Articles

Found 15 Documents
Search

Pengaruh Kadar Protein Pakan terhadap Pertumbuhan dan Sintasan Udang Windu, Penaeus monodon Fab.Transveksi Lante, Samuel; Usman, Usman; Laining, Asda
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 17, No 1 (2015)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.9936

Abstract

Udang windu transveksi merupakan udang yang menggunakan teknologi transgenetik dimana suatu teknologi rekayasa gen dengan mengintroduksikan satu atau lebih Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) asing ke dalam tubuh udang dengan maksud memanipulasi genotipenya ke arah yang lebih baik dan selanjutnya di transmisikan ke keturunannya. Aplikasi transfeksi pada udang diharapkan dapat memperbaiki karakterkarakter yang berguna bagi akuakultur seperti peningkatan laju pertumbuhan dan daya tahan tubuh udang terhadap penyakit. Namun demikian, domestikasi udang windu transveksi dengan menggunakan pakan komersial selama ini memberikan pertumbuhan udang yang relatif lambat. Pertumbuhan udang yangrelatif lambat diduga salah satu penyebabnya adalah kebutuhan protein dalam pakan yang belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kadar protein yang baik untuk mendukung pertumbuhan dan sintasan udang windu transveksi. Perlakuan yang diterapkan adalah kadar protein yang berbeda yaitu: 30%, 40%, dan 50% protein dalam pakan. Penelitian didesain dengan menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari 3 perlakuan dan 2 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar 40% protein dalam pakan memberikan efi siensi protein tertinggi dan berbeda nyata (P<0,05) dengan kadar 30% protein dalam pakan, namun keduanya tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan kadar 50% proteindalam pakan. Pada kadar 30% dan 40% protein dalam pakan menghasilkan sintasan yang tidak berbeda nyata (P>0,05), namun keduanya berbeda nyata (P<0,05) dengan sintasan udang windu yang diberi 50% protein dalam pakan. Laju pertumbuhan spesifi k udang pada ketiga perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (P>0,05). Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa dengan kadar 40% protein dalam pakan menghasilkan efi siensi protein dan sintasan yang baik pada udang windu transveksi selama 81 hari pemeliharaan dalam bak resirkulasi.Udang windu transveksi merupakan udang yang menggunakan teknologi transgenetik dimana suatuteknologi rekayasa gen dengan mengintroduksikan satu atau lebih Deoxyribo Nucleic Acid (DNA) asing kedalam tubuh udang dengan maksud memanipulasi genotipenya ke arah yang lebih baik dan selanjutnyadi transmisikan ke keturunannya. Aplikasi transfeksi pada udang diharapkan dapat memperbaiki karakterkarakteryang berguna bagi akuakultur seperti peningkatan laju pertumbuhan dan daya tahan tubuh udangterhadap penyakit. Namun demikian, domestikasi udang windu transveksi dengan menggunakan pakankomersial selama ini memberikan pertumbuhan udang yang relatif lambat. Pertumbuhan udang yangrelatif lambat diduga salah satu penyebabnya adalah kebutuhan protein dalam pakan yang belum optimal.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan kadar protein yang baik untuk mendukung pertumbuhan dansintasan udang windu transveksi. Perlakuan yang diterapkan adalah kadar protein yang berbeda yaitu:30%, 40%, dan 50% protein dalam pakan. Penelitian didesain dengan menggunakan rancangan acakkelompok yang terdiri dari 3 perlakuan dan 2 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar 40%protein dalam pakan memberikan efi siensi protein tertinggi dan berbeda nyata (P<0,05) dengan kadar30% protein dalam pakan, namun keduanya tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan kadar 50% proteindalam pakan. Pada kadar 30% dan 40% protein dalam pakan menghasilkan sintasan yang tidak berbedanyata (P>0,05), namun keduanya berbeda nyata (P<0,05) dengan sintasan udang windu yang diberi50% protein dalam pakan. Laju pertumbuhan spesifi k udang pada ketiga perlakuan tidak menunjukkanperbedaan yang nyata (P>0,05). Hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa dengan kadar 40% proteindalam pakan menghasilkan efi siensi protein dan sintasan yang baik pada udang windu transveksi selama81 hari pemeliharaan dalam bak resirkulasi.
PENINGKATAN PERFORMA REPRODUKSI INDUK UDANG WINDU, Penaeus monodon JANTAN TAMBAK MELALUI APLIKASI BAHAN ADITIF DALAM PAKAN MATURASI Laining, Asda; Lante, Samuel; Kamaruddin, Kamaruddin
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 16, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.9106

