Articles

Found 5 Documents
Search

Ephaptic crosstalk in Painful Diabetic Neuropathy: an electrodiagnostic study. Asmedi, Ahmad; Wibowo, Samekto; Meliala, Lucas
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 50, No 2 (2018)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.708 KB)

Abstract

Painful Diabetic Neuropathy (PDN) is a common complication of diabetes mellitus(DM) which significantly causes pain and distress in patients. Release of factors fromdegenerating fibers activating adjacent fibers to produce ephaptic crosstalk have beenproposed as one of the pain mechanism in PDN. Here we aim to detect ephaptic crosstalkbetween small fibers and large fibers in PDN subjects by comparing the electrodiagnosticresult of patients with PDN and patients without PDN.This study used cohort prospective design. Patients with type 2 DM or impairedglucose tolerance (IGT) without PDN from several health facilities in Yogyakarta werefollowed for 12 months for the occurrence of PDN. Demographic, clinical, laboratory andelectrodiagnostic data from all patients were collected and analyzed.One hundred and forty-one subjects (58 men, 83 women) with an average age of 51years (range, 40–61 years), were enrolled in this study. After 48 weeks of observation,12 subjects were found to have PDN. The differences of distal latency between PDNand non-PDN group were significant when measured in median sensory nerve (4.47 ms±2.43 versus 3.39 ms ±1.79, p = 0.002), tibial motor nerve (6.96 ms ±3.07 versus5.90 ms ±2.17, p = 0.041), and sural sensory nerve (6.02 ms ±3.56 versus 3.55ms ±2.90, p <0.001). Among all parameters measured in this study, the H-reflex hadhigher abnormality persentage compared to other electrodiagnostic variable (H latency =30%, H amplitude = 71%, H/M Ratio = 88%, and H-M IPL = 15%).Our result shows that small fiber neuropathy in PDN can be detected by electrodiagnosticstudy which measures large fibers function. This indicates that ephaptic crosstalkbetween small fiber and large fiber happens in PDN.
H-reflex amplitude depression as a marker of presynaptic inhibition in Painful Diabetic Neuropathy (PDN). Asmedi, Ahmad; Wibowo, Samekto; Meliala, Lucas
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 47, No 01 (2015)
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (304.274 KB) | DOI: 10.19106/JMedSci004701201504

Abstract

ABSTRACTPainful Diabetic Neuropathy (PDN) is a common complication of diabetes mellitus (DM). Disruption in presynaptic inhibition in dorsal horn of the spinal cord has been proposed as one of the pathomechanism of PDN. Previous research showed that presynaptic inhibition can be detected by H-reflex examination. The aim of this study was to know whether the reduction of presynaptic inhibition in spinal dorsal horn of PDN patients really exist, and detectable by H-reflex examination. It was cohort prospective involving 141 (58 men, 83 women) patients with DM and impaired glucose tolerance (IGT) between the ages of 40 and 61 years from several health facilities in Yogyakarta. All patients underwent clinical, laboratory and electrodiagnostic examination. Demographic, clinical and electrodiagnostic data were collected and analyzed. By survival analysis there were 25 new cases of PDN (12.12% cumulative incidence). Using survival Kaplan Meier analysis, the significant hazard ratio for PDN were 12.81 for median motor nerve amplitude, 5.74 for median nerve distal latency, 3.71 for median sensory nerve amplitude, 6.33 for median sensory latency, 3.4 for tibial nerve amplitude, 3.48 for tibial nerve distal latency, 2.29 for sural nerve amplitude, 4.47 for sural nerve latency, 3.99 for H-reflex latency, 5.88 for H-reflex amplitude, and 17.83 for Diabetic Neuropathy (DN) status. Using hazard proportional cox analysis, only H amplitude and DN status (DNS score) were significantly correlated with PDN (p= 0.026; hazard ratio = 15.450; CI 95%= 1.39 – 171.62 for H amplitude and p= 0.030; hazard ratio = 10.766; CI 95%=1.26 – 92.09 for DN status). This study showed that depression of H-reflex amplitude was correlated with the occurrence of PDN. This result proves that there was presynaptic inhibition process in PDN that manifests as low H-reflex amplitude.
EEG AWAL TERAPI SEBAGAI PREDIKTOR KEKAMBUHAN PADA PENDERITA EPILEPSI YANG MENDAPAT TERAPI OBAT ANTIEPILEPSI Setiawan, Iwan; Harsono, Harsono; Asmedi, Ahmad
Biomedika Vol 10, No 1 (2018): Biomedika Februari 2018
Publisher : Universitas Muhamadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.036 KB) | DOI: 10.23917/biomedika.v10i1.5849

