Articles

Penilaian Tingkat Kematangan Proses Pengembangan Perangkat Lunak Menggunakan Framework CMMI-Dev 1.3 Pada PT. ABC

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 2 No 12 (2018)
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1301.133 KB)

Abstract

Proses pengembangan sebuah perangkat lunak pada organisasi yang berada di industri Teknologi Informasi akan menjadi penentu keberhasilan organisasi tersebut. PT. ABC merupakan sebuah organisasi Teknologi Informasi cukup terkenal di kalangan pemerintahan. Sebagian produk yang dihasilkan PT. ABC digunakan pada dunia pendidikan. Sehingga proses pengelolaan proyek yang baik dibutuhkan dalam mendukung majunya dunia pendidikan. Namun pada implementasinya, terdapat beberapa masalah yang terjadi terkait pengelolaan proyek pada PT. ABC. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat kematangan proses pengembangan perangkat lunak pada Divisi Pengembangan Produk PT. ABC dimulai dari proses dasar pengelolaan proyek dengan menggunakan framework CMMI for Development 1.3. Hasil dari penelitian ini adalah level tingkat kematangan PT. ABC saat ini. Penelitian ini juga memberikan rekomendasi perbaikan untuk mencapai tingkat kematangan yang lebih tinggi. Data yang digunakan dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan kuesioner dan penelusuran dokumen. Proses penilaian menggunakan Standard CMMI Appraisal Method for Process Improvement (SCAMPI) kelas C. Area proses yang dievaluasi pada penelitian ini adalah 6 area proses yang ada pada tingkat kematangan 2. Berdasarkan hasil penilaian diketahui bahwa dari 6 area proses yang diavaluasi, belum ada area proses yang memenuhi semua praktik yang ada. Sehingga secara keseluruhan PT. ABC masih berada pada tingkat kematangan 1 atau initial.

Evaluasi Pada Variasi Proses Bisnis Layanan Donor Darah (Studi Kasus : UTD PMI Kota Malang)

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 2 No 12 (2018)
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.82 KB)

Abstract

PMI Kota Malang memiliki sebuah unit bernama Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kota Malang. UTD PMI Kota Malang merupakan fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki rangkaian aktivitas utama yaitu pelayanan donor darah, penyediaan darah, dan pendistribusian darah. Dalam menjalankan aktivitas utamanya, UTD PMI Kota Malang juga tidak terlepas dari aktivitas pendukung yang mendukung segala aktivitas utama. Aktivitas utama dan aktivitas pendukung ini diklasifikasikan menggunakan metode value chain analysis untuk melihat aktivitas yang berdampak langsung dan terhubung secara efektif dalam mengoptimalkan kinerja pelayanannya. Berdasarkan hasil pengamatan, UTD PMI Kota Malang memiliki pelayanan yang bervariasi dalam melaksanakan setiap aktivitasnya. Pelayanan yang bervariasi ini diidentifikasi dan dievaluasi dampak dan kaitannya terhadap kinerja pelayanan yang diberikan. Melalui proses wawancara, didapatkan 11 proses yang memiliki keterkaitan dengan variasi pelayanan yang diberikan oleh UTD PMI Kota Malang, yang selanjutnya dimodelkan dengan menggunakan Business Process Model and Notation (BPMN). Pemodelan membantu melihat titik muncul variasi proses, sehingga dapat mempermudah menentukan jenis variabilitasnya, apakah masuk dalam variabilitas dengan extensi atau dengan pembatasan. Proses bisnis ini kemudian dievaluasi menggunakan Quality Evaluation Framework (QEF), yang menghasilkan 4 quality factor yang memiliki ketidaksesuaian antara target dan kualitasnya. 3 diantaranya mempengaruhi munculnya variasi pelayanan yang diberikan. Variasi tersebut muncul sebagai variabilitas dengan ekstensi.

Evaluasi Manajemen Risiko Teknologi Informasi pada Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Barenlitbang) Kota Malang Menggunakan Cobit 5 Domain EDM03 dan APO12

