Articles

Found 7 Documents
Search

PEMBUATAN BIODIESEL SECARA SIMULTAN DARI MINYAK JELANTAH DENGAN MENGUNAKAN CONTINUOUS MICROWAVE BIODISEL REACTOR Prasiwanto, Galih; Armansyah, Yudi
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN Prosiding Seminar Nasional Cendekiawan 2017 Buku I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.788 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang pembuatan biodisel secara simultan dari minyakjelantah dengan menggunkan Continuous Microwave Biodiesel Reactor (tinjauanpengaruh Persentase NaOH dan Persentase H2SO4). Penelitian ini bertujuan untukmengetahui yield optimum proses pembuatan biodiesel dari minyak jelantah denganContinuous Microwave Biodiesel Reactor secara simultan dimana proses esterifikasi dantransestrifikasi dilakukan secara bersamaan, sehingga akan dihsilkan nilai yield yang lebihbaik bila dibandingkan dengan proses esterifikasi dan transesterifikasi secaraterpisah..Variabel operasi dalam penelitian ini adalah Persentase katalis NaOH 0.5, 0.75dan 1 %; serta Persentase katalis H2SO4 0.5, 0.75 dan 1 %. Hasil penelitian inimenunjukkan Persentase katalis NaOH optimum untuk proses pembuatan biodieselsecara simultan dari minyak jelantah dengan menggunkan Continuous MicrowaveBiodiesel Reactor pada penelitian ini yaitu 0.75 %; sedangkan Persentase katalis H2SO4optimum pada penelitian ini yaitu 0.75 %; dengan nilai yield optimum yang dicapai padakondisi operasi tersebut adalah sebesar 65.54 %.
PRINCIPLES OF TOLERANCE SUNAN KALIJAGA AND HIS CONTRIBUTION ON ISLAMIZATION OF JAVA Santosa, Santosa; Armansyah, Yudi
Kontekstualita Vol 28, No 1 (2013)
Publisher : Kontekstualita

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Islamisasi yang dilakukan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan Islam di pulau Jawa, memberikan pengaruh yang besar bagi perkembangan Islam pada periode selanjutnya. Dengan mengembangkan ajaran Islam melalui pendekatan budaya, menjadikan Islam mudah diterima oleh masyarakat. Proses islamisasi yang dilakukan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam dalam kondisi masyarakat pada masa itu masih kental dengan kepercayaan lama (Animisme, Dinamisme, Hindu dan Budha). Proses islamisasi yang dilakukan Sunan Kalijaga dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa tidaklah mudah, karena kondisi masyarakat pada waktu itu masih kental dengan kepercayaan agama lama (Animime, Dinamisme, Hindu dan Budha). Akan tetapi dengan kepiawaian Sunan Kalijaga, sikap masayarakat terhadap dakwahnya sangat baik dan sedikit demi sedikit mau menerima ajaran agama Islam, karena ia dalam menyebarkan agama Islam benar-benar memahami keadaan rakyat pada saat itu. Sunan Kalijaga menyadari begitu kuatnya pengaruh Hindu-Budha pada saat itu, maka ia tidak melakukan dakwah secara frontal, melainkan toleran dengan budaya-budaya lokal. Menurutnya, masyarakat akan menjauh kalau diserang pendiriannya. Dengan pola mengikuti sambil mempengaruhi, dia mampu mendekati masyarakat secara bertahap. Prinsipnya, kalau ajaran Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama akan hilang. Ia memaduhkan unsur kebudayaan lama (Seni ukir, Suara, Gamelan, dan Wayang). Kata-kata Kunci: Sunan Kalijaga, Islamisasi, Jawa.Abstract: Islamization conducted Sunan Kalijaga in spreading Islam in Java, giving great influence to the development of Islam in the later period. By developing the teachings of Islam through a cultural approach, making Islam readily accepted by the public. Islamisation process conducted Sunan Kalijaga in spreading the religion of Islam is not easy, because the conditions of society at that time still dominated by old beliefs (animism, dynamism, Hinduism and Buddhism). Sunan Kalijaga realize how strong the influence of "genuine faith" is. By following the pattern while affecting, he was able to approach the public gradually. In principle, it has been understood that the teachings of Islam, itself the old habits will be lost. Islamisation process conducted Sunan Kalijaga in spreading Islam in Java is not easy, because the conditions of society at that time still dominated by the old religious beliefs (Animime, dynamism, Hinduism and Buddhism). However, with the expertise of Sunan Kalijaga, the attitude of society towards preaching is very good and little by little to accept the teachings of Islam, as he was in spreading Islam truly understand the circumstances of the people at that time. Sunan Kalijaga realize how strong the influence of Hindu-Buddhist at the time, he did not do propaganda frontally, but rather tolerant with local cultures. According to him, people will move away if attacked stance. By following the pattern while affecting, he was able to approach the public gradually. In principle, it has been understood that the teachings of Islam, itself the old habits will be lost. He memaduhkan elements of the old culture (art carved, Voice, Gamelan, and Puppet). Keywords: Sunan Kalijaga, Islamization, Java.
Dinamika Perkembangan Islam Politik di Nusantara: Dari Masa Tradisional Hingga Indonesia Modern Armansyah, Yudi
FOKUS Jurnal Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan Vol 2, No 1 (2017)
Publisher : STAIN Curup