Abstract

Low mating rate in domesticated tiger shrimp both in pond and controlled tank is probably due to immature spermatozoa because of defi ciency of several micronutrients such as amino acid, certain vitamins and minerals. The purpose of this experiment was to determine the effect of commercial feed additive and to obtain its optimum dose in improving the sperm quality of pond-reared male black tiger. Test diet containing three different levels of feed additive used as treatment at 0 (SX0), 20 (SX20) dan 30 g/kg pakan (SX30). Formulation used in this experiment was standard formulation developed through previous experiment. Two hundreds and fi fty male tiger shrimps were obtained from traditional earthenpond  with weight range from 57 to 99 g and months of age around 8 months (prematuration stage). In order to evaluate the effect of dietary treatments on natural mating rate and fertiled eggs, after 4 months feeding trial, male stocks were mated with wild female tiger shrimp then observed their performances. After 2 moths feeding trial (age of male around 10 months), from 15 male stocks  visually observed, it was still found undevelope spermatophore in each of the tank. Slight development of spermatophore was observed in male stocks fed SX30 around 67% and 53% was found in shrimp fed SX0 and SX20. Furthermore, spermatophore with white color ranged from 13-20% in all dietary treatments. Number of sperm cell in male fed with SX20 was the highest 24 x106 cell and the lowest was found in male fed SX0 yaitu 75 x106 cell. Female maturing without spermatophore in its thelicum was not found in group fed SX0 and female maturing bearing spermatophore was occured in 4 females. Egg fecundity were relative similar in the two groups which was 164,166 eggs obtained in SX0 and 186,489 eggs in SX30. Even though fecundity of the two groups was quite similar, no fertiled egg was spawned by female fed SX0 while in group SX30, 34% of the eggs was fertile and hacthed around 33%. The application of additives as much as 30 g / kg in male tiger shrimp broodstock feed ponds can increase the level of fertilization of eggs by 34% higher than 0% in the feed additive.
REPLACEMENT OF FISH MEAL WITH POULTRY OFFAL MEAT IN DIETS FOR HUMPBACK GROUPER Cromileptes altivelis GROW-OUT Usman, Usman; Rachmansyah, Rachmansyah; Lante, Samuel; Kamaruddin, Kamaruddin; Ahmad, Taufik
Indonesian Aquaculture Journal Vol 1, No 1 (2006): (June 2006)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.057 KB) | DOI: 10.15578/iaj.1.1.2006.45-52

Abstract

Fish meal (FM) has traditionally ben a major ...........
EXPRESSION OF ANTIVIRAL GENE ON TIGER SHRIMP Penaeus monodon AT DIFFERENT TISSUE AND BODY SIZE Parenrengi, Andi; Tenriulo, Andi; Lante, Samuel
Indonesian Aquaculture Journal Vol 7, No 2 (2012): (December 2012)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (484.161 KB) | DOI: 10.15578/iaj.7.2.2012.95-104

