Astika Widy Utomo, Astika Widy
Pharmacology and Therapeutic Department of Medical Faculty of Diponegoro University, Semarang

Published : 16 Documents
Articles

Found 16 Documents
Search

Acute Toxicity Test of Soursop Leaves (Annona muricata) on Liver and Kidney of Switzerland Mice Utomo, Astika Widy; Susilaningsih, Neni; Armalina, Desy
Sains Medika Vol 6, No 2 (2015): July-December 2015
Publisher : Fakultas Kedokteran; Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.26532/sainsmed.v6i2.600

Abstract

Introduction: The soursoup leaves extract (Annona muricata) has widely been used as traditional medicine for cancer. No studies have been conduct to investigate the safety of the extract. Objectives: The purpose of the study was to investigate the acute oral toxicity test of soursoup leaves extract (Annona muricata) on Swiss mice’s liver and kidney.Methods: Twenty four mice were divided into 4 groups. Group I was control group, while group II-IV was given soursoup leaves extract as single dose orally via sonde. The mice were obsereved until day 7 to determine the LD50 and at the end were terminated to collect the liver and kidney. The organs later were made into histopathology slides. The slides read with light microscope. The data analyzed with ANOVA and was considered significant at p<0.05.Results: All mice were alive during the 7 days observation and no mice showing the toxic spectrum after the dosing. Microscopically, no damage on the liver and kidney organ among the groups.Conclusion: The LD50 of soursoup leaves extract is more than 2000 mg/kgBW. This result indicate that the extract is practically non toxic and do not damage the liver and kidney.
PENGARUH EKSTRAK KULIT MANGGIS TERHADAP KATALASE ORGAN HEPAR TIKUS TERPAPAR FLUFENAZIN DEKANOAT Sari, Miranti Anggun; Utomo, Astika Widy; Jusup, Innawati
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.869 KB)

Abstract

Latar Belakang : Flufenazin dekanoat merupakan antipsikotik dengan penggunaan jangka panjang. Pengobatan antipsikotik jangka panjang mengakibatkan menurunnya kadar pertahanan antioksidan. Ekstrak kulit manggis memiliki khasiat sebagai antioksidan. Dengan adanya antioksidan pada ekstrak kulit manggis, terjadi penekanan dalam proses pembentukan ROS sehingga tidak menimbulkan stres oksidatif. Enzim katalase digunakan untuk mengetahui stres oksidatif hepar tikus terpapar flufenazin dekanoat diberi ekstrak kulit manggis.Tujuan : Menganalisis pengaruh pemberian ekstrak kulit manggis terhadap kadar katalase organ hepar tikus wistar terpapar flufenazin dekanoat. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain penelitian post test only controlled group design. Sampel adalah 24 ekor tikus wistar dibagi menjadi kelompok kontrol negatif (K0) diberi injeksi sesame oil, kontrol positif (K1) diberi ekstrak kulit manggis ad libitum 600 mg/kgBB, kelompok P1 diberi injeksi fluphenazine decanoat intra muscular, dan kelompok P2 diberi injeksi flufenazin dekanoat intra muscular dan ekstrak kulit manggis ad libitum 600 mg/kgBB. Perlakuan dilakukan selama 28 hari dan dilanjutkan dengan pengukuran kadar katalase hepar. Uji statistik menggunakan uji one way ANOVA dengan post hoc Bonferroni.Hasil  : Dengan menggunakan uji one way ANOVA didapatkan perbedaan signifikan antara kelompok K0 dan K1, K0 dan P2, serta K1 dan P1. Sedangkan antara kelompok K0 dan P1, K1 dan P2, serta P1 dan P2, tidak didapatkan perbedaan yang signifikan.Kesimpulan : Ekstrak kulit manggis menyebabkan peningkatan kadar katalase tikus terpapar flufenazin dekanoat.
KERUSAKAN HEPAR DAN KADAR ENZIM KATALASE TIKUS WISTAR TERPAPAR FLUPHENAZINE DECANOATE Utari, Gloria Seraphine Ratna; Utomo, Astika Widy
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Jurusan Kedokteran Umum, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.653 KB)

