Articles

Found 18 Documents
Search

DESKRIPSI JAMUR ENDOFIT DARI TUMBUHAN RARU (Cotylelobium melanoxylon) GENUS ASPERGILLUS Hasanah, Uswatun; Riwayati, Riwayati; Idramsa, Idramsa
JURNAL BIOSAINS Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jamur endofit dari kulit batang tanaman Raru (Cotylelobium melanoxylon). Penelitian ini menggunakan teknik identifikasi secara manual dengan melihat dan membandingkan karakteristik morfologi makroskopis dan mikroskopis setiap isolat jamur endofit kemudian mencari indeks similaritasnya sehingga diperoleh dendogram yang membagi setiap isolat menjadi beberapa klaster/genus. Data dianalisis menggunakan analisis cluster Simple Matching Coefficient dalam program Multi Variate Statistical Package (MVSP) dimana setiap isolat yang memiliki indeks similaritas  ≥70% dikelompokkan menjadi satu klaster/genus. Hasil analisis cluster mendapatkan 8 klaster/genus jamur endofit yang ditemukan di dalam kulit batang tumbuhan Raru (Cotylelobium melanoxylon). Kedelapan genus tersebut di antaranya adalah genus Alternaria, Aspergillus, Botrytis, Debaromyces, Fusarium, Miselia Steril, Nigrospora, dan Scopulariopsis. Makalah ini menyajikan deskripsi dari genus Aspergillus. Kata kunci : Identifikasi, jamur endofit, Cotylelobium malanoxylon, indeks similiritas, genus  Aspergillus
Test Antifungal Phatogen Extract Secondary Metabolites Of Endophytic Fungi Raru Plant (Cotylelobium melanoxylon) Hasanah, Uswatun; Riwayati, Riwayati; Idramsa, Idramsa
JURNAL BIOSAINS Vol 1, No 2 (2015): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the ability of extracts  secondary metabolites of endophytic fungi raru plant Siarang (Cotylelobium melanoxylon) in inhibiting the growth of pathogenic fungi. Pathogenic fungi tested were Collectotrichum, Fusarium oxysporum, Candida albicans and Sclerotium rolfsii. Test antifungal pathogens carried out by using the method of Kirby-Bour, ie by measuring the clear zone located around the paper disc which is the zone of growth inhibition of pathogenic fungi. Measurement of inhibition zone is done by using a caliper or ruler. The results showed that the secondary metabolites of endophytic fungi extracts could inhibit the growth of pathogenic fungus Candida albicans is the clear zone of 10.23 mm. Keywords : endophytic fungus, Cotylelobium melanoxylon, extract of secondary metabolites, fungal pathogens, inhibition zone
Seleksi dan Karakterisasi Bakteri Endofit dari Tumbuhan Raru (Cotilelobium melanoxylon) Pendegradasi Selulosa Lubis, Sirma; Riwayati, Riwayati; Idramsa, Idramsa
JURNAL BIOSAINS Vol 1, No 3 (2015): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi dan mengisolasi isolat bakteri endofit pada kulit batang tumbuhan raru (Cotilelobium melanoxylon) yang mampu mendegrasi selulosa, dan mengkarakterisasikan bakteri tersebut berdasarkan karakter morfologi, Fisiologi dan biokimianya. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan selama tiga bulan yaitu mulai bulan Mei sampai Juli 2015. Sampel isolat bakteri endofit pada kulit batang tumbuhan Raru (Cotilelobium melanoxylon) merupakan koleksi dari laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan. Isolat bakteri pendegradasi selulosa dilakukan secara analisis kuantitatif dengan melihat zona bening pada media CMC agar  yang telah diinokulasikan bakteri endofit setelah diinkubasi selama 10 hari pada suhu 30oC. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 24 isolat diperoleh 1 isolat yang mampu untuk mendegradasi selulosa yaitu ER 11. Memiliki koloni bulat dengan tepi koloni rata, warna koloni putih kekuningan dengan permukaan licin dan elevasi rata, bakteri tersebut termasuk bakteri Gram positif. Suhu optimum untuk pertumbuhan isolat ER 11 adalah 35oC. Dan pH optimum untuk pertumbuhan isolat bakteri ER 11 adalah 6.5 sampai 7.2   Kata Kunci : Bakteri, Endofit, CMC, Raru, Pendegradasi Selulosa