Abstract

The role of tiger shrimp defense against invading pathogen on molecular level such antiviral gene expression is limited to be reported. Gene expression is a process which codes information of genes that is converted to the protein as a phenotype. Distribution of PmAV antivirus gene, that has been reported as an important gene on non-specific response immune, is needed to be observed to several organs/tissues and size of tiger shrimp. The aim of this study is to determine the distribution of gene antiviral expression at several organ/tissue and size of shrimp. The organs/tissues observed in this study were: gill, hepatopancres, muscle tissue, eyes, heart, stomach, gonad, and intestine. While the size of shrimp consisted of three groups, those are: (A) 10-20 g/ind., (B) 30-40 g/ind., and (C) 60-70 g/ind. Analysis of antiviral gene expression was performed by RNA extraction, followed by the cDNA syntesis, and amplification of gene expression by semi-quantitative PCR. The result of PCR optimation showed the optimal concentration of cDNA and primer was 1 μL and 50 mol, respectively for PCR final volume of 25 μL. Antiviral gene was expressed on the hepatopancreas and stomach in percentage of 50.0% and 16.7%, respectively. While the highest percentage of individual expressing the antiviral gene was observed in the shrimp size of C (66.7%), followed by B (50.0%) and A (16.7%). The result of study implied that the hepatopancreas has importantly involed in tiger shrimp defense mechanism on viral infection.
OPTIMALISASI PADAT TEBAR BENIH UDANG PAMA (Penaeus semisulcatus) PADA PENTOKOLAN DENGAN SISTEM HAPA DI TAMBAK Mangampa, Markus; Sulaeman, Sulaeman; Parenrengi, Andi; Lante, Samuel
Jurnal Riset Akuakultur Vol 3, No 2 (2008): (Agustus 2008)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (781.447 KB) | DOI: 10.15578/jra.3.2.2008.175-181

Abstract

Udang pama mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi baik di pasar domestik maupun di pasar dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kepadatan benih yang sesuai pada pentokolan yang ditokolkan di tambak dengan menggunakan hapa. Riset ini dilaksanakan pada petakan tambak 250 m2 di Instalasi Riset Perikanan Air Payau Marana, menggunakan 9 unit hapa dari waring halus berukuran 1 m x 1 m x 1 m. Benih udang pama stadia PL-12 berukuran panjang rata rata 0,11 cm/ekor dengan bobot rata-rata 0,003 g/ekor ditebar dengan kepadatan berbeda sebagai perlakuan yaitu: (A) 1.000 ekor/m2, (B) 1.500 ekor/m2, dan (C) 2.000 ekor/m2 selama 35 hari. Untuk suplai oksigen digunakan 1 aerator Hiblow dengan 2 batu aerasi/hapa. Tinggi air dalam hapa 0,80 m dan pergantian air dilakukan setelah 15 hari pemeliharaan sebanyak 30% setiap 3 hari. Diberikan pakan komersil dalam bentuk crumble dengan dosis 50%—200% dari bobot biomassa. Hasil riset menunjukkan bahwa sintasan tertinggi pada kepadatan (A) 1.000 ekor/m2 (70,83%) berbeda nyata pada kepadatan (B) 1.500 ekor/m2 (47,71%), dan (C) 2.000 ekor/m2 dengan sintasan yang sangat rendah (34,58%). Pertumbuhan tidak menunjukkan perbedaan masing-masing sebesar: (A) 3,43; (B) 3,37; dan (C) 3,42 cm/ekor. Hal yang sama ditunjukkan pada pertumbuhan bobot masing-masing perlakuan yaitu: (A) 0,348; (B) 0,286; dan (C) 0,300 g/ekor.ABSTRACT:    Differences of stocking densities of green tiger shrimp fry (Penaeus semisulcatus) reared in nursery with net-cage system. By: Markus Mangampa, Sulaeman, Andi Parenrengi, and Samuel LanteGreen tiger shrimp is an economically valuable species both in domestic and international markets. The experiment was conducted at Marana Research Station in Maros Regency using nine of one-cubic-meter net-cages submerged in a 250 m2-pond. The aim of the experiment was to investigate the optimum stocking density of green tiger shrimp post larvae during nursery with net cage system in pond. PL-12 of green tiger shrimp fry with average individual length and body weight of 0.11 cm and 0.003 g respectively were stocked at different densities i.e. A= 1,000 ind./cage; B= 1,500 ind./cage; and C= 2,000 ind./cage. Each treatment was made in triplicate and reared for 35 days. Two aeration lines were used for each cage for oxygen supply using portable aerator. Water exchange was done 15 days after stocking date at a rate of 30% of water volume in pond everyday for three days. An average water depth in pond was maintained at 0.8 m. Crumbled commercial shrimp diet was applied daily at a rate of 50%—200% of body weight (BW). Result of the experiment showed that the highest survival rate (SR) was achieved by treatment A (70.83%) which was statistically different (P&lt;0.05) to the treatment B (47.71%) and C (34.58%). Absolute length and weight growth rate were not significantly different on all treatments (P&gt;0.05).
THE EFFECT OF PHYTOECDYSTEROID OF Cycas revolua, Portulaca oleracea, AND Morus sp. ON MOLTING PERIOD, GROWTH AND SURVIVAL RATE OF TIGER SHRIMP, Penaeus monodon Rosmiati, Rosmiati; Lante, Samuel; Suryati, Emma
Indonesian Aquaculture Journal Vol 11, No 2 (2016): (December, 2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.612 KB) | DOI: 10.15578/iaj.11.2.2016.69-74