Abstract

Latar belakang : Fluphenazine decanoate merupakan obat anti psikotik golongan tipikal yang dikonsumsi dalam jangka lama. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan stress oksidatif. Enzim katalase merupakan salah satu marker stress okisdatif, kerusakan sel akibat stress oksidatif juga dapat dilihat dari histopatologi sel hepar berupa kerusakan ringan hingga kematian sel. Penelitian ini meneliti tentang kerusakan histopatologi hepar dan kadar enzim katalase setelah diberi fluphenazine decanoate.Tujuan : Mengetahui kerusakan histopatologi hepar dan kadar enzim katalase akibat pemberian fluphenazine decanoate dosis bertingkatMetode : Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan post-test only control group design. 15 ekor tikus jantan wistar dibagi 3 kelompok secara acak, yaitu kelompok kontrol (K) diberi diet standar dan injeksi sesame oil, kelompok perlakuan I (P1) diberi diet standar dan injeksi fluphenazine decanoate 1 mg/kgBB, dan kelompok perlakuan PII (P2) diberi diet standar dan injeksi fluphenazine decanoate 2 mg/kgBB selama 28 hari. Hari ke-28 tikus diterminasi dan diambil organ hepar. Sebagian organ hepar dijadikan ekstrak untuk pengukuran kadar katalase dan sebagian dibuat preparat histopatologiHasil : Kadar katalase tertinggi dengan persentase 62,5% dan kerusakan histopatologi terparah dengan skor histopatologi 2,5 didapatkan pada kelompok dengan pemberian fluphenazine decanoate dosis 2 mg/kgBB. Terdapat perbedaan kadar katalase kelompok kontrol dengan kelompok PI walaupun tidak signifikan, sedangkan kelompok lain menunjukkan hubungan yang bermakna.Kesimpulan : Terdapat kerusakan histopatologi hepar dan peningkatan kadar enzim katalase tikus wistar terpapar fluphenazine decanoate dosis 2 mg.
The Effect of Green Tea Leaf Extract on Spatial Memory Function and Superoxyde Dismutase Enzyme Activity in Mice with D-galactose Induced Dimentia Gumay, Ainun Rahmasari; Bakri, Saekhol; Utomo, Astika Widy
Sains Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 8, No 1 (2017): January - June 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran; Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.26532/sainsmed.v8i1.1050

Abstract

Introduction: Oxidative stress and inflammation play an important role in pathogenesis of brain aging and neurodegenerative diseases such as Alzheimer. Green tea has been shown to have antioxidant, anti-inflammatory, anticancer, and neuroprotective activity.Objective: to determine the effect of green tea extract on spatial memory function and superoxide dismutase enzyme activity in mice with D-galactose induced dementia.Methods: An experimental study using ?post test only control group design?. Twenty male BALB/c Mice aged 6-8 weeks were divided into 4 groups. Negative control group (NG) was induced by subcutaneous injection of D-galactose (150 mg/kg BW) once daily for 6 weeks. GT-90, GT-270, GT-540 were induced by D-galactose and orally administered with 90, 270, and 540 mg/kg BW of green tea extract once daily for 6 weeks. The spatial memory functions were assessed using Morris water maze and SOD enzyme activities were evaluated using ELISA. One-way Anova and Kruskal-Wallis were used for statistical analysis.Results: mean percentage of latency time in the GT-90 (35.29 (SD= 2.69)%), GT-270 (35.28 (SD= 2.62)%), and GT-540 (35.62 (SD=5.05)%) were significantly higher compared to that of NG (20.38 (SD = 3.21)%), p <0.05). SOD enzyme activity in the GT-270 (0.78 (SD = 0.07) U/ml) was significantly higher compared to that of NG (0.51 (SD = 0.01) U ml), p= 0.004).Conclusion: Green tea extract may improve spatial memory function and the activity of superoxide dismutase enzyme in mice with D-galactose induced dementia.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KAYU MANIS (CINNAMOMUM BURMANI) TERHADAP AKTIVITAS DAN KAPASITAS FAGOSITOSIS STUDI EKSPERIMENTAL PADA TIKUS WISTAR YANG DIPAPAR STAPHYLOCOCCUS AUREUS Faishal, Luthfi Fathin; Utomo, Astika Widy; Retnoningrum, Dwi
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.207 KB)