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.94 KB)

Abstract

Historically, Indonesia was once a political force that counts the world. It was marked by the birth of political forces during the Hindu Buddhist kingdom until the Islamic sultanate. Ironically, the final phase of the power of political Islam, began to decline since the arrival of colonialism, especially the Dutch colonization that fundamentally colonized in 350 years. But it does not necessarily discourage Islam Politics grow and flourish in the archipelago. Even since Indonesia became independent until it changed into the period of the three Order Lama regimes, the Order Baru and Islamic political reforms remain the barometer of Indonesias political power. This article is about to unravel the dynamics of the development of political Islam in Indonesia. Where can be classified into two phases, namely the traditional-royal phase, the modern phase. From the results of this study, there are at least two patterns of development of the political power of Islam in Indonesia, which can survive despite real “pressure” from the ruling that is on the political and cultural fields
KONTRIBUSI SELOKO ADAT JAMBI DALAM PENGUATAN DEMOKRASI LOKAL Armansyah, Yudi
Sosial Budaya Vol 14, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.666 KB)

Abstract

Diskursus tentang gagasan demokrasi dalam bingkai kearifan lokal menjadi kajian yang debatable. Sebab kedua gagasan ini mewakili ruang kajian yang sangat distingsif, di mana konsep demokrasi yang berasal dari pemikiran Yunani Kuno, kemudian dilanjutkan dalam tradisi keilmuan Barat pada abad pertengahan. Sebaliknya, seloko adat Jambi mewakili tradisi Nusantara lebih tepatnya kebudayaan Islam Melayu yang sangat menjunjung tinggi moral etik masyarakat. Penelitian ini mencoba melihat sisi lain dari seloko adat Melayu Jambi yang secara awam sering dipahami sebatas “tradisi lisan” semata. Padahal lebih jauh, seloko adat merupakan falsafah hidup masyarakat Melayu Jambi yang dimanifestasikan dalam tingkah kehidupan sehari-hari sekaligus sebagai alat kontrol sosial-politik di masyarakat, yang secara tidak langsung turut memperkuat demokrasi di tingkat lokal. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan berbagai pendekatan keilmuan. Persoalannya ialah apakah seloko adat Melayu Jambi kompatibel dengan konsep demokrasi. Kemudian jika kompatibel, bagaimana kontribusi seloko adat Jambi dalam penguatan demokrasi lokal di Jambi. Hasil temuan menunjukkan bahwa antara Islam, seloko adat dan demokrasi memiliki nilai universal yang saling memperkuat satu sama lain. Secara nyata seloko adat memiliki kontribusi signifikan dalam rangka penguatan prinsip-prinsip demokrasi lokal di antaranya: prinsip pengambilan keputusan dalam pemerintahan; prinsip keadilan; prinsip persamaan; kebijaksanaan pemimpin; prinsip musyawarah mufakat; dan manajemen dan tata kelola pemerintahan.
MENYOAL RELEVANSI KEBIJAKAN OTONOMI DAERAH DAN OTONOMI PENDIDIKAN DIKAJI DARI KESEJAHTERAAN Armansyah, Yudi
El-Idare Vol 2 No 1 (2016): El-Idare
Publisher : Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Fak. Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (87.717 KB)