Abstract

The problem which has still been faced in the Artificial insemination (AI) is the slow of shrimp to molt. Ecdysteroid hormone has been reported to stimulate molting of tiger shrimp. This study aims to isolate ecdysteroid hormone from Cycas revoluta, Portulaca oleracea and Morus sp. and evaluate its effect on molting period, growth and survival rate of tiger shrimp. Isolation of ecdysteroid from the leaves of three species was carried out by maceration and solvent partition method. Purification of ecdysteroid used repeated column chromatography and preparative thin layer chromatography (TLC). Evaluation of the isolated phytoecdysteroid hormone effect on molting period, growth and survival rate of shrimp was done by injecting of 100 µL phytoecdyasterod (27.5 µg/shrimp) at the first somite of ventral abdomen. As the comparison, the commercial ecdysteroid (positive control) and sterile saline solution (negative control) were also injected at the concentration of 8.6 µg/shrimp and 0 µg/shrimp, respectively. Finding showed that the highest percentage of phytoecdysteroid was obtained in Portulaca oleracea, followed by Morus sp. and Cycas revoluta with the ecdysteroid content of 0.43%, 0.22%, and 0.09%, respectively. Pytoecdysteroid isolated from the three plants was able to shorten molting period of shrimp into 4, 4, 2, and 5 days earlier for Portulaca oleracea, Morus sp., Cycas revoluta, and positive control, respectively, compared to the negative control. The highest survival rate and growth were obtained at the treatment of Portulaca oleracea, followed by Morus sp. and Cycas revoluta with the survival rate, length and weight increase of 86%, 75%, and 25%, 4.42%, 2.26% and 2.16%, and 15.90%, 10.55%, and 8.73%, respectively. 
PERFORMA REPRODUKSI UDANG WINDU, Penaeus monodon TRANSGENIK PASCA INSEMINASI BUATAN MENGGUNAKAN SUMBER SPERMATOFOR YANG BERBEDA Lante, Samuel; Tenriulo, Andi; Parenrengi, Andi
Jurnal Riset Akuakultur Vol 13, No 1 (2018): (Maret 2018)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (478.356 KB) | DOI: 10.15578/jra.13.1.2018.11-20

