Lili Sholichah, Lili
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

EFEKTIVITAS VAKSIN POLIVALEN UNTUK PENGENDALIAN VIBRIOSIS PADA KERAPU TIKUS (Cromileptes altivelis) Nitimulyo, Kamiso Handoyo; Isnansetyo, Alim; Triyanto, Triyanto; Murdjani, Muhammad; Sholichah, Lili
Jurnal Perikanan Universitas Gadjah Mada Vol 7, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfs.9056

Abstract

The objective of this research was to know the effectiveness of polyvalen  Vibrio vaccine to control vibriosis in humpback grouper (Cromileptes altivelis). The effectiveness of vaccine was evaluated by the survival rate (SR), relative percent survival (RPS), mean time to death (MTD) as well as growth rate of vaccinated fish. This research consisted of 4 treatments (control, injection, immersion, and oral vaccinations) in quadruplicates. Injection  vaccination was conducted by intraperitoneal injection of polyvalen vaccine at 107 cells/fish. Immersion vaccination was done by immersing the fishes at 107 cells/ml for 30 minutes. Oral administration of vaccine was also carried out  at 107 cells/fish. One week after the first vaccination, second vaccination (booster) was carried out at the same dosage and by the same administration. One week after the second vaccination, fishes were challenged with 3.16x104 cells/fish of Vibrio ordalii 3J by intraperitoneal injection, and reared for 20 days post infection. Results indicated that polyvalen Vibrio vaccine increased SR (P<0.01) up to 100%. Vaccination was also able to delay MTD of fishes. However, the vaccination was not influence the growth rate of fish.
TUMOUR CASE IN KOI CARP (Cyprinus carpio) Sholichah, Lili; Lusiastuti, Angela Mariana; Caruso, Domenico; Subamia, I Wayan; Purwaningsih, Uni
Indonesian Aquaculture Journal Vol 5, No 2 (2010): (December 2010)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (221.51 KB) | DOI: 10.15578/iaj.5.2.2010.139-145

Abstract

A case study of tumour in koi carp (Cyprinus carpio) was observed in rearing periode. This tumour occurs solitary, large, pale red, fleshy masses under the lips and dental plates on the outside, and by reason of its size, may prevent closure the mouth. Moreover, this tumour goes through into the inside of the mouth. At necropsy, there were two soft, firm, small mass at inside of the mouth and the bigger mass at outside the mouth. Samples of this tumour were fixed in 10% formalin were used for histology analysis. The clinical course of the tumour is one of relatively slow but progressive growth. The proliferative stage of the neoplastic process is preceded and accompanied by a striking vascular reaction. Intensed hyperemia invariably occurs in that region of the mucosal surface which later becomes the site of neoplastic proliferation. Neoplastic cells lied around lamina propria and submucosal. These cells were joined together to make vacuolization and the other cells become pleiomorphism with hyperchromatic nucleus and N/C ratio cells are 1:1. In some area, there were many empty holes, around the holes there were debris cells, inflammation cells, and erythrocytes.
POTENCY AND EFFICACY TEST OF A VACCINE IN ADDITION WITH ADJUVANT AGAINST KOI HERPESVIRUS IN KOI (Cyprinus carpio) Sholichah, Lili; Yuhana, Munti; Lusiastuti, Angela Mariana; Prihadi, Tri Heru
Indonesian Aquaculture Journal Vol 11, No 1 (2016): (June 2016)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.285 KB) | DOI: 10.15578/iaj.11.1.2016.41-47

Abstract

Koi Herpesvirus (KHV) is a malignant virus infecting the goldfish and koi in all stadia and cause mortality up to 95%. The purpose of this study was to determine the potency and efficacy of inactivated-vaccine in addition with adjuvant against KHV in koi fish. The viral propagation was done using a KF-1 cell line in 25 cm3 flask. The cultured virus was harvested on 12 days post inoculation, and then the harvested virus was inactivated with 0.1% formalin as inactivated-vaccine. Three hundred of test fish (10.38 ± 1.25 g) maintained in 126 L of plastic containers with aeration, and fed with pellets twice a day. After 14 days of adaptation, the fish were divided into five treatments (A= vaccine; B= vaccine + Complete Freund’s Adjuvant; C= vaccine + Incomplete Freund’s Adjuvant; K+= positive control, and K-= negative control) and each treatment has four replicates. Vaccine was given by injecting intramuscularly of 0.1 mL per fish. All fish were challenged by injecting intramuscularly of 0.1 mL of KHV virus with concentration of 104.58 TCID50/mL after 21 days post vaccination. The results showed that the B treatment had higher (P&lt;0.05) values of hematocrit level, lysozyme activity, and titer of antibody compared with positive control. In addition, the survival of fish in B treatment also had the highest percentages and significantly different compared to other treatments (P&lt;0.05). The conclusion of this research was the application of inactivated KHV vaccine in 0.1% formalin with the addition of Complete Freund’s Adjuvant through the injection dose 0.1 mL fish-1 in 104.58 TCID50/mL capable to enhance the immune responses and raised the optimal protection of KHV antibody in koi fish.
PENINGKATAN SINTASAN LARVA IKAN RAINBOW KURUMOI (Melanotaenia parva) DENGAN APLIKASI PROBIOTIK Sholichah, Lili; Murniasih, Siti; Nurhidayat, Nurhidayat
Jurnal Riset Akuakultur Vol 8, No 2 (2013): (Agustus 2013)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.741 KB) | DOI: 10.15578/jra.8.2.2013.265-276

