Luthfi Kurnia Dewi, Luthfi Kurnia
Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

HIDROLISIS ENZIMATIK KITOSAN DENGAN KOMBINASI ENZIM ENDO-GLUCANASE DAN CELLOBIOHYDROLASE Rokhati, Nur; Pramudono, Bambang; Istirokhatun, Titik; Sulchan, Mohammad; Kresnianingrum, Dyah Ayu; Dewi, Luthfi Kurnia
REAKTOR Volume 15 No.4 Oktober 2015
Publisher : Dept. of Chemical Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/reaktor.15.4.261-267

Abstract

Abstract CHITOSAN ENZYMATIC HYDROLYSIS USING A COMBINATION OF ENDO-GLUCANASE AND CELLOBIOHYDROLASE. Chitosan is very promising in various fields including medicine, pharmacology, and the food industry. However, the application of this polysaccharide is limited by its high molecular weight resulting in its low solubility in aqueous media. In this respect, the chitosan with shorter chain length, display a reduced viscosity and are soluble in aqueous media at pH values close to neutrality. The aim of this study is the hydrolysis of chitosan to obtain a low molecular weight chitosan using enzymes endo-glucanase and cellobiohydrolase. The hydrolysis of chitosan was carried out under a temperature of 40° C and pH 5. Chitosan degradation was monitored by the analysis of reducing sugars and viscosity, whereas the chemical characterization of chitosan is done by using test FTIR (infrared spectroscopy). The results showed that enzyme treatment resulted in a substantial loss in viscosity of the chitosan solution shows depolymerization. Depolymerization using endo-glucanase took place very quickly during the initial 15 minutes. The rate of viscosity decrease on chitosan degradation using cellobiohydrolase is lower than using endo-glucanase. When the reaction time was 4 h, the lowest  viscosity is showed by cellobiohydrolase, and the highest solubility is showed by combination of endo-glucanase and cellobiohydrolase. Keywords: endo-glucanase; cellobiohydrolase; chitosan; hydrolysis Abstrak Kitosan dapat dimanfaatkan di berbagai bidang seperti kedokteran, farmasi dan industri makanan. Aplikasi kitosan sering dibatasi oleh berat molekul kitosan yang tinggi sehingga viskositasnya tinggi dan kelarutannya rendah. Kitosan dengan rantai polimer pendek, akan mempunyai viskositas rendah, dan mudah larut pada larutan/air dengan pH mendekati netral. Penelitian ini bertujuan untuk menghidrolisis kitosan secara enzimatis menggunakan enzim endo-glucanase dan cellobiohydrolase. Hidrolisis kitosan dilakukan pada suhu 40 °C dan pH 5. Degradasi kitosan dipantau melalui analisa gula reduksi dan viskositas, sedangkan karakterisasi kimia kitosan dilakukan dengan menggunakan uji FTIR (infra red spectroscopy). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hidrolisis enzimatis kitosan dapat menyebabkan terjadinya penurunan berat molekul yang ditandai dengan adanya penurunan viscositas larutan kitosan. Pada 15 menit awal hidrolisis terjadi penurunan viskositas yang sangat besar. Laju penurunan viskositas enzim cellobiohydrolase lebih rendah dibanding dengan enzime endo-glucanase. Setelah waktu reaksi 4 jam, viskositas terendah diperoleh pada enzime cellobiohydrolase, sedangkan kelarutan tertinggi diperoleh pada kombinasi enzime endo-glucanase dan cellobiohydrolase. Kata kunci: endo-glucanase; cellobiohydrolase; kitosan; hidrolisis  
PENINGKATAN RENDEMEN DESTILASI MINYAK JAHE MELALUI FERMENTASI JAHE MERAH (Zingiber officinale var. Rubrum) MENGGUNAKAN Trichoderma harzianum Nurhadianty, Vivi; Cahyani, Chandrawati; Dewi, Luthfi Kurnia; Triani, Linda; Putri, Resti Kurnia
INDONESIAN JOURNAL OF ESSENTIAL OIL Vol 1, No 1 (2016)
Publisher : Institut Atsiri Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.ijeo.2016.001.01.06