PEMANFAATAN LIMBAH PERTANIAN DAN PETERNAKAN SEBAGAI KOMPOS DAN PESTISIDA ALAMI Simorangkir, Murniaty; Riwayati, Riwayati; Idramsa, Idramsa; Panggabean, Freddy Tua Musa
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 22, No 1 (2016)
Publisher : LPM Unimed

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penurunan produksi palawija dan serangan hama daun merupakan masalah utama yang dihadapi oleh kelompok tani Sada Nioga dan Juma Ndeher di Desa Sikeben Kabupaten Deli Serdang. Mengatasi permasalahan tersebut, telah dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berbasis penelitian terapan untuk: (1) mengatasi kekurangan ketersediaan kompos dan pestisida alami; (2) meningkatkan hasil produksi palawija melalui pemanfaatan kompos dan pestisida alami dari limbah pertanian dan peternakan; dan (3) membuka peluang usaha dalam produksi kompos dan pestisida alami. Metode pelaksanaan kegiatan mencakup: penyuluhan penggunaan kompos dan pestisida alami; perancangan perajang mekanik dan fermentor; dan pelatihan produksi kompos dan pestisida alami dari limbah kulit jengkol, cabe busuk dan urine sapi pada tanaman palawija yang dikelola oleh kedua mitra. Hasil kegiatan menunjukkan masing-masing 90% dan 80% anggota kelompok dari Kelompok Tani Sada Nioga dan Kelompok Tani Juma Ndeher telah terampil dalam mengolah kompos dengan durasi pengolahan selama 11 hari. Kualitas kompos (C/N, P2O5, K2O dan N) pada kelompok Sada Nioga adalah masingmasing 8.80%, 2.85%, 1.58% dan 0.08%; sedangkan pada Kelompok Juma Ndeher pada kadar 9.0%, 3.10%, 1.52% dan 0.05%. Produk pestisida yang dihasilkan mengandung metabolit sekunder fenolik(+++), alkaloid (++++) dan saponim (+). Peningkatan produksi tanaman palawija mencapai 27.14% setelah menggunakan kompos dan pestisida alami.
PERAN SISTEMATIKA MIKROBIA DALAM MENGUNGKAP KEANEKARAGAMAN MIKROORGANISME Idramsa, Idramsa
JURNAL KELUARGA SEHAT SEJAHTERA Vol 11, No 22 (2013): JURNAL KELUARGA SEHAT SEJAHTERA
Publisher : JURNAL KELUARGA SEHAT SEJAHTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTDiversity of bacteria and archaea  can not be learned completely   yet not identified perfectly. This is due to the abundant amount of diversity of microorganisms. The existence of molecular technologies allow to identify quickly and accurately the organism. Classification approach is based on the value of character and phylogenetic fenetik make a meaningful classification of microorganisms. Microbes such as bacteria systematic approach should be based on systematic polyfasik. Kata Kunci : Klasifikasi, fenetik, filogenetik, sistematika mikrobia
DESKRIPSI JAMUR ENDOFIT DARI TUMBUHAN RARU (Cotylelobium melanoxylon) GENUS BOTRYTIS Hasanah, Uswatun; Idramsa, Idramsa
JURNAL KELUARGA SEHAT SEJAHTERA Vol 15, No 29 (2017): JURNAL KELUARGA SEHAT SEJAHTERA
Publisher : JURNAL KELUARGA SEHAT SEJAHTERA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACK This study aims to identify the endophytic fungus from the bark of the plant raru (Cotylelobium melanoxylon). This study uses identification technique manually by viewing and comparing the macroscopic and microscopic morphological characteristics of each isolate endophytic fungi then seek to obtain dendogram similarity index which divides each isolate into several clusters/genus. Data were analyzed using cluster analysis Simple Matching Coefficient in the Multi Variate Statistical Package (MVSP) where each isolate that had ≥70 % similarity indices are grouped into one cluster/genus. The results of cluster analysis to get 8 cluster/genus endophytic fungi found in the bark of plants raru (Cotylelobium melanoxylon). Eighth genus included the genus Alternaria, Aspergillus, Botrytis, Debaromyces, Fusarium, Mycelia sterile, Nigrospora, and Scopulariopsis. This paper presents a description of the genus Botrytis. Kata Kunci: Identifikasi, Jamur Endofit, Cotylelobium Malanoxylon,  Indeks Similiritas