Abstract

Pembenihan ikan rainbow kurumoi sudah dilakukan di Balai Penelitian danPengembangan Budidaya Ikan Hias (BPPBIH) sejak tahun 2010. Dalam perkembangannya ada beberapa kendala terutama rendahnya sintasan benih yang dapat memengaruhi proses produksi massal yang sedang dan terus akan dilaksanakan. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, tahap pertama adalah uji efektivitas probiotik dan tahap kedua adalah penentuan dosis optimal. Tujuan penelitian tahap I adalah untuk menentukan jenis probiotik yang paling efektif digunakan untuk pemeliharaan benih ikan rainbow. Penelitian ini terdiri atas lima perlakuan yaitu: probiotik komersil jenis pertama (P1), jenis kedua (P2), jenis ketiga (P3), jenis keempat (P4), dan kontrol tanpa menggunakan probiotik (P0) masing-masing diulang sebanyak tiga kali menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Benih yang digunakan berumur satu bulan dengan ukuran badan yang seragam dan dihasilkan dari batch yang sama pula. Benih dipelihara menggunakan akuarium berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm dengan sistem resirkulasi menggunakan filter batu karang. Masing-masing akuarium diisi 100 ekor benih ikan rainbow kurumoi yang diberi pakan nauplii Artemia. Jenis-jenis probiotik komersil yang telah diuji pada tahap I akan dipilih satu jenis probiotik yang paling efektif berdasarkan hasil uji statistik yang menunjukkan nilai sintasan tertinggi. Selanjutnya probiotik terpilih (P2) akan diuji untuk menentukan dosis yang tepat. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas empat perlakuan yaitu berupa dosis yang akan diujikan terdiri atas 0,5x dosis kemasan (perlakuan TB1), 1x dosis kemasan (perlakuan TB2), 2x dosis kemasan (perlakuan TB3), dan 4x dosis kemasan (perlakuan TB4), masing-masing diulang sebanyak tiga kali. Dengan lama pemeliharaan dua bulan. Pengamatan yang dilakukan berupa sintasan, pertumbuhan, identifikasi plankton dan bakteri, dan analisis kualitas air. Kedua tahap penelitian dianalisis dengan ANOVA (analisis sidik ragam) dan jika terdapat beda nyata maka dilanjutkan dengan uji Tukey. Tahap pertama diperoleh hasil berturut-turut dari sintasan (%) tertinggi yang dicapai oleh P2 (56,5); P3 (50,0); P1 (46,5); P4 (34,5); dan terendah kontrol P0 (15,0). Sedangkan nilai sintasan (%) tahap dua berturut-turut dari yang tertinggi yaitu dicapai oleh perlakuan: TB3 (63,0); TB2 (58,0); TB4 (55,0); dan yang terendah perlakuan TB1 (34,0).
DAN IDENTIFIKASI PATOGEN POTENSIAL YANG MENGINFEKSI IKAN RAINBOW (Melanotaenia sp.) Sholichah, Lili; Taukhid, Taukhid; Wibawa, Gigih Setia
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 1 (2014): (April 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.327 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.1.2014.87-97

Abstract

Pemeliharaan ikan rainbow (Melanotaenia sp.) di Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias selalu terjadi kematian secara bertahap mulai calon induk hingga proses pemijahan. Hal ini terjadi berulang kali sehingga ketersediaan induk Melanotaenia sp. sangat terancam. Ikan ini berasal dari Papua yang diperoleh mengandalkan penangkapan di alam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginventarisir dan mengidentifikasi berbagai patogen (parasit, jamur, bakteri) potensial yang menginfeksi ikan rainbow yang dipelihara di dalam akuarium berukuran 50 cm x 50 cm x 50 cm dengan sistem aliran air stagnan. Tiga jenis rainbow yang dipelihara yaitu: rainbow Sungai Salawati, asal Sungai Sawiat, dan asal Danau Kurumoi. Setiap ikan masing-masing berjumlah 100 ekor dipelihara di akuarium dengan penambahan batu karang dan tanpa penambahan karang (kontrol) ke dalam akuarium. Ikan diberi pakan sekenyangnya berupa jentik nyamuk dan cacing rambut beku setiap pagi dan sore hari. Sampling dilakukan secara random sebulan sekali dan secara unrandom setiap ada kejadian ikan sakit. Gejala klinis ikan yang sakit sebagai berikut: ikan berenang di permukaan dan menggosok-gosokkan badan di dinding akuarium, nafsu makan berkurang, gerakan berputar-putar, warna memudar menjadi putih, penekanan warna hitam pada sirip punggung dan perut meningkat, pendarahan pada perut, lendir berlebihan dan sangat berbau, serta sisik berdiri/terbuka. Diagnosa dan deteksi penyakit awal berupa pengamatan parasit baik ektoparasit maupun endoparasit, pengamatan dan isolasi jamur pada media selektif jamur, dan isolasi bakteri dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis patogen yang menginfeksi ketiga jenis ikan rainbow. Selanjutnya dilakukan uji histologi dan analisa DNA beberapa patogen. Hasil pengamatan diperoleh patogen berupa parasit (Ichthyophthirius sp., Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., dan Trichodina sp.) dan bakteri (Aeromonas hydrophila, Acinetobacter sp., Lactobacillus sp., Bacillus sp., Arachnia sp., Haemophilus sp., Cardiobacterium sp., dan Enterobacter sp.) sedangkan jamur tidak ditemukan dalam penelitian ini.