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 3 No 5 (2019): J-PTIIK
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evaluasi terhadap manajemen risiko Teknologi Informasi (TI) di Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (BARENLITBANG) kota Malang diperlukan karena implementasinya saat ini belum optimal. Salah satu alasannya adalah ketiadaan divisi khusus yang mengelola risiko TI di BARENLITBANG. Dalam penelitian ini, kerangka kerja Control Objective for Information and related Technology 5 (COBIT 5) digunakan untuk mengevaluasi dan menilai tingkat kapabilitas dari manajemen risiko TI di BARENLITBANG. Domain-domain yang digunakan adalah EDM03 (optimasi risiko) dan APO12 (manajemen risiko). Penelitian ini dimulai dengan mengumpulkan data, kemudian menganalisis tingkat kapabilitas dan kesenjangan, mengidentifikasi risiko menggunakan Risk Breakdown Structure (RBS), menilai risiko, serta pembuatan mitigasi dan rekomendasi. Hasil dari penilaian tingkat kapabilitas di domain EDM03 adalah level 1 sementara domain APO12 berada di level 2 dengan kesenjangan 1 level bagi kedua domain. Dari 9 risiko yang teridentifikasi, terdapat 5 risiko tergolong dalam kategori menengah dan harus di mitigasi sedangkan 4 risiko dalam kategori rendah dan risiko-risiko tersebut dapat diterima oleh organisasi. Terdapat 6 rekomendasi yang disarankan untuk BARENLITBANG seperti membuat SOP untuk mengatur manajemen risiko, mengoptimalkan pengawasan dan evaluasi, membuat risk map, memaksimalkan rencana aksi, meningkatkan kemampuan sumber daya manusia di BARENLITBANG, dan mengoptimalkan satgas pengendalian internal.

Pengecekan Conformance Modul Proses Keuangan Dengan Process Mining Pada Rumah Sakit Medika Mulia Di Kabupaten Tuban

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 2 No 9 (2018)
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.656 KB)

Abstract

terekam event log yang menghasilkan sebuah workflow proses bisnis. Format yang harus ada dalam pembuatan event log proses bisnis minimal harus meliputi case id, timestamp, dan aktivitas didalamnya, kemudian event log akan ditranformasikan dalam bentuk model mining XML untuk dan ditranformasikan lagi dalam bentuk Petri Net. ProM tools merupakan tools dalam melakukan proses mining dengan menerapkan plugin yang ada pada ProM tools dibandingkan dengan proses bisnis yang ada pada perusahaan berdasarkan parameter yang ada pada ProM tools untuk mencari nilai  fitness dan structure kemudian dibandingkan. Rumah sakit Medika Mulia di Kabupaten Tuban telah mengembangkan sistem ERP sendiri. ERP pada rumah sakit berfungsi sebagai sebuah sistem yang mengelola seluruh proses bisnis yang dijalankan. Sebelum sistem ERP dijalankan dan diimplementasikan diperlukan analisis mengenai proses bisnis yang dijalankan apakah nantinya akan sesuai dengan sistem ERP yang akan diimplementasikan pada rumah sakit. Metode yang diterapkan peneliti dalam penelitian ini adalah analisis menggunakan proses mining

Evaluasi Proses Optimasi Sumber Daya, Pengelolaan Sumber Daya Manusia, dan Pengelolaan Operasional pada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu DKI Jakarta Menggunakan Kerangka Kerja COBIT 5

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 2 No 11 (2018)
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.683 KB)

Abstract

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) DKI Jakarta memiliki visi solusi perizinan warga Jakarta dengan beberapa misi yang menunjukkan bahwa PTSP memberikan pelayanan quick response. Hal tersebut menunjukkan bahwa PTSP harus memiliki sumber daya manusia yang cukup dan memadai, penerapan teknologi informasi yang optimal dan kegiatan operasional yang berjalan dengan lancar. Untuk mengukur nilai optimal pada sumber daya teknologi informasi, sumber daya manusia dan kegiatan operasional dilakukan penilaian tingkat kapabilitas pada proses EDM04 (Ensure Resource Optimizaton), APO07 (Manage Human Resource) dan DSS01 (Manage Operations) menggunakan kerangka kerja COBIT 5. Penilaian dilakukan secara berurut dari level 0 Incomplete Process hingga level 5 Optimizing Process untuk mengetahui capability level, melakukan analisis kesenjangan antara capability level dengan targeted level dan memberikan rekomendasi sebagai perbaikan atau peningkatan kualitas organisasi. Penilaian dilakukan melalui beberapa metode yaitu wawancara, observasi dan lembar penilaian. Capability level pada proses EDM04, APO07 dan DSS01 masing-masing berada di level 3 dengan targeted level yang juga sama yaitu pada level 5 didapatkan kesenjangan sebanyak 2 dan menghasilkan beberapa rekomendasi yang merujuk pada melakukan analisis, melakukan kegiatan dan membuat dokumen yang berhubungan dengan masing-masing proses.

