Arnis Rochma Harani, Arnis Rochma
Unknown Affiliation

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

KAJIAN KEAKTIFAN KAWASAN KOTA LAMA SEMARANG BERDASARKAN AKTIFITAS PENGGUNA

MODUL Vol 15, No 2 (2015): Modul Volume 15 Nomer 2 Tahun 2015
Publisher : Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik UNDIP

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.518 KB)

Abstract

Kota lama merupakan kawasan pusat kota pada abad ke 18-19, Semua kegiatan kota Semarang berpusat pada kawasan ini. Setelah kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, kawasan ini mengalami perubahan yang cukup pesat. Perubahan kawasan ini sangat drastis, saat ini dapat dikatakan kawasan kota lama Semarang adalah kawasan yang ”Hidup segan matipun enggan”. Bangunan di kawasan ini terkenal dengan keindahannya, beberapa aktifitas yang mengeksplore keindahan bangunan dilakukan oleh sebagian masyarakat, namun kawasan ini tetap belum hidup berkembang dan tumbuh menjadi kawasan yang hidup kembali. Sebuah kawasan akan terus tumbuh dan berkembang, menurut Sujarto (1989) ada tiga faktor utama yang sangat menentukan pola perkembangan dan pertumbuhan kota, yaitu ; faktor manusia, kegiatan manusia, dan pola pergerakan. Sehingga dalam melihat keaktifan kawasan kota lama ini, ketiga faktor tersebut harus dilihat secara obyektif. Metode penelitian yang dipakai adalah kualitatif, suatu metode holistic yang menekankan pemaknaan empiric dan pemahaman intelektual berdasarkan pada grand concept. Dalam penelitian ini fenomena yang ada dilapangan menjadi dasar untuk kemudian dianalisis dan menghasilkan suatu temuan tertentu. Penelitian mencapai hasil yaitu kawasan kota lama yang masih aktif hanya seperempatnya, sisanya berupa bangunan kosong/gudang. Sedangkan pada pagi hingga sore lebih banyak aktifitas dibandingkan malam hari.  Namun pada kawasan ini semua bangunan masih bisa digunakan, yang hancur/tidak dapat digunakan lagi hanya 1,54%. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kawasan kota lama sudah tidak aktif, namun dapat diaktifkan kembali dengan memanfaatkan bangunan yang ada dengan fungsi baru.

PENGARUH FASADE BANGUNAN TERHADAP KARAKTER VISUAL KAWASAN (Studi Kasus: Pecinan Semarang, Malaysia Dan Singapura)

Jurnal Pengembangan Kota Vol 5, No 1: Juli 2017
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

An area, in this case a road corridor is expected to have its own distinctive character that has the image. One of the region that still famous with its distinctive character is the Chinatown area. However, the current physical development changes in Chinatown area, particularly on its building function may change the façade of the buildings. Hence, this article aims to explore the charateristic of façade in chinatown area with the case of Chinatown areas in Indonesia (Semarang city), Malaysia and Singapore. The exploration of these areas not previously been examined and contributes on the development of historic Chinatown area, particularly in Semarang. This study used a qualitative method with dependent indicator is a visual character, while the independent indicator is component of façade. This research found that the areas that still have strong visual character and still preserve the architectural character of the Chinese is Singapore Chinatown area, followed by Malaysia, and Semarang.

Management of Gender-Based Production and Commercial Spaces

Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 20, No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.904 KB)

Abstract

Currently, home industry is attaining particular attention from Indonesian government. This activity is considered as an embryo of Indonesias economic growth. One of the home industries that have been recognized worldwide is batik. Batik is the cultural heritage of Indonesia that which has received international recognition. The famous batik in Indonesia comes from Pekalongan. In Pekalongan, some villages have characteristic of batik, one of them is proto village. In this village, batik is growing through the home industry business, and almost 70% women can write batik. Also, almost all the houses in this village become a place for industry, whether to make batik, sell batik, and modify batik fabric into clothing. The house which should be a residence, it is functioned as a production and business space. This research employed qualitative method with phenomenology paradigm, aimed to understand and reveal the meaning of the phenomenon of human life behavior, both human in capacity as individuals, groups and the wider community in using residential as a business space and production in Proto Batik Village. The results of this study found that the spatial management system in Proto Batik Village is dominated by women in every home. If the living room in business space used as a place to sell and marketing, the function of production room is located in women area such as kitchens, and backyard. It can be concluded that private house spaces are still used as residential functions, but semi-public spaces are utilized as production and business space.

