Articles

Found 21 Documents
Search

PENILAIAN KINERJA KEPALA SEKOLAH ABBAS, ABBAS
DIDAKTIKA Vol 11, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bone

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (547.625 KB)

Abstract

This journal discusses about the performance of the principal. Assessment is a systematic effort of collecting, organizing, managing and interpreting data, facts and information (which can be accounted for) with the aim of concluding the value or rating of one's competence in one type or area of expertise of the educational personality such as the principal. The performance of the principal is the work done by the principal in carrying out the main tasks, functions and responsibilities in managing the school he or she is in. Procedures to be passed in the performance appraisal are working procedures and work steps since the process of understanding the performance starts from composing instruments and piloting, collecting data, analyzing data and preparing reports. The results of the principal's performance appraisal are used to improve the professionalism of the principal.
RADIKALISME VERSUS ISLAM RAHMA Abbas, Abbas
Tasamuh: Jurnal Studi Islam Vol 7, No 1 (2015): Sejarah Islam
Publisher : P3M STAIN Sorong

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1914.812 KB)

Abstract

Islamic doctrine is viewed as rahmatan lil alamin. But it still needs big question. Then it is not only based on the application aspect, but also rahmatan lil alamin’s consept. Besides as academic intelectual activities, quarrying the rahmatan lil alamin’s consept, this information era, also by the future observer state that involvement of the academic intelectual workings urgent dan to be needed to overcome the life’s problems nowadays. So radicalism and terrorism in this view, are not separated with rahmatan lil alamin of Islamic doctrine views. This writing discourses the central theme, namely; As Islamic doctrine and its relevance of local wisdem, how is the rahmatan lil alamin’s consept. The study answers questions: First, what are radicalism and terrorism term? Second, as a big Islam vision or mision, how is the Rahmatan lil alamim’s concept? Thirt, how is the local wisdem (Bugisness’s ethnic) as culture basis humanity? Fourth, how is the local culture development and Islam in the context of amar makruf nahi munkar: terrorism and radicalism bid to prevention?. The last, this writing gives birth to viewings that Islam concept is rahmatan lil alamin, have views about humanity, freedom of expression, wisdom, ect.
HAKEKAT INSAN MONODUALISTIK PERSPEKTIF PENDIDIKAN Abbas, Abbas
Al-Riwayah: Jurnal Kependidikan Vol 8, No 1 (2016): Dinamika
Publisher : STAIN Sorong

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1360.757 KB)

Abstract

Man as an individual attempts into reality all his potential, both physical and spiritual potential. Physical is the body that is material, palpable, and real. Spiritual or soul is the human element that is spiritual, intangible, can not be touched or captured by the senses. This mental element consists of three types, namely reason, sense, and will. Human beings try to fulfill their own interests or the pursuit of happiness. His action motive is to meet their needs which include physical and spiritual needs, emphasis on self-interest led to individualistic nature within the individual concerned. In addition, in the interests of self-fulfillment factor also makes the individual will be competing for it. Based on the nature of human nature as an individual, it can be seen that man’s dignity, human beings have the basic rights, every human being has a unique potential, and every human being has an interest to meet her needs. On the other hand, people in social groups, such as living state, are bound to the norms as a result of the interaction of man himself. Attachment to the norm is the attachment to respect for others. So, if the individual dimension, emerging basic human rights then in this social dimension, appears fundamental freedoms. The basic obligation of humans being is the respect for basic rights of others and the applicable norms in society. This article describes the position of monolithic humans being.
KRITIK HADIS; STANDAR ORISINALITAS SUNNAH Abbas, Abbas
PILAR : Jurnal Ilmu-ilmu Agama Kontemporer Vol 3, No 2 (2014): Jurnal PILAR
Publisher : PILAR : Jurnal Ilmu-ilmu Agama Kontemporer

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTadwin al-hadis (pembukuan hadis) merupakan konsep yang harus dipahami dengan benar dalam studi hadis, karena ia berkaitan dengan eksistensi periwayatan hadis-hadis Nabi saw yang telah terjadi di dalam sejarah, yang kemudian dibukukan dalam kitab-kitab hadis yang diwarisi oleh umat pada masa kemudian.Dalam studi hadis persoalan sanad dan matan merupakan dua unsur penting yang menentukan keberadaan dan kualitas suatu hadis sebagai sumber otoritas ajaran Nabi Muhammad saw.Kritik sanad dan matan yang merupakan cabang ilmu hadis memberikan peranan penting dalam upaya penjagaan kemurnian dan kelestarian sunnah dengan berbagai metodenya, baik secara klasik yang merupakan akar dan cikal bakal ulmu setelahnya maupun secara kontemporer yang merupakan pengembangan dari metode sebelumnya.Kata kunci: tadwin al-hadis, kritik sanad, matan, otoritas.
THE CONTRASTIVE OF COMMUNICATIVE CULTURE BETWEEN MAKASSARESE AND ENGLISH WITH SPECIAL REFERENCE TO INTRODUCTION abbas, abbas
JURNAL ILMU BUDAYA JIB Volume 4, No 2 Juli - Desember 2016
Publisher : Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (380.84 KB)

