Lalu Heri Afrizal, Lalu Heri
Institut Agama Islam Nurul Hakim, Lombok Barat

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Psikoanalisa Islam, Menggali Struktur Psikis Manusia dalam Perspektif Islam Afrizal, Lalu Heri
KALIMAH Vol 12, No 2 (2014)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v12i2.238

Abstract

Pengaruh Teori Psikoanalisa Sigmund Freud dalam kajian psikologi modern cukup dominan mewarnai ilmu pengetahuan secara umum yang berbicara tentang manusia, seperti kedokteran, filsafat, agama, seni, sastra, antropologi, maupun politik. Padahal teori-teori Freud tentang konsep manusia, yang menjadi basis utama dalam mengkaji prilaku dan kejiwaan manusia, sangat dipengaruhi oleh doktrin ateisme yang dianutnya. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Sebab, ketika psikologi semacam ini diajarkan dan diyakini oleh umat Islam yang belum sadar terhadap paradigma psikologi modern, maka akan menjadi masalah. Padahal doktrin-doktrin di dalamnya sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Sementara itu, kajian-kajian ilmuwan Muslim kontemporer mengenai hal ini belum banyak mewarnai. Oleh karena itu,sangat diperlukan kajian mendalam mengenai ilmu psikologi yang berbasis pandangan hidup Islam, sehingga ditemukan konsep manusia yang utuh dan islami. Tulisan ini mencoba mengkaji permasalahan psikologi melalui kajian tematis-analitis terhadap teks-teks al-Qur’an dan al-Hadits. Sebagai perbandingan, kajian dimulai dengan mengungkap konsep manusia menurut Psikoanalisa Sigmund Freud, kemudian disusul pembahasan tentang struktur psikis manusia menurut Islam.
Selisik atas Metodologi Kritik Matan Ulama Hadis Afrizal, Lalu Heri
KALIMAH Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Ushuluddin, Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/klm.v14i2.612

Abstract

This article assumes most contemporary intellectuals who considered that the scholars of hadith do not concentrate to criticism of “matan” of hadith. According to them, the classic hadith scholars portray not much sense in reviewing and critiquing the prophetic traditions. This criticism is inherited and developed by some reviewers of prophetic tradition in the West. Some may think that the scholars did not use a lot of sense in criticizing the hadith. In fact, any study of any text can not be done without using the sense. But, in studying the hadith texts, the scholars of hadith did not rely on the opinions of the sense only, but they put the sense into its position proportionally. Related to this, the criticism methodology of “sanad” is part of the criticism of “matan” that can not be separated, because of the efforts of the scholars in reviewing “sanad” is to prove the authenticity and validity of “matan”. The validity of a hadith should be assessed through a study of the “sanad” and “matan” once. To judge a hadith by the sense only can not be accepted. So, to prove the truth of any information is not enough just by assumption or opinion of the sense itself. Proving the accuracy of “riwayat” empirically has been done by the previous hadith scholars, and it is their main activity to prove the truth of narration of hadith they heard and understood by their sense.
Metodologi Tafsir Nasr Hamid Abu Zaid dan Dampaknya terhadap Pemikiran Islam Afrizal, Lalu Heri
TSAQAFAH Vol 12, No 2 (2016): Qur'anic Studies
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tsaqafah.v12i2.758

Abstract

Liberalisasi pemikiran Islam yang diklaim sebagai “pembaruan pemikiran Islam” tidak terlepas dari paham relativisme kebenaran, yaitu paham yang menyatakan bahwa tidak ada sebuah nilai yang memiliki kelebihan atas nilai-nilai yang lain, termasuk agama. Jika dikaitkan dengan penafsiran kitab suci, maka paham ini akan merelatifkan seluruh penafsiran. Tidak ada penafsiran yang lebih tinggi dari penafsiran lain, semuanya relatif tergantung masing-masing penafsir, sesuai latar belakang sosial, budaya, pendidikan, dan kecenderungan mereka. Salah satu tokoh yang gigih membela relativitas tafsir adalah Nasr Hamid Abu Zaid, dengan pemikiran dekonstruktifnya terhadap konsep wahyu dan metodologi barunya dalam menafsirkan al-Qur’an. Nasr Hamid mencoba membongkar keyakinan umat Islam yang selama ini telah mapan. Ia berusaha menghilangkan sakralitas al-Qur’an dengan menganggapnya sebagai produk budaya. Menurutnya, al-Qur’an hanyalah respons spontan terhadap kondisi masyarakat ketika ia turun sehingga sifatnya kontekstual. Oleh karenanya, penafsirannya pun harus melalui pendekatan konteks, bahkan tanpa perlu memedulikan teks, karena pemahamannya selalu berubah dan berkembang dari masa ke masa sesuai dinamika zaman. Penafsirannya pun diserahkan kepada siapa saja dengan latar belakang apa saja, serta sesuai kecenderungan dan kebutuhan zamannya. Akhirnya, penafsiran terhadap teks-teks keagamaan menjadi relatif seluruhnya, tergantung siapa yang menafsirkan. Akibatnya, tafsir-tafsir ulama, hukum-hukum syariat, konsep-konsep nilai, bahkan bangunan keilmuan Islam dapat didekonstruksi seluruhnya, karena semua itu relatif dan bisa berubah. Artikel ini mencoba mengklafirikasi sejauh mana tafsir itu relatif dan apa saja dampak negatif paham relativitas penafsiran Nasr Hamid terhadap pemikiran Islam.
Rubūbiyah dan Ulūhiyyah Sebagai Konsep Tauhid (Tinjauan Tafsir, Hadits dan Bahasa) Afrizal, Lalu Heri
Tasfiyah Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/tasfiyah.v2i1.2482

Abstract

Tauhid sebagai suatu konsep keimanan dan keyakinan tentang Allah SWT merupakan pondasi bagi agama Islam. Dengannya seorang muslim mengenal identitas diri dan agamanya. Dengannya ia memandang dunia, kehidupan, ilmu pengetahuan, norma dan nilai, serta menjadi standar utama dalam menilai benar-salah sebuah kepercayaan dan keyakinan umat manusia. Namun terdapat banyak konsep seputar Tauhid ini. Para filosof, Mutakallimūn (Ahli Kalām), Ulama Ahlul Hadits memiliki konsep sendiri tentang Tauhid ini. Dalam mengkaji konsep Tauhid, para filosof dan mutakallimūn lebih mengedepankan argumen-argumen logika. Sementara itu Ulama Ahlul Hadits sangat kuat berpegang kepada makna literal Al-Qur’an dan Sunnah dalam mengkaji konsep Tauhid ini. Lantas manakah konsep Tauhid yang paling sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah yang merupakan sumber sekaligus barometer utama ajaran Islam? Apakah Tauhid itu hanya bahasan tentang keesaan Tuhan dan sifat-sifat-Nya? Tulisan ini berusaha membahas dan mengkaji masalah ini melalui pendekatan tafsir analisis-tematis, pendekatan lingustik serta merujuk kepada pemahaman generasi awal umat Islam.