Abstract

Autonomy is the outcome of a decentralized system is the reform agenda of the Indonesian nation. Decentralization touch the whole life of the nation, including educational programs and activities. The education sector is experiencing a transition from the management arrangements and the delivery of education regulated by the district / city, so as to adjust the content of teaching adapted to direct development. Autonomous education is not just about the handover of authority to the education unit to organize and manage programs and educational activities independently and be transparent and accountable, but make education effective in the development of the local area to achieve a prosperous society.
MODEL PERLINDUNGAN KELOMPOK MINORITAS DI INDONESIA: Antara Pendekatan Agama dan Politik Armansyah, Yudi
Sulthan Thaha Journal of Social and Political Studies Vol 2 No 01 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (295.801 KB)

Abstract

Menarik mencermati lahirnya putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menetapkan para penghayat atau penganut kepercayaan dapat mengisi kolom di Kartu Tanda Penduduk. Keputusan “politik-hukum”itu cukup menyejukkan bagi perkembangan toleransi di Indonesia. Sebagai bangsa yang besar dan plural, sudah selayaknya negara memberikan akses bagi penganut kepercayaan di luar agama-agama yang ada untuk eksis. Keputusan ini semakin menegasikan pentingnya upaya perlindungan dan penegakkan hak-hak minoritas yang selama puluhan tahun kurang mendapat respon dari Negara. Para kelompok minoritas, baik minoritas dari sisi agama maupun pemikiran, yang dalam beberapa kesempatan kurang mendapat tempat akibat “hegemoni” mayoritas.Kini mulai “diterima” gagasan dan eksistensinya. Bertalian dengan persoalan minoritas tersebut, artikel ini akan mengkaji, yaitu:Pertama, bagaimana penegakkan dan perlindungan hak-hak kelompok minoritas di Indonesia. Kedua, bagaimana model perlindungan kelompok minoritas di Indonesia dengan menggunakan pendekatan agama (Islam) dan politik tersebut.
“SEKOLAH RAMAH ANAK” BERBASIS PERDA: STUDI PADA PERATURAN WALIKOTA JAMBI NOMOR 189 TAHUN 2010 TENTANG KAWASAN TANPA ASAP ROKOK (KTAR) Armansyah, Yudi
Jurnal Harkat : Media Komunikasi Gender JURNAL HARKAT : MEDIA KOMUNIKASI GENDER, 11 (1), 2015
Publisher : Pusat Studi Wanita, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3145.471 KB)

Abstract

Sekolah dalam fungsi yang sebenarnya, selain sebagai tempat proses belajar mengajar juga merupakan wahana bagi anak-anak untuk melakukan aktualisasi dan sosialisasi diri. Dalam kegiatan sosial tersebut, anak-anak pastinya sering menggunakan fasilitas sekolah, seperti ruang kelas, taman bermain dan halaman sekolah. Namun, sering didapati para peserta didik tersebut belum memperoleh tempat bermain yang sehat dan bersih akibat pencemaran udara di lingkungan sekolahnya. Hal tersebut diakibatkan masih ditemukan para wali murid, penjaga sekolah, bahkan ironisnya, guru yang merokok di lingkungan sekolah. Hal ini tentu saja, tidak sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan. Nyatanya sekolah masuk ke dalam tujuh kawasan yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai wilayah bebas asap rokok. Bahkan, untuk kota Jambi sendiri, sejak tahun 2010 telah mengeluarkan peraturan daerah yang tertuang dalam Surat Keputusan Walikota Jambi Nomor 189 Tahun 2010 tentang Kawasan Tanpa Asap Rokok (KTAR). Kajian ini berupaya menggali sejauhmana, efektifitas dari peraturan peraturan tersebut. Utamanya di lingkungan Sekolah Dasar (SD) sebagai locus utama kajian. Apakah sekolah telah menjadi tempat yang nyaman dan bersih bagi anak-anak ketika bersosialisasi dengan sesamanya, atau sebaliknya sekolah masih mengabaikan kesehatan peserta didiknya.