit gugur daun yang menginfeksi daun muda dan daun tua, dan dapat mengakibatkan daun karet gugur sepanjang tahun, sehingga menyebabkan tertundanya matang sadap, produksi lateks menurun pada tanaman menghasilkan, dan bahkan pada klon yang sangat rentan dapat mematikan tanaman. Seleksi terhadap berbagai genotipe karet sejak awal sangat penting untuk mengetahui tingkat ketahanannya terhadap penyakit. Pada penelitian ini dilakukan uji resistensi 29 genotipe terpilih dari plasma nutfah IRRDB terhadap penyakit gugur daun C. cassiicola, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 60 perlakuan kombinasi dan 2 ulangan. Pengujian dilakukan  terhadap isolat dari Sumatera Utara dan Aceh dengan klon PB 260 sebagai pembanding (kontrol). Semua genotipe diinokulasikan pada setiap isolat C. cassiicola dengan menggunakan metode cakram daun dan penilaian intensitas serangan penyakit diklasifikasikan dalam kategori resisten (0–20%), agak resisten (21–40%), moderat (41–60%), agak rentan (61–80%), dan rentan (81–100%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan resistensi genotipe plasma nutfah IRRDB terhadap isolat dan kontrol. PB 260 yang merupakan klon yang tergolong resisten terhadap kedua isolat. Genotipe PN 386, PN 398, PN 807, PN 5666, PN 5730, dan PN 5808 tergolong moderat terhadap isolat Sumatera Utara tetapi agak resisten terhadap isolat Aceh. Genotipe PN 803 tergolong agak rentan terhadap isolat Sumatera Utara dan moderat terhadap isolat Aceh sedangkan genotipe lainnya tergolong agak resisten terhadap kedua isolat. Isolat yang berasal dari Sumatera Utara mempunyai tingkat virulensi yang lebih tinggi dibandingkan dengan isolat yang berasal dari Aceh.  How to Cite : Daslin, A., Fairuzah, Z., & Dalimunthe, C. I. (2011). Uji resistensi genotipe terpilih dari plasma nutfah IRRDB terhadap penyakit gugur daun Corynespora dengan metode cakram daun. Jurnal Penelitian Karet, 29(1), 16-24. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/106

KETAHANAN LAPANGAN TANAMAN KARET KLON IRR SERI 100 TERHADAP TIGA PATOGEN PENTING PENYAKIT GUGUR DAUN

Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 33, Nomor 1, Tahun 2015
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (865.835 KB)

Abstract

Penyakit gugur daun utama pada tanaman karet di Indonesia disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosporioides, Oidium heveae dan Corynespora cassiicola. Penggunaan klon resisten merupakan metode pengendalian yang efektif dan efisien karena kemampuan tanaman menghambat atau menahan gangguan penyakit tanpa menggunakan fungisida. Rendahnya kerusakan tanaman pada klon resisten adalah sebagai akibat penurunan populasi awal patogen dan laju infeksi patogen. Penelitian dilakukan di kebun Sungei Baleh, PT. Bakrie Sumatera Plantation, Deli Serdang, Sumatera Utara, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan tiga ulangan dan dua belas perlakuan terdiri dari IRR 100, IRR 104, IRR 105, IRR 107, IRR 109, IRR 110, IRR 111, IRR 112, IRR 117, IRR 118, IRR 120 dan RRIC 100 sebagai pembanding (kontrol). Pengamatan intensitas serangan penyakit gugur daun di lapangan  dilakukan dengan menentukan secara acak 10 pohon contoh/klon dan dari setiap pohon diambil 10 tangkai daun atau 30 helai daun dari dua sisi yang berlawanan diantara gawangan tanaman. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui resistensi klon IRR seri 100 terhadap tiga patogen utama penyakit gugur pada berbagai tingkat umur tanaman. Hasil penelitian menunjukkan intensitas serangan C. gloesporioides, O. heveae dan C. cassiicola berbeda nyata diantara klon karet IRR seri 100 yang diuji. Intensitas serangan C. gloesporioides berkisar antara 23,55-30,99% sehingga semua  klon yang diuji termasuk dalam kategori agak resisten. Intensitas serangan O. heveae antara 13,98-18,66%,  klon IRR 100, IRR 104 dan IRR 109 tergolong resisten sedangkan klon lainnya agak resisten. Intensitas serangan C. cassiicola berkisar  0,00-74,00%, klon IRR 100, IRR 104, IRR 105, IRR 110, IRR 111, IRR 112, IRR 117, IRR 118, IRR 120 tergolong resisten  sedangkan IRR 107  moderat dan IRR 109  rentan. Dari seluruh klon IRR seri 100 yang diuji, IRR 100 dan IRR 104 memiliki ketahanan yang baik terhadap ketiga patogen penyebab penyakit gugur daun pada karet dengan tingkat resistensi tergolong agak resisten terhadap C. gloesporioides  dan  resisten terhadap O. Heveae dan C. cassiicola. Diterima : 8 November 2014; Direvisi : 9 Januari 2015; Disetujui : 16 April 2015  How to Cite : Dalimunthe, C. I., Fairuzah, Z., & Daslin, A. (2015). Ketahanan lapangan tanaman karet klon IRR seri 100 terhadap tiga patogen penting penyakit gugur daun. Jurnal Penelitian Karet, 33(1), 35-46. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/169

