Luh Putu Ratna Sundari, Luh Putu Ratna
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

PELATIHAN PROPRIOSEPTIF EFEKTIF DALAM MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS PADA PEMAIN SEPAK BOLA DENGAN FUNCTIONAL ANKLE INSTABILITY DI SSB PEGOK Swandari, Ni Made Lidia; Nurmawan, I Putu Sutha; Sundari, Luh Putu Ratna
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI) Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia (MIFI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seorang pemain sepak bola sangat beresiko mengalami functional ankle instability. Functional ankle instability akan mempengaruhi keseimbangan pemain sepak bola. Pelatihan proprioseptif merupakan salah satu metode untuk meningkatkan keseimbangan dinamis. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui efektifitas pelatihan proprioseptif terhadap peningkatan keseimbangan dinamis. Penelitian ini adalah penelitian praeksperimental dengan rancangan penelitian one group pretest posttest design. Penelitian ini terdiri dari 20 sampel. Pelatihan dilakukan selama 6 minggu dengan frekuensi latihan 3 kali seminggu. Uji statistik menggunakan wilcoxon sign rank test menunjukan nilai p=0.000 (p<0.05), yang berarti ada perbedaan yang bermakna pada nilai rerata keseimbangan dinamis sebelum dan sesudah pelatihan. Artinya pelatihan proprioseptif memberikan peningkatan yang bermakna terhadap keseimbangan dinamis pada pemain sepak bola dengan functional ankle instability di SSB Pegok.
LATIHAN LARI AEROBIK MENURUNKAN KETERGANTUNGAN NIKOTIN MAHASISWA PEROKOK AKTIF DI DENPASAR Wesnawa, I Gede Adi Susila; Winaya, I Made Niko; Sundari, Luh Putu Ratna
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Volume 2, Number 1, Mei 2016
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketergantungan merokok disebabkan oleh pengaruh zat nikotin yang terdapat dalam rokok terhadap area imbalan di otak yang sensitif terhadap rangsangan kesenangan yang membangkitkan kenikmatan. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan olahraga yang bersifat aerobik dalam  menurunkan tingkat ketergantungan nikotin dengan menggunakan Fagerstrröm Test for Nicotine Dependence (FTND) yang diukur sebelum dan sesudah penelitian selama dua minggu serta penurunan urgensi ketergantungan merokok dengan menggunakan Question of Smoking Urge (QSU) yang dinilai sebelum latihan dan 10 menit, 20 menit, dan 30 menit setelah latihan setiap sesi latihan. Penelitian  pre eksperimental one group pre test dan post test dengan sampel 20 orang (dengan umur 21-23 tahun [rerata 21,6 ± 1,09]) selama 2 minggu dengan frekuensi 3 kali dalam seminggu dan durasi selama 20 menit. Statistik parametrik Paired Samples T-test, untuk Fagerstrröm Test for Nicotine Dependence mendapatkan hasil (p = 0,10 [p > 0,05]) menunjukkan penurunan yang terjadi tidak bermakna. Untuk Question of Smoking Urge hasil (p = 0,000 [p < 0,05]) untuk post 10 menit, (p = 0,000 [p < 0,05]) untuk post 20 menit, dan (p = 0,003 [p < 0,005]) untuk post 30 menit. Adanya penurunan nilai Smoking Urge sebelum dan sesudah latihan lari aerobik yang berarti adanya penurunan urgensi ketergantungan merokok secara jangka pendek  pada mahasiswa perokok.  
DYNAMIC NEUROMUSCULAR STABILIZATION LEBIH MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS DARIPADA PERCEPTUAL MOTOR PROGRAM PADA ANAK DOWN SYNDROME USIA 7-15 TAHUN DI YAYASAN PRADNYAGAMA DENPASAR Ulfa, Merinda; Tirtayasa, Ketut; -, Wahyuddin; Purnawati, Susy; Sundari, Luh Putu Ratna; Irfan, Muhammad
Sport and Fitness Journal Volume 7, No.2, Mei 2019
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2019.v07.i02.p05