Pemodelan dan Evaluasi Proses Bisnis Menggunakan Quality Evaluation Framework (QEF) (Studi Kasus : Radjawali Sport)

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 2 No 11 (2018)
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (880.889 KB)

Abstract

Radjawali Sport adalah perusahaan manufaktur yang bergerak dibidang produksi pakaian. Radjawali Sport memiliki konsumen yang tersebar diseluruh Indonesia. Banyaknya konsumen yang ada pada perusahaan menuntut Radjawali Sport untuk dapat memberikan layanan terbaik pada pelanggan. Namun pada kenyataannya layanan yang diberikan mengalami berbagai kendala sehingga tidak maksimal. Terlambatnya proses produksi dan komplain yang diterima menjadi masalah serius bagi perusahaan. Berdasarkan masalah tersebut dilakukan evaluasi untuk memperbaiki layanan. Evaluasi yang dilakukan menggunakan metode Quality Evaluation Framework (QEF). Tahap identifikasi aktivitas di perusahaan menggunakan metode value chain. Setelah melalui tahap value chain maka dilakukan dekomposisi untuk selanjutnya dilakukan pemodelan menggunakan Business Process Model and Nation (BPMN). Penentuan quality factor dilakukan untuk mengidentifikasi ketidaksesuaian hasil kalkulasi dengan target. Hasil perhitungan quality factor yang tidak sesuai akan dianalisis menggunakan Root Cause Analysis (RCA). Pada RCA terdapat metode fishbone diagram yang digunakan untuk mencari tahu akar permasalah. Hasil identifikasi menggunakan QEF didapatkan 7 quality factor yang tidak sesuai yaitu pada waktu pengiriman bahan baku, waktu pengecekan produk pada bagian penjahitan, proses penjahitan, waktu pengecekan produk pada bagian bordir, pengemasan, perbaikan produk, dan produksi ulang. Pada analisis akar permasalahan ditemukan 7 akar masalah yang terdapat pada keterbatasan pegawai, tidak terdapat pengecekan rutin oleh pemilik perusahaan, tidak terdapat aturan yang baku, metode yang digunakan pada penerimaan pesanan masih manual, tidak terdapat tenaga ahli, metode pendukung proses produksi masih manual, dan tidak terdapat pengecekan berkala.

Evaluasi Desain Antarmuka Pengguna Website Kabupaten Blitar Menggunakan Metode Usability Testing (Studi Pada Dinas Pemerintahan Kabupaten Blitar)

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 2 No 7 (2018)
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.022 KB)

Abstract

Informasi merupakan hasil dari mengolah data dalam bentuk apapun yang lebih berarti bagi penerimanya. Website http://blitarkab.go.id yang merupakan website Pemerintahan Kabupaten Blitar adalah sumber informasi bagi masyarakat Kabupaten Blitar. Namun jika informasi tersebut sulit dan kurang up to date bagaimana informasi tersebut dapat dengan mudah sampai di masyarakat. Dengan melakukan usability testing, sistem dapat di evaluasi sehingga system dapat dengan mudah digunakan oleh pengguna.Penelitian ini diawali dengan proses menentukan sampel dan populasi untuk melakukan usability dengan tugas yang sudah dibuat. Langkah selanjutnya adalah proses mengukur usability website menggunakan metodologi Keystroke Level Model dengan cara memberi tugas kepada target uji. Tujuan dari pengukuran usability adalah untuk mengukur tingkat usability dari learnability, effiency, memorability, errors, dan satisfaction dari website Kabupaten Blitar. Hasil tersebut berupa waktu, kesalahan, dan reaksi target uji saat melakuan pengujian. Analisis tingkat usability yang sudah dilakukan akan menjadi acuan dari rekomendasi perbaikan website Kabupaten Blitar. Rekomendasi perbaikan didasari dari HHS guideline dan buku panduan pengembangan situs situs website pemerintahan daerah peserta USDRP (Urban Sector Development Reform Project) untuk memenui standar minimum dari website pemerintahan. 

Evaluasi Proses Bisnis Produksi Garmen Menggunakan Metode Quality Evaluation Framework (QEF) (Studi Kasus: PT. Eratex Djaja, Tbk Probolinggo)

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 2 No 11 (2018)
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (692.917 KB)