EFEKTIVITAS BAKTERI ANTAGONIS (Pseudomonas sp.) UNTUK MENGENDALIKAN PENYAKIT CABANG JAMUR UPAS (Corticium salmonicolor)

Jurnal Penelitian Karet JPK : Volume 32, Nomor 1, Tahun 2014
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.01 KB)

Abstract

Penyakit jamur upas (Corticium salmonicolor) pada batang dan cabang tanaman karet tidak sepopuler serangan penyakit daun maupun akar meskipun demikian dampak kerugian yang disebabkan oleh kerusakan cabang dan batang cukup tinggi terutama di daerah yang mempunyai curah hujan tinggi dan kelembaban tinggi. Untuk itu perlu ditemukan mikroorganisme antagonis efektif dan efisien untuk  pengendalian  penyakit cabang jamur upas seperti bakteri Pseudomonas sp. Oleh karena itu, perlu penegasan mengenai keefektivan dari Pseudomonas sp. tersebut dengan melakukan pengujian kembali. Pengujian dilakukan dengan cara mengoleskan Pseudomonas sp. pada cabang yang terserang jamur upas dengan berbagai tingkat serangan. Perlakuan dilakukan sebanyak empat kali dengan interval satu minggu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial dengan 7 perlakuan yang terdiri dari Pseudomonas sp (tanpa penyimpanan, satu bulan penyimpanan, dua bulan penyimpanan, dan tiga bulan penyimpanan), dua macam fungisida kimia (Triadimefon dan Heksakonazol), dan kontrol (tanpa aplikasi). Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 3 kali dengan 20 tanaman sampel pada setiap unitnya. Pengamatan dilaksanakan setiap bulan setelah aplikasi ke empat dengan parameter persentase kesembuhan penyakit. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan pada tingkat kepercayaan lima persen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pseudomonas sp. dengan penyimpanan selama tiga bulan memiliki kemampuan terbaik mengendalikan penyakit jamur upas di lapangan dengan persentase kesembuhan mencapai 80,49%. Hal ini tidak berbeda nyata dengan perlakuan fungisida kimia tetapi berbeda nyata bila dibandingkan dengan kontrol. Diterima : 30 Juli 2013; Direvisi : 2 September 2013; Disetujui : 27 Maret 2014  How to Cite : Fairuzah, Z., Dalimunthe, C. I., & Daslin, A. (2014). Efektivitas bakteri antagonis (Pseudomonas sp.) Untuk mengendalikan penyakit cabang jamur upas (Corticium salmonicolor). Jurnal Penelitian Karet, 32(1), 37-44. Retrieved from http://ejournal.puslitkaret.co.id/index.php/jpk/article/view/149

FENOMENA GUGUR DAUN SEKUNDER DI WILAYAH SUMATERA UTARA DAN PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKSI KARET

Warta Perkaretan Vol 37, No 1 (2018): Volume 37, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Pusat Penelitian Karet - PT. Riset Perkebunan Nusantara

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.265 KB)

Abstract

Fenomena gugur daun sekunder dialami kebun-kebun di wilayah Sumatera pada tahun 2017. Studi ini bertujuan untuk mengetahui penyebab fenomena gugur daun berulang serta dampaknya terhadap produksi. Data diperoleh melalui survei lapangan, pengamatan di laboratorium serta analisis data curah hujan dan produksi bertujuan dari 35 titik pengamatan pada areal tanaman menghasilkan dari 20 kebun di wilayah Sumatera Utara yang dilaksanakan bulan September – Oktober 2017. Curah hujan yang tinggi pada bulan Maret diduga menjadi pemicu serangan penyakit gugur daun secara luas karena pada periode ini tanaman sedang membentuk daun baru. Colletotrichum dan Fusicoccum merupakan penyakit yang dominan yang dijumpai, sedangkan Oidium ditemukan dalam skala kecil. Klon PB 260 merupakan klon yang paling banyak mengalami serangan. Serangan juga dijumpai pada klon PB 330, PB 340, RRIM 712, RRIM 911, dan RRIM 937.  Penurunan produksi sebesar 1,3% dijumpai pada serangan Colletotrichum dan 2,7% akibat Fusicoccum. Penurunan produksi tertinggi terjadi pada PB 330 (14,4%) kemudian disusul berturut-turut pada klon klon BPM 1 (14,0%), PB 340 (10,8%), RRIM 712 (9,9%), dan RRIM 937 (1,5%). Teknis pencegahan dan penanggulangan serangan penyakit gugur daun mendesak untuk disosialisasikan kepada pekebun. Di samping itu, penelitian mengenai spesies dan ras baru patogen gugur daun perlu dilakukan terutama Fusicoccum mengingat penyakit ini tergolong baru di Indonesia dan belum banyak terpublikasi.