Abstract

This paper discusses the contrastive of communicative culture between Makassar people and Englishmen, specially in self-introduction. The contrastive culture aims at comparing the diffrence aspects of introducing between Makassar and English.This research uses the method of field research and library study. Field research is done to obtain manners both society in inroducing. Library study is meant to explore values and norms both society with special reference to introduction. Then those information, the writer does contrastive analysis till finding conclusion.Based on the whole information and the analysis results, the writer finds There are seven issues different introduction between Makassarese and English community that conveys not only verbal communication but also nonverbal communication. They are gender, age, status, kinship relation, shaking hand, eyes contact, and forming name. The differences are usually caused by contrastive world-view. Makassarese community is feeling strongly its traditional habit or culture from generation to generation what it known as Eastern Culture while English community is expanding its communicative system on technology entering globalization what it called as Western Culture.Keywords: contrastive culture, introduction, Makassar, English
Peningkatan Keterampilan Bercakap Bahasa Inggris TK/TPA Di Kabupaten Takalar Abbas, Abbas
E-ISSN 2580-3786
Publisher : LP2M Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.059 KB)

Abstract

Generasi muda pelanjut masa depan bangsa Indonesia harus memiliki keterampilan berbahasa asing yang memadai, khususnya bahasa Inggris. Bahasa asing ini dibutuhkan guna mendukung pengetahuan utama yang dimilikinya, seperti pengetahuan agama, politik, hukum, ekonomi, sastra, matematika, biologi, kimia, teknik, kedokteran, dan lain-lain. Olehnya itu saat ini tidak bisa dielakkan lagi bahwa persaingan dunia global dan daya saing memicu berbagai kalangan masyarakat perlu melakukan kiat-kiat strategis dalam melakukan ekspansi secara global.Tuntutan terpenuhinya sumber daya manusia dengan daya saing tinggi mendorong lembaga pendidikan agama juga ikut bergerak memasukkan bahasa Inggris sebagai bagian dari muatan kurikulum belajar. Lembaga pendidikan agama yang dimaksud mulai dari sekolah-sekolah agama seperti Madrasah hingga yang terendah, yakni TPA Al Qur’an. Santri pada TPA Al Qur’an perlu diberi penekanan untuk belajar bahasa Inggris sebab mereka merupakan generasi pemula dengan gairah belajar dan bermain yang tinggi. Usia peka mereka terhadap pengetahuan dan keterampilan berbahasa asing perlu dimanfaatkan. Jadi bahasa Inggris diajarkan kepada mereka sebatas keterampilan dasar atau perkenalan saja.
AGAMA DAN KONFLIK DALAM MASYARAKAT DI INDONESIA Abbas, Abbas
Shautut Tarbiyah Vol 18, No 2 (2012): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.46 KB)

Abstract

Agama adalah ajaran keyakinan utuh dari seluruh kesempurnaan manusia, setiap manusia memiliki keyakinannya masing-masing. Untuk mendapatkan keyakinan yang sempurna tersebut maka manusia biasanya memiliki berbagai perbedaan-perbedaan. Karena perbedaan dalam proses pendekatan dan pandangan terhadap tuhan itulah yang menentukan kualitas iman dalam beragama seseorang. Yang menjadi sumber komplik di tengah-tengah masyarakat adalah proses untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan biasa terlihat dalam perilaku keseharian mereka. Di Indonesia pandangan terhadap agama juga berbeda-beda sehingga perbedaan tersebut mendapatkan gesekan yang berujung pada komplik. Meskipun demikian, dominasi kelompok awan/pemula dalam beragama yang berujung pada formalisme agam masih menguasai agama-agama sehingga masih ada komplik, pada komplik ini sangat minim jika difahami pada kelompok yang substansialisme Kata kunci : Agama, Konflik
Islamisasi Ilmu Pengetahuan Abbas, Abbas
Shautut Tarbiyah Vol 16, No 2 (2010): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.202 KB)