PERHITUNGAN OVERALL THERMAL TRANSFER VALUE (OTTV) PADA SELUBUNG BANGUNAN

Jurnal Arsir Vol 1, No 2 (2017): ARSIR
Publisher : Jurnal Arsir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.531 KB)

Abstract

Permasalahan pemanasan global menjadi permasalahan terbesar dunia saat ini, beberapa upaya pencegahannya terus digencarkan, salah satunya dengan penerapan bangunan hijau. Di Indonesia bangunan hemat energi harus memenuhi persyaratan SNI 03-6389-2000 yang sudah diberlakukan oleh Pemerintah mulai saat ini. Namun, tuntutan tersebut belum sepenuhnya dipenuhi oleh owner dan badan perencana atau konsultan. Hal tersebut dapat terlihat dengan masih banyaknya bagian fasad bangunan tinggi yang didominasi oleh material kaca. Salah satunya juga diterapkan pada perencanaan bangunan Proyek Srondol Mixed-Use Development. Material dinding kaca banyak digunakan pada bangunan tersebut khususnya pada bangunan Rumah Sakit dan Podium. Meskipun demikian, tidak semua bangunan dengan dominan kaca termasuk ke dalam bangunan yang tidak hemat energi. Berdasarkan perhitungan OTTV pada bagian selubungnya, bangunan tersebut sudah memenuhi kriteria dari standar SNI yang dipersyaratkan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dari hasil perhitungan OTTV yang dijabarkan dalam analisa. Hasil dari penelitian ini adalah bangunan Rumah Sakit Siloam yang berfungsi sebagai menara dan bangunan perbelanjaan yang berfungsi sebagai Podium pada proyek Srondol Mixed-Use Development sudah memenuhi kriteria bangunan hemat energi.The problem of global warming is becoming the biggest problem of the world today, some of the prevention efforts are continuously intensified, one of them is by applying green building requirements. In Indonesia, energy-efficient buildings must meet the requirements of SNI 03-6389-2000 which has been imposed by the Government from now on. However, these demands have not been fully met by the owner and the planning agency or consultant. This can be seen with the still high part of the facade of high buildings dominated by glass material. One of them is also applied to the Srondol Project Mixed-Use Development building planning. Glass wall material is widely used in the building especially in Hospital buildings and Podium. However, not all buildings with dominant glass façade are included into buildings that are not energy efficient. Based on the calculation of OTTV on Mixed-Use Srondol Project Development building envelope, the building meets the criteria of the required SNI standard. The method used in this research is quantitative approach of the OTTV calculation result described in the analysis. The result of this research is Siloam Hospital building which has function as tower and commercial building that has function as Podium in Srondol Mixed-Use Development project has fulfilled the criteria of energy efficient building

Kajian Sirkulasi Vertikal dan Horizontal bagi Atlet Pengguna Wheelchair di Gedung Olahraga Manahan, Surakarta

Arsir Vol 2, No 1 (2018): ARSIR
Publisher : Arsir

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1270.755 KB)

Abstract

Indonesia memperoleh 191 medali pada Sea Games 2017 dan mendapat predikat juara umum Asean Para Games 2017 yang diselenggarakan di Malaysia. Hal ini membuat pemerintah di berbagai daerah semakin berbenah dalam memberikan fasilitas yang layak bagi pelatihan atlet-atletnya. Pada tahun 2018, Kota Surakarta menjadi tempat dimana atlet-atlet Asian Para Games 2018 menjalankan pemusatan latihan nasional (pelatnas). Hal tersebut melatarbelakangi pemerintah Kota Surakarta dalam merencanakan pembangunan area fasilitas olahraga yang layak dan memenuhi standar, salah satunya Gedung Olahraga Manahan yang sering menjadi tempat diselenggarakannya kompetisi olahraga hingga tingkat internasional. Tahun ini GOR Manahan menjadi salah satu tempat pelatihan atlet Asian Para Games 2018 untuk olahraga bulutangkis dengan kata lain adalah wheelchair badminton. Gedung Olahraga Manahan memiliki akses sirkulasi pendukung untuk atlet pengguna wheelchair, namun belum sesuai dengan standar yang dikeluarkan oleh Permen PUPR RI Nomor 14/PRT/M/2017, International Standard Facilities BWF Statutes, FIBA Guide to Basketball Facilities dan  FIVB Official Volleyball Rules 2017-2020. Sehingga dibutuhkan kajian mengenai sirkulasi vertikal dan horizontal bagi atlet pengguna wheelchair di Gedung Olahraga Manahan. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan studi kasus pada objek-objek sirkulasi di Gedung Olahraga Manahan. Data diperoleh melalui survei literatur dan survei lapangan, kemudian dianalisis dalam bentuk narasi. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi desain sirkulasi yang sesuai standar bagi atlet pengguna wheelchair

Faktor-Faktor Kebertahanan Kampung Malang, Semarang

Arsir Vol 2, No 2 (2018): ARSIR
Publisher : Universitas muhammadiyah palembang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Semarang merupakan kota unik dengan banyak permukiman tradisional yang membentuk kota tersebut, dan umumnya disebut kampung. Karena letaknya ditengah kota maka disebut sebagai kampung kota. Kampung Malang adalah salah satu kampung kota yang berada di kelurahan Purwodinatan, Kota Semarang. Letaknya yang sangat strategis dan bertahan secara wilayah dari tekanan pengembangan kota. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan faktor-faktor yang menyebabkan kampung Malang masih bertahan hingga saat ini. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode studi kasus, dengan pembahasan deskriptif. Hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa faktor kebertahanan dari kampung Malang karena adanya batas area komersil dengan area permukiman, adanya sejarah bermukim, serta faktor ekonomi.