Abstract

Udang windu transgenik merupakan udang hasil rekayasa dengan mengintroduksikan gen antivirus yang diisolasi dari udang windu untuk menghasilkan fenotipe yang lebih baik. Domestikasi udang transgenik telah dilakukan dan berhasil memijah/bertelur, tetapi umumnya telurnya infertil yang disebabkan tidak terjadinya pembuahan di tambak pemeliharaan. Udang betina tidak kawin ditandai tidak membawa spermatofor di telikumnya. Upaya untuk mendapatkan telur fertil udang dengan inseminasi buatan (IB) perlu dilakukan. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi performa reproduksi udang betina transgenik dan mutu larva yang dihasilkan pasca IB menggunakan sumber spermatofor yang berbeda. Penelitian ini dirancang dengan tiga perlakuan yaitu: IB menggunakan spermatofor udang windu jantan transgenik (SJT), spermatofor udang windu jantan alam Sulawesi Selatan (SulSel) (SJS) dan spermatofor udang windu jantan alam Aceh (SJA). IB dilakukan pada udang windu betina transgenik setelah dua hari moulting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa udang windu betina transgenik pasca IB perlakuan SJT menghasilkan total telur fertil sebanyak 766.949 butir, perlakuan SJS 535.644 butir dan perlakuan SJA 678.016 butir dengan daya tetas telur fertil yaitu: pada SJT, SJS, dan SJA masing-masing adalah 53,5%; 53,7%; dan 55,0%. Uji vitalitas larva dengan perendaman dalam larutan formalin 150-200 mg/L, perendaman air tawar: 5-15 menit, dan pengeringan 3-9 menit menghasilkan sintasan larva udang yang relatif sama pada ketiga perlakuan. Nilai morfologi larva perlakuan SJT, SJA, dan SJS adalah masing-masing 85,0; 84,5; dan 75,0. Dari hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa performa reproduksi udang windu betina transgenik dan mutu larva yang dihasilkan pasca IB tidak dipengaruhi oleh sumber spermatofor induk udang windu jantan Penaeus monodon.Transgenic tiger shrimp, Penaeus monodon has been developed in the last decade to equip shrimp with immunity against viral diseases. However, the effort to produce large quantities of specific pathogen resistance (SPR) tiger shrimp seed is hampered by several constraints in the domestication process. The successfulness of domesticated broodstock in producing larvae is very low due to low fertilization rate. An artificial insemination (AI) offers a solution to increase fertilization rate in crustacean. This study was aimed to evaluate the reproductive performance of female transgenic tiger shrimp broodstock and their larval quality after artificially inseminated with males from different sources. The spermatophores of male from different sources i.e. transgenic male spermatophore (SJT), wild male from South Sulawesi (SJS), and wild male from Aceh (SJA) were collected through electric shock and inseminated to female transgenic broodstock two days after moulting. The results showed that the total numbers of fertile eggs produced from SJT, SJS, and SJA treatment were 766,949 pcs; 535,644 pcs; and 678,016 pcs, respectively and not significantly different (P&gt;0.05). Similar to the number of fertile eggs, the hatching rate of eggs of SJT (53.5%), SJS (53.7%), and SJA (55.0%) also did not indicate any significant differences (P&gt;0.05). On the larval vitality test by soaking the larvae in formalin and freshwater as well as by air exposure at different duration showed no significant difference on the survival rate (P&gt;0.05) as indicated by score value at each treatment of 85.0, 84.5, and 75.0 for SJT, SJS, and SJA, respectively. In conclusion, the reproductive performance of female transgenic tiger shrimp and their larval quality were not affected by the different sources of spermatophores inseminated artificially during the spawning cycle.
APLIKASI INSEMINASI BUATAN PADA UDANG WINDU, Penaeus monodon ALAM MENGGUNAKAN SUMBER DAN JUMLAH SPERMATOFOR YANG BERBEDA Lante, Samuel; Laining, Asda
Jurnal Riset Akuakultur Vol 11, No 3 (2016): (September 2016)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.153 KB) | DOI: 10.15578/jra.11.3.2016.271-280

Abstract

Salah satu kendala utama dalam domestikasi udang windu adalah rendahnya tingkat perkawinan secara alami dalam wadah budidaya. Hal yang sama terjadi pada udang windu alam yang digunakan di unit pembenihan. Salah satu upaya untuk mendapatkan telur fertil adalah melalui inseminasi buatan (IB). Inseminasi buatan merupakan teknik mentransfer spermatofor dari induk jantan dengan cara memasukkannya ke dalam telikum udang betina. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performa reproduksi udang windu betina alam pasca-inseminasi menggunakan sumber dan jumlah spermatofor induk jantan alam yang berbeda. Penelitian dilakukan dua tahap yaitu 1) IB menggunakan spermatofor induk jantan dari perairan Sulawesi Selatan (SS) dan spermatofor induk jantan dari Aceh (SA) dan 2) IB menggunakan jumlah spermatofor berbeda yaitu satu spermatofor (S-1) dan dua spermatofor (S-2) pada udang windu betina alam. Inseminasi spermatofor dilakukan pada induk udang windu betina setelah dua hari moulting. Hasil yang diperoleh pada IB tahap pertama menunjukkan bahwa daya tetas telur udang windu betina alam lokal tidak dipengaruhi oleh sumber (lokasi) asal udang jantan, di mana daya tetas telur relatif sama pada kedua perlakuan, yaitu 61,6% pada SS dan 61,7% pada SA. IB pada tahap kedua menunjukkan bahwa daya tetas telur fertil yang diperoleh pada S-2 sebesar 40,5%; lebih rendah dari S-1 sebesar 44%.One of the main constraints in the domestication of black tiger shrimp is very low natural mating in the tank. Similar condition have been happened in commercial hatcheries. An effort to improve the eggs fertility is through artificial insemination (AI). This study aimed to know reproductive performance of wild black tiger shrimp after insemination with different sources and numbers of spermatophore. This study consisted of two trials.The first one was AI using spermatophores of wild male obtained from two different locations, namely from South Sulawesi (SS) and Aceh (SA). The second trial was AI using different numbers of spermatophore namely one spermatophore (S-1) and two spermatophores (S-2). AI was applied to the females at two days post-moulting. The results of the first trial showed that the hatching rate (HR) was not affected by the source of the male which was 61.6% for SS and 61.7% for SA. The second trial indicated that female inseminated S-2 had lower HR than S-1 (40.5% vs 44%).
PEMIJAHAN DAN PEMELIHARAAN LARVA IKAN BERONANG (Siganus guttatus) Lante, Samuel; Rachmansyah, Rachmansyah
Media Akuakultur Vol 2, No 2 (2007): (Desember 2007)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.2.2.2007.57-61