Abstract

Latar belakangCinnamomum burmanii merupakan tanaman yang diketahui memililki berbagai potensi termasuk sebagai imunostimulan. Namun, beberapa penelitian masih menunjukkan hasil yang kontradiktif. Fagositosis merupakan mekanisme utama tubuh dalam melawan infeksi. Aktivitas dan kapasitas fagositosis dapat menunjukkan kemampuan sistem imun tubuh dalam menghadapi infeksi.TujuanMembuktikan aktivitas dan kapasitas fagositosis pada tikus wistar jantan yang diinduksi Staphylococcus aureus dengan pemberian ekstrak kulit batang C. burmanii.MetodePenelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan post-test only control group design. Sejumlah 25 ekor tikus dibagi ke dalam 5 kelompok secara acak, yaitu kelompok kontrol negatif (K1) diberi diet standar, kelompok kontrol positif (K2) diberi diet standar  dan obat imunostimulan (levamisol), kelompok perlakuan 1 (P1) diberi diet standar dan ekstrak C. burmanii 100 mg/kgBB, kelompok perlakuan 2 (P2) diberi diet standar dan ekstrak C. burmanii 200 mg/kgBB, dan kelompok perlakuan 3 (P3) diberi diet standar dan ekstrak C. burmanii 400 mg/kgBB selama 7 hari. Pada hari ke-8, dilakukan injeksi suspensi S. aureus 108 secara intraperitoneal sebanyak 0,2 mL/tikus. Hari ke-9 dilakukan terminasi menggunakan overdosis ether lalu dilakukan pembedahan dan pengambilan cairan intraperitoneal. Cairan intraperitoneal dibuat preparat apus menggunakan pengecatan Giemsa. Preparat dibaca dibawah mikroskop dengan pembesaran 1000x dan menggunakan minyak emersi untuk dihitung aktivitas dan kapasitas fagositosis.HasilAktivitas dan kapasitas fagositosis tertinggi didapat pada pemberian dosis 100 mg/kgBB. Kelompok P1 dan P2 pada kedua variabel menunjukkan perbedaan yang bermakna dibandingkan dengan kelompok K1 dan P3. Antar P1, P2, dan K2 menunjukkan perbedaan tetapi tidak bermakna dengan nilai P1>P2>K2.KesimpulanTerdapat peningkatan aktivitas dan kapasitas fagositosis yang bermakna pada pemberian ekstrak kulit batang C. burmanii 100 dan 200 mg/kgBB. Kesimpulan, ekstrak kulit batang C. burmanii memiliki potensi sebagai imunostimulan. 
PENGARUH PEMBERIAN MIYAK GORENG PENGGUNAAN BERULANG TERHADAP KADAR PARASETAMOL PADA URIN TIKUS WISTAR JANTAN Adhuri, Pratama Nurmalik; Sunarsih, Endang Sri; Utomo, Astika Widy
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.042 KB)

Abstract

Latar Belakang: Penggunaan minyak goreng berulang lazim dilakukan, dengan tujuan mengurangi biaya dalam memasak. Minyak goreng yang digunakan berulang akan menyebabkan pembentukan radikal bebas yang dapat menjenuhkan antioksidan endogen, yaitu glutahtion. Parasetamol merupakan obat analgetikantipiretik yang sering dikonsumsi masyarakat. Gluthation mempunyai peran penting dalam metabolisme parasetamol.Tujuan: Mengetahui pengaruh minyak goreng penggorengan berulang terhadap kandungan parasetamol dalam urin tikus wistar.Metode:True experimental dengan post test only control group design. Pengukuran pengaruh penggunaan minyak goreng berulang dilakukan dengan membandingkan presentase kandungan parasetamol pada urin tikus. Setelah diadaptasi dengan diet standar selama 7 hari, 14 ekor tikus wistar jantan dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok K sebagai kelompok kontrol dan kelompok P sebagai kelompok perlakuan. Kelompok K diberi diet standar dan kelompok P diberi diet minyak goreng penggorengan berulang ad libitum selama 56 hari. Pada hari ke-57 semua tikus diberi parasetamol oral 12,5mg/200gramBB. Sampel yang diambil adalah urin tampung 24 jam. Volume urin dicatat. Kadar parasetamol dalam urin diukur dengan spektrofotometri UV pada panjang gelombang 242 nm. Persentase jumlah parasetamol dalam urin didapat dari mengalikan kadar parasetamol dengan volume urin.Hasil: Uji statistik dengan uji t tidak berpasangan menunjukan perbedaan bermakna (p<0,05). Persentase jumlah parasetamol kelompok perlakuan lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol. Dengan rerata sebesar 94,6% pada kelompok perlakuan dan 97,16% pada kelompok kontrol.Simpulan: Minyak goreng penggunaan berulang mempengaruhi metabolisme parasetamol dengan menurunkan persentase parasetamol dalam urin.
PENGARUH EKSTRAK DAUN KERSEN (MUNTINGIA CALABURA L) TERHADAP INTEGRITAS MUKOSA ESOFAGUS TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI ETANOL DAN SOFT DRINK Wahyuni, Rizqa; Istiadi, Hermawan; Utomo, Astika Widy
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (654.244 KB)