Abstract

Rendemen minyak jahe hasil penyulingan pada umumnya masih rendah, maka perlu metode yang mampu meningkatkan rendemen minyak jahe hasil penyulingan. Pada penelitian ini dilakukan perlakuan awal berupa fermentasi pada jahe merah. Fermentasi dilakukan pada jahe merah dengan ukuran ± 1 x 1 cm, berlangsung secara aerob, pada suhu ruangan, pH 4, moisture jahe merah 40-45%, dan konsentrasi T.harzianum dalam fermentor ± 1,087 x 104 mg/L. Selanjutnya, destilasi uap dilakukan selama 8 jam pada jahe merah yang telah difermentasi maupun yang tanpa fermentasi. Perolehan minyak jahe setelah fermentasi selama 2, 6, dan 8 hari dibandingkan dengan minyak jahe tanpa fermentasi untuk mengetahui pengaruh fermentasi terhadap peningkatan rendemen minyak jahe. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa jahe merah tanpa fermentasi, dan dengan jahe yang difermentasi selama 2, 6, dan 8 hari secara berturut-turut sebesar menghasilkan rendemen sebesar 0,015% ; 0,020% ; 0,076%; dan 0,025%. Berdasarkan hasil tersebut, fermentasi jahe merah selama 6 hari menghasilkan rendemen minyak jahe tertinggi.
PENINGKATAN YIELD MINYAK DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) DENGAN PERLAKUAN AWAL FERMENTASI SELULOTIK MENGGUNAKAN Trichoderma harzianum Nurhadianty, Vivi; Cahyani, Chandrawati; Nirwana, Wa Ode Cakra; Dewi, Luthfi Kurnia; Abdillah, Gamayazid; Pratama, Angga Reza
Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rbaet.2017.001.01.06

Abstract

Minyak cengkeh adalah salah satu produk unggulan Indonesia dalam perdagangan minyak atsiri dunia. Salah satu masalah yang dihadapi selama proses penyulingan minyak atsiri adalah adanya minyak atsiri yang terperangkap dalam jaringan tanaman sehingga dapat menurunkan yield. Proses fermentasi akan mendegradasi jaringan-jaringan tumbuhan sehingga diharapkan minyak dapat lebih mudah keluar selama proses distilasi uap. Penelitian diawali dengan proses fermentasi solid-state secara aerobik menggunakan kapang Trichoderma harzianum selama 4, 6, 8, dan 12 hari dilanjutkan dengan distilasi uap pada tekanan atmosferik selama 6 jam terhitung sejak tetesan pertama. Yield minyak daun cengkeh tanpa proses fermentasi yang didapatkan sebesar 0,57%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pretreatment berupa fermentasi dapat meningkatkan yield minyak daun cengkeh 2,8 kali dibandingkan dengan tanpa pretreatment berupa fermentasi. Yield tertinggi didapatkan pada waktu fermentasi selama 8 hari dengan perolehan yield sebesar 1,62% atau meningkat hingga 3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan minyak daun cengkeh yang diperoleh tanpa proses fermentasi.
Studi Perbandingan Metode Isolasi Ekstraksi Pelarut dan Destilasi Uap Minyak Atsiri Kemangi terhadap Komposisi Senyawa Aktif Dewi, Luthfi Kurnia
Jurnal Rekayasa Bahan Alam dan Energi Berkelanjutan Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman kemangi berpotensi sebagai salah satu sumber minyak atsiri  yang diaplikasikan pada industri flavor dan fragrance. Isolasi minyak atsiri kemangi dapat dilakukan melalui dua metode, yaitu destilasi uap dan ekstraksi menggunakan pelarut yang menghasilkan minyak atsiri kemangi dengan komposisi senyawa yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan metode isolasi destilasi uap dan ekstraksi pelarut terhadap komposisi senyawa yang dihasilkan. Proses destilasi uap dilakukan selama 4 jam, 6 jam, dan 8 jam. Destilat dipisahkan antara lapisan minyak atsiri crude dan lapisan kaya air. Proses ekstraksi dilakukan selama 6 siklus dengan menggunakan pelarut n-heksana dan etanol. Ekstrak yang diperoleh dipisahkan antara minyak atsiri kemangi dan pelarut menggunakan rotary evaporator. Komposisi minyak atsiri kemangi diuji menggunakan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi minyak atsiri kemangi hasil ekstraksi berbeda dengan hasil destilasi uap. Isolasi senyawa karvakrol, heksadekanol, hidroksidihidromaltol, glisidil metakrilat, 3-pirolin, beta bisabolen, isopropil butirat, safrol, geraniol, asam karbamat, dan butil alkohol, 2-D1 (top-note) lebih efektif menggunakan metode ekstraksi dengan pelarut etanol. Isolasi senyawa geranial, neral, farnesol, alfa bergamoten, alfa bisabolen, dan linalool lebih efektif menggunakan metode destilasi uap dimana waktu destilasi optimal yaitu 4 jam.