Abstract

Untuk menghasilkan benih ikan beronang Siganus guttatus yang baik, maka penanganan induk yang meliputi: pemeliharaan, pematangan gonad dengan implan pelet hormon LHRH-a, dan penambahan vitamin C dalam pakan serta pemeriksaan siap pijah sangat penting. Pengamatan perkembangan embrio dalam telur dan larva pada tahap awal, penyediaan pakan alami serta pemeliharaan larva merupakan tahap lanjutan dari pemeliharaan larva yang baik, maka benih-benih ikan Siganus guttatus yang dihasilkan juga akan baik.
INDUKSI PEMATANGAN GONAD DAN PENINGKATAN TINGKAT PEMBUAHAN TELUR INDUK UDANG WINDU, Penaeus monodon MELALUI RANGSANGAN HORMONAL TANPA ABLASI MATA Laining, Asda; Lante, Samuel; Usman, Usman
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.152 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.61-68

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh rangsangan hormon gonadotropin (GTH) dan antidopamin (AD) terhadap performa induk betina alam sebagai pengganti ablasi. Dua perlakuan yang dicobakan adalah: 1) rangsangan hormon GTH dan AD pada betina udang windu alam tanpa ablasi; 2) kontrol berupa ablasi induk udang windu tanpa rangsangan hormon. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa pemijahan pertama terjadi setelah rangsangan ke-2 yaitu 4 ekor induk (23,5%). Pascainjeksi ke-3, jumlah induk yang memijah meningkat menjadi 92,7% atau sebanyak 11 ekor dari 12 ekor yang diinjeksi. Setelah empat kali rangsangan, dari 17 ekor yang diinjeksi ternyata 14 ekor dapat memijah (82%) dan 3 ekor induk tidak memijah hingga akhir pengamatan. Kontrol menghasilkan 6 ekor induk memijah dari 10 ekor yang diablasi (60%). Fekunditas telur (fertil dan tidak fertil) dari induk yang dirangsang GTH+AD adalah 219.313 butir/induk lebih tinggi dibandingkan induk yang diablasi yaitu 182.848 butir/induk. Tingkat pembuahan pada kontrol adalah 54%, lebih rendah jika dibandingkan dengan jumlah telur yang fertil dari induk yang dirangsang GTH+AD yaitu 76%. Meskipun tingkat pembuahan telur yang dihasilkan oleh induk pascainjeksi lebih tinggi, ternyata tingkat penetasan telurnya hanya 39%, lebih rendah dari induk yang diablasi yaitu 52%. Diameter telur dari induk yang mendapat rangsangan AD+GTH adalah 29,3 μm ± 0,8 (rerata ± SD) lebih besar dari diameter telur induk yang diablasi (25,1 μm ± 0,3). Total asam amino karkas induk udang yang dirangsang GTH+AD adalah 61,4% relatif lebih tinggi dibandingkan kontrol. Berdasarkan jumlah induk yang matang gonad dan fekunditas telur yang dihasilkan, aplikasi AD+GTH secara injeksi cukup dilakukan 3x pada dosis 0,3 mL/100 g udang.