Abstract

Latar belakang: Prevalensi konsumsi alkohol dan soft drink di Indonesia melonjak tinggi. Konsumsi alkohol dan soft drink dapat merusak sfingter dan menyebabkan iritasi pada mukosa esofagus. Kersen (Muntingia calabura L.) merupakan tanaman buah tropis yang mudah dijumpai.Daun kersen mengandung senyawa antioksidan flavonoid yang efektif menghambat mediator inflamasi, sehingga dapat mencegah terjadinya kerusakan jaringan dan mengurangi efek buruk etanol dan soft drink terhadap esofagus.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun kersen (Muntingia calabura L) terhadap integritas mukosa esofagus tikus wistar yang diinduksi etanol dan soft drink.Metode: Penelitian quasi experimental dengan metode “post test only control group design” menggunakan 26 tikus wistar jantan yang terbagi menjadi 4 kelompok, yaitu K1 diinduksi etanol 40% 1,8 ml/hari, K2 diinduksi soft drink 50 ml/hari, P1 diberikan ekstrak daun kersen 500 mg/kgBB kemudian etanol 40%, P2 diberi ekstrak daun kersen 500 mg/kgBB kemudian soft drink 50 ml/hari. Perlakuan selama 30 hari, lalu tikus diterminasi dan dilakukan pengamatan mikroskopis dengan kriteria Barthel-Manja.Hasil: Kelompok K1 dan K2 menunjukkan kerusakan pada mukosa esofagus. Sedangkan kelompok         P1 dan P2 terdapat perbaikan yang bermakna. Terdapat perbedaan signifikan integritas mukosa esofagus antara kelompok K1 dengan kelompok P1 (p=0,000) dan antara kelompok K2 dengan kelompok P2 (p=0,000). Perbedaan yang tidak signifikan terdapat antara kelompok K1 dengan kelompok K2 (p=0,061) dan kelompok P1 dengan kelompok P2 (p = 0,045).Kesimpulan: Pemberian ekstrak daun kersen 500 mg/kgBB memberikan perbaikan yang bermakna terhadap integritas mukosa esofagus tikus wistar yang diinduksi etanol dan soft drink. 
KERUSAKAN HEPAR DAN KADAR ENZIM KATALASE TIKUS WISTAR TERPAPAR FLUPHENAZINE DECANOATE Utari, Gloria Seraphine Ratna; Utomo, Astika Widy
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (766.653 KB)

Abstract

Latar belakang : Fluphenazine decanoate merupakan obat anti psikotik golongan tipikal yang dikonsumsi dalam jangka lama. Hal ini dapat menyebabkan peningkatan stress oksidatif. Enzim katalase merupakan salah satu marker stress okisdatif, kerusakan sel akibat stress oksidatif juga dapat dilihat dari histopatologi sel hepar berupa kerusakan ringan hingga kematian sel. Penelitian ini meneliti tentang kerusakan histopatologi hepar dan kadar enzim katalase setelah diberi fluphenazine decanoate.Tujuan : Mengetahui kerusakan histopatologi hepar dan kadar enzim katalase akibat pemberian fluphenazine decanoate dosis bertingkatMetode : Penelitian eksperimental ini menggunakan rancangan post-test only control group design. 15 ekor tikus jantan wistar dibagi 3 kelompok secara acak, yaitu kelompok kontrol (K) diberi diet standar dan injeksi sesame oil, kelompok perlakuan I (P1) diberi diet standar dan injeksi fluphenazine decanoate 1 mg/kgBB, dan kelompok perlakuan PII (P2) diberi diet standar dan injeksi fluphenazine decanoate 2 mg/kgBB selama 28 hari. Hari ke-28 tikus diterminasi dan diambil organ hepar. Sebagian organ hepar dijadikan ekstrak untuk pengukuran kadar katalase dan sebagian dibuat preparat histopatologiHasil : Kadar katalase tertinggi dengan persentase 62,5% dan kerusakan histopatologi terparah dengan skor histopatologi 2,5 didapatkan pada kelompok dengan pemberian fluphenazine decanoate dosis 2 mg/kgBB. Terdapat perbedaan kadar katalase kelompok kontrol dengan kelompok PI walaupun tidak signifikan, sedangkan kelompok lain menunjukkan hubungan yang bermakna.Kesimpulan : Terdapat kerusakan histopatologi hepar dan peningkatan kadar enzim katalase tikus wistar terpapar fluphenazine decanoate dosis 2 mg.
UBI JALAR UNGU GORENG ATAU KUKUS DOSIS BERTINGKAT TERHADAP GULA DARAH TIKUS WISTAR Matondang, Asri Rizqi; Tarigan, Clara Vica Rudangta; Sihombing, Maria Anna; Defie, Rhory; Siringoringo, Ester Theresia; Utomo, Astika Widy
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 6, No 2 (2017): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.752 KB)