Abstract

Background: Disorder of dynamic balance is often found in children with Down syndrome which causes difficulty in maintaining posture against impending disorders. If this is left it will certainly cause problems of further motor development. Purpose: To prove the physiotherapy intervention that can improve dynamic balance among children with down syndrome 7-15 years. Methods: The research is true experimental with pre-test and post-test group design. This study used 24 subjects in 2 groups, group 1 (n=11) given dynamic neuromuscular stabilization on while group 2 (n=11) given perceptual motor program. Divided randomly into 2 groups that is group 1 dynamic neuromuscular stabilization and group 2 perceptual motor program. The exercise is held 3 times a week in 6 weeks. Measurements of this dynamic balance are using sixteen balance tests. Result: The paired sample t-test statistical test in group 1 showed a significant difference with value (p <0.001) on mean before intervention 48.5±5.428 and after intervention 72.75±4.413. The paired sample t-test statistical test in group 2 showed a significant difference with value (p <0.001) on mean before intervention 48.5±5.3 and after intervention 69.42±4.379. Different test between group 1 and 2 using independent sample t-test showed a significant difference with value (p<0.001). Conclusion: The conclusions are dynamic neuromuscular stabilization is better than perceptual motor program in improving dynamic balance among children with down syndrome 7-15 years at Pradnyagama Foundation Denpasar.
STIMULATION ATTITUDIONAL REFLEX EXERCISE LEBIH BAIK DIBANDINGKAN DENGAN PRONE POSITION WEDGE EXERCISE TERHADAP HEAD CONTROL PADA ANAK CEREBRAL PALSY SPASTIK QUADRIPLEGI DI RS RAJAWALI CITRA BANTUL, YOGYAKARTA Al Banna, Damha; Adiatmika, I Putu Gede; Irfan, M.; Griadhi, I Putu Adiartha; Sundari, Luh Putu Ratna; -, Sugijanto
Sport and Fitness Journal Volume 7, No.1, Januari 2019
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2019.v07.i01.p08

Abstract

ABSTRACTBackground: Head control is a disorder of the cerebral palsy (CP) spastic quadriplegi due to central nervous system problems that serve as the basis of movement to be achieved for further development. Physiotherapy actions that can be given are stimulation attitudional reflex exercise (SARE) and prone position wedge exercise (PPWE). Purpose: This study aims to determine whether SARE is better than PPWE for head control in CP spastic quadriplegi. Methods: This research uses experimental pre and post test control group design is done at Rajawali Citra Bantul Hospital. Subjects were 24 children with CP spastic quadriplegi divided into 2 groups, group I was given SARE for 3 repetitions in 1 hour of therapy sessions and group II was given PPWE for 30 minutes. All groups were given treatment 1 time a week for 6 weeks as a refresher intervention and educated the family to do every day at home. Increased head control is measured by gross motor functional measurement. Result: Statistical test of paired sample t-test in group I and group II p value = 0.001 where (p < 0.05) there was an increase of head control. From independent t-test p value = 0.001 where (p < 0.05), it can be concluded that there are significant differences between group I with group II. Based on the mean values in both treatment groups, the group I have larger head control improvement of 33.19% than group II which only 16.96%. Conclusion: SARE is better than PPWE to increase head control on CP spastic quadriplegiKeywords: Head control, SARE, PPWE
DEFISIENSI VITAMIN D PADA OBESITAS Sundari, Luh Putu Ratna
Sport and Fitness Journal Volume 6, No.1, Januari 2018
Publisher : Program Studi Magister Fisiologi Keolahragaan, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/spj.2018.v06.i01.p01