KARAKTERISASI BAKTERI ENDOFIT PELARUT FOSFAT DARI KULIT BATANG TUMBUHAN RARU (Cotylelobium melanoxylon) Fadhilah, Nurul Fitri; Hasanah, Uswatun; Idramsa, Idramsa
JURNAL BIOSAINS Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi bakteri endofit pelarut fosfat dan mengetahui karakter isolat bakteri yang mampu melarutkan fosfat berdasarkan karakter morfologi, karakter fisiologi dan karakter biokimia.  Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan selama 3 bulan yaitu mulai November 2014 sampai Februari 2015.  Bakteri endofit dari kulit batang tumbuhan raru sudah tersedia di Laboratorium Biologi FMIPA Universitas Negeri Medan.  Seleksi bakteri endofit kulit batang tumbuhan raru (Cotylelobium melanoxylon) yang dapat melarutkan  fosfat dilakukan secara kuantitatif dengan melihat zona bening pada media pikovskaya yang telah diinokulasikan bakteri endofit setelah diinkubasi pada suhu 30°C selama 10 hari.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 24 isolat diperoleh 2 isolat yang mampu melarutkan fosfat yaitu ER12 dan ER23.  Karakterisasi bakteri yang positif pelarut fosfat dilakukan berdasarkan morfologi, fisiologi dan biokimianya dengan melihat perubahan warna pada media yang digunakan.  Karakter bakteri ER12 memiliki koloni bulat dengan tepi koloni rata, warna  koloni putih bening, dengan permukaan licin dan elevasi yang rata, bakteri ER 23 memilki tipe tepi koloni berombak, warna koloni putih dengan permukaan licin dan elevasi yang  rata, kedua bakteri tersebut termasuk Gram positif.  Dari uji biokimia bakteri endofit ER 12 dan ER 23 dapat menghasilkan asam campuran, menghidrolisis protein, menghasilkan enzim gelatinase, katalase dan tidak dapat menghasilkan enzim urease, sitrase dan tidak dapat menghidrolisis hydrogen sulfida.  Suhu optimum untuk pertumbuhan isolat bakteri ER 12 dan ER 23 adalah 35°C.  pH optimum untuk pertumbuhan isolat bakteri ER 12 adalah 7,2 dan 8,9 sementara ER 23 dapat tumbuh optimum pada rentang pH  lebih luas yaitu 6,5 sampai 8,9. Kata kunci: Karakterisasi, bakteri endofit, pelarut fosfat
Seleksi dan Karakterisasi Bakteri Endofit dari Tumbuhan Raru (Cotilelobium melanoxylon) Pendegradasi Selulosa Lubis, Sirma; Riwayati, Riwayati; Idramsa, Idramsa
JURNAL BIOSAINS Vol 1, No 3 (2015): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi dan mengisolasi isolat bakteri endofit pada kulit batang tumbuhan raru (Cotilelobium melanoxylon) yang mampu mendegrasi selulosa, dan mengkarakterisasikan bakteri tersebut berdasarkan karakter morfologi, Fisiologi dan biokimianya. Penelitian ini dilaksanakan di laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan selama tiga bulan yaitu mulai bulan Mei sampai Juli 2015. Sampel isolat bakteri endofit pada kulit batang tumbuhan Raru (Cotilelobium melanoxylon) merupakan koleksi dari laboratorium Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Medan. Isolat bakteri pendegradasi selulosa dilakukan secara analisis kuantitatif dengan melihat zona bening pada media CMC agar  yang telah diinokulasikan bakteri endofit setelah diinkubasi selama 10 hari pada suhu 30oC. Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 24 isolat diperoleh 1 isolat yang mampu untuk mendegradasi selulosa yaitu ER 11. Memiliki koloni bulat dengan tepi koloni rata, warna koloni putih kekuningan dengan permukaan licin dan elevasi rata, bakteri tersebut termasuk bakteri Gram positif. Suhu optimum untuk pertumbuhan isolat ER 11 adalah 35oC. Dan pH optimum untuk pertumbuhan isolat bakteri ER 11 adalah 6.5 sampai 7.2   Kata Kunci : Bakteri, Endofit, CMC, Raru, Pendegradasi Selulosa