Abstract

PT. Eratex Djaja, Tbk Probolinggo merupakan perusahaan produksi garmen dengan orientasi penuh pada penjualan ekspor. Produk utama dari perusahaan ini adalah pakaian jadi berupa celana. Karena perusahaan bergerak dalam bidang produksi garmen, maka hal yang paling utama adalah proses produksi. Proses produksi memiliki dampak paling besar dalam produksi yang dihasilkan. Sebagai perusahaan besar, perusahaan ini mempunyai Standard Operational Procedure (SOP) yang digunakan sebagai acuan dalam kegiatan proses bisnis. Namun dalam praktiknya, tidak semua proses yang dilakukan tepat sesuai dengan prosedur sehingga perusahaan memiliki beberapa produk yang cacat. Berdasarkan adanya indikasi permasalahan yang muncul, maka penelitian ini melakukan evaluasi proses bisnis pada proses produksi yang sedang berjalan saat ini, menggunakan metode Quality Evaluation Framework (QEF) untuk mengetahui ketidaksesuaian yang terjadi antara target dengan hasil kalkulasi metode QEF. Langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan kebutuhan non-fungsional dan memodelkan proses inti menggunakan Business Process Model and Notation (BPMN). Tahap selanjutnya adalah menentukan quality factor beserta target perusahaan dan melakukan kalkulasi sesuai dengan persamaan dalam metode QEF. Hasil kalkulasi yang tidak sesuai dengan target ada 5 dari 16 quality factor. Ketidaksesuaian dengan target perusahaan dianalisis menggunakan metode Fault Tree Analysis (FTA) untuk mencari akar penyebab masalah. Hasil dari FTA diharapkan mampu membantu meminimalisir permasalahan pada proses bisnis yang sedang berjalan saat ini

Analisis User Experience Pada Website Streaming Video (Studi Kasus: Youtube dan VLIVE)

Jurnal Pengembangan Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 2 No 8 (2018)
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM), Universitas Brawijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1322.179 KB)

Abstract

Menurut survei dari 82 responden, hanya 12 responden yang lebih memilih menggunakan VLIVE, sedangkan sisanya memilih streaming menggunakan Youtube. Penelitian ini akan memberikan analisis perbandingan user experience pada website VLIVE dan Youtube secara subjektif dan objektif. Analisis secara objektif dilakukan skenario testing berdasarkan parameter: task completed, error during task performance, time per completed task dan number of clicks during task completion. Analisis secara subjektif dilakukan wawancara terhadap responden berdasarkan faktor user experience honeycomb. Terdapat 2 kelompok responden: kelompok website VLIVE dan kelompok Youtube, masing-masing terdapat 3 responden. Hasil analisis secara objektif diperoleh Youtube merupakan website yang lebih efektif dan mudah digunakan berdasarkan parameter task completed. Berdasarkan parameter error during task performance, website VLIVE dapat dikatakan sebagai website yang lebih efektif dan lebih mudah digunakan. Sedangkan website VLIVE lebih efisien berdasarkan parameter time per completed task dan parameter number of clicks during task completion. Analisis secara subjektif didapatkan hasil faktor-faktor user experience yaitu useful: kedua website memiliki pengkategorian konten yang berbeda, usable: kedua website mudah digunakan, desirable: konten yang terdapat pada VLIVE lebih eksklusif, findable: Fitur yang terdapat pada website VLIVE dan Youtube hanya berbeda pada nama fitur yang disediakan, accesable: dibutuhkan adanya koneksi internet untuk bisa mengakses, dan credible: VLIVE dapat login menggunakan akun media sosial, sedangkan Youtube menggunakan email. Penelitian ini menghasilkan masing-masing karakteristik kelebihan dan kekurangan kedua website.

Penilaian Faktor Penerimaan Teknologi Blended learning di PTIIK Universitas Brawijaya dengan Metode Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT)

Jurnal Teknologi Informasi dan Ilmu Komputer Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Ilmu Komputer

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (805.774 KB)