Faktor-Faktor Kebertahanan Kampung Malang, Semarang

Arsir Vol 2, No 2 (2018): ARSIR
Publisher : Universitas muhammadiyah palembang

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.798 KB)

Abstract

Semarang merupakan kota unik dengan banyak permukiman tradisional yang membentuk kota tersebut, dan umumnya disebut kampung. Karena letaknya ditengah kota maka disebut sebagai kampung kota. Kampung Malang adalah salah satu kampung kota yang berada di kelurahan Purwodinatan, Kota Semarang. Letaknya yang sangat strategis dan bertahan secara wilayah dari tekanan pengembangan kota. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan faktor-faktor yang menyebabkan kampung Malang masih bertahan hingga saat ini. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode studi kasus, dengan pembahasan deskriptif. Hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa faktor kebertahanan dari kampung Malang karena adanya batas area komersil dengan area permukiman, adanya sejarah bermukim, serta faktor ekonomi.

PEMETAAN POTENSI DESA MENUJU DESA WISATA YANG BERKARAKTER (Study kasus : Desa Pesantren Kec Ulujami Kab Pemalang)

MODUL Vol 17, No 1 (2017): MODUL vol 17 nomor 1 tahun 2017 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengembangan desa wisata menjadi salah satu program pemerintah untuk menjadikan desa-desa tertinggal menjadi desa yang maju, Dalam perkembangannya beberapa desa yang memiliki potensi mulai berubah, namun jika tidak diadakan pemetaan potensi yang ada akan menjadikan desa wisata dimana saja sama, tanpa ada kekhasan khusus. Sehingga diperlukan pemetaan potensi desa yang nantinya akan menjadi salah satu ciri dan dapat dikembangkan menjadi acuan desa wisata. Sehingga setiap desa memiliki karakter yang khas serta dapat menjadikan nilai jual tersendiri. Desa pesantren merupakan desa di daerah pesisir pantai yang lokasinya berada di Kecamatan Ulujami kabupaten Pemalang. Desa ini memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan menjadi desa wisata, sehingga dibutuhkan pemetaan potensi yang ada.

KONTEKSTUAL LOKASI TAPAK PADA KECAMATAN SRUMBUNG MAGELANG

MODUL Vol 19, No 1 (2019): MODUL vol 19 no 1 tahun 2019 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN KAWASAN KOTA LAMA SEBAGAI LANDASAN BUDAYA KOTA SEMARANG

MODUL Vol 17, No 1 (2017): MODUL vol 17 nomor 1 tahun 2017 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Semarang sebagai ibukota Provinsi Jawa Tengah dan juga termasuk dalam kategori kota besar di Indonesia, memiliki ketiga aspek utama dari pengembangan kota berkelanjutan. Konservasi kawasan bersejarah yang termasuk dalam ikon pariwisata, dapat menjadi sumber pendapatan masyarakat dan pemerintah daerah yang menjanjikan dan menjadi fokus utama pengembangannya. Kota Semarang sendiri memiliki beberapa kawasan yang strategis untuk di konservasi keberadaannya seperti Kota Lama, daerah Pecinan, Pasar Johar, dan Kampung Sekayu. Konservasi kawasan dilakukan untuk memberikan perlindungan kawasan bersejarah termasuk isi di dalamnya agar perkembangannya terkendali dan tidak tergusur oleh pembangunan dan modernisasi.Kota Semarang terbentuk melalui perjalanan sejarah panjang dan unik, yang ditandai dengan berbagai peninggalan sejarah utamanya gedung dan bangunan kuno. Bertolak dari hal ini, kiranya diperlukan suatu konsep pemikiran yang komprehensif untuk menangani mutiara-mutiara yang ada di Kota Semarang ini, yang masih tampak kusam dan tidak kelihatan kilauannya. Pemerintah Kota Semarang sendiri juga tidak dapat melihat bahwa potensi kawasan dan bangunan kuno ini merupakan mutiara-mutiara yang masih kusam dan tersembunyi, yang dapat digosok supaya berkilau dan menarik perhatian. Mereka lebih suka latah membangun gedung-gedung dan mal-mal tanpa perencanaan yang matang, dan justeru sering menggusur bangunan bersejarah tersebut.Dari urian di atas, kiranya penelitian ini diperlukan untuk menangani satu diantara mutiara-mutiara tersebut yakni Kawasan Kota Lama melalui pengembangan konsep konservasi kawasan, yaitu merupakan konsep penataan, pelestarian dan pengembangan kawasan-kawasan bersejarah di kota Semarang, dan tentu saja merupakan salah satu landasan budaya bagi perencanaan dan pengembangan kota.Kegiatan penelitian diawali dengan mengumpulkan data-data histories-arkeologis di kawasan-kawasan bersejarah khususnya Kota Lama yang dilakukan melalui studi pustaka, studi arsip, studi peta, serta diikuti dengan observasi lapangan untuk mengetahui kondisi fisik kawasan dan bangunan-bangunan bersejarah. Data-data histories, arkeologis maupun arsitektural, baik berbentuk sumber primer maupun sekunder diklasifikasikan dan dianalisis secara deskriptif.