KARAKTERISASI BAKTERI ENDOFIT PENGHASIL FITOHORMON IAA (Indole Acetic Acid) DARI KULIT BATANG TUMBUHAN RARU (Cotylelobium melanoxylon) Tanjung, Suci Ramadhani; Hasanah, Uswatun; Idramsa, Idramsa
JURNAL BIOSAINS Vol 1, No 1 (2015): Jurnal Biosains
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh bakteri endofit penghasil hormon IAA dan mengetahui karakteristik isolat bakteri yang mampu menghasilkan IAA berdasarkan karakter morfologi, biokimia dan fisiologinya. Bakteri endofit dari kulit batang Tumbuhan raru telah tersedia di Labortorium Mikrobiologi UNIMED. Hasil penelitian menunjukkan dari 24 isolat bakteri endofit terdapat dua isolat yang memiliki kemampuan dalam menghasilkan IAA yaitu ER 15 dan ER 23, kedua isolat bakteri endofit tersebut memiliki karakterisitik morfologi koloni dengan warna koloni; putih,  bentuk; bulat, tepi koloni; rata dan berombak, permukaan koloni; licin, karakteristik morfologi sel adalah gram negatif dan positif. Karakteristik biokimia bakteri antara lain dapat  mereduksi gula dari fermentasi karbohidrat, memfermentasi gula dalam jumlah yang rendah, menghasilkan asam campuran, menghidrolisis protein, menghasilkan enzim gelatinase dan katalase. Tidak dapat menghasilkan enzim urease, sitrase dan tidak dapat menghidrolisis hydrogen sulfida. Berdasarkan karakteristik fisiologinya  isolat bakteri endofit ER 15 dapat tumbuh optimum pada suhu 350 C  dan pada pH 7,2 – 8,9. Isolat  ER 23  tumbuh optimum pada  suhu 300 C – 400 C, dan dapat tumbuh pada pH 5,2 – 10,2. Kata kunci :  Karakterisasi, bakteri endofit,  hormon IAA
Pemanfaatan Limbah Usaha Pemotongan Ayamdan Pertanian UntukPenyediaan PupukOrganik Cairdan Produksi Tanaman Organik Simorangkir, Murniaty; Baiduri, Ratih; Idramsa, Idramsa
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 20, No 78 (2014)
Publisher : LPM Unimed

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program tanaman organik adalah salah satu program yang dicanangkan oleh pemerintah untukmengendalikan dampak bahan kimia anorganik terhadap kesehatan dan lingkungan.  Kegiatan Ipteks bagiMasyarakat (IbM) ini bertujuan memberi solusi kepada mitra  pengusaha pemotongan ayam untukmemanfaatkan limbah usaha dan mitra kelompok tani untuk memenuhi kebutuhan pupukorganik dalamusaha meningkatkan produksi pertanian organik dengan memanfaatkan limbah pertanian dan limbahusahapotong ayam menjadi pupuk organik cair melalui penerapan teknologi fermentasi EM4. Manfaatkegiatan ini adalah pengendalian limbah usaha dan pelestarian lingkungan, penyediaan pupuk organik,mewujudkan tanaman organik dan berpeluang berwirausaha baru pupuk organik cair serta meningkatkanpendapatan kedua kelompok mitra. Kegiatan berlangsung lima bulan, melibatkan tiga orang dosen dandua mahasiswa. Metode yang diterapkan adalah penyuluhan, rancang bangun alat komposter, demostrasidan pelatihan produksi pupuk organik cair, rekomendasi dan  penerapan pupuk cair pada tanaman.  Hasilevaluasi kegiatan,  80% anggota kedua mitra trampil mengolah pupuk organik cair selama 21 hari. Teksturpupuk organik cair cukup baik yaitu kental dan warnanya hitam.  Pupuk kompos cair berbahan organiklimbah potong ayam, mengandung Nirogen (N) 0,26 %;  fosfor (P2O5)  0,03 % dan  K (KO) 0,04. Pupukorganik cair berbahan organik limbah pertanian/pasar sayuran (bonggol pisang, kangkung, sawi)mengandung unsur Nirogen (N) 0,08 %; fosfor (P2O5)  0,02 % dan  K (KO) 0,04.  Kapasitas alat komposterdapat menghasilkan 100 L lindi (pupuk kompos cair) dalam waktu 21 hari. Peningkatan produksi tanamanjagung dan kacang putih setelah penggunaan pupuk organik cair adalah 28,57 % dan 20,00%.