Abstract

AbstrakBlended learning adalah kolaborasi atau kombinasi antara pembelajaran tradisional (pembelajaran dengan tatap muka secara langsung) dan pembelajaran menggunakan teknologi atau e-learning. Universitas Brawijaya sebagai penyelenggara pendidikan tinggi juga telah memfasilitasi penggunaan teknologi untuk blended learning. Namun pada penerapan blended learning masih terdapat beberapa permasalahan Pada penelitian ini digunakan Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) sehingga mampu menutupi kekurangan dari penelitian sebelumnya. Faktor-faktor yang dapat diidentifikasi dengan UTAUT diwakili 2 faktor yaitu perilaku penggunaan (Use Behavior) serta perilaku keinginan dalam menggunakan sistem (Behavioral Intention). Masing-masing dari kedua faktor ini dipengaruhi oleh 4 faktor yaitu harapan kinerja sistem (performance expectancy), harapan usaha yang dikeluarkan untuk mengoperasikan sistem (Effort Expectancy), pengaruh sosial (Social Influence) serta kondisi fasilitas yang mendukung operasional sistem (Facilitating Conditions). Sedang 4 faktor ini ditentukan oleh gender, umur, pengalaman dalam menggunakan sistem kesukarelaan penggunaan sistem dari pengguna. Dengan  menggunakan  UTAUT ternyata  didapatkan  hasil  evaluasi bahwa faktor-faktor yang memiliki pengaruh terhadap penggunaan sistem blended learning  di PTIIK adalah H1 : Variabel-variabel PU, JF, RF, EA dan OE tidak berpengaruh terhadap variabel AT, H2 : Variabel-variabel PeoU berkontribusi terhadap variabel AT, H3 : SN, SF dan I tidak berkontribusi terhadap variabel AT, H4 : Variabel-variabel PBC/PB berkontribusi terhadap variabel IM, dan H5 : Variable AT mempengaruhi IM.Kata kunci: Blended Learning,UTAUT, Universitas BrawijayaAbstractBlended learning is a collaboration or a combination of traditional learning (learning by direct face to face) and learning to use the technology or e-learning. UB as a provider of higher education has also facilitated the use of technology for blended learning. However, on the application of blended learning there are still some problems in this research used the Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) so as to cover the lack of previous studies. Factors that can be identified by UTAUT represented by two factors, namely the usage behavior (Behavior Use) as well as the desire to use the system behavior (Behavioral Intention). Each of these two factors is influenced by four factors: the expectations of system performance (performance expectancy), the hope of effort expended to operate the system (Effort Expectancy), social influence (Social Influence) and the condition of the facilities that support the operation of the system (Facilitating Conditions). 4 of these factors being determined by gender, age, experience in using the voluntary system of use of the system from the user. By using UTAUT it was found on the evaluation that the factors that have an influence on the use of a system of blended learning in PTIIK is H1: Variables PU, JF, RF, EA and OE does not affect the variable AT, H2: Variables PEOU contribute to AT variables, H3: SN, SF and I do not contribute to the variable AT, H4: Variables PBC / PB contribute to variable IM, and H5: Variable AT affect IMKeywords: Blended Learning,UTAUT, Brawijaya University

Co-Authors 'Alam, Ghasa Amalul Abdul Aziz Aditya Kurniawan Aditya, Prasetya Muhamad Admaja Dwi Herlambang, Admaja Dwi Agtika, Agatha Shella Akbar, Misbakhul Alimah, Cindy Felita Nur Amalia, Farah Amalina, Erwina Nur Amin, Harisul Ikrom Ananty Yunanda Rezkiani, Ananty Yunanda Andi Reza Perdanakusuma, Andi Reza Ari Kusyanti Arini, Mumtazah Rizti Augusto, Yugo Fairnando Baihaqy, Ahmad Baiti, Amirah Al Camila, Intan Christopher Dimas Satrio, Christopher Dimas Denny Sagita Rusdianto Dwiartono, Satrio Era Nurria, Era Esfarditya, Danny Fajar Pradana, Fajar Fajrianti, Bintang Fanani, Muhammad Nurul Fitra A. Bachtiar, Fitra A. Gembong Edhi Setyawan Ghaisani, Nozomi Alifia Hernandha, Sephia Aldiariza Hurriyatul Fitriyah, Hurriyatul Ika Kurniawati Ilmi, Chafidz Rizal Intan Rumaysha, Intan Ismiarta Aknuranda Kurniawati, Theresia Lulu Indah Kusnawati, Wilda Laurensia Clara Sakti, Laurensia Clara Mahmud, Ahmad Muzakir Mochamad Chandra Saputra, Mochamad Chandra Mukhammad Yusuf, Mukhammad Muzacki, Ilham Febi Nanang Yudi Setiawan Nasution, Liyan Niken Hendrakusma Wardani Noorrohman, Muhammad Oktoda Oktivianet, Ninscha Adisti Pentidari, Alpia Permatasari, Amellia Ayu Prabawati, Via Aprilia Prakoso, Topan Purwanti, Suanggra Lilik Putra, Zulfiar Ryanda Putri Puspitasari Qonita, Afifah Rahmatika, Azri Putri Rahmi Maulidya, Rahmi Rahmi, Risma Ismulia Ramdhany, Wreda Beny Retno Indah Rokhmawati, Retno Indah Rino Agus Saputra, Rino Agus Roso, Dzat Dini Rusniantoro, Randyka Satrio Agung Wicaksono Satrio Hadi Wijoyo Satrio, Moch. Fadel Setyawam, Nanang Yudi Shazkya, Arsy Baiq Shofi, Sarah Anindya Siahaan, Inggrid E. A. Siswanto, Noval Ageng Suprapto Suprapto Sutrisna, Arib Rahman Trihardo, Rendra Winda Siti Fatmala, Winda Siti Yusi Tyroni Mursityo Zatayumni, Fildzah