Abstract

Ilmu pengetahuan senantiasa menjadi perdebatan pada masa kontemporer karena berbagai persepsi pandangan yang melatar belakanginya. Orang yang tidak beragama menganggap bahwa Ilmu pengetahuan itu terkait dengan kebebasan mengatur apa saja dengan metode yang dibuat, tetapi para agamawan menganggap bahwa ilmu pengetahuan itu sarat dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya sehingga setiap metode dan ilmu yang berkembang senantiasa memakai rambu nilai-nilai keagamaan bahkan di katakana oleh para pembaharu bahwa tidak ada dikotomi antara ilmu pengetahuan agama dan umum, hal demikian hanya menjadikan ilmu itu menjadi sekuler. Oleh karena itulah pentingnya mengetahui paradigma ilmu pengetahuan dan logika kesempurnaan demi terjaganya keseimbangan dan pencerahan diatas muka bumi ditangan para pencerah
Paradigma dan Corak Pemikiran Teologi Islam Klasik dan Modern Abbas, Abbas
Shautut Tarbiyah Vol 21, No 1 (2015): Pendidikan, Ilmu Sosial, dan Keagamaan
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.174 KB)

Abstract

Teologi klasik adalah warisan dari teolgi masa lalu dalam bentangan sejarah Islam dan memiliki ciri apologitatik(perdebatan panjang pada wilayah dosa besar, eskatologi, syurga dan neraka dan kekekalan al-qur’an) dan romantisme mengenang dan merindukan kehebatan dan keunggulan para teolog masa lalu tanpa mengisi dan mempersiapkan konpetisi global yang akan dihadapi, sedangkan corak pemikiran teologi modern adalah lebih mengutamakan substansi daripada form, dan mengfungsikan nilai-nilai Islam untuk mengatasi persoalan keumatan yang konkrit seperti kebodohan, kemiskinan, pengangguran, dan keterbelakangan sosial serta mengembangkan  ilmu pengetahuan dan sains dalam kerangka kesejahtraan dan ketentraman umat manusia dimuka bumi ini. Dua corak teologi yang ada pada masyarakat menjadikan warna paradigma teologi Islam harus dapat didialektikakan oleh para penganut teologi yang lebih moderat, sehingga meninggalkan pola teologi klasik tidak berarti meninggalkan totalitas tetapi merombak konstruk berfikir kearah substansi ijtihad sesuai dengan pesan-pesan nilai kemanusian yang humanis.Kata Kunci : Paradigma, Teologi, Klasik, Modern.
(العدالة فى تصور القرآن (دراسة لغوية تفسيرية فلسفية Abbas, Abbas
Langkawi: Journal of The Association for Arabic and English Vol 1, No 1 (2015)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.125 KB)

Abstract

هذه الرسالة تبحث عن العدالة كما صورها القرآن الكريم التى ابتعد فيها كثير من الناس خاصة المسلمين أن يحكموا بالعدل بين الناس، مع أنه قد وردت عدة آيات فى وجوب العدالة وأقسامها وأهميتها.    ولفهم تلك الآيات المتعلقة بالعدالة، ذهب الكاتب أن يبينها بمنهج علم التفسير وطريقة تفسير موضوعي بوسيلة دينية وفلسفية بجمع المواد حسب لفظه وموضوعه وتحليله بالقياسية والإستقرائية والمقارنة بالنظر إلى كتب التفاسير والكتب الآخرى التى لها ثقة قوية بالموضوع لكي يفهم الكاتب والقارئ هذا الموضوع جيدا حتى نستطيع تطبيقها فى حياتنا اليومية.الإسلام قد جعل العدل فوق كل شيء، فهو يزن بالقسطاس المستقيم بين الكافر والمسلم، والعدو والموالي والمعاهد، فهم جميعا في نظره أمام العدالة سوا.  والأمة الإسلامية قيمة على الحكم بين الناس بالعدل متى حكمت في أمرهم. فهذا العدل الذي لم تعرفه البشرية قط- على هذه الصورة- إلا على يد الإسلام، وإلا في حكم المسلمين، وإلا في عهد القيادة الإسلامية للبشرية.فالعدل ميزان الله فى الارض يدعو إلى الألفة ويبعث على الطاعة وتنعم به الأرض وتنمو به الأموال وتكثر العمران ويعم الأمان سواء كان فى الأحكام او فى المعاملات والعدول عنه يؤدى الى مؤاخذة العباد فينبغى ان يجتنب اظلم والمراد بالظلم ان يتضرر به الغير والعدل ان لا يتضرر منه احد بشيء ما.