Abstract

Epilepsi merupakan problem kesehatan yang penting di negara berkembang termasuk Indonesia. Faktor prediktor yang penting dalam meningkatkan kekambuhan bangkitan, diantaranya gambaran EEG abnormal. Nilai EEG sebagai prediktor kekambuhan pada penderita epilepsi masih kontroversi. EEG dengan spike wave yang persisten pada epilepsi umum primer, menunjukkan peluang yang tinggi terjadinya kekambuhan. Tujuan penelitian ini adalah mengukur besar peran EEG di awal terapi sebagai prediktor prognosis kekambuhan bangkitan pada pasien yang mendapat terapi obat anti-epilepsi secara teratur. Penelitian ini merupakan penelitian historikal kohort yang melibatkan 104 penderita epilepsi yang datang kontrol ke poliklinik saraf RS dr.Sardjito, Jogjakarta, dari januari 2006 sampai maret 2006. Dari analisis univariat didapatkan risiko relatif EEG RR: 1,957 (95% CI, 1,357-2,822). Hasil yang bermakna sebagai prediktor kekambuhan adalah gambaran EEG dengan tingkat kemaknaan P<0,05. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gambaran EEG abnormal merupakan prediktor kekambuhan pada penderita epilepsi yang mendapat terapi obat antiepilepsi, dengan risiko relatif 1,957. Kata kunci: elektroensefalografi, epilepsi, prognosis, kekambuhan
HUBUNGAN RED BLOOD CELL DISTRIBUTION (RDW) DENGAN NATIONAL INSTITUTES OF HEALTH STROKE SCALE (NIHSS) PADA PASIEN STROKE ISKEMIK AKUT YANG DIRAWAT DI UNIT STROKE RSUP DR. SARDJITO Mayashita, Ade; Asmedi, Ahmad; Rachmat, Tommy; Farida, Siti
Callosum Neurology Vol 1 No 2 (2018): Callosum Neurology
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v1i2.33

Abstract

Latar Belakang: Stroke iskemik menyebabkan terjadinya inflamasi sel. Sitokin inflamasi menyebabkan peningkatan Red-Blood-Cell Distribution Width (RDW) dan mencegah maturasi sel darah merah. Pemeriksaan RDW rutin dan murah dikerjakan, sehingga diharapkan dapat digunakan sebagai prediksi keparahan klinis pada pasien stroke. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan RDW terhadap skor National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) pasien stroke iskemik akut di Unit Stroke Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Sardjito Yogyakarta. Metode Penelitian: Studi dengan rancangan potong lintang. Subjek penelitian adalah pasien stroke iskemik yang dirawat di Unit Stroke RSUP Dr. Sardjito periode Januari 2014 hingga Desember 2015. Diagnosis stroke iskemik akut ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan Computed Tomography (CT)-scan kepala. Data NIHSS dan RDW diambil saat admisi dan diuji korelasi dengan tes Pearson. Nilai p&lt;0,05 dianggap signifikan secara statistik. Hasil: Sebanyak 51 orang subjek dimasukkan dalam penelitian. Hasil analisis menunjukkan bahwa RDW serum berkorelasi terhadap NIHSS (r= 0,296; p=0,035).Simpulan: Terdapat korelasi positif antara kadar RDW dengan nilai NIHSS pada penderita stroke iskemik akut dengan kekuatan korelasi rendah, sehingga semakin tinggi kadar RDW, maka semakin tinggi nilai NIHSS. Kata Kunci: RDW, Stroke Iskemik Akut, Keparahan, NIHSS
GAMBARAN DEFISIT NEUROLOGIS PASIEN SINDROM KORONER AKUT PASCA TINDAKAN PERCUTANEOUS CORONARY INTERVENTION Tamaroh, Emi; Asmedi, Ahmad; Setyopranoto, Ismail
Callosum Neurology Vol 1 No 1 (2018): Callosum Neurology
Publisher : PERDOSSI cabang Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29342/cnj.v1i1.3

Abstract

Latar Belakang: Komplikasi neurologis pasca tindakan Percutaneous Coronary Intervention (PCI) jarang terjadi, namun berkaitan dengan mortalitas dan morbiditas tinggi. Defisit neurologis berupa gangguan gaya berjalan dan cacat visual akibat infark lobus oksipital dan serebelar paling sering terjadi, dan terkadang tidak disadari oleh para ahli jantung. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran defisit neurologis yang terjadi pada pasien Sindrom Koroner Akut (SKA) setelah tindakan PCI di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito. Metode: Studi deskriptif data rekam medis pasien SKA yang mengalami defisit neurologis saat dan pasca prosedur PCI yang dikonsulkan ke Bagian Neurologi RSUP Dr. Sardjito pada Januari 2016 hingga Juni 2017. Hasil: Sebanyak 1.409 pasien yang menjalani prosedur PCI hanya 34 (2,4%) pasien yang mengalami defisit neurologis dan didiagnosis sebagai stroke. Diagnosis terbanyak adalah stroke infark pada 33 (97,1%) pasien. Sebanyak 25 (73,5%) pasien mengeluhkan gejala multipel sedangkan 9 (26,5%) bergejala tunggal. Defisit neurologis tersering adalah defisit motorik (25 pasien) dan penurunan kesadaran (11 pasien). Pemeriksaan Computed Tomography (CT)-scan kepala menunjukkan lesi multipel pada 21 (61,8%) pasien. Lokasi lesi terbanyak terjadi di lobus parietalis pada 11 pasien. Sirkulasi anterior (74%) lebih banyak terlibat dibandingkan sirkulasi posterior (26%). Simpulan: Defisit neurologis setelah tindakan PCI bervariasi, terbanyak adalah defisit motorik dan penurunan kesadaran. Kata Kunci: Defisit Neurologis, Stroke, Sindrom Koroner Akut, Percutaneous Coronary Intervention