Abstract

Peranan vitamin D pada patofisiologi obesitas masih menjadi pro dan kontra di kalangan ilmuwan. Hubungan antara obesitas dengan rendahnya konsentrasi 25 (OH) D3 tampaknya sudah sangat jelas, meskipun mekanisme mengenai rendahnya konsentrasi 25 (OH) D3 masih belum jelas, begitu pula akibat yang ditimbulkan dari rendahnya kadar 25(OH) D3 tersebut. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui bagaimana metabolism vitamin D yang terjadi pada tubuh penderita obes, sehingga dapat menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya defisiensi vitamin D pada obesitas. Adapun metode penulisannya adalah melalui studi literatur artikel tentang defisiensi vitamin D pada obesitas yang terbit dari tahun 2010-2017. Ada dua teori yang menjelaskan rendahnya kadar vitamin D pada orang obesitas yaitu: teori sekuestrasi dan teori degradasi. Teori Sekuestrasi: menyatakan bahwa individu obese mengalami kegagalan dalam mengkonversi pre vitamin D menjadi vitamin D di jaringan kulitnya, di mana jaringan lemak yang berlebih yang dapat menyita vitamin yang larut dalam lemak sehingga kadar serum 25(OH)D3 menjadi rendah. Teori Degradasi: menyatakan bahwa banyaknya jaringan lemak akan merangsang infiltrasi dari sel-sel imun yang teraktivasi akan menyebabkan inflamasi jaringan adipose dan penurunan (degradasi) vitamin D, yang menyebabkan turunnya kadar vitamin D pada kasus obesitas. Disimpulkan bahwa obesitas berhubungan dengan rendahnya kadar vitamin D yang rendah di dalam tubuh, teori sekuestrasi dan teori degradasi menjelaskan rendahnya kadar vitamin D pada orang obesitas.Kata kunci: Defisiensi Vitamin D, Teori sekuestrasi dan degradasi, Obesitas.
HUBUNGAN POSISI KERJA TERHADAP KELUHAN NYERI LEHER NON-SPESIFIK PADA PEKERJA LAUNDRY DI KOTA DENPASAR Dewi, Ni Made Wahyuni; Wahyuni, Nila; Sundari, Luh Putu Ratna
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 7 No 1 (2019): Majalah Imiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nyeri leher non-spesifik merupakan nyeri leher yang disebabkan oleh postur yang buruk dalam jangka waktu lama. Pekerja laundry yang setiap harinya sering melakukan aktivitas menyetrika dalam waktu yang lama berisiko mengalami nyeri leher non-spesifik akibat posisi kerja yang tidak ergonomis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara posisi kerja terhadap keluhan nyeri leher non-spesifik pada pekerja laundry di Kota Denpasar. Penelitian ini adalah penelitian analitik cross sectional dengan pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Sampel berjumlah 60 pekerja dengan rentang usia 20-40 tahun. Variabel independen yang diukur adalah posisi kerja dengan metode RULA, sedangkan variabel dependen yang diukur adalah nyeri leher non-spesifik dengan kuesioner Neck Disability Index. Uji hipotesis yang digunakan adalah Chi-Square Test. Hasil uji Chi-Square Test terhadap variabel posisi kerja dengan nyeri leher non-spesifik menunjukkan hasil nilai p sebesar 0,00 atau p < 0,05. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa ditemukan hubungan yang signifikan antara posisi kerja terhadap keluhan nyeri leher non-spesifik pada pekerja laundry di Kota Denpasar. Kata Kunci: Posisi Kerja, Nyeri Leher Non-Spesifik, Pekerja Laundry.
HUBUNGAN KEKUATAN OTOT TUNGKAI DENGAN KELINCAHAN PEMAIN SEPAK BOLA MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA Pramadewa, Pande Komang Indra; Tianing, Ni Wayan; Sundari, Luh Putu Ratna
Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia Vol 7 No 1 (2019): Majalah Imiah Fisioterapi Indonesia
Publisher : Majalah Ilmiah Fisioterapi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelincahan sangat diperlukan oleh seorang pemain sepak bola untuk menghadapi situasi tertentu dalampertandingan. Salah satu faktor yang mempengaruhi kelincahan adalah kekuatan otot tungkai. Tujuan dari penelitianini adalah untuk membuktikan adanya hubungan antara kekuatan otot tungkai dengan kelincahan pemain sepak bolamahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei 2018 dengan desainstudi cross sectional analytic. Sampel diambil dengan metode purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 57orang. Rentang usia sampel yaitu 18 – 25 tahun. Variabel independen yaitu kekuatan otot tungkai diukur menggunakanleg dynamometer. Variabel dependen yaitu kelincahan diukur menggunakan illinois agility run test. Uji Spearman’s rhoCorrelation digunakan untuk menganalisis hubungan antara kedua variabel diatas. Terdapat hubungan yang signifikanantara kekuatan otot tungkai terhadap kelincahan, berdasarkan output data dari analisis dengan signifikansi < ?(0,05),dimana nilai p=0,001. Selanjutnya, berdasarkan output data diketahui Correlation Coefficient sebesar 0,525 yang berartiadanya hubungan linier. Terdapat hubungan yang signifikan antara kekuatan otot tungkai dengan kelincahan pemainsepak bola mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Kata Kunci: Kekuatan Otot Tungkai, Kelincahan, Pemain Sepak Bola