Abstract

Indonesia merupakan negara keempat yang memiliki jumlah penderita diabetes melitus (DM) terbanyak di dunia. Salah satu yang terpenting bagi penderita DM adalah pengendalian kadar glukosa darah. Ubi jalar ungu merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang memiliki indeks glikemik yang lebih rendah sehingga tidak meningkatkan glukosa darah secara signifikan dan juga karena adanya antosianin yang memiliki manfaat untuk menurunkan kadar gula darah yang kadarnya dapat bergantung dari cara pengolahannya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ubi jalar ungu yang dikukus dan digoreng terhadap kadar gula darah tikus wistar. Penelitian eksperimental dilakukan pada bulan April hingga Mei 2017 di Laboratorium Hewan Coba Fakultas Kedokteran Undip. Pemilihan sampel diperoleh secara random sampling. Sebelum diberi perlakuan terlebih dahulu tikus diinjeksi aloksan monohidrat lalu perlakuan diberikan selama empat minggu. Pengukuran gula darah dilakukan setiap akhir minggu. Analisis data menggunakan Post-hoc Mann-whitney dengan nilai signifikansi p<0,05. Didapatkan hasil yang signifikan di minggu ke-2, ke-3, dan ke-4 pada kelompok kukus 13,5 gram/kgBB dan juga di minggu ke-2 dan ke-3 pada kelompok goreng 6,75 gram/kgBB. Dengan demikian, pengolahan yang berbeda memberikan dosis optimal yang juga berbeda terhadap kadar gula darah tikus wistar.
PENGARUH EKSTRAK KULIT MANGGIS TERHADAP KATALASE ORGAN HEPAR TIKUS TERPAPAR FLUFENAZIN DEKANOAT Sari, Miranti Anggun; Utomo, Astika Widy; Jusup, Innawati
JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO Vol 5, No 4 (2016): JURNAL KEDOKTERAN DIPONEGORO
Publisher : Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.869 KB)

Abstract

Latar Belakang : Flufenazin dekanoat merupakan antipsikotik dengan penggunaan jangka panjang. Pengobatan antipsikotik jangka panjang mengakibatkan menurunnya kadar pertahanan antioksidan. Ekstrak kulit manggis memiliki khasiat sebagai antioksidan. Dengan adanya antioksidan pada ekstrak kulit manggis, terjadi penekanan dalam proses pembentukan ROS sehingga tidak menimbulkan stres oksidatif. Enzim katalase digunakan untuk mengetahui stres oksidatif hepar tikus terpapar flufenazin dekanoat diberi ekstrak kulit manggis.Tujuan : Menganalisis pengaruh pemberian ekstrak kulit manggis terhadap kadar katalase organ hepar tikus wistar terpapar flufenazin dekanoat. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain penelitian post test only controlled group design. Sampel adalah 24 ekor tikus wistar dibagi menjadi kelompok kontrol negatif (K0) diberi injeksi sesame oil, kontrol positif (K1) diberi ekstrak kulit manggis ad libitum 600 mg/kgBB, kelompok P1 diberi injeksi fluphenazine decanoat intra muscular, dan kelompok P2 diberi injeksi flufenazin dekanoat intra muscular dan ekstrak kulit manggis ad libitum 600 mg/kgBB. Perlakuan dilakukan selama 28 hari dan dilanjutkan dengan pengukuran kadar katalase hepar. Uji statistik menggunakan uji one way ANOVA dengan post hoc Bonferroni.Hasil  : Dengan menggunakan uji one way ANOVA didapatkan perbedaan signifikan antara kelompok K0 dan K1, K0 dan P2, serta K1 dan P1. Sedangkan antara kelompok K0 dan P1, K1 dan P2, serta P1 dan P2, tidak didapatkan perbedaan yang signifikan.Kesimpulan : Ekstrak kulit manggis menyebabkan peningkatan kadar katalase tikus terpapar